Simple But Perfect

Simple But Perfect
Hanya untuk Alvino



"Pelan-pelan dong Jenn, penasaran banget yah" Fio cekikikan begitu keduanya sampai di toilet.


Karena tidak ingin yang lain tahu, Fio beralasan ingin temani Jenn ke toilet. Dan disinilah mereka sekarang.


"Ck, apa yang ada di otak Lo hah ?" tanya Jenn dengan mendorong pelan kepala Fio. "Yang buat gue penasaran itu, tau dari mana Lo tentang dia ? emang sedekat apa Lo sama dia hah ? ketemunya dimana ?" Jenn menghujani Fio dengan rentetan pertanyaan.


"Nah justru itu yang mau gue jelasin. Berhubung pesannya harus gue sampaikan ke Lo, jadi gue bakal jujur sama Lo. Tapi, please ! jangan ngasih tau buat yang lain" pinta Fio dengan tatapan memohon.


"Ok, gue terlanjur penasaran banget jadi gue janji bakal tutup mulut" sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. "Ayo, cepetan. Tunggu apa lagi ?" Jenn sungguh tak sabar dengan rasa penasarannya.


"Hm, gue ... gue emang nggak deket sama kak Kenn. Ketemu pun nggak. Tiap ketemu kan pas lagi sama kalian" Fio memulai pembicaraannya.


"Lah, terus ? tau dari mana ?" tanya Jenn lagi.


"Ish, sabar mini. Orang belum selesai ngomong juga"


"Makanya cepetan, gak usah pake intro deh. To the point aja langsung"


"Farel yang ngasih tau ke gue" ucap Fio pada akhirnya.


Jenn mengernyit. "Farel ? who is he ?" tanya Jenn bingung.


"Dia temannya kak Kenn. Dan dia ... dia ... dia pacar gue" Fio membuka sudah rahasianya pada Jenn.


"What ? udah nggak jomblo ? sejak kapan ?" Jenn lantas memekik. Fio dengan cepat menutup mulut Jenn dengan tangannya.


"Pelan-pelan aja mini, gak usah teriak juga. Udah di bilangin jangan sampai yang lain tau ,,, ish" Fio jadi kesal.


Jenn menurunkan tangan Fio. "Jadi selama ini Lo diem-diem pacaran dan nggak ngasih tau ke kita ? ckckck, mainnya cantik bener dah" tidak menghiraukan kekesalan Fio, suara Jenn semakin menjadi-jadi.


"Astaga" Fio menepuk jidatnya. "Di bilangin malah makin menjadi. Udahlah, gue nggak mau ngomong lagi. Balik aja deh" Fio hendak berbalik namun di tarik Jenn.


"Lanjut nggak ? kalo nggak, beneran gue kasih tau buat yang lain ini. Cepetan !" perintah Jenn dengan mengancam.


"Ck, iya. Gue pacaran ma Farel udah hampir dua bulan ini" menjawab dengan malas.


"What ? et dah, rapi bener nyimpan rahasianya" lagi-lagi Jenn memekik.


"Hadeh, cukup ! gue gak mau ngomong lagi. Intinya, kak Kenn suka sama Lo. Farel cuman mau ngasih tau perasaan temannya buat Lo. Katanya kak Kenn udah lama nyimpan rasa sama Lo. Udah yah, itu aja pesan dari Farel" dan perkataan Fio yang ini, sukses membungkam mulut Jenn yang berisik sejak tadi.


Deg ! deg ! ...


Jenn terpaku ditempatnya dengan debaran jantung yang tak beraturan, terus menghantam rongga dadanya.


Kilas ingatannya berputar pada pertemuan-pertemuannya dengan Kenn. Dari awal bertemu karena sebuah insiden kecil, sampai bahaya-bahaya yang selalu menghampirinya. Dan lelaki itu yang selalu hadir bak guardian angel baginya.


Jenn memegang dadanya sambil menggeleng kepalanya pelan.


Nggak, hati gue cuman buat Alvino.


Hei jantung, diem. Berdebarlah hanya untuk Alvino.


"Kenapa Lo ?" tanya Fio melihat Jenn yang linglung.


Gadis itu bergeming. Masih larut dalam perasaannya yang membingungkan.


"Miniiiii" teriak Fio sambil mengguncang lengan temannya.


