
_Genuine love involves not only passion, but also commitment and wisdom_
Setelah menyelesaikan perdebatan kecil diantara mereka, kedua sejoli itu melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Alvino memakirkan mobilnya didepan sebuah mall terbesar di kota itu.
"Kenapa kita kesini, bi ?" tanya Jenn.
"Biasanya kalo kesini, ngapain ?" Alvino balik bertanya.
"Jalan-jalan sambil cuci mata" Jenn menjawab dengan polosnya.
Ya, gadis cantik itu sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya, di tempat itu. Hanya sekedar berkeliling-keliling hingga kelelahan, karena tidak ada sesuatu yang hendak dibeli. Bukannya tidak punya uang, namun tidak ada niat dan tidak berselera saja. Rata-rata teman-temannya adalah anak horang kaya. Hanya Jenn sendiri yang berbeda latar belakang sosialnya.
Bahkan, hal itu pun kerap menjadi momen bagi anggota gang-nya yang pecicilan, untuk mencuci mata ketika melihat cowok-cowok ganteng disana. Namun cuci mata ala Jenn adalah, melihat barang-barang branded dan lucu-lucu. Bagi Jenn and the geng-nya, hal itu merupakan kelelahan yang menyenangkan.
Namun tidak menyenangkan ditelinga Alvino. Jawaban ambigu dari Jenn, membuat lelaki tampan itu mengernyit.
"Ha, apa, Jenn ? coba ulangi sekali lagi ?" sengaja budek.
"Aku bilang, jalan-jalan sambil cuci mata, bi" ulang Jenn dengan perlahan agar lebih jelas.
Masih didalam mobil. Alvino kemudian membalikan badannya berhadapan dengan Jenn.
"Belum puas liatin aku selama ini lewat video call-an ?"
Jenn menggeleng pelan. Ya, memang tidak puas kan ?
"Trus, sekarang aku sudah disini, belum puas juga ?"
Jenn mengangguk mantap. Ya, belum juga sehari. Dimana puasnya ?
"Jadi, kamu mau cari yang gimana lagi, Jenn ?" Nadanya sedikit meninggi, mulai kesal.
"Yang lucu-lucu, keren-keren, dan yang pasti bukan murahan dong" lagi-lagi kepolosan Jenn, dan ketidak nyambungan saat itu, membuat Alvino naik darah.
"Jenniferrrr" gadis cantik itu terperanjat dengan jantung yang hampir lepas, begitu mendengar teriakkan Alvino. Tepat didepan wajahnya.
"Kamu sudah gila Alvino ? kamu mau buat aku jantungan ? iya ?" tanya Jenn dengan sengit, sambil memegang dadanya yang berdebar kaget.
"Kamu yang buat aku jantungan dengan jawaban kamu" bentak Alvino. "Jadi selama ini, kamu nganggap aku murahan ? aku nggak nyangka, kamu berubah Jenn" sambung Alvino dengan raut kecewa.
"Apa-apaan kamu Alvino ? kenapa kamu yang marah ? dan lagi, bukan aku yang berubah, tapi kamu. Kamu bentak aku, kamu teriak-teriak ke aku. Kamu jahat Alvino" Jenn berteriak marah, hampir menangis.
"Kamu yang jahat. Ya aku marah, aku memang marah. Aku selalu mencintai kamu, aku selalu memuja kamu, dan ini balasan kamu ?" sekali lagi Alvino membentaknya. "Aku nggak akan terima Jennifer. Siapapun dia, yang mengalihkan perhatianmu dariku, akan aku habisi" ucap Alvino dengan nada rendah penuh ancaman.
Jenn terpaku dengan ancaman kekasihnya.
Tapi siapa yang hendak dia habisi ? Siapa juga yang mengalihkan perhatianku ? Jenn membatin.
"Maksud kamu apa Alvino ? siapa yang mau kamu habisi, hah ? siapa juga yang berpaling darimu ?" Jenn mulai mereda. Tuturnya mulai melembut. Dia berpikir, sepertinya ada yang salah disini.
"Kamu, kamu yang sudah berpaling dariku. Dan siapapun dia, aku akan menyingkirkannya" masih saja marah.
"Siapa, siapa yang bilang aku berpaling dari kamu, hm ? Atau kamu sendiri yang berpikir begitu ?"
"Kamu sendiri yang bilang"
"Kapan ?" Jenn mengernyit.
"Tadi apa hah ? Tadi kamu bilang, kesini buat cuci mata. Cari yang lucu-lucu, keren-keren, dan nggak murahan" mulai meninggi lagi nadanya. "Artinya, kamu udah bosan kan sama aku ?" menatap Jenn tajam.
