
Mendengar ucapan selamat dari sang kekasih, Jenn mengernyit bingung. Si cantik itu memiringkan kepalanya lalu menatap Kenn dengan sorot mata penuh tanya.
"Selamat? Selamat untuk apa, sayang?" tanya Jenn penasaran.
Kenn tersenyum lembut dan membingkai wajah cantik Jenn dengan kedua tangan besarnya. "Selamat, sayang! Sebentar lagi kamu akan menjadi ibu dari anakku, anak kita."
"???"
Tidak ada respon apa-apa dari si cantik itu. Dia terdiam dan tenggelam dalam pikirannya, sambil mencerna kata-kata yang terucap dari lelaki kesayangannya, hingga sebuah kecupan mendarat di bibir mungilnya barulah ia tersadar.
Cup!
Kenn memberikan kecupan singkat dan manis di bibir ranum favoritnya yang tampak sedikit pucat.
Jenn menatap ke kedua bola mata Kenn secara bergantian dengan begitu dalam, seolah menyelam mencari hal yang mungkin saja memperkuat keraguannya. Tidak! Tidak ada kebohongan di sana. Mata elang itu malah memancarkan binar bahagia yang tampak jelas.
Jenn yang mulai mengerti dengan kondisinya saat itu pun langsung mendadak panik. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Pikirannya berlarian ke malam itu, malam dimana ia menyerahkan semuanya untuk lelaki tampan yang dicintainya. Ia ingat betul, tak hanya sekali Kenn membuatnya melayang, namun lebih dari dua kali dalam semalam waktu itu. Dan ini sudah pasti akan terjadi. Dengan ragu ia pun bertanya ingin memastikan sekali lagi.
"Su-su-sungguh? Be-benarkah itu?" tanya Jenn dengan terbata.
Si cantik itu begitu takut menghadapi kenyataan yang sedang terjadi. Banyak hal yang dipikirkannya, banyak tanya yang bercokol dalam benaknya.
Bagaimana kalau sampai ayah dan ibu tau?
Bagaimana perasaan mereka?
Apa yang akan mereka lakukan terhadap aku, kak Kenn, dan ... Akh.
Bagaimana dengan kuliahku nanti?
Apa kata Putri dan Rossa nanti?
Akh,,, apa ini, Tuhan?! Apa yang harus aku lakukan?
Batin Jenn dengan beragam pertanyaan.
Kenn bisa melihat dari sorot mata sang kekasih, ada ketakutan dan kecemasan di sana.
"Kenapa, hm? Apa yang kamu cemaskan?" tanya Kenn, sambil tangannya mengusap lembut pipi kekasihnya.
Pertanyaan itu spontan menyentil hati kecil Jenn, meluruhkan setitik embun yang bertengger di pelupuk matanya.
Ya, aku punya kamu. Tidak ada yang perlu aku cemaskan!
Tak kuasa melihat tetes bening itu meninggalkan jejak basah di pipi mulus sang kekasih, Kenn refleks membawa sang kekasih ke pelukannya, memberi ketenangan dan menyalurkan kekuatan serta keyakinan bahwa, everything will be okay.
"Jangan takut, sayang! Kamu gak sendirian, ada aku. Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja."
Lelaki tampan itu tidak ingin berjanji, tetapi dalam hati ia ingin memastikan yang terbaik untuk kehidupannya dan sang kekasih bersama calon buah hati mereka, kedepannya akan baik-baik saja.
Masih tetap dengan posisinya yang berdiri, Kenn pun mendekap wanita cantik yang teramat sangat dicintainya begitu erat, ketika tangis kecil dari wanitanya terdengar makin sesenggukan.
"Hey, jangan menangis, sayang! Aku di sini. Jangan cemaskan apapun, jangan pikirkan apapun, yah!" ucap Kenn sambil mengusap punggung kecil yang masih saja bergetar.
