
Siang itu suasana di bengkel mulai sepi, sebagian karyawan memulai makan siang mereka. Di sana nampak Kenn masih serius dengan pekerjaannya, tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan suara-suara karyawan lain yang mengajaknya untuk makan.
Laki-laki tampan itu hanya menjawab sekenanya saja, dan melanjutkan pekerjaannya kembali. Melihat itu, Maya berinisiatif untuk mendekati Kenn dan mengajaknya untuk makan bersama.
"Hai!" sapa Maya dan berdiri tepat di samping Kenn. Lelaki tampan itu menoleh sebentar.
"Eh, hai! Gak ikut makan sama yang lain?" tanya Kenn dan berhenti sejenak dari kegiatannya.
"Sengaja mau nungguin, Lo. Makan yuk!" ajak Maya dan Kenn pun mengangguk.
Mereka berdua kemudian bergegas meninggalkan bengkel dengan berjalan kaki menuju rumah makan terdekat, yang berada tepat di samping tempat kerja mereka.
Maya yang begitu bersemangat langsung memesan makanan sesuai keinginannya, tanpa menanyakan dulu pada Kenn. Menunggu beberapa menit, dan pesanan mereka pun datang.
"Makasih, Mbak!" ucap Maya pada pelayan yang membawakan pesanan mereka. Sesudah itu, pelayan itu pun kembali mengerjakan tugasnya.
"Ayo mak ... ,!" kalimatnya menggantung karena tangan Kenn memberinya kode untuk diam, dengan isyarat telunjuk di bibirnya. Maya pun dengan refleks membungkam.
π "Halo, sayang!"
Mendengar sapaan itu, wanita yang duduk di depannya itu memutar bola matanya malas. Dia tahu betul, siapa gerangan yang di seberang telepon itu. Tentu saja gadis cantik, kekasih Kenn yang hampir dua bulan ini selalu mampir di bengkel tempat kerjanya bersama Kenn.
π "Hai, sayangku! Lagi apa?"
π "Ini mau makan siang. Kamu dah makan belom, yang?"
π "Udah, tadi. Kenapa baru makan sih?"
π "Belom lapar, sayang! He-he-he. Ini juga mau makan, tapi kamu nemenin yah!"
"Lah, Aku di sini ngapain dong, Kenn? Kan nemenin kamu," sahut Maya dengan cepat, yang tidak tahan mendengar kemesraan yang Kenn tunjukkan di depannya. Dia sengaja agar seseorang di seberang telepon itu mendengar dan bisa cemburu.
π "Siapa di sana, yang? Lagi sama siapa?"
π "Itu Maya, sayang! Karyawan bengkel juga, yang di bagian kasir itu loh. Inget kan?"
π "Oh ... Iya, iya inget kok. Ya udah, makan gih, aku temenin. Selamat makan, sayangku!"
Acara makan siang Kenn saat itu, ditemani oleh sang kekasih via telepon. Lelaki itu memang sengaja melakukan panggilan tepat di saat jam makannya. Dia yang mendapat peringatan dari Farel pagi tadi, mendadak was-was di segala situasi.
Dia tidak ingin kemungkinan dan celah sekecil apa pun berpotensi merusak hubungannya dengan sang kekasih, seperti ancaman peneror beberapa waktu lalu. Apalagi sampai membuat Jenn cemburu, tidak! Kenn tidak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka. Sebisa mungkin, dia berusaha menjaga perasaan Jenn serta hubungannya.
Maya yang melihat itu menjadi kesal setengah mati namun ditahannya sebisa mungkin. Ia tetap memaksakan senyum dan pura-pura tidak mendengar apa pun, meski pada kenyataannya ia tak dianggap sama sekali oleh laki-laki di depannya.
Diam-diam Farel memperhatikan gerak-gerik keduanya dari jauh. Dia ingin memastikan apakah kecurigaannya terhadap karyawan wanita itu benar atau tidak. Dia pun ingin segala sesuatu tentang Kenn dan Jenn tetap aman, mengingat upayanya bersama sang kekasih dalam menyatukan dua orang yang saling menyimpan rasa kala itu, hingga dapat bersama saat ini. Tentu saja Farel tidak ingin semuanya hancur dengan mudah oleh orang-orang yang tidak ingin melihat mereka bahagia.
Dalam pemantauannya siang itu, ia tidak menemukan adanya sesuatu hal yang mencurigakan dari wanita yang bersama Kenn. Farel pun memutuskan untuk menyudahi misi pemantauan.
********
Di lokasi KKN
Setelah selesai menemani sang kekasih makan siang via udara, Jenn kembali berkumpul bersama teman-temannya dan melanjutkan kegiatan hari itu.
Semua mahasiswa KKN nampak seragam dengan jaket almamater berwarna biru yang membuat mereka terlihat mencolok di antara sebagian warga yang sedang berkumpul di balai desa.
Di sana terlihat Jenn sedang memimpin jalannya kegiatan siang itu. Si cantik itu sedang menjabarkan serangkaian program yang akan mereka terapkan di sana.
"Salah satu inisiasi program kerja yang saya implementasikan di sini adalah kiddo's study club atau kelompok belajar untuk anak-anak. Ide ini saya kembangkan dari mata kuliah semester lalu yaitu 'Teaching For Young Learners', yang di tujukan untuk siswa Sekolah Dasar atau pun Sekolah Menengah Atas." Jelas Jenn pada semua yang hadir saat itu.
