Simple But Perfect

Simple But Perfect
Obat Tidur



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Apa aku terlambat?" tanya seorang pria berjas putih yang baru saja masuk di sebuah ruangan.


Ruangan khusus pada sebuah bangunan megah yang terletak di pinggiran kota. Bangunan dengan penjagaan yang cukup ketat ini dikelilingi dengan tembok yang cukup tinggi, serta terselimuti oleh pepohonan. Karena letaknya yang berada di hutan dan jauh dari keramaian, membuat tempat ini tersembunyi dari jamahan mata manusia.


"Ah, ya ... sedikit," jawab seorang lelaki yang tengah duduk pada sebuah kursi putar. Ia berbalik melihat orang yang barusan masuk dan langsung berdiri menyambut tamu yang merupakan temannya. "Hampir saja aku menyuruh mereka menyeretmu ke mari," ucapnya sambil menunjuk beberapa penjaga yang berdiri di depan pintu ruangan tersebut.


Keduanya lalu tertawa sembari saling bersalaman ala lelaki. Mereka adalah teman yang sudah lama ini tak saling bertemu karena kesibukan masing-masing. Karena kepentingan pribadi, lelaki itu akhirnya meminta tolong bantuan temannya yang merupakan seorang dokter.


"Jadi? apalagi yang harus aku lakukan kali ini? Kegilaan apalagi yang kau buat hingga memilih ke mari?" tanya pria berjas putih yang sedikit banyak sudah mengenal dan mengetahui temannya yang suka berulah itu. "Untung saja tidak terlalu jauh dengan tempat tugasku. Kalau tidak ... malas banget aku ikut terlibat dalam kegilaanmu," sambungnya lagi dengan tawa kecil.


"Coba saja kalau kau berani, aku tidak segan melemparmu lebih jauh lagi dari sini." Keduanya kembali tertawa. "Ayo! Aku ingin menunjukkan seseorang untukmu. Tapi janji jangan naksir. Awas aja." Keduanya berjalan menuju sebuah kamar yang terletak di lantai dua.


"Kau mengurung seorang gadis lagi?" tanya pria berjas putih sambil menatap temannya.


"Ha-ha-ha, sayangnya dia bukan lagi gadis." Memasukan tangan ke dalam saku celananya. "Tapi ... you know lah, aku selalu menginginkan barang milik orang lain. Yang sebenarnya aku bisa mendapatkan yang baru dan lebih, tapi nyatanya punya orang lebih menarik." Terkekeh dan terus berjalan menaiki tangga.


"Maksud kamu, dia sudah menikah? Kamu menculik istri orang?" tanya pria berjas putih itu begitu kaget.


Temannya mengangguk. "Bahkan dia sedang mengandung saat ini," jawabnya dengan enteng.


"Hei! What the f**k, kamu ...." terlonjak kaget bukan main. "Jadi aku ke sini untuk memeriksa keadaannya? Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Mulai berpikiran buruk.


"Astaga, kenapa kau jadi cerewet dan menyebalkan seperti ini sih?" Berhenti di depan pintu dan melirik temannya dengan sinis. "Aku hanya memberinya sedikit obat tidur dalam dosis rendah. Puas hah?" jawabnya dan langsung membuka pintu dan masuk.


Ya Tuhan, ini orang bener-bener gila yah. Wanita hamil dikasih obat sembarangan.


Pria berjas putih itu menggelengkan kepalanya dan melangkah masuk mengikuti temannya.


"Tidur aja cantik," ucapnya sembari memandangi sosok cantik yang sedang terlelap di atas ranjang berukuran king size di dalam kamar tersebut. "Periksakan dia Yan, apakah pengaruh obatnya berbahaya? Kenapa dia belum sadar juga?"


Mampus aja kau. Seharusnya mikir dulu baru bertindak. Ini malah kebalik, udah bergerak baru mikir. Telat dodol.


Dan lelaki berjas putih itu hanya bisa memaki temannya dalam hati.


"Obat tidur jenis apa? Coba sini kulihat?"


"Anti, anti ... anti apa gitu." Berbalik menoleh pada dokter sembari berpikir.


"Antihistamin? Tau dari mana kamu obat itu?" Sedikit lega karena obat itu merupakan obat yang aman dikonsumsi wanita hamil.


