
Saat hendak melangkah meninggalkan tempat dimana dia dan teman-temannya berdiri saat itu, laksana semilir angin yang lembut membelai kulit putih halusnya, menyusupkan aroma sejuk menjalar sampai ke hatinya. Begitu Jenn merasakan sentuhan tangan asing kekar yang menyentuh, dan menggenggam lembut pergelangan tangannya.
Sang waktu seolah terhenti saat itu juga. Ketika Jenn menatap tangan besar yang melilit membungkus pergelangan tangan kecilnya. Dia terpaku, tak bergerak. Seolah menikmati, bahkan meresapi hangat yang menjalarinya. Bagaimana mungkin ada sentuhan asing senyaman ini? Herannya. Bagaimana bisa dia tidak bereaksi berusaha menolak untuk disentuh lelaki lain? Begitu pikirnya.
Ya, Jenn yang terkenal playgirl, dan bebas bergaul dengan siapa saja selam ini, tak pernah suka dengan seseorang yang sembarangan menyentuhnya walaupun itu hanya tangan. Adapun yang dengan lancang melakukan hal itu namun dengan kesal dan cepat ditepisnya atau ditolaknya dengan mantap. Karena hanya ayahnya dan Alvino, sang kekasih yang mendapat ijin melakukan hal itu. Tapi mengapa tidak kali ini untuk lelaki asing ini? Di sana geng-nya pun heran dengan sikap Jenn.
Menyadari pandangan gadis di depannya yang tepat pada tangan besarnya, lelaki tampan itu tersadar lalu perlahan melepaskan genggamannya.
"Oh, maaf nona! Saya tidak bermaksud ...."
"Ah, nggak papah kok. lupain aja," ucap Jenn santai dengan senyuman, yang secepat kilat sudah menguasai perasaannya kembali.
Padahal tadi dia dilanda rasa yang aneh, dan berbagai pertanyaan yang membingungkannya sendiri. Dan dia pun tahu bahwa lelaki itu pasti merasa tidak enak hati karena sudah memegang tangannya tanpa ijin. Maka dari itu, Jenn memotong kalimat lelaki itu sebelum dia melanjutkannya.
"Maaf, saya hanya ingin mengetahui nama anda nona. Karena ... Sejak tadi kita belum berkenalan. Maaf jika saya lancang," ungkapnya sopan dan terus terang. Karena sudah tak tahan dengan rasa penasarannya sejak melihat gadis cantik itu.
"Oh iya kah?" Jenn juga tak menyadari hal kecil itu. "Benar kita belum berkenalan. Ayo kita mulai dari awal. Anggap aja kita belum pernah ketemu sebelumnya, dan nggak pernah ada insiden-insiden kecil kayak yang tadi gimana?" tawar Jenn seperti biasa menjadi pribadi yang friendly.
"Dengan senang hati nona, nama saya Kennand. Biasa dipanggil, Kenn." sahut Kenn tersenyum senang, sambil mengulurkan tangannya ke arah gadis kecil yang diam-diam telah mencuri hatinya itu. Tentu saja ini menjadi part terindah sepanjang hari yang melelahkan baginya saat itu.
"Gue Jennifer, panggil aja Jenn. Dan berhentilah memanggil nona, karena gue bukan anak sultan. Dan jangan terlalu formal, Gue risi." balas Jenn yang ramah di awal, dengan menerima uluran tangan Kenn, dan sedikit galak di akhir kalimatnya. Ia lantas melepaskan tangannya cepat karena tidak ingin rasa aneh tadi menyerangnya kembali.
Kenn yang tersenyum senang sedari tadi semakin melebarkan senyumnya, menyempurnakan karya kebesaran Tuhan dalam lukisan wajahnya. Begitu melihat wajah cantik dalam mode galak seperti itu, membuatnya begitu menahan gemas setengah mati.
"Memang boleh seperti itu?" tanya Kenn ragu.
"Kenapa enggak? Kalo gak mau berarti kita orang asing kayak semula, nggak saling kenal." Jenn sedikit mengerucutkan bibirnya pura-pura ngambek.
Oh Tuhan kuatkanlah iman hamba Mu ini.
Kenn dalam hati, semakin tak tahan dibuat makhluk kecil di depannya ini.
"Baiklah Jenn, seperti yang kamu mau." putus Kenn tidak ingin berlama-lama melihat wajah Jenn seperti itu. Bisa gila dia.
"Nah gitu dong dari tadi," Jenn sudah merasa puas.
"Sepertinya di sini gerah banget yah, gengs!" Yuni sedikit menyindir. Karena sepertinya sedari tadi Jenn melupakan dia dan yang lainnya.
"Iya, iya, Sorry deh! Sekarang waktunya back to home!" tambahnya dengan riang, karena sebentar lagi akan bersua dengan kamar dan kasur yang menjadi tempat ter-vaforitnya yang notabene hobi rebahan.
"Oke! Kalau gitu, semuanya kita balik dulu yah, bye semuanya." Reni melambaikan tangannya kepada Jenn and the geng-nya.
"Bye, kak Kenn ganteng, sampai jumpa lagi ya, Kak!" ucap gadis-gadis centil itu.
Kenn tersenyum pada mereka lalu menatap dalam wajah cantik Jenn. Seakan ingin menenggelamkan dirinya di sana agar tak pernah bisa beranjak dari hadapan gadis itu. Karena jujur hatinya seolah berat ketika ingin berpamitan. Pada akhirnya ...
"Aku duluan yah, semoga bertemu kembali, dan ... Hati-hati." kata Kenn dengan berat. Bagaimana tidak dia merasa hari ini berlalu begitu cepat.
Aduh Kenn, itu hanya perasaanmu saja he-he-he ...
Jenn hanya mengangguk dan tersenyum. Dan masih berdiri di sana menatap punggung lebar yang perlahan menyusup menghilang diantara banyak manusia di sana.
.
.
.
.
.
to be continued .....
.
.
.
Happy reading buddies πβ€οΈ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ₯°π₯°π₯°