Simple But Perfect

Simple But Perfect
The Queen Of ...



Berangkat dari pertengkaran karena salah paham tadi, Alvino akhirnya memutuskan, mengajak Jenn berbelanja. Tadinya dia ingin mengajak gadis cantik itu untuk nonton di bioskop. Namun tidak lagi, setelah kesalah pahaman beberapa saat lalu.


"Pilihlah apa pun yang kamu inginkan" ucap Alvino menarik lembut tangan kekasihnya, memasuki sebuah pusat perbelanjaan.


"Ngapain juga kesini ?"


"Ya buat penuhin apa yang kamu mau, hon. Intinya, bukan untuk cuci mata. Berhentilah dengan kesenanganmu itu. Sekarang tidak ada lagi istilah konyol itu" tegas Alvino.


Jenn terkekeh mendengarnya. "Iya, iya deh. Nggak akan cuci mata lagi" ucap Jenn masih terkikik. "Tapi beneran ? aku boleh milih apapun?" tanya Jenn.


"Kapan aku bohongin kamu ? kapan aku nggak penuhin permintaan kamu ?" balik bertanya dengan sebelah alis yang terangkat, sambil bersedekap sedikit membungkuk. Menatap makhluk mungil didepannya.


Jenn tertawa kecil, dengan gerakan sebelah tangan menutup mulutnya. She's so cute. Siapa pun yang melihat itu akan merasa gemas dibuatnya. Apalagi Alvino ? tidak usah ditanyakan. Jenn tahu, kekasihnya itu selalu serius, selalu penuhi permintaannya. Dia hanya sengaja menggodanya.


Telapak tangan kecilnya terangkat, mengusap wajah sang kekasih dengan lembut. Alvino lantas memejamkan matanya. "Wajahnya biasa aja. Yuukk !"


Dan keromantisan couple goals itu menjadi tontonan menarik ditempat yang mereka pijaki saat itu.


Beberapa saat kemudian, keduanya telah selesai dengan misi berkeliling dan berbelanja. Jenn membelikan dua buah kemeja oversize, satu buah jeans denim, dengan sepasang sneakers canvas. Ya, itu untuk mendukung penampilannya saat ke kampus. Tak lupa, sepasang kaos couple untuk dirinya dan sang kekasih. Dan juga kaos couple untuk dirinya dan dua sahabatnya. Dia tidak pernah lupa dengan dua kesayangannya yang dirumah.


Sama-sama lelah dan lapar, keduanya kini berjalan menuju food court. Dengan Alvino yang menenteng tas belanjaannya. Tentu saja, dia tidak ingin melihat kekasihnya kesusahan. Ini masuk dalam kategori gentle atau bucin ? entahlah.


"Sebentar, hon ! Aku nelpon dulu yah" ucap Alvino, begitu mereka baru saja duduk.


"Siapa emang ?"


"Kan tadi aku udah bilang, mau kenalin kamu sama seseorang"


"Siapa sih ? penasaran deh"


"Wait, honey !"


Alvino memberikan kode untuk Jenn diam sebentar, setelah panggilannya tersambung.


"Halo"


"Hmm"


"Hei, jam segini, kamu masih tidur ?"


"Ngantuk, bang"


"Banguuunnn, ngapain aja sih semalam ?"


"Ck, gara-gara abang juga"


"Pokoknya kamu bangun sekarang dan mandi, temuin abang. Ada yang mau abang kenalin. Cepatan, nggak pake lama. Nanti abang sharelock"


"Siapa sih ?"


"Ada, someone special"


"Hm, ok ! beberapa menit lagi"


"Sekaraaaannggg"


"Ck, iya iya"


Dan sambungan telepon pun berakhir. Kemudian lelaki tampan itu memesan makan siang untuk mereka berdua.


"Hari ini, sama teman-teman nggak ikut kelas ?" tanya Alvino di sela-sela menunggu pesanan.


"Hmm" Jenn menjawab malas disertai anggukan kecil.


"Kompak yah" Alvino terkekeh.


"Iya dong, namanya juga teman seperjuangan" Jenn tersenyum mengingat kekompakan geng-nya.


"Aku sangat berterimakasih sama mereka. Selalu ada buat kamu, selalu setia nemenin ratuku ini" Alvino tersenyum sambil mengacak-acak rambut kekasihnya.


"Ih, jangan diberantikin, bi" Jenn cemberut.


"Tetap cantik, hon ! malah makin cantik kalo sedikit acak-acakan. You look so sexy, honey ! "Bisik Alvino ditelinga Jenn, disertai satu kedipan.


Jenn merinding dibuatnya. Terlihat rona merah diwajahnya. Alvino berhasil menggoda gadisnya. Sungguh Jenn begitu malu, karena digoda di tempat umum.


"Kenapa memerah wajahnya ? kalo begini makin imut" Alvino terkekeh melihat kekasihnya yang sedang malu.


"Stop it !" Jenn kesal, lantas menutup mulut Alvino dengan kedua tangannya sambil melotot.