Jenn menggelang pelan dalam dekapan Kenn. "Bukan, sayang! Bukan cemas, tapi bahagia." Si cantik itu sedikit mengendurkan pelukan mereka, lalu mendongak menatap wajah tampan tegas di depannya dengan tersenyum kecil. "Aku bahagia punya kamu yang selalu bisa nenangin aku, yang selalu ada buat aku. Aku juga bahagia ada dia di antara kita," ucap Jenn dengan tangan kecilnya yang ditempelkan pada perut ratanya yang tertutup selimut tipis.
Senyum bahagia tersungging di wajah Kenn, begitu ia melihat senyum manis kekasihnya, serta ucapan yang seolah menyemangati dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja tidak mungkin dapat ditaklukkannya nanti. Seperti yang pernah dikatakan Jenn waktu itu, bahwa ayahnya tidak akan menerima hal itu dengan mudah. Tetapi bagi Kenn, semua itu dapat dipatahkannya hanya dengan senyum dan kebahagiaan Jenn yang menjadi semangat terbesarnya.
Memiliki Jenn serta hidup bersamanya, adalah mimpi terbesar dalam hidup seorang Kennand. Oleh karena itu, resiko apa pun sudah siap ia hadapi.
"Aku beruntung memiliki kamu, Kak!" ucap Jenn dengan lirih.
Tangan Kenn menghapus sisah-sisah basah yang menyamarkan cantiknya raut ayu wanita pujaannya.
"Bukan kamu, tapi aku. Aku yang beruntung memiliki kamu, sayang!"
Perlahan Kenn menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Jenn, lalu dengan penuh cinta ia pun menyatukan bibir mereka. dan keduanya pun larut dalam ciuman penuh haru dan bahagia. Tanpa memperdulikan keadaan dan situasi di mana mereka berada sekarang. Entah mereka sadar atau tidaknya, yang pasti mereka tidak peduli dengan dua orang yang masih berada di sana.
Reza yang tidak tahan melihat itupun langsung berjalan keluar dengan perih di dadanya, meninggalkan pasangan yang sedang merayakan kebahagiaan atas kehidupan baru yang mereka hadirkan bersama sebulan lalu. Fio pun hendak mengikuti Reza keluar dari ruangan yang dipenuhi euforia yang diciptakan Kenn dan Jenn. Namun baru saja sampai di depan pintu, langkahnya terhenti karena bertubrukan dengan seseorang yang hendak masuk ke dalam ruangan itu.
"Akh," Fio meringis menahan keningnya.
"Ah, maaf! Ma ...."
"Sssssssttttt!"
Ucapan seorang lelaki yang hendak meminta maaf padanya jadi terhenti karena tangan Fio begitu cepat membungkam mulut lelaki yang tak lain adalah dokter yang bertugas di klinik tersebut. Tidak lupa ia melotot pada lelaki berjas putih di depannya. Melihat tingkah aneh Fio, sang dokter sedikit melongok melihat apa yang terjadi di dalam sana. Dokter tampan itu tersenyum dan menurunkan tangan Fio dari mulutnya. Seorang suster yang berada di belakang sang dokter itu pun ikut senyum-senyum melihat tingkah Fio.
"Ehem!" Pria berjas putih itu berdehem menormalkan kembali suasana yang terasa sedikit canggung saat itu.
Bukan karena tingkah Fio yang membuatnya canggung, tetapi seraut wajah cantik di dalam sana yang membuat dokter tampan itu begitu canggung.
Pertama melihat Jenn yang sore tadi dibawa Reza ke klinik tersebut, dokter tampan itu langsung jatuh hati melihat pasiennya yang tak sadarkan diri kala itu. Dalam tidur dengan wajah yang pucat saja dia begitu cantik, apalagi saat dia terbangun. Itu yang terbesit di hati sang dokter sejak sore tadi. Namun baru saja merasakan sedikit momen bahagia, ia sudah dibuat kecewa oleh hasil pemeriksaannya sendiri yang menyatakan bahwa pasien cantik yang mengusik hatinya sore itu tengah berbadan dua. Tadinya ia berpikir Reza yang menjadi kekasih sekaligus calon suami si cantik itu, tapi ternyata tidak. Entah mengapa ia bahagia mendengar pernyataan dari Reza.