"Ya itu dia, aarrgghh ribet amat sih." Mengacak rambutnya karena kesal dengan dokter yang terus bertanya. "Aku sudah berkonsultasi sebelumnya dengan dokter keluarga kami. Dia menyarankan menggunakan obat itu dalam dosis rendah. Hanya sebutir kok." Terang lelaki itu. "Ck, kenapa sih? Lagian aku tidak peduli dengan bayinya. Aku hanya ingin dirinya," ucap lelaki cuek.


"Bener-bener gila ini orang," gumam sang dokter.


Ia lalu berjalan mendekat ke sisi ranjang untuk dapat melihat dengan jelas raut cantik yang kini menjadi tawanan temannya.


Bruk.


Tas yang ada di tangannya terlepas begitu saja ketika ia melihat dan mengenali sosok bak putri tidur di sana. Siapa lagi kalau bukan Jenn. Dan sekali lagi lelaki itu kaget bukan main.


Banyak hal yang mengejutkannya saat itu. Namun, tiba-tiba saja perasaan khawatir menyelimutinya. Ya, ia tiba-tiba khawatir dengan kondisi wanita cantik yang dikenalinya saat itu.


"Kenapa? Ada apa denganmu? Are you ok?" Melihat sikap aneh temannya, lelaki itu bertanya penuh curiga.


Ia sedikit terlonjak, tetapi kembali berusaha bersikap normal. "Ah, gak papah sih, cuman ... yah, kaget aja liat wanita secantik ini. Ini mah spek bidadari, bro." Berusaha tersenyum sebaik mungkin. Ia kembali menunduk dan mengambil tasnya.


"Awas aja kalo sampai naksir!" Mengancam sekali lagi.


Sudah kali. Tapi aku tidak segila dirimu sampai harus merebut milik pria lain. Btw, aku sedikit tenang karena dia tidak menggunakan obat bius.


Ada sedikit rasa lega yang menarik lengkungan kecil di sudut bibir sang dokter.


Tiba-tiba ponsel temannya berdering. Lelaki itu sedikit menjauh untuk menerima panggilannya, tapi matanya masih tetap fokus mengawasi dokter yang adalah temannya dan wanita cantik yang masih terbaring di sana.


Tidak lama aktifitas telpon pun berakhir.


"Aku ke bawah sebentar yah. Tolong periksa dan awasi dia. Pastikan dia cepat sadar, orang tadi obatnya cuman sedikit kok," titah lelaki itu dan segera keluar dari dalam ruang kamar itu, membiarkan dokter dan tawanannya berdua di sana.


Begitu melihat temannya yang sudah menghilang di balik pintu, lelaki itu mengusap wajahnya sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Ini gak bisa, pokoknya aku gak akan membiarkan dirimu melakukan hal buruk padanya." Ia hendak menyentuh tangan Jenn yang masih terbaring di sana, tetapi sebuah ingatan menggema nyaring di telinganya. "Bagaimana bisa dia membawamu? Suamimu pasti sedang kacau." Ya lelaki itu mengingat seraut wajah tampan dan garang yang dua bulan lalu menunjukkan ketidaksukaan padanya secara terang-terangan. "Aku ... aku harus bagaimana ini? Mana penjagaan di sini banyak banget lagi." Ia bingung harus mulai dari mana aksinya.


Ia berniat untuk menolong Jenn. Lelaki berjas putih itu mondar-mandir sembari terus berpikir. "Nungguin dia bangun, kelamaan." Mencoba berpikir lagi. "Gak ada waktu buat periksa." Dia lalu mencari-cari tas milik Jenn untuk mengecek ponselnya, tapi tak juga ia dapatkan.


Ia kemudian berlari ke arah pintu dan sedikit mengintip. Tampak ada dua penjaga di sana. Dokter itu lalu memanggil salah satu dari penjaga tersebut.


"Ah, saya sedikit kesusahan." Melirik sekilas teman dari penjaga itu. "Bisakah saya meminta tolong?" Membuka pintu kamar itu dengan lebar. Ketika penjaga itu mengangguk, sang dokter lalu memintanya untuk masuk dan langsung menutup pintu.


Semoga saja ....


..._____🌾🌾🌾🌾🌾_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...####...


Hai, selamat malam semuanya πŸ‘‹ Maaf yah baru nongol lagi.


Sebagai permintaan maafnya, aku up 3 bab nih 🀭 Semoga puas yah, eh suka maksudnya πŸ˜… kalo puas sih kayaknya belom 🀭


Selamat membaca tayang² ku 😍


Jangan lupa like dan komen yah 😌


Tinkyuuuuuwww semuanya πŸ™πŸ™πŸ™