Simple But Perfect

Simple But Perfect
Jaga Selalu Hatimu



"Ish, stop it, Farel !" Fio memukul-mukul tangan sang kekasih yang sedang aktif menggerayangi tubuhnya.


"Gue mau ngomong, bentar dulu ih" kembali lagi Fio melakukan hal yang sama. Memukul tangan Farel. Sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan erat kekasihnya.


Saat ini Farel berada di rumah kekasihnya, Fio. Gadis itu memang tinggal sendiri di rumah besarnya. Hanya ditemani seorang ART. Fio adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya bekerja diluar kota. Karena banyak bisnis yang membuat kesibukan kedua orangtuanya, hingga kebiasaan ditinggal sendiri sudah merupakan hal yang lumrah bagi gadis itu. Karena itulah Farel mempunyai akses yang diberikan langsung oleh Fio. Begitu juga teman-temannya yang kadang ingin menginap.


"Ngomong aja, gue denger" Farel belum juga berhenti. Lelaki itu masih terus dengan kegiatannya yang menyenangkan. Posisi keduanya saat ini sedang duduk di sofa yang berada dalam kamar Fio. Farel menenggelamkan wajahnya di pundak sang kekasih dengan mata terpejam, menghirup wangi dari tubuh gadis cantik yang sedang meronta dalam dekapannya.


"Gimana mau ngomong kalo kamunya kayak gini ? lepasin dulu, Rel" Fio memutar kepala menoleh pada sang kekasih yang masih anteng dipundaknya. Dengan cepat Farel mengangkat wajahnya dan mendaratkan satu kecupan dipipi Fio.


"Mau ngomong apa sih ?" berhenti dengan kegiatannya namun belum juga melepas pelukannya dan masih saja bersandar dipundak kekasihnya.


"Aku mau nanya soal temen kamu" ketus Fio sedikit kesal karena tidak bisa lepas dari pelukan Farel.


"Maksud kamu, Kenn ?" langsung mengangkat kepalanya dari pundak Fio dan mulai melonggarkan sedikit pelukannya.


Fio mengangguk dan bergeser sedikit menjauh dari kekasihnya. "Siapa lagi emang ?" seru Fio.


"Kenapa dengan dia ? emang mau nanya apa sih ?" sebelah keningnya terangkat. "Tapi bentar" merubah posisi duduknya menjadi tegak dan menatap Fio dengan serius. "Sebelumnya, kamu udah ngasih tau ke Jenn yang aku bilang itu belom ?" lanjut bertanya.


"Nah, itu dia masalahnya. Makanya aku mau nanya soal kak Kenn, baby"


"Masalahnya apa si ?" bingung dan penasaran.


"Kemarin kan aku udah ngasih tau ke Jenn, soal apa yang kamu bilang. Nah, dia biasa aja gak ada respon apa-apa tuh. Eh, hari ini dia marah-marah ke gue. Gue nanya ada masalah apa ? katanya gue bohong soal kak Kenn. Bingung kan ? bohong apa coba ?" tutur Fio panjang lebar.


Sejenak Farel terdiam. "Emang kamu ngomong gimana ke dia ?" sepertinya tidak dapat menemukan titik permasalahan yang coba diterkanya.


"Ya ... aku bilang, kak Kenn suka sama dia, kak Kenn udah nyimpen perasaan ke dia sejak lama."


"Terus ?"


"Udah itu aja. Gak ada respon apa-apa dari dia. Bingung gak ? bingung kan ?"


Lagi-lagi Farel diam sejenak. "Kalo dia gak ada respon apa-apa, berarti dia gak perlu ... " menggantungkan kalimatnya sembari berpikir. "Apa sebenarnya dia punya perasaan yang sama kayak Kenn ?" lanjut Farel beropini.


"Ngaco kamu. Mana ada, Rel. Si Mini itu, eh maksud aku Si Jenn itu gak akan pernah bisa berpaling dari kekasihnya, Alvino. Kamu udah pernah liat pacarnya kan ?" Fio membantah dugaan kekasihnya.


