Simple But Perfect

Simple But Perfect
Definisi Pulang ke Rumah



...Hay'yoo guys πŸ‘‹...


...Ketemu lagi 😍...


...Tinggalkan like dan komen yah 😍...


...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Lo kenapa diam aja sih?" tanya Putri sedikit kesal dengan sikap Rossa yang terus membisu. Bahkan sampai Alvino telah meninggalkan rumah itu, tetapi Rossa masih saja diam tak bersuara.


Entahlah, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. Tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya, ia berlalu begitu saja menuju kamar.


"Apa dia juga ikutan shock? Au ah, yang penting gue cukup puas membuat sialan itu kena mental." Tertawa senang lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Gadis bar-bar itu mengingat kembali wajah Alvino yang bercampur aduk dengan ragam warna tentang rasa. Kaget, marah, kecewa, patah hati, hancur, benci, bahkan malu. Semua itu melebur dalam satu rasa yang mengaduk-aduk emosi Alvino, sehingga ia memilih pergi dari hadapan kedua gadis itu. Ia takut emosinya tak bisa terkontrol.


"Eh, Jenn?" Tersentak begitu mengingat sahabatnya yang sudah tak di sana. Ia bangkit dan menyusul Rossa ke kamar, tapi kamarnya tampak kosong. "Mandi kali." Melemparkan tubuhnya di atas kasur, sambil menunggu Rossa keluar dari kamar mandi. "Emosian juga nguras energi ternyata." Berguling di atas ranjang. "Dasar laki-laki gak ada akhlak, pemarah, kasar banget sama cewek. Ngomong dikit pake emosi. Untung aja Jenn gak jadi lanjut sama dia." Masih saja memaki Alvino. Karena terlalu lama menunggu Rossa, akhirnya ia beranjak ke dapur dan mencari makan.


Di tengah aktifitas makannya, Rossa datang dan bergabung bersamanya. "Jenn belum makan, Put!" Menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Putri terperanjat.


"What? Lah ngapain Lo biarin dia pergi gitu aja?" Mendadak khawatir. Hal ini yang sedari tadi ingin dia tanyakan pada Rossa. Ternyata benar dugaannya. "Coba ditelepon, biar aku bawain makan buat dia." Cepat-cepat ingin menyudahi makannya. Namun, sejurus kemudian gadis itu memicingkan matanya. "Lo ... habis nangis?" Melihat wajah Rossa yang sembab. "Kenapa?" tanyanya curiga.


Gadis kalem itu menghembuskan nafasnya. Katanya ia pun sedikit shock dengan kedatangan Alvino yang tiba-tiba, dan juga ia memikirkan perasaan sahabatnya, Jenn. Sesensitif itukah perasaannya?


Keduanya lalu mencoba menelpon Jenn, tapi nomornya tidak bisa dihubungi. Berulang kali mereka mencoba lagi dan lagi, tetap sama. Keduanya mulai khawatir.


Dalam kecemasan mereka, Putri memutuskan untuk menyusul Jenn ke rumahnya. Meski belum pernah ke sana, tapi dia tahu alamat rumah baru sahabatnya itu. Rossa sudah menyiapkan makanan pada sebuah kotak makan susun berwarna pink yang dimasukkan ke dalam goody bag. Dengan cepat Putri menyambarnya dan hendak keluar. Begitu ia membuka pintu, ia dikagetkan dengan keberadaan Kenn yang terlihat hendak mengetuk pintu rumah itu.


"Eh, hai kak!" Salah tingkah. Duh gimana ini? Kalo dia nanya, jawab apa gue? Gadis itu membatin. Rossa yang mengikutinya dari belakang pun terperanjat dengan kedatangan Kenn yang lebih cepat dari waktu yang semestinya.


Ini kan belum selesai jam kerja, kok cepet amat pulangnya? Gimana ini? Bilang apa nanti? Rossa pun bingung dengan situasi yang terjadi. Kedua gadis itu saling melemparkan tatapan bingung penuh tanya.


"Loh, pada mau ke mana ini?" Lantas bertanya, begitu melihat dua sahabat istrinya yang hendak keluar dengan membawa sebuah goody bag di tangan salah satu dari mereka. Kenn melongok ke dalam mencari sesuatu. "Jenn?" tanyanya penasaran ketika tak melihat sosok kecil istrinya.


"Ah, itu ... itu ...."


"Dia sudah pulang lebih dulu, Kak!" Putri melanjutkan ucapan Rossa yang terbata. "Katanya gak nyaman di sini, mood-nya tiba-tiba berubah kali," sambungnya lagi. "Dipaksa makan juga gak mau, makanya gue mau bawain makan siangnya." Mengangkat goody bag di tangannya, menunjukkan pada Kenn.


"Ck, udah dibilangin jangan lupa makan." Sedikit kesal. "Ya udah, biar gue aja yang bawaiin." Mengambil goody bag dari tangan Putri. Kenn langsung berpamitan dan pergi dari sana tanpa bertanya apa-apa lagi.


Tak berapa lama, ia tiba di rumah. Setelah memarkirkan motornya di garasi, Kenn melepas helm dan segera berlari kecil menuju pintu. Berulang kali ia membunyikan bel rumahnya, tapi tak kunjung juga ada tanggapan dari dalam. Tak ingin membuang waktu karena khawatir istrinya belum makan, Kenn segera mengambil kunci cadangan lalu membuka pintu rumahnya.


Ia masuk dan langsung menuju dapur, meletakkan goody bag berisi makanan istrinya di atas meja makan. Kenn melangkah cepat ke kamar hendak memanggil sang istri, tapi ia kaget begitu mendapati kamar mereka kosong. Bahkan kamar mandi pun sudah ia periksa.


