
_Perpisahan adalah upacara dalam ucapan menyambut hari-hari penuh rindu_
"Kenapa mukanya sembab gitu ?" tanya Rossa.
"Mana ? ya ampun Mini, Lo abis nangis ? di apain sama Alvino ?" Putri begitu heboh.
Jenn yang saat itu baru tiba di rumah, di berondong pertanyaan dari dua sahabatnya. Melihat Jenn yang sepertinya tidak baik-baik saja, membuat keduanya khawatir.
"Hiks, hiks, besok Alvino udah balik" Jenn kembali menangis dipelukan kedua sahabatnya.
"Ck, kirain ada apa. Padahal itu doang" Rossa memutar bola matanya.
"Ish, Lo ngomong gitu karena belum pernah ngerasain LDR-an sama pasangan. Pacaran aja kagak, mana tau rasanya sedih berpisah" Putri menceramahi Rossa.
"Iya nih, mami ! Orang lagi sedih juga, nggak dihibur malah bikin tambah kesel hiks" sahut Jenn di sela-sela tangisnya.
"Dih, maksud gue nggak gitu. Kan selama ini udah biasa LDR-an tuh, lah kenapa nangis segala ? nantinya dia bakalan datang juga seperti biasanya kan ?" jelas Rossa.
"Tetap aja sedih, Sa. Udahlah, intinya Lo nggak akan pernah tau rasanya kayak apa" Putri terus saja memojokkan Rossa.
"Iya iya yang pada pacaran. Ck, dikit-dikit bawa status" sungut Rossa. "Tapi ... gue tau rasanya kok, cuman ... ya biasa aja. Nggak lebay gini" sambungnya lagi.
"Tau dari mana ?" tanya Jenn dan Putri kompak. Bahkan, Jenn sampai berhenti menangis saat mendengar pernyataan Rossa.
"Emang pernah ?" tanya Putri dan Rossa jadi salah tingkah.
"Eh, engg, i-itu ... kan LDR-an sama orang tua, keluarga juga kan" jawab Rossa dengan gagap.
Jenn dan Putri menatap Rossa dengan tatapan penuh curiga.
"Nggak usah diliatin kayak gitu juga. Emang bener kan ? yang namanya LDR-an itu bukan cuman sama pacar kan ? apanya yang salah coba ?" Rossa mantap meyakinkan kedua sahabatnya.
"Awas aja kalo ada yang dirahasiakan dari kita" ancam Putri.
"Ya enggak lah sayang-sayang gue yang cantik-cantik" ucap Rossa dengan kedua mata yang diberkedip-kedip.
"Diih, udah pintar ngerayu dia, Put. Les private dimana nih anak ?" Jenn tersenyum mengejek.
"Lah sama kalian lah, sama siapa lagi ? tiap hari kan bertiga"
Dan obrolan ringan dibarengi candaan kedua sahabatnya membuat Jenn sedikit melupakan kesedihannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
"Dimana ? ayo ketemuan"
"Wow, udah kangen yah ?
"Gue nggak bercanda, dimana Lo ?"
"Wuih, sabar dong baby. Udah nggak tahan yah"
"Lo jangan buat gue marah Verlita"
"Tambah ganteng deh, kalo marah. Hehehe ! ok, datang ke apartemen gue baby"
Sambungan telepon itu pun berakhir.
"Hahaha ! Alvino, Alvino. Lo bakal ada dalam genggaman gue. Dan setelah rencana gue berhasil, gue pastikan gadis kecil itu akan hancur" ucap wanita cantik itu dengan penuh percaya diri.
Dia Verlita. Mantan kekasih Alvino, yang dari dulu sangat terobsesi dengan lelaki tampan berlesung pipi itu. Bukan saja ketampanan dan pesona lelaki itu yang membuatnya tergila-gila. Namun harta dan kekayaan keluarga Dharmawan juga menjadi incarannya. Apalagi Alvino adalah Putra tunggal. Segala cara dilakukannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Tak berapa lama, bel apartemennya berbunyi. Wanita itu tersenyum senang. Dia tahu, itu pasti Alvino. Dengan langkah cepat, Verlita berjalan dan membuka pintu.
"Hai, baby" hendak menyentuh wajah tampan Alvino, namun lelaki itu segera menghindar.
"Tangan tu di kontrol. Lo tau kan ? gue nggak suka disentuh sembarangan. Apalagi itu Lo, nggak s u d i" ucap Alvino penuh penekanan.
Lelaki itu masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Tanpa peduli sedikit pun pada pemilik apartemen itu.
"Dimana dua orang itu ?" tanya Alvino.
"Dua orang siapa ?" Verlita bingung.
"Ck, nggak usah pura-pura bodoh. Bilang sama mereka untuk ke sini, gue tunggu sekarang" perintah Alvino.
Dia mau ngapain sih ? perasaan gue mendadak nggak enak yah !
"Kenapa mereka harus kesini ? mau ngapain emang ?" tanya Verlita sedikit khawatir.
"Ngapain lagi, ngobrol lah. Kemarin malam gue belum ngobrol banyak dengan mereka" jawab Alvino cuek.
"Nggak mau ! gue mau berduaan aja sama Lo " mencoba merayu Alvino.
