
"Attention please! " ucap Alena sedikit keras meminta perhatian mahasiswa yang sedang berada disekitar meraka. "Guys! Kalian tau gak? Primadona kampus kita ini, yang dulunya digilai hampir seluruh kaum hawa sekampus. Dan dulunya seorang playgirl dengan deretan cowok-cowok tajir yang dengan bodohnya mau aja menjadi mainannya. Dan juga awalnya punya pacar yang perfect dari semua segi. Sekarang malah pacaran sama seorang montir rendahan. Menurut kalian, kata apa yang paling pantas untuk orang seperti dia, guys?" ucap Alena dengan nada sinis dan senyum mengejek.
"Yang pastinya kasihan banget kan, guys?" ucap Maureen yang berada disampingnya tertawa dengan angkuhnya. Fix! keduanya kini mengibarkan bendera perang dengan Jenn dan yang lainnya.
Jenn mematung ditempatnya. Tak habis pikir dengan dua temannya yang sekarang. Sedangkan telinganya kini panas dengan bisik-bisik dari mahasiswa yang ada disana.
Kasihan banget yah. Udah gak bisa lagi godaain yang kaya kali. Ucap seorang dari mereka yang berada disana.
Pesonanya udah luntur kali, sampai beralih ke montir.
Seleranya jadi rendah gitu yah.
Gak percaya gue. Kok bisa-bisanya sih.
Kira-kira seperti itu yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Marah? sudah pasti dia marah. Tetapi dia memilih untuk tetap diam dari pada membalas. Tanpa dia sadari, apa yang saat ini tengah dia lakukan adalah pengaruh dari kebiasaan Kenn yang selalu sabar menghadapinya meski sedang dilingkupi amarah. Sungguh! Kenn telah banyak mengubah gadis cantik itu menjadi Jenn yang lebih baik.
"Sudah selesai? Awas gue mau lewat." ucap Jenn dengan tenang.
"Ops! Minggir, bebs. Jangan sampai virus-virus orang rendahan menempel" ucap Alena pada Maureen sambil mengibaskan tangannya.
Keduanya lalu menyingkir dan bergeser kesamping, memberikan jalan bagi Jenn. Si cantik itu dengan langkah cepat setengah berlari menuju kelasnya. Alena dan Maureen yang melihat Jenn sudah pergi langsung ber-tos ria dan terbahak.
_________________________
"Lo denger tadi gak? Kak Jenn lagi jadi topik pembicaraan semua orang" ucap Nayla pada Fanya.
"Iyah kah? Ada apa emang sama kak Jenn?" tanya Fanya sedikit cuek karena lagi fokus makan.
Saat ini kedua gadis cantik itu sedang makan dikantin kampus. Nayla yang sejak tadi mendengar bisikan-bisikan warga kampus tentang kakak tingkatnya itu begitu penasaran.
"Digosipin lagi pacaran sama montir. Bener gak sih?" balik bertanya.
"Hah, apa? Montir? Jangan bilang ..." ucap Fanya menggantung.
"Kak Kenn!" keduanya berkata kompak dan saling menatap dengan mata membulat.
"Seriussssss?" Fanya mengguncang bahu sahabatnya dengan kencang.
"Gue juga gak tau pasti" mengedikan bahunya.
Fanya langsung bergegas berdiri dari tempat duduknya.
"Gue pulang dulua, yah. Bye!" Fanya buru-buru pergi dari sana, tanpa menunggu persetujuan dari sahabatnya.
"Hei, tungguin! Kenapa sih tuh anak. Buru-buru amat" kesal Nayla yang ditinggal Fanya.
______________________________
Di Bengkel.
Siang ini, Kenn bekerja sedikit tidak berkonsentrasi. Pikirannya masih berputar pada kejadian semalam dan pagi tadi. Apalagi jika mengingat sang kekasih. Hati Kenn menjadi gelisah tak menentu. Dia ingin selalu bisa memastikan bahwa keadaan kekasihnya itu baik-baik saja.
Tapi tentu saja Kenn tidak bisa untuk selalu melakukan hal itu. Dia harus membagi waktu antara Jenn dan pekerjaannya. Sebenarnya bisa saja bagi Kenn untuk tidak bekerja dan memilih mengikuti kekasihnya itu kemanapun. Karena dia mendapat izin itu langsung dari pemilik bengkel, yang tak lain ayah dari sahabat baiknya yang sudah seperti keluarga sendiri.
Namun Kenn tidak ingin bekerja seenaknya saja seperti itu. Meskipun disayang oleh orang yang sudah dianggap seperti ayah baginya, Kenn tidak mau harap gampang dan terkesan tidak tahu diri. Dia ingin bekerja dengan benar sesuai jalur dan prosedur yang berlaku. Karena itu juga merupakan bentuk ungkapan terimakasihnya pada keluarga Farel. Selain alasan itu, Kenn juga punya alasan lain. Yaitu Jenn. Ya, kekasihnya itu yang menjadi semangat baginya dalam segala hal. Dengan bekerja keras, Kenn ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia akan membahagiakan Jenn suatu hari nanti. Dia ingin bekerja keras agar bisa melamar gadis cantik pujaannya itu jika saatnya tiba. Itu adalah harapan dan impian terbesarnya saat ini. Jenn telah menjadi tujuan hidupnya.
Untuk itulah, Kenn tidak mau selalu bolos kerja. Dia ingin bekerja sungguh-sungguh dengan totalitasnya.
"Kenn!" sapa Farel.
"Hmm" menjawab malas.
"Ada masalah?" tanya Farel yang sangat memahami suasana hati sahabatnya itu.
"Sotoy, Lo" masih malas.