Kenn mulai panik dan khawatir. Ia terus saja memanggil-manggil istrinya berulang kali, tapi tak ada jawaban. Kembali lagi seisi rumah ia periksa, tapi nihil.


Kecemasan mulai menguasainya. Bayang-bayang akan tulisan pada kertas di malam itu kembali menakutinya. Ia membuka pintu belakang dan memeriksa tempat santai yang malam itu sang istri tertidur di sana. Pikirnya, mungkin Jenn tertidur lagi di tempat itu, tapi kenyataan sama yang ia temui. Nihil.


Tak tinggal diam, ia menelpon kedua sahabat istrinya. Dua gadis di seberang sana pun kaget dengan penuturan Kenn.


πŸ“± "Sebenarnya ada apa sih? Gak mungkin dia pulang gitu aja, pasti ada sesuatu kan?"


Kenn semakin kacau mendengar ucapan dua gadis di telepon. Ia pun masih berusaha menelpon mamanya Farel, menanyakan keberadaan Jenn di sana. Lagi-lagi ia mendapatkan jawaban yang tidak ia harapkan.


Kenn mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba saja sebuah tempat terlintas di pikirannya. "Ya, pasti dia di sana." Tanpa menunggu lama, Ia berlari keluar dan mengunci pintu rumahnya. Ia kembali mengeluarkan motor dari garasi, dan dengan segera melesat dari sana, membelah jalanan sore yang padat dengan aktivitas para pengendara.


Dua puluh menit kemudian, Kenn tiba di tempat tujuan. Tampak dari luar, tempat itu tertutup rapat, sepi tak berpenghuni. Meskipun begitu, ia tetap masuk dengan yakin bahwa istrinya ada di dalam sana. Perlahan ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang masih ia miliki.


Satu persatu lampu di dalam rumah itu ia nyalakan. Terakhir langkah kaki membawanya menuju kamar yang pernah ia tempati bersama sang istri. Kenn membuka pintu kamar itu dengan pelan, dan ia langsung di sambut dengan wangi parfum yang sangat ia sukai. Wangi yang menguar itu serta-merta mendamaikan hatinya dan menenangkan jiwanya seketika. Lelaki tampan itu bernafas lega lalu menyalakan lampu. Cahaya itu menampakkan dengan jelas sosok mungil istrinya yang sedang terbaring di ranjang.


Kenn tersenyum lega dan langsung berjalan menuju ranjang. Ia duduk di bibir ranjang menatap sang istri. Tangannya terulur menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


"Basah?" Tanpa sengaja tangannya menyentuh sisah-sisah air mata yang masih berbekas di pipi mulus Jenn. Ia menunduk lalu mengecup kening istrinya. Sesudah itu ia beralih mencium perut sang istri. "Halo sayang!" sapa Kenn lembut sambil terus mengelus perut rata Jenn. "Belum makan yah? Maafkan ayah yang terlambat mengingatkan ibumu! Kita tunggu saja sampai ibumu bangun, dan kita makan sama-sama yah." Tersenyum sambil menghujani perut istrinya dengan kecupan. Kenn nampak senang sekali melakukan hal menakjubkan itu. "Terima kasih sudah menjaganya hari ini. Kita jaga dia sama-sama yah, Sayang! Ayah mencintai kalian!" Memberi kecupan terakhir dan hendak beranjak, tapi gerakannya sedari tadi mengusik tidur Jenn, pada akhirnya wanita cantik itu pun terbangun.


"Sayang?" panggil Jenn dengan suara serak. Si cantik itu mengucek-ngucek matanya. Ia yakin pasti Kenn melihat sembab di wajahnya. "Kok di sini? Kenapa gak langsung pulang ke rumah aja, Yang?" Mengalihkan pembicaraan.


Kenn memang sudah bisa menebak bahwa istrinya itu tadi pasti menangis. Selain jejak basah di pipinya, wajah sembabnya pun terlihat jelas, tapi Kenn tidak ingin serta-merta mengadilinya dan membuat mood wanita hamil itu semakin buruk.


Ia tersenyum mendengar perkataan istri kecilnya. Ia yang tadinya sudah berdiri, kembali duduk di samping Jenn. "Ini kan sudah pulang, Sayang!"


"Pulang ke rumah kita, Yang! Kan kita gak tinggal di sini lagi." Bangun dan duduk di samping sang suami.


Kenn terkekeh. Ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya lembut. "Aku sudah pulang, Sayang! Bukan di tempat ini, bukan juga di sana. Aku pulangnya ke kamu. Kamu adalah rumah tempat untuk aku selalu pulang, Sayang. Kemanapun kamu pergi, di manapun kamu berada, kamu selalu menjadi tempat yang aku tuju." Kini ia berbaring dan merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri. Jenn refleks membelai rambut suaminya. "Pelukan kecilmu adalah tempat bersandar saat aku lelah." Mendongak menatap wajah cantik istrinya. "Masih ingat perkataan aku saat melamarmu?"


Jenn lantas tersenyum dan mengangguk. Menjadikanmu tempat ternyamanku untuk pulang! Tentu saja dia ingat. Hal sekecil apapun tentang Kenn, tidak pernah ia lupakan.


"Nah, jangan lagi bertanya kayak tadi yah! Aku tau, kamu hanya mengalihkan perhatian aku kan?" Bangun dan duduk seperti semula. Menatap istrinya begitu dalam.


"Katakan padaku, kenapa menangis? Siapa yang berani menyakiti ibu dari anakku?"


..._____πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


KiraΒ² Jenn jawab jujur gak yah πŸ€”


Tunggu di bab selanjutnya πŸ˜…


jangan lupa like dan komen 😍


Terima kasih buat yang selalu mampir dan setia menunggu cerita receh ini πŸ™πŸ€—


Sampai jumpa di episode berikutnya yah πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425