Alvino tentu saja senang dengan hal ini. Di saat yang bersamaan, pesanan mereka pun datang. Keduanya lalu memulai makan siang mereka. Masih tetap dalam suasana romantis, yang mereka ciptakan sendiri.


Dan semua adegan-adegan romantis disana, tidak lepas dari pandangan kecewa seseorang.


"Gue harus bahagia, liat mereka bahagia seperti itu" Reza bergumam dan memantapkan hati serta langkahnya, menghampiri keduanya.


"Ehem" Reza berdehem. Sengaja mengganggu momen romantis yang diwarnai dengan suap-suapan.


"Hei, dari tadi ? Ayo duduk"


"Baru aja, bang" menjawab dan langsung duduk berhadapan dengan Jenn yang sedang minum saat itu.


Jenn yang mendengar suara itu, merasa seperti tidak asing. Gadis itu lantas mengangkat wajahnya, melihat seseorang yang kini berhadapan dengannya. Sontak saja Jenn kaget, dan sisah minuman dalam mulutnya disumbur didepan Reza.


"Uhuk, uhuk, uhuk" Jenn salah tingkah. "Shit ! situasi macam apa ini ?" gadis itu membatin.


"Astagaaa ! pelan-pelan aja, honey" Alvino menepuk pelan punggung kekasihnya. Tak lupa dia mengambil tisu dan mengelap mulut sang kekasih. Dia juga membersihkan meja yang kacau terkena semburan kekasihnya itu. "Sorry ! ya, Za. Dia gadisku yang sedikit ceroboh memang" ucap Alvino, dengan tangan yang sibuk.


Reza hanya mengangguk dan tersenyum.


Bahkan, bang Vino saja bisa takluk.


Dia takjub dengan pemandangan ini. Dimana, abangnya yang arogan itu, bisa takluk didepan gadis kecil pemikat banyak hati.


"It's ok, bang. Santuy aja"


"Oh iya, Za. Kenalin, ini Jenn. The queen of hati abang" Ucap Alvino dengan senyum khasnya.


"Hai, Jenn. Hari ini nggak ikut kelas lagi ?" Reza santai. Tidak menghiraukan ucapan abangnya. Berusaha biasa saja. Meski hatinya bagai diremas-remas.


"Eh, em, iya Za" jawab Jenn singkat. Dia pun mulai bersikap biasa saja. Sementara Alvino mengernyit bingung, melihat respon kedua orang itu sepertinya sudah saling kenal.


"Kenapa emang ?"


"Hmm, ada masalah dikit. Lo sendiri ?"


"Ngantuk aja. Jemput nih orang pagi buta" ucap Reza mengangkat dagunya menunjuk Alvino.


"Jadi, kalian saudaraan ?" tanya Jenn, menatap kedua lelaki itu bergantian.


"Yes, hon. Dia sepupuku. Papanya adalah adik Papi aku" jawab Alvino yang diiyakan Reza dengan anggukan.


"By the way, kalian juga sudah saling kenal ?" kali ini Alvino yang bertanya.


Dan keduanya kompak mengangguk.


Dia salah satu koleksiku, bi ! Jenn.


Bahkan, gue cinta sama dia, bang ! Reza.


"Siapa yang nggak kenal sama bintang kampus, bang ?" ucap Reza tersenyum menatap wajah cantik didepannya. Dan Alvino menangkap jelas tatapan apa yang ada di mata adiknya.


"Idih lebay banget Lo, Za" kesal Jenn.


"Oh yah ? tapi sepertinya Lo benar, Za. Soalnya dia juga bintang dihidup abang" ucap Alvino, mengambil sebelah tangan Jenn dan mengecup mesra. Sengaja memperlihatkan kemesraan itu didepan Reza. Pasca menangkap tatapan memuja dari adiknya itu terhadap gadisnya.


"Ck, malu dikit napa, bang ? ini masih ditempat umum" tegur Reza.


"Kenapa emang ? ada masalah ? ada yang ngelarang ?" sahut Alvino cuek.


"Hadew, dunia berasa milik berdua yah, yang lain cuman pada ngontrak" Reza mencebik.


"Ya, kalo ngerasa begitu ya, minggir aja. Sekalian pindah dunia lain juga bagus" kata-kata Alvino mengandung sindiran. Entah Resa mengerti atau tidak. Tapi Alvino jelas sengaja.


"Hus, ngomong kok sembarangan. Nyumpahin adik sendiri ?" Jenn mencubit lengan kekasihnya. "Maafin dia ya, Za. Ngomongnya suka sembarangan" Jenn tak enak hati dengan Reza.


"Udah biasa, Jenn. Tenang aja, nggak mempan juga ucapannya" Reza terkekeh.


Jelas sekali cemburu Lo, bang ! Reza menggeleng tidak percaya dengan sikap abangnya. Namun dia memahami hal itu.


Mereka lalu melanjutkan makan siang mereka bersama.


_Sesuatu menyelinap di hatiku dan meremasnya tanpa ampun. Menciptakan keluhan-keluhan di mulutku dan kebodohan-kebodohan di pikiranku, aku cemburu_ Alvino.


.


.


.


.


.


to be continued ...


.


.


.


Happy reading buddies 😊❤️