"Ayo makan dulu, Bro" ajak Farel.
"Duluan aja, gue belum laper. Ini juga masih kerja" masih terus dengan pekerjaannya meski tak fokus.
"Udah gak usah diterusin. Gue perhatiin Lo gak konsen dari tadi. Istirahat gih" paksa Farel.
Kenn berhenti sejenak dan menatap sahabatnya. "Keliatan banget yah?" tanyanya.
Farel mengangguk. "Memangnya ada apa sih? Lo gak mau ngomong sama gue?"
Kenn tersenyum kecil. "Emang sotoy, Lo yah" menunduk sejenak dan kemudian mengangkat wajahnya kembali. "Ntar malam gue kerumah, baru gue ceritain" ucapnya.
"Okay! Gue tungguin. Makan dulu, ayo!" kembali mengajak Kenn.
Belum sempat Kenn menolak ajakan Farel, sebuah suara mengalihakan atensi kedua lelaki itu.
"Selamat siang Kakak-kakakku yang ganteng" suara yang selalu membuat dua lelaki itu pusing.
"Ngapain Lo kesini? Sana pulang!" Farel mengusir adiknya.
"Ih, nyebelin banget sih. Bantuin Fanya dong, Kak Ken" merengek pada Kenn.
"Kak Kenn setuju sama Farel. Pulang aja yah. Kakak-kakakmu ini lagi kerja. Bukan lagi main" ucap Kenn yang membuat gadis itu bertambah kesal.
"Aih, punya kakak gak ada yang baik. Dua-duanya ngeselin" cemberut dan menghentakan kakinya seperti anak kecil.
Kenn tertawa kecil. "Kasian banget sih. Mau apa kesini emang?" tanyanya.
Fanya tersenyum senang. "Mau ngobrol sama Kakak" ucapnya begitu ceria.
"Ada apa hm?" tanya dengan sabar.
"Ck. Gak usah didengerin, Kenn. Ntar Lo pusing lagi" ucap Farel membuat jengkel adiknya.
"Kak! Fanya nanya nih tapi Kakak jawab jujur yah" ujar gadis itu saat keduanya sudah duduk. Farel hanya berdiri dan melihat gerak-gerik adiknya.
Kenn mengangguk. "Iyah. Apa sih? Intronya lama bener" meneguk sebotol air.
"Hmm, Kakak beneran pacaran sama kak Jenn?" to the poin.
Lagi Kenn mengangguk. "Iya. Kenapa emang?"
"It ..."
Dering ponsel Kenn berbunyi dan menginterupsi percakapan mereka saat itu. Melihat nama penelepon pada layar ponselnya, senyum Kenn pun terbit. Melihat itu Farel dan Fanya sudah bisa menebak siapa diseberang sana.
"Halo"
"Masih kerja?"
"Gak. Ini lagi istirahat"
"15 menit lagi aku pulang"
"Tunggu disana. Aku otw"
"Jangan lama-lama yah. Aku rindu! Haha. I love you, sayangku. Bye"
Tut!
Kenn belum sempat untuk berucap, si cantik diseberang telah memutuskan sambungan teleponnya. Kenn hanya tersenyum dan menggeleng kecil.
"Kak Jenn yah" tanya Fanya.
Kenn mengangguk. "Gue, siap-siap mau jemput Jenn dulu yah"
"Tapi kamu belom makan siang, Kenn" Farel begitu perhatian pada temannya itu.
"Nanti aja sama Jenn" ucap Kenn singkat.
Dia langsung berdiri merapikan perlengkapan kerjanya dan membersihkan tubuhnya sebentar. Tak lupa Ia mengganti pakaian yang dipakainya dari rumah.
"Makan sama Jenn atau Lo yang makan dia?" goda Farel.
Seketika Kenn tertawa dan melempar Farel dengan botol bekas minumannya. "Mau dua-duanya dong. Tapi nanti. Tunggu dia siap dulu. Haha. Jangan ngegas, bro" Kenn mengedipkan matanya.
Farel tersenyum sambil berdecak. "Wah, wah, udah mulai gak waras Lo yah" berkacak pinggang.
"Gimana yah? Dia yang buat gue gak waras sih" kedua lelaki itu sama-sama tertawa. Fanya menyaksikan itu geleng-geleng kepala.
Astaga, mereka sama-sama udah gak beres.
Tak lama setelah itu, Kenn berlalu dari sana menuju kampus untuk menjemput kekasih hatinya. Farel dan Fanya pun segera pergi dari sana.
________________________________
Sesampainya diparkiran kampus, Kenn mengeluarkan ponselnya hendak memberitahukan pada si cantik kesayangannya bahwa ia sudah diparkiran. Sudah dua kali Kenn menelepon tapi tak ada jawaban. Ia mencoba sekali lagi namun masih sama. Tak ada jawaban. Kenn mulai gelisah. Ia lalu menelepon Rossa.
"Halo Kak"
"Jenn ada sama Lo?"
"Gak kok. Udah duluan tadi katanya"
"Hah? Lo dimana sekarang?"
"Ini lagi jalan ke parkiran. Kak Kenn dimana emang?"
"Ini diparkiran. Cepatan kesini yah"
"Oh iya, Kak"
Kamu dimana, sayang? Jangan bikin Aku khawatir.
_______________πππππ______________
.
.
.
.
.
to be continued ...
_________________
Hay Hay π
Selamat membaca yah π€π
Jangan lupa tinggalkan like, koment, rate, dan tambahkan ke favorit yah β€οΈπ
Terimakasih buat yang selalu mampir ππ₯°π₯°
Terus dukung STP yah gaess πππ
Love you all β€οΈπ