Simple But Perfect

Simple But Perfect
Sebuah Rasa



Jenn sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Gadis cantik itu masih tetap dengan posisi yang sama. Terpaku dengan tatapan yang terus tertuju pada Lelaki tampan di depannya.


Kenn yang sudah duduk di atas motor, dengan tatapan yang lurus ke depan sejak tadi, terpaksa menoleh kembali ke samping. Menatap wajah cantik yang sudah berhasil menyentuh hatinya. Mengamati gadis itu dari atas hingga ke bawah. Begitu lagi, dari bawah naik ke atas. Lelaki itu menggelengkan kepalanya lalu menghembuskan nafasnya pelan.


Perlahan Kenn turun dari motor, kemudian melepas Jaket taslan miliknya, dan menyampirkannya ke bahu Jenn. Menutupi bagian punggung dan lengannya yang terekspose. Karena gadis itu memakai baju yang sedikit terbuka.


Jenn hanya diam mematung ditempatnya. Menerima setiap perlakuan Kenn sejak tadi dari dalam club.


Kenn menarik lembut pergelangan tangan gadis itu.


"Ayo, naik. Aku antarin pulang" Jenn balik menahan Kenn dengan sebelah tangan yang lain.


"Makasih kak" Sedari tadi, baru kata itu yang terucap dari bibir mungilnya. Kenn menatapnya dengan dahi yang berkerut.


"Makasih udah nolongin gue waktu itu. Dan untuk malam ini juga. Makasih kak, maaf kalo gue telat ngucapin ini" Kenn masih diam, membiarkannya berbicara.


Jenn menundukkan pandangannya. "Tapi ... gue belum mau balik. Gue ... gue masih nungguin .... " Entah kenapa, Jenn tak enak hati menyebutkan nama kekasihnya di depan Kenn.


"Siapa ? pacar kamu ?" Kenn tahu siapa yang dimaksud gadis itu.


Jenn mengangguk pelan. Emosi yang setengah mati ditekannya tadi, kini kembali memuncak. Tangannya mengepal sempurna. Rasanya ingin sekali melampiaskan emosi saat itu juga. Kenn memejamkan matanya sejenak, sedetik kemudian membuka kembali, dan menunduk menatap Jenn dengan tajam.


"Apa yang ada di pikiranmu, hah" Berusaha mengontrol nadanya.


"Menunggu kekasihmu itu disini semalaman ?" Nadanya sepelan mungkin.


"Kau sadar dimana kau berada sekarang, hah"


"Dengan berpakaian seperti ini ? kau pikir para bajingan di dalam sana hanya akan duduk diam dan menemanimu, begitu ?" Sumpah, Kenn ingin sekali berteriak marah pada gadis itu. Tapi hebatnya, dia tidak bisa.


"Dan kau pikir, aku akan diam membiarkanmu begitu saja ?"


"Tidak Jenn ! aku bilang, ayo pulang. Dan tidak ada bantahan. Aku memaksa Jenn" Suaranya mulai tegas.


Jenn yang sejak tadi menunduk, langsung mengangkat wajahnya. Saat Kenn menyebut namanya. Jenn mendongak menatap lelaki itu. Rasa aneh menjalari hatinya. Ketika namanya terucap dari bibir Kenn.


Rasanya masih ingin terus mendengarnya.


Bahkan, sedang marah pun Lo nggak teriak-teriak ke gue. Ahk, jangan nyamankan gue, kak !


Jenn membatin sambil memejamkan matanya, menikmati merdu namanya terlantun dari nada-nada marah, yang terdengar seperti senandung indah.


Dia tersentak ketika Kenn menariknya. Tidak ada lagi bantahan kali ini. Jenn naik dan duduk manis di belakang Kenn. Mereka lalu meninggalkan tempat yang sarat akan godaan itu. Begitu Jenn memberikan alamat tempat tinggalnya.


Kenn menjalankan motornya pelan. Tidak ingin membuat Jenn takut dan kedinginan dibelakangnya. Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan apa pun diantara mereka. Ditemani dinginnya angin malam dan bisingnya bunyi motor, meramaikan perjalanan mereka hingga sampai di depan pagar rumah Jenn.


Dengan perlahan gadis itu turun dari motor. Jika boleh jujur, sepanjang perjalanan tadi, jantung keduanya seolah berlomba menyerukan dentuman-dentuman dari dalam diri masing-masing.


"Sekali lagi, maksih kak" Ucap Jenn dengan tulus.


Kenn tersenyum kecil pada gadis itu. "Sudah berapa kali ngomong itu terus" Jenn mengalihkan pandangannya. Tidak ingin melihat tatapan Kenn lagi kali ini. Sedari tadi jantungnya tidak bisa diam dan tenang. "Aku nggak butuh terimakasih kamu, Jenn. Aku ikhlas ngelakuin semua. Jadi berhentilah mengucapkan itu" Lanjut Kenn.


Tanpa mereka sadari, dua pasang mata sedang memandang mereka berdua dari balik jendela rumah itu.


"Sebagai ganti ucapan terimakasih mu, boleh aku minta sesuatu ?" Tanpa ragu Jenn tersenyum dan mengangguk.


"Tolong, Jangan pernah kembali datangi tempat itu lagi. Tempat itu tidak baik untukmu, Jenn" Kenn berucap serius. "Meski pun itu dengan kekasihmu. Pilihlah tempat yang baik dan pantas untuk kalian datangi" Pinta Kenn.


Jenn hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun. Lagi-lagi Kenn membuatnya merasa berdebar tak keruan. Untuk malam ini saja, Kenn berhasil memberikan sensasi baru bagi jantungnya.