Jenn terperanjat. Kesadarannya telah sepenuhnya kembali dengan cara bar-bar Fio.


"Ish, nggak usah teriak-teriak juga, nyuk" sungut Jenn.


"Makanya jangan ngelamun. Mikirin kak Kenn yah ?" goda Fio dengan menaik turunkan alisnya.


"Sotoy Lo" Jenn menoyor kepala Fio. "Balik gih, ntar Alena sama yang lainnya curiga lagi" Jenn hendak berbalik namun di cegat Fio.


"Apa lagi ?" tanya Jenn dengan malas.


"Ingat perjanjiannya. Ini rahasia kita berdua" ucap Fio.


"Iya tau" ucap Jenn dan langsung berjalan pergi. Namun lagi-lagi Fio menghalangi jalannya.


"Lo ini kenapa sih ? awas gue mau jalan" Jenn melotot sambil berkacak pinggang.


"Bentar dulu Jenn. Jadi gimana sekarang ?" pertanyaan ambigu dari Fio.


"Gimana apanya ?" balik bertanya.


"Yaelah ... pendapat Lo, perasaan Lo gimana, miniii" Fio gemas dengan temannya.


"Nggak gimana-gimana. Biasa aja" sangkal Jenn. Padahal tiap mendangar nama Kenn dia selalu dibuat berdebar. "Emang apa yang Lo harapkan ? Sorry yah, gue punya Alvino. Nggak ada yang bisa gantiin posisi dia" ucap Jenn dengan tegas dan berlalu meninggalkan area toilet.


Fio berlari kecil mensejajarkan langkahnya dengan Jenn.


"Hati-hati dengan perkataan Lo Jenn. Jangan sampai kata-kata Lo kebalik. Ingat ! kak Kenn punya pesona yang sama dengan Alvino" ucap Fio.


Jenn hanya menoleh sebentar pada temannya sambil tersenyum mengejek.


"Banyak kaum hawa tergila-gila padanya Jenn, termasuk gue" Fio merapat lalu berbisik di telinga Jenn. Sukses membuat Jenn jengkel, dia pun lari meninggalkan gadis cantik bertubuh mungil itu.


"Ish, dasarrrr ganjen" Jenn mendengus kesal.


Tapi kenapa rasanya nggak suka yah ?


Ck, gara-gara si Fio. Anggep aja dia iblis yang lagi menggoda.


Jenn membatin dan berjalan terus menuju kelasnya.


____________________


"Bang, beneran sore ini mau balik ?" Reza bertanya pada Alvino.


"Hm" menjawab malas.


"Lesu amat, bang" Reza melihat abangnya begitu tidak bersemangat.


Alvino menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan. "Berat banget ninggalin Jenn" ucap Alvino.


"Biasa itu bang, lama-lama juga bakalan kek biasanya"


"Lo nggak bakal ngerti" berucap malas lalu menoleh pada Reza. "Abang boleh minta tolong gak sama Lo ?" sambung Alvino.


"Bolehlah bang, selagi masih bisa"


"Tapi sebelumnya abang mau nanya dulu, jawab jujur tapi"


"Iya bang"


Pertanyaan macam apa ini ? jebakan kah ? gue mesti jawab apa ?


"Ingat ! j u j u r, Reza" mengingatkan si Reza.


"Baiklah, gue jujur" menarik nafas sebentar. "Sebenarnya ... bukan sekedar suka, tapi gue beneran cinta sama Jenn, bang" melirik takut pada Abangnya.


Alvino tersenyum smirk.


Udah gue duga. Hah, rasanya mau ngantongin kamu aja, hon ! biar nggak di lirik sama yang lain. Batin Alvino.


"Sejak kapan ?" tanyanya.


"Sudah sejak lama, bang" Alvino menganggut-anggut, dan Reza melanjutkan ucapannya. "Dan gue pernah ngungkapin perasaan gue ke dia, bang" Alvino sedikit tidak suka.


"Berani banget Lo" mulai geram.


"Sabar bang. Kan gue nggak tau, kalo dia pacar abang" jelas Reza.


"Terus dia jawab apa ?" lagi-lagi bertanya.


"Dia nerima gue. Tapi ... gue nggak sadar kalo dijadiin cadangan doang. Bahkan, nggak pernah di anggep pulak" ucap Reza sambil terkekeh. Menertawakan diri sendiri.


