
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
"Gak! Omong kosong apa ini?"
Alvino baru saja tiba di kediaman orangtuanya, setelah mendapat telpon dari sang papi. Mendengar penuturan kedua orang tuanya, bahwa ia telah menghamili seorang gadis, Alvino menolak untuk percaya.
Dia membantah keras pernyataan itu. Di pikirannya bahwa sebulan yang ia lewati adalah tanpa alkohol dan wanita. Jadi hal itu tidaklah mungkin.
"Ini bukan omong kosong, Alvino. Papi tidak pernah meminta apapun darimu. Papi tidak pernah mengatur ataupun menegurmu. Tapi kali ini papi minta sama kamu, jadilah laki-laki sejati yang bertanggung jawab."
Alvino terdiam. Benar, lelaki tua itu belum pernah sekali pun mengatur hidupnya, melarangnya ini dan itu. Semua yang ia inginkan selalu terpenuhi sesuai kehendaknya. Namun, untuk menjadi seperti yang papinya inginkan, terlalu sulit dan seperti tidak mungkin.
"Tapi, Pi, Vino gak bisa. Gimana ceritanya Vino tanggung jawab untuk hal yang ...."
"Gue berani bersumpah, Bang. Anak dalam kandungannya itu anak Abang. Gue yang melihatnya sendiri." Reza tiba-tiba muncul dan menimpali perdebatan ayah dan anak itu. "Apa Abang lupa pernah terbangun di sebuah kamar hotel setelah semalam mabuk-mabukan?" Alvino terdiam, tampak berpikir. "Apa yang Abang temukan saat itu? Gak mungkin Abang lupa kan?"
Sekelebat ingatan terlintas di pikiran Alvino. Itu baru saja terjadi sebulan lalu. Masih sangat segar di ingatannya. Dia ingat. Seseorang yang dia paksa untuk melayaninya suatu malam, setelah orang itu menolongnya. Tindak penolakan yang bersahut-sahutan dengan jeritan tangis di tengah malam itu, tidak ia hiraukan. Dan kenikmatan itu, masih membekas jelas. Tidak hanya di ingatannya, tapi juga di hatinya. Meskipun mabuk dan tidak tahu pasti siapa orang itu, tapi Alvino merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru. Hingga keesokan harinya ia terbangun dan mendapati ruang kosong di sampingnya, yang menyisakan jejak semalam. Ia terperanjat kala mengetahui fakta bahwa wanita semalam masihlah seorang gadis. Alvino sempat mengumpat kesal kala itu, karena takut. Takut hal seperti saat ini akan terjadi. Dan itu benar-benar terjadi sekarang.
Sebrengsek-brengseknya dia, meniduri seorang gadis, sama sekali bukanlah keinginannya. Lelaki dengan label bad boy, player, dan brengsek itu, lebih senang berburu wanita malam dan alkohol. Baginya, itu hal biasa, bebas tanpa ikatan. Satu-satunya gadis yang menjadi tujuannya kala itu dan nanti adalah Jenn. Misi berburu tentang wanita akan ia akhiri, jika ia berakhir pula dengan Jenn suatu hari nanti dalam sebuah ikatan pernikahan. Tapi semua itu tinggal kenangan dan mimpi belaka. Gadis yang dia impikan itu telah memiliki kehidupan baru dengan orang lain. Dan dia malah meniduri gadis lain di saat-saat terpuruknya.
Tanpa Alvino sadari, misinya yang dulu ditujukan untuk Jenn, malah tertuju pada orang lain. Tidak ia sadari bahwa hal itu menjadi doa untuknya, walau memang bukan dengan orang yang dia harapkan. Namun, targetnya tetap sejalan. Sejak kejadian di kamar hotel malam itu, Alvino belum lagi dan tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Ini aneh.
Tidak dipungkiri, Alvino kadang memikirkan hal itu. Karena rasa bersalah yang sedikit menghantuinya. Namun, ia tidak punya banyak waktu hanya untuk itu. Sakit hatinya tentang Jenn lebih mendominasi semua rada yang tersemat. Semua waktu yang terbuang hanyalah tentang Jenn dan kenangan. Hingga ia memutuskan untuk healing selama sebulan. Agar sedikit saja semua tentang Jenn, menepi dari ingatannya.
Alvino memejamkan mata sesaat. Lama ia terdiam. Semua itu benar adanya, dan dia tidak bisa untuk mengelak jika Reza mengetahuinya.
"Tau dari mana, Lo? Mata-matain gue?" Menatap malas pada Reza.
"Mami yang nyuruh dia buat ngawasin kamu." Maminya membela Reza. Memang benar seperti itu