Alvino terkekeh. "Lo pikir gue mau begitu ? bahkan dalam mimpi pun, gue nggak sudi"
"Kapan sih, Lo mau buka hati nerima gue lagi kayak dulu ? gue kurang apa Alvino ? bahkan, gue lebih cantik dan lebih segalanya dari Jennifer" nada Verlita mulai meninggi.
"Bisa-bisanya Lo masih ngebela dia ? Lo udah mutusin dia kan ?" tanya Verlita penasaran. Pasalnya dia sudah tidak sabar mereka mengakhiri hubungan. Dan Alvino hanya akan menjadi miliknya.
"Sekalipun gue mutusin dia, bukan berarti gue nggak cinta lagi sama dia. Dengar ini baik-baik ! putus atau nggak, jauh atau dekat, bersama-sama atau pun nggak, cinta gue buat Jennifer nggak akan pernah hilang. Nggak lekang oleh waktu. Semua buat dia. Nggak ada sisahnya. Bahkan buat diri gue sendiri udah nggak ada. Semua hanya untuk J E N N I F E R !" ucap Alvino penuh penekanan dan sangat tajam bagai belati yang menyayat sepenggal hati Verlita.
Tak akan 'ku ingkari,
Terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi
Namun 'tak pernah bisa
Lenyapkanmu di benakku
Dirimu di hatiku, tak lekang oleh waktu
Meski kau bukan milikku.
[ Tak lekang oleh waktu ~ Kerispatih ]
"Kamu keterlaluan Alvino" teriak Verlita.
"Sudahlah, gue nggak mau bahas ini. Udah jelas dan udah paham kan ? sekarang panggil dua orang itu kemari" titah Alvino yang di lakukan tanpa bantahan lagi oleh Verlita.
Keduanya duduk dalam kesunyian, karena Alvino yang tidak ingin berbicara dengan wanita di depannya. Menunggu dua orang yang di telepon Verlita tadi.
_______
30 menit terlah berlalu dan dua orang yang di tunggu-tunggu akhirnya datang. Verlita mempersilahkan mereka masuk
"Eh, hai Vin. Ada disini juga ?" tanya salah satunya yang adalah kenalan Alvino yang waktu di club.
"Yoi, sengaja emang. Gue nggak mau basa basi. Gue minta kalian berdua kesini, mau nanyain tentang apa yang terjadi di club kemarin malam" pertanyaan Alvino membuat ketiga orang itu salah tingkah dan mulai was-was.
"Mm me-memangnya apa yang terjadi ?" mulai panik dengan tatapan elang Alvino.
"Nggak usah tegang gitu bro, santai. Gue nggak gigit kok" canda Alvino. "Gue cuman mau tau, siapa yang nemenin pacar gue pas gue nggak disana ?" lanjut Alvino.
"Oh itu, ini dia nih yang nemenin" ucap salah satu dari mereka dan menunjuk yang satunya lagi.
Alvino mendekat pada orang itu. "Gue cuman mau bilang makasih kok" dan saat sudah di dekat orang itu tanpa menunggu lama ...
Bugh ... "Ini karena sudah lancang menyentuh wajahnya"
Bugh ... "Ini karena berani memaksanya minum"
Bugh ... "Dan ini karena berani-beraninya ngebohongin gue"
Verlita terperanjat dan histeris melihat itu. Temannya yang satu pun takut, nyalinya menciut melihat emosi Alvino.
"Alvino ! apa-apaan ini ? Lo udah gila ya ?" teriak Verlita sambil menarik tangan Alvino. Bukannya berhenti, Alvino malah mendorong Verlita dengan kuat hingga wanita itu terhempas ke lantai begitu saja.
Alvino menarik kerah baju lelaki itu. "Gue peringatkan, jangan pernah sekali-kali berani menyentuhnya seujung kuku pun. Lo akan berhadapan dengan gue. Ini peringatan keras buat kalian bertiga. Ngerti ?" ancam Alvino tak main-main.
Bugh ... satu bogeman lagi tepat di wajah lelaki itu, kemudian di hempasnya dengan kasar. Alvino berbalik pada Verlita. Di cengkramnya kedua pipi Verlita dengan sebelah tangannya kuat.
"Udah gue bilang kan ? gue bakal turutin mau Lo, tapi jangan pernah melibatkan dia. Jangan pernah sakitin dia. Sehelai saja rambutnya yang Lo sentuh, Lo akan bayar dengan sangat mahal" ucap Alvino menahan geramnya.
"Satu hal yang harus Lo pahami Verlita, gue rela ikutin mau Lo, itu semua demi dia. Itu semua buat melindungi dia dari ular berbisa kayak Lo. Gue ngelakuin ini bukan karena takut sama Lo, ini demi Jenn. Hanya D E M I dan U N T U K J E N N" Alvino menekankan kalimat terakhirnya dengan tegas.
Puas melepaskan emosinya, Alvino langsung berjalan keluar dari apartemen itu, meninggalkan tiga orang disana dalam ketakutan akan ancaman-ancamannya.
_Hargailah orang yang mencintaimu. Dia berkorban bukan untuk mengemis cinta, tapi dia ingin menunjukan betapa berharganya kamu di hatinya_
.
.
.
.
.
to be continued ...
____________
Hai buddies π
Thinkyuuuw buat yang tetap setia menanti cerita receh ini ππ€
jangan lupa tinggalkan like, komen , dan rate nya yah ππ₯°π₯°
Selamat membaca π€π€π₯°π₯°