"Hah ????" Jenn melongo. Sedetik kemudian, pecah tawa gadis cantik itu. Jenn terbahak-bahak, mengingat kebodohan keduanya yang mis understanding.
"Ya ampun, bi. Kita tu salah paham aja" Bicara dengan setengah tertawa.
Dahi Alvino berkerut. "Apanya yang salah paham ?"
"Jadi, tadi itu maksud aku. Cuci mata itu, liatin barang-barang branded yang lucu-lucu, keren-keren. Kek tas, sepatu, baju, dan yang lainnya. Gitu, bi. Bukan maksudnya liatin cowok lain. Enggak ih"
Alvino yang baru sadar dan nyambung pun dibuat malu, karena tingkah berlebihannya tadi. "Ya, makanya kalo ngomong tu yang bener. Jangan nggak jelas gitu dong. Bikin naik darah aja" sekarang ngambek.
"Hihihi. Maaf, bi. Aku nggak tahu kalo kamu mikirnya lain" Jenn memelas "I love you, my Alvino" Jenn merayu.
"Ck, bikin gemes tahu nggak. I love you too, my Jenn, more and more than you know" balas Alvino melemah. "Aku juga minta maaf, tadi udah teriak-teriak, bentak-bentak kamu, hon" sambungnya.
Jenn memukul pelan dada kekasihnya. "Jahat"
"I'm sorry" bisik Alvino dan membawa gadisnya masuk dalam pelukannya.
Clear. Masalah selesai, dan pasangan itu pun keluar dari mobil, bergandengan mesra memasuki mall disana.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Disebuah kamar yang cukup besar, bernuansa white and gray, ciri khas lelaki. Tampak disana seorang lelaki muda, masih saja terlelap diatas tempat tidur berukuran king size.
Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang. Namun seseorang disana sama sekali tidak terusik. Sampai dering ponselnya berbunyi yang ke tiga kali, barulah dia terbangun dan menjawab teleponnya dengan malas.
" ... "
"Hmm"
" ... "
"Ngantuk, bang"
" ... "
" ... "
"Siapa sih"
" ... "
"Hm, ok ! beberapa menit lagi"
" ... "
"Ck, iya iya,"
Sambungan telepon itu pun terputus. Lelaki itu masih dalam posisi tidur malas. Efek masih mengantuk mungkin. Pasalnya, tadi dia harus bangun pagi-pagi buta dan menjemput abang sepupunya di bandara.
Lelaki itu kemudian memeriksa ponselnya dan melihat banyak chat maupun DM dari teman-temannya. Beberapa detik kemudian, dia langsung terduduk. Rasa kantuknya seketika sirna. Ketika melihat sebuah postingan yang sedang viral dikalangan mahasiswa di kampusnya.
Dan yang membuatnya begitu kaget, melihat postingan itu dari sebuah akun instagram, dari seseorang yang sangat dikenalnya. Yang baru saja dijemputnya pagi tadi. Menandai seorang gadis cantik yang juga dikenalnya, bahkan sangat dicintainya.
"What ???"
"Nggak salah liat kan ini ?" tidak percaya sambil mengucek matanya. Berharap setelah ini, foto itu berubah. Tapi tidak. Foto itu tetaplah sama.
"Jadi, kekasihnya bang Vino itu Jenn ?"
"Jadi, bang Vino kesini hanya untuk Jenn ?"
Pernah aku jatuh hati
Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan kuberi
Apa pun 'kan kulakui
"Bagaimana mungkin ??"
"Jangan-jangan, yang mau dikenalin sama gue, adalah Jenn ?"
"Ya Tuhan, kenapa bisa begini ? gue mesti gimana ?"
Tanpa tau rasa ini
Ingin rasa ku membenci
Tiba-tiba kamu datang
Saat kau telah dengan dia
S'makin hancur hatiku
"Dunia memang selebar daun kelor, ya"
Jangan datang lagi cinta
Bagaimana aku bisa lupa?
Lelaki yang tak lain adalah Reza, masih dengan posisi yang sama. Terduduk, terlarut dalam asumsinya.
Tak memungkiri, dilema pun kini menyiksanya. Mendesaknya untuk pergi bertemu dua orang itu, atau kah tidak ? Lalu peran seperti apa yang harus dilakoninya nanti didepan mereka ? Pura-pura tidak mengenal Jenn ? Itu sungguh tidak mungkin bukan ?
Jangan lagi rindu cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia, aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa
[ Pura-pura lupa ~ Petrus Mahendra ]
Dan Reza pun memutuskan untuk tetap bertemu dengan Jenn. Dia sudah memantapkan hatinya untuk menerima kekalahan tanpa adanya perjuangan.
.
.
.
.
.
to be continued ....
.
.
.
Happy reading buddies ๐โค๏ธ