Farel mengangguk. "Udah. Menurut aku, sebelas dua belas lah sama Kenn. Bedanya hanya pada status sosial mereka. Pacarnya anak horang kaya, kalangan elite. Sedangkan Kenn hanya dari kalangan menengah. Tapi kalo penilaiannya sebatas tampang doang, Kenn masih bisa bersaing sama dia, baby" lagi Farel berpendapat.


"Aku setuju, Rel. Kemarin aku juga bilang gitu ke Jenn. Aku bilang, kak Kenn itu ganteng, punya pesona yang sama kek Alvino. Banyak wanita yang tergila-gila padanya, termasuk ... " cerocos Fio sampai tidak menyadari bahwa dirinya hampir keceplosan. Gadis itu tersadar lalu menghentikan kalimatnya, dan mengulum bibirnya.


"Termasuk apa ? terusin" Farel memicingkan matanya menatap Fio penuh curiga.


Fio cengar-cengir melirik kekasihnya. "Maaf, baby. Aku hanya beralasan untuk manasin si Jenn" alibi Fio. Padahal memang benar. Dia pernah terpesona dengan teman kekasihnya itu sejak pertama kali bertemu waktu di taman budaya. Lelaki tampan dan sederhana itu selalu mampu memikat netra kaum hawa, termasuk Fio. Dan Fio mengakui itu. Namun dia tidak berani mengakuinya dihadapan Farel, kekasihnya.


"Percaya dulu deh. Habis ini baru bagian kamu diinterogasi sama aku. Setelah itu, aku lanjut dengan proses penggeledahan dan penyidikan" ucap Farel menyeringai dengan satu kedipan mata.


"Ih, apaan sih. Orang lagi bahas yang lain juga. Otaknya masih aja berkeliaran kesana. Dasar !" Fio mencebik.


Farel terbahak. "Itu kebutuhan, baby" mencubit pipi Fio dengan gemas. "Sekarang lanjutin yang tadi. Jadi reaksi Jenn apa setelah kamu ngomong gitu ?" kembali serius.


"Dia hanya tersenyum kecil ... " menjeda kalimatnya sambil mengingat obrolannya dengan Jenn kemarin saat di toilet. Seketika ia menatap Farel dengan mata berbinar. "Jangan-jangan pendapat kamu bener, Rel" sepasang kekasih itu mulai sependapat.


"Nah, kan. Aku yakin banget itu, baby. Tapi masalahnya, kebohongan apa tentang Kenn yang ngebuat dia sampai marah ?"


Pasangan kekasih itu sedang mencoba menguraikan benang rumit antara perasaan Kenn dan marahnya Jenn. Namun sepertinya mereka belum mampu untuk membuka mengurainya dengan baik.


"Ck, ribet ngurusin mereka. Mending ngurusin hubungan kita aja. Lanjutin yang tadi yuk, baby" seru Farel tersenyum nakal dan tanpa basa-basi, ia langsung menindih Fio dia atas sofa.


"Fareeeeeeeeellllllll ... "


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Malam, honey ! lagi apa ?


"Lagi nonton"


"Serius amat si, sampe jawabnya males gitu"


"Eh, enggak juga kok, bi. Ini biasalah, nonton drakor"


"Ck, kenapa sih, seneng banget liat pria-pria yang mirip wanita itu ?"


"Hehehe, oppa-nya ganteng-ganteng loh ini, bi"


Tut !!!


Panggilan berakhir. Sedetik kemudian ponselnya kembali berdering dengan panggilan video kali ini. Karena tadi hanya panggilan suara.


"Lihat aku ! lebih ganteng yang mana. Aku atau mereka ?"


"Hahaha ... Okay, okay, Alvino-nya aku yang paling ganteng"


"Matikan laptopnya sekarang"


"Iyaaa ! Hah, bawel banget sih"


"Gak kangen sama aku ?"


"Pertanyaan macam apa itu ? yang benar aja, bi"


"Jangan mulai lagi deh. Kamu tau aku selalu kengen sama kamu, bi. Ini juga udah matiin laptopnya. Nih, cuman liatin kamu doang"


"Hehe ... Canda, honey. Jaga hati yah. Tunggu aku kembali"


"I will always be here waiting for you"


"Thank you, honey"


"Sama-sama ! nyanyiin lagu buat aku dong, bi"


"Tumben minta dinyanyiin. Biasanya kan aku yang minta dan kamu yang nyanyi. Sekarang kebalik yah ? baiklah. Tunggu sebentar"


lima detik, kembali dengan gitar 🎸


Kau, jaga selalu hatimu


Saat jauh dariku,


Tunggu aku kembali


Ku mencintaimu, selalu


Menyayangimu sampai akhir menutup mata.