"Serius ?" Reza mengangguk sedangkan Alvino langsung terbahak.


"Ck, senang banget adiknya di jadiin koleksi pacar sendiri" Reza berdecak kesal.


Alvino masih terbahak lalu menepuk pelan pundak adiknya. "Nanti abang ngajarin cara naklukin hati cewek deh" berucap dengan sisah-sisah tawanya.


"Ah, Abang mah gak perlu susah-susah. Orang ganteng gitu, nggak ngapa-ngapain aja cewek pada kecantol" Reza begitu kesal.


"Tadinya abang mau marah, tapi liat muka Lo kek gitu, jadi nggak tega abang" masih saja tergelak.


"Puas bener yah, ngetawain adik sendiri"


"Tampang Lo itu lucu banget, Za. Tapi emang Jenn bukan buat Lo dan siapapun. Dia cuman buat abang" ucap Alvino dengan bangganya.


"Iya, iya, tau pasangan serasi. Gue minta maaf bang. Pas waktu abang ngenalin Jenn waktu itu, gue udah ngelupain rasa gue buat dia kok. Gue sadar diri banget, gak ada apa-apanya dibanding abang" ucap Reza dengan berbesar hati.


"Masih banyak gadis baik lainnya kok" Alvino menepuk pundak Reza. "Sekarang abang mau minta tolong sama kamu, buat jagain Jenn kalau abang dah balik" lanjutnya lagi.


Reza mengangguk. "Siap bang, siap laksanakan tugas" ucap Reza, sambil merapatkan jari tengah dan telunjuk lalu mengacungkannya di ujung pelipis.


"Tapi jangan ngambil kesempatan buat deket-deket juga. Awas aja Lo, kalo berani" ancam Alvino.


"Yaelah bang, kagak percaya banget sih. Mulai sekarang, gue panggil Jenn kakak ipar deh. Gimana ?" Reza menaik turunkan alisnya.


"Nah keren itu, abang percaya sama Lo" ucap Alvino lalu melirik jam tangannya sebentar. "Abang mau jemput Jenn dulu. Sore kita ke bandara sama-sama. Lo mulai tugas Lo ntar sore. Ok ?"


"Ok, bang !"


________________


"Tadi, kalian berdua ngapain aja di toilet ? lama banget lagi" sungut Alena.


"Iya nih, hampir aja kita mau nyusul. Kirain pada pingsan lagi di toilet" tambah Yuni.


"Ini nih, si Fio yang bikin lama" ucap Jenn melirik Fio dan mendapat pelototan dari gadis itu. Jenn hampir saja menertawakan ketakutan temannya itu.


Komplotan the most wanted itu, sedang berjalan menuju parkiran.


"Jenn, beneran Alvino mau balik ntar sore ?" tanya Maureen.


Jenn hanya mengangguk.


"Emang Lo nggak sedih ? ikhlas aja gitu ?" kali ini Retha yang bertanya.


Dan pertanyaan gadis malang itu sukses menghadiahinya tabokan rame-rame dari kelima temannya.


"Sakiiitt woee" teriak Retha dibarengi kesal.


"Makanya, nanya itu yang bener. Mana ada orang di tinggal LDR-an sama pacar happy-happy aja hah ?" sumbur Alena.


"Lah gue kan kagak tau" sewot Retha.


"Noh, pacaran dulu biar tau rasanya" ucap Yuni.


"Emang Lo udah pacaran ? udah tau rasanya kek apa ?" Retha balik bertanya.


"Hehehe,,, belom" jawab Yuni cengar-cengir.


"Yee,,, sotoy Lo" alhasil Yuni pun mendapat toyoran rame-rame.


Ditengah keributan yang tercipta oleh tingkah konyol mereka, suara berat seseorang yang memanggil Jenn menginterupsi obrolan mereka.


"Bi"


Jenn tersenyum senang melihat wajah tampan sang kekasih. Gadis itu lalu berpamitan pada teman-temannya.


"Gengs, gue duluan yah, bye"


________________________


.


.


.


.


.


to be continued ...


________________________


Hai semuanya πŸ‘‹


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah πŸ™πŸ₯°


Thinkyuuuw banget buat yang udah mampir πŸ™πŸ€—


Dukung STP terus yah guys 😁🀭


Selamat membaca πŸ€—πŸ˜˜β€οΈ