Akan tetapi lagi dan lagi, kekecewaan mencubit hatinya, begitu melihat sang pasien yang sudah terbangun dan baru saja selesai beradegan mesra dengan seorang pria, yang diyakininya adalah calon ayah dari benih yang dikandung wanita cantik itu. Dokter tampan itu merasa tertampar oleh kenyataan pahit.
Ia pun dengan hati yang besar meski sedikit kecewa, melangkah masuk ke dalam ruangan pasiennya. Ini profesinya, dan ia ingat untuk menjalankan sumpah serta menjaga kode etik seorang dokter, maka ia harus menjalankan tugasnya tanpa melibatkan perasaan apa pun.
"Eh, mau kemana, Dok?" tanya Fio menahan langkah sang dokter.
Tidak berniat menjawab lagi hanya tersenyum kecil pada Fio, dokter tampan itu pun masuk dan melanjutkan tugasnya. Sedangkan Fio cengir melihat suster yang berjalan di belakang dokter itu menunjuk tempat tidur dimana dua orang di sana sudah tak lagi bermesraan.
"He-he-he. Maaf!" Fio menjadi malu sendiri.
Semau yang berada di sana tertawa dibuatnya. Sedangkan dokter tampan itu dengan sedikit kaku mengucapkan selamat malam untuk pasangan yang sedang diliputi kebahagiaan. Dan salam itu hanya dibalas oleh Jenn. Tidak dengan Kenn yang diam dan menatap tajam mata sang dokter yang tidak pernah beralih dari wajah cantik kekasihnya.
Dapat ia lihat dengan jelas tatapan apa yang tersirat di kedua bola mata dokter itu. Dan tentu saja Kenn benci hal seperti ini.
"Dok, saya sudah boleh pulang sekarang, kan?" tanya Jenn begitu bersemangat.
"Sebentar, saya periksa dulu!"
Saat sang pria berjas putih itu meminta izin untuk memeriksa kondisi Jenn, dan baru saja hendak menyentuh tangan mungil wanita itu, sebuah tangan besar sudah lebih dulu menahannya.
"Bisa dilakukan asisten anda kan, Dok?" tanya Kenn dengan suara dingin dan tatapan yang jelas memancarkan ketidak sukaannya.
Dokter itu pun mengerti perasaan lelaki yang dengan jelas menunjukkan keposesifannya. Ia lalu meminta suster tadi melanjutkan tugasnya yang terhalang oleh kecemburuan sang pemilik pasien.
Jenn dan Fio menggelengkan kepala melihat respon Kenn terhadap dokter itu. Merasa malu? Sudah pasti Jenn malu.
Setelah semuanya selesai dan Jenn diperbolehkan pulang dengan sederet pesan yang harus diperhatikan dan dipatuhi, mereka lalu bersiap-siap untuk kembali. Di saat yang bersamaan, ibu tuan rumah tempat Jenn dan Fio tinggal, datang membawa makan malam untuk dua wanita cantik itu. Namun karena melihat mereka yang sudah bersiap untuk pulang, akhirnya wanita paruh baya itu pun kembali bersama para anak muda itu ke rumahnya.
Tiba di rumahnya, wanita tua itu baru menyadari keberadaan seorang laki-laki asing yang tidak lain adalah Kenn. Melihat lelaki tampan yang terus saja berada di sisi Jenn seperti tak mau lepas, wanita tua itu penasaran dan bertanya.
"Maaf, Neng! Siapa ini? Apakah dia ...."
...______πππππ______...
...To be continued ......
..._________________...
Hay sayangΒ²ku π
Terima kasih sudah setia menunggu STP, terima kasih sudah meluangkan waktu mampir di karya receh ini ππ
Jangan pada bosan yah π₯°π₯°
Jangan lupa like, komen, rate, tambahkan ke favorit juga yah β€οΈ kebetulan ini Senin, boleh dong bagi vote-nya π€π€ kopi atau mawar juga boleh deh π€ Makasih semuanya πππ
Dukungan kalian, semangat untuk otor π€π€
Selamat membaca dan sampai jumpa di Next chapter π
jangan lupa follow π:
Ig : @ag_sweetie0425