
Di tempat lain, di sebuah kota besar. Berdiri seorang lelaki tampan yang bersandar pada dinding balkon kamar apartemennya, sambil memandang keindahan kota, petang itu. Tampak dia begitu gelisah, karena seharian ini belum mendengar suara maupun melihat wajah cantik gadis kecil kesayangan, yang sudah menguasai hatinya selama tiga tahun ini.
Ting tong,Ting tong ...
Dalam kecemasan dan kegelisahannya terdengar suara bell apartemennya. Dia berjalan ke depan dan membuka pintu mendapati kedua sahabatnya berdiri di sana.
"Ck, lama banget bukanya," gerutu keduanya.
"Masuk, malas banget liat wajah-wajah jelek Lo berdua tau nggak," jawab ketus si pemilik apartemen.
"Kenapa juga muka Lo kusut gitu, Vin? Kayak orang nggak dapet jatah aja Lo," cecar salah satu temannya bernama Diego, yang mendapat pelototan dari Vino.
"Jenni lagi yah?" tebak Alex sahabat yang paling mengerti dia.
"Hmm," jawab lelaki tampan bernama Alvino itu dengan malas, sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang berada di ruang tamu apartemennya dan disusul kedua sahabatnya.
"Kenapa lagi sih? Berantem lagi? Atau punya koleksi baru lagi dia?" cecar Diego.
"Bisa diem nggak sih Lo? Berisik kek cewek aja Lo," kata Alex pada Diego. Dia kembali melihat Vino yang terlihat gelisah. "Ada apa sebenarnya, Vin?" tanyanya perhatian pada Vino.
"Hah," dia menghembuskan nafasnya kasar, sambil memejamkan mata dan bersandar di sofa dengan sedikit mendongak. "Sejak pagi dia nggak bisa dihubungi, Lo tau kan? Gue nggak bisa kalau belom video call-an melihat wajahnya, atau paling nggak dengar suaranya," Vino menjelaskan dengan lesu tampak kacau.
Bagaimana tidak, Jenn bagaikan vitamin penyemangat untuknya mengawali hari-hari selama ini. Bagi lelaki tampan berpredikat playboy itu, kekasih kecil kesayangannya itu bak nafas di hidupnya yang sanggup menghidupkan segala geraknya. Kata Bang Cakra dan Teh Siti π buktinya Alvino begitu malas seharian ini seperti tak bertenaga.
"Sabar, bro! Mungkin aja dia sibuk dan ponselnya lowbat trus lupa di-charger gitu, positif thinking dong, jangan cemas dan mikir yang aneh-aneh. Paling juga n'tar dia hubungin Lo," nasehat Alex pada sahabatnya yang terlihat gundah.
"Tapi gue juga udah hubungi kedua sahabatnya, dan mereka bilang nggak tau dia dimana. Malah kata yang satunya dia juga udah coba hubungin, malah nggak aktif. Gimana gue nggak kepikiran coba?" kata Alvino frustrasi mengacak-acak rambutnya kasar.
"Percaya deh, Vin. Jenn gadis yang baik. Dia tidak mungkin sembarangan di sana. Meski dia punya yang lain di sana tapi dia bisa jaga diri dengan baik selama ini kan? Dan Lo tau itu. Dia pasti punya alasan saat ini. Sabar, dan kita tungguin kabar dari dia. Ok!" Alex terus memberikan pikiran-pikiran positif pada sahabatnya.
Alvino hanya mengangguk pelan, kembali bersandar dan memejamkan matanya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu sebuah motor Scoopy terlihat baru saja berhenti di depan sebuah pagar besi yang catnya terlihat mulai memudar. Pengendaranya turun dan membuka pintu pagar itu yang ternyata adalah Rossa. Dia memasukan motornya dan menutup kembali pintu pagar itu, kemudian memarkirkan motor Scoopy itu dihalaman rumah.
"Ternyata belum pada pulang ya, gadis-gadis nakal itu," gumam Rossa mendapati kedua sahabatnya tidak di sana. "Si mini juga kemana sih dia? Gak bisa dihubungi dari tadi," katanya sambil berjalan masuk dan membuka pintu rumah.
Tak berselang lama setalah itu, dia mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Dia mengintip kecil dan melihat Jenn turun dari sana. Ternyata gadis mini itu pulang diantar teman-temannya. Kemudian terdengar klakson, mobil itu dengan secepat kilat berlalu dari sana. Jenn melangkah masuk dan mendapati Rossa yang duduk manis diruang tamu menatapnya tajam.
"Hai, mami sayang!" itu panggilan sayang Jenn dan Putri kepada Rossa yang selalu dewasa, bersikap keibuan diantara mereka bertiga. Jenn menyapa santai. Tidak menyadari telah melakukan kesalahan dengan hilang hampir seharian ini.
"Kenapa sih? Ada yang salah gitu dengan penampilan gue? Atau muka gue ada yang aneh?" Jenn meraba-raba seluruh wajahnya.
Rossa masih diam terus menatap Jenn. Sengaja membiarkan Jenn menyadari kesalahannya. Dalam kebungkaman Rossa, terdengar bising kenalpot dari motor trail milik Putri, memasuki halaman rumah itu. Nona trail itu masuk dan bergabung bersama kedua sahabatnya.
"Hai, sayang-sayangku!" sapa gadis tomboi bermata sipit itu. Dia lalu melihat Jenn disampingnya.
"Eh mini, Lo kemana aja sih seharian? Kenapa nomernya nggak aktif hem?" tanya Putri mewakilkan Rossa yang diam dengan tatapan sama sejak tadi.
"Ya ampun, astaga! Habislah gue!" Jenn menepuk jidat sadar dengan kesalahannya.
Secepat kilat dia membongkar isi tas punggung kecilnya, mencari ponselnya untuk segera di-charger. Dalam pikirannya saat ini Alvino pasti akan memarahinya habis-habisan.
"Tunggu bentar, tunggu di sini." kata Jenn pada keduanya.
Ia pun berlari cepat ke kamar mengambil charger dan men-charge baterai ponselnya. Membiarkan kedua sahabatnya menunggu dengan pikiran masing-masing tentang Jenn dan petualangannya sehari ini.
.
.
.
.
.
to be continued ....
.
.
.
Happy reading budies πβ€οΈ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ₯°π₯°π₯°