[ Seventeen ~ Jaga Selalu Hatimu ]


"Udah segitu aja"


"Ih, masa segitu doang. Lagi dong, bi"


"Itu aja yang intinya. Gak usah kepanjangan. Ingat, jaga selalu hati kamu"


"Ck, iya, iya, ih"


"Udah larut, tidur yah. Jangan begadang. Good night, honey"


"Kamu juga. Nice dream, bi"


Sambungan telepon itu pun berakhir. Dilihatnya, Rossa sudah tertidur. Jenn pun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamar mencari Putri.


"Put ... Putri ... " berteriak kecil memanggil Putri.


"Ya, kenapa Mini ?" sahut Putri dari ruang tamu.


Jenn yang mendengar suara Putri pun berjalan menuju ke arah sumber suara.


"Ngapain disini sendirian ?" tanya Jenn lalu menghempaskan tubuhnya disofa, di samping Putri. Dia bisa melihat gadis tomboi itu yang sedang uring-uringan.


"Gue berantem sama ka Vicky, bebs" ungkap Putri dengan jujur. Dia memang tidak bisa menyembunyikan masalahnya dari dua sahabatnya.


"Why ?" tanya Jenn singkat.


Menarik nafasnya sebentar. "Dia marah-marah karena ada cowok yang ngedeketin gue. Masalahnya, gue paling gak suka dikekang. Dan lagi, itu cowok cuma dekatin doang gak ngapa-ngapain. Dan gue juga gak ada respon apa-apa buat itu cowok. Dia udah jealous aja. Di buat jadi masalah lagi. Bikin kesel tau gak" Putri mengeluarkan unek-uneknya.


Jenn hanya diam, dan mendengar.


"Lo denger gak sih, Mini ?" tanya Putri karena tidak mendapat tanggapan apapun dari sahabatnya.


"Iya gue denger, Put. Tapi gue gak tau mau ngomong apa" sahut Jenn.


"Ck, iya juga. Habis Lo kan selalu nurut sama pacar Lo. Beda sama gue. Gue gak suka di atur-atur" ucap Putri dan Jenn hanya manggut-manggut.


"Lo tau gak ? gue bosen kalo kayak gini. Gue gak nyaman sama cowok posesif. Kalau sayang dan saling percaya, gak perlu sampai segitunya. Itu sama aja dia ragu sama aku. Tapi gue heran sama Lo. Betah banget yah. Ko bisa ?" tutur Putri.


Jenn masih diam. Sedikit kemudian, dia tersenyum. "Semua orang kan beda-beda, Put. Gue udah biasa dengan sikap Alvino ke gue. Dan gue tau, semua itu karena dia terlalu sayang sama gue. Ya walaupun kadang gue dibuat kesel juga, hehehe" Jenn terkekeh mengingat keposesifan Alvino selama ini.


"Nah, sekarang gue mau nanya. Lo bilang Lo udah biasa dengan semua itu. Tapi, apa Lo nyaman selama ini ?"


Lagi-lagi Jenn bungkam. Dia bingung dengan pertanyaan Putri yang seakan membuatnya terjebak.


Benar, selama ini gue udah biasa. Tapi apa gue nyaman ? gue gak tahu.


Bicara soal nyaman, gue malah selalu keinget sama ... aaaaaaaakkkhhh.


Jenn membatin sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ketika satu nama tanpa permisi melintasi otaknya. Dan nama itu juga yang sudah membuatnya kesal tadi siang.


_____________________________


Haii semuanya πŸ‘‹ maaf telat update nih πŸ™πŸ˜Œ


Terimakasih buat yang selalu setia nungguin STP πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak manisnya guys πŸ₯°πŸ€—


Plissss like, komen, and rate πŸ˜ŠπŸ™πŸ™


Selamat membaca πŸ€—πŸ˜˜β€οΈ