"Masuklah"


Jenn berbalik dan membuka pintu pagar. Gadis itu menengok sebentar kebelakang, melihat Kenn, sesudah itu dia masuk dan menutup pagar itu kembali.


Jenn berjalan perlahan dengan rasa yang tak keruan. Sampai di depan pintu rumahnya, Jenn berbalik sekali lagi dan melihat Kenn masih disana. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dibukanya benda pipih itu, dan melihat ada sebuah pesan chat dari nomor tak dikenal.


081386xxxxxx


Cepatlah masuk ! Aku akan tetap disini sampai kau benar-benar masuk. Aku ingin memastikannya.


Jenn mengernyit. Nomor itu sudah pernah mengirimnya pesan, dan ini yang kedua kalinya. Jenn tersadar satu hal. Itu nomornya Kenn. Entah kenapa, Jenn merasa senang. Gadis itu tersenyum menatap seseorang yang masih setia mengawasinya dari luar pagar. Jenn melambaikan tangannya pada Kenn, sesudah itu dia benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Aakkhhh ... " Jenn berjingkat dan berteriak menahan dadanya.


Saat melihat Kenn sudah pergi, dan hendak berbalik, dia dibuat kaget oleh kedua sahabatnya yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Iisssh ,,, ngagetin aja deh" Jenn mengusap-usap dadanya.


"Jelasin" Ucap kedua sahabatnya kompak sambil bersedekap.


"Apanya" Balik bertanya pura-pura tidak mengerti. Padahal dia tahu maksud dua orang itu.


"Nih, apa ? Ayo, jelasin, s e k a r a n g !!!" Ucap Rossa penuh penekanan, menunjukkan Jaket berwarna hitam yang masih melekat membungkusi tubuh mungil Jenn.


"Hah, eh, oh ini ... ini punya kak Kenn" Jenn juga baru menyadari jika benda itu masih ada padanya. Dia menjawab dengan kikuk.


"Bagaimana bisa ? dan kenapa dia yang ngantarin Lo ? bukannya Lo pergi sama Alvino ? lalu dimana dia ?" Jenn merasa diinterogasi habis-habisan oleh sahabatnya.


"Gue ... gue juga nggak tahu Alvino dimana" Dia tahu bakal dimarah dua orang itu.


"Maksudnya ???" Lagi-lagi keduanya kompak bertanya.


Jenn duduk dan dia pun menceritakan semua yang terjadi di club saat itu.


° Flashback on


Ketika menerima panggilan saat di bioskop siang itu, Alvino mendapat ajakan dari dua kenalan lamanya. Mereka mengajak Alvino untuk bermalam mingguan di sebuah club. Alasannya, karena sudah lama tidak bertemu. Dan tempat itu adalah dunianya Alvino sedari dulu, maka dari itu mereka mengajak Alvino kesana. Mereka yakin, Alvino tidak mungkin menolak.


Tadinya lelaki tampan berlesung pipi itu ingin pergi sendiri, namun karena menanggapi pertanyaan kekasihnya, Alvino pun mengajak sang kekasih bersama teman-temannya. Dia membiarkan kekasihnya pergi ke tempat itu hanya bersama dirinya.


Saat akan pergi ke club. Rossa dan Putri melarang Jenn. Apalagi tampilan gadis itu terkesan sangat sexy. Namun gadis itu meyakinkan sahabatnya, bahwa Alvino akan menjaganya dengan baik. Dan dia sendiri tidak pernah khawatir jika bepergian bersama sang kekasih.


Saat sudah tiba di club, mereka di sambut oleh dua orang kenalan Alvino. Mereka menggunakan ruangan VIP. Alvino tidak membiarkan Jenn lepas dari genggaman tangannya sedetik saja. Duduk pun, Jenn selalu ada dalam rangkulannya.


Beberapa menit berlalu, mereka sungguh menikmati suasana gemerlap itu. Jenn hanya berdiam diri dalam rangkulan sang kekasih. Alvino mulai merasa sedikit pusing, padahal dia baru meneguk beberapa gelas wine. Entah apa penyebabnya, Alvino merasa kepalanya begitu berat dan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.


Alvino berpamitan sebentar pada Jenn dan yang lainnya hendak ke toilet. Alvino mengecup kepala kekasihnya sekilas, sebelum beranjak dari sana. Dia ingin membasuh mukanya. Pikirnya, mungkin itu dapat menghilangkan rasa kantuk serta pusingnya.


Beberapa menit telah berlalu, namun Alvino tak kunjung kembali. Jenn mulai gelisah dan tak tenang. Ingin rasanya menyusul Alvino, namun dia takut. Tidak biasa dengan tempat itu. Tentu saja Jenn cemas. Di lihatnya teman-temannya begitu menikmati suasananya.


Tiba-tiba saja, salah seorang pria asing kenalan kekasihnya itu datang duduk tepat disampingnya. Di tempat Alvino tadi.


Pria asing itu memaksanya untuk minum, yang di tolaknya sebisa mungkin. Pria itu juga mulai menyentuh sisi wajah cantiknya. Dia mulai takut dengan situasi itu.


Dalam ketakutannya, tiba-tiba saja Kenn datang mengacaukan tempat itu. Bahkan menghajar pria asing kenalan kekasihnya. Dan membawanya keluar dari sana.


° Flashback off


.


.


.


.


.


to be continued ...


_______________


Hai hai readers Ter❤️


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah 🙏🥰🥰


Terimakasih buat yang sudah mampir 🙏🤗


and Happy reading buddies 😊❤️