Gadis cantik yang telah bermetamorfosis menjadi seorang wanita meski pada dasarnya usianya belum mencukupi kategori wanita dewasa, namun kehidupan cintanya telah mengubahnya dan menuntunnya memasuki kriteria itu dengan paksa. Di sana ia terlihat sangat kompeten dan berkharisma. Auranya begitu bersinar dari biasanya.
Diam-diam Fio memperhatikan temannya dengan seksama. Bukan pada pembicaraannya namun pada raut wajahnya.
"Lo liat dia gak?" Bisik Fio seraya menyenggol lengan Reza yang duduk di sampingnya.
"Siapa? Jenn? Iya, nih lagi liatin dia juga. Kenapa emang?" tanya Reza yang juga ikut berbisik.
"Apanya yang Lo liat? Apanya yang Lo temukan di sana?"
"Ya liat orangnya, dan dengerin penjelasannya lah. Gimana sih, Lo?"
Sejenak Reza mengikuti ucapan Fio. Dia menatap wajah cantik itu dengan seksama, mencari sesuatu yang tampak berbeda di sana.
"Ya jelas saja, tergambar jelas kebahagiaan di wajahnya. Gue ikut senang liatnya." Tutur Reza, meski separuh hatinya masih untuk Jenn. Tak bisa dipungkiri, perih dan sesak itu ada. Namun cinta yang sesungguhnya bukan kah bahagia melihatnya bahagia dengan pilihannya? Itulah yang selalu ada di pikiran Reza, dan karena itulah dia selalu bahagia untuk setiap kebahagiaan Jenn.
Dua orang berbeda genre itu sudah tak lagi fokus dengan pembicaraan Jenn dan yang lainnya di sana. Keduanya larut dalam pemikiran masing-masing tentang Jenn.
"Berdasarkan hasil observasi saya bersama rekan-rekan saya beberapa hari lalu, dengan kondisi anak-anak di sini, akhirnya saya memutuskan untuk mengembangkan pembelajaran yang fun atau menyenangkan untuk anak-anak, khususnya dalam keterampilan berbahasa Inggris." Papar Jenn yang kemudian di setujui oleh warga di sana dan tentunya program itu akan di implementasikan di sekolah-sekolah yang ada di desa tersebut.
Setelah selesai dengan penjelasannya, jalannya kegiatan hari itu pun di tutup oleh kepala desa. Semuanya kemudian meninggalkan balai desa tersebut.
Jenn lalu menghampiri kedua temannya.
Prok, prok, prok.
Reza menyambut si cantik itu dengan standing applause.
"Apa sih? Lebay banget!" Jenn mencebik.
"Bukan lebay, tapi Lo emang pantes mendapatkan ini. Lo keren banget!" Reza mengacungkan jempolnya pada si cantik itu. "Miss Jenn emang the best, gak ada tandingannya." Lagi-lagi ia memuji Jenn.
"Ck, sekali lagi ngomong kek gitu, gue tabok nih," sahut Jenn dengan mengarahkan buku tebal yang berada di tangannya ke arah Reza.
"Iya, iya macan," ucap Reza seraya terkekeh.
Plak!
Buku tebal di tangannya pun mendarat keras di bahu Reza.
"Ngomong sekali lagi!," Jenn memasang wajah galak.
"Apanya? Macan itu manis cantik woi. Lo gagal paham, Miss Jenn macan!" seru Reza sambil tertawa dan langsung berlari menjauh sebelum tumpukan buku-buku itu menimpanya kembali.
Jenn hanya menggelengkan kepalanya. Ia kemudian beralih melihat Fio yang sedari tadi diam saja dan tak menanggapi perdebatan dan tingkah dirinya bersama Reza.
"Bebs, Halo!" Jenn menggerakkan tangannya di depan wajah Fio.
"Apa? Gue liat, gue denger kok. Lo pikir gue ngelamun?" Fio melirik temannya dengan kesal.
"Ha-ha-ha, lah kenapa diem aja sih? Mana gak gerak-gerak lagi, yah gue pikir Lo ngelamun, bebs," Jenn merasa lucu namun juga bingung dengan sikap wanita yang sedang hamil muda itu.
"Gue itu lagi liatin Lo tau gak? Lo beda banget dari yang sebelumnya. Kek lebih cerah, lebih bersinar gitu." Ungkap Fio.
"Iya kah?" Jenn meraba-raba setiap sudut wajahnya. "Gak kok, biasa aja. Ada-ada aja nih Bumil. Ah pulang yuk! Cepek." Ucap Jenn yang tidak sadar dengan situsai saat itu, di mana ia dan Fio masih berada di luar, dan tentunya masih ada orang lain di sana yang bisa saja mendengar percakapan mereka.
"Bumil? Emang ada bumil di sini?"
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka, dengan tubuh keduanya yang seketika menegang.
Masalah!
Batin keduanya sambil menepuk jidat masing-masing.
..._____π¦π¦π¦π¦_____...
To be continued ...
Hai semuanya π maaf baru up lagi π ada sedikit masalah dengan otor βΊοΈ harap dimaklumi π
Terimakasih buat yang selalu setia menunggu Jenn dan Kenn ππ€ serta setia menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sini. Makasih π€π€
Readers yang baik hati, jangan lupa kasih like, komen, rate dan tambahkan ke favorit juga yah β€οΈ kalo punya vote di kasih juga yah π€ atau mau kasih bunga πΉ atau kopi β juga boleh banget π€
Makasih semuanya π dukung STP terus yah π₯°
Selamat membaca π€π€
π
Ig : @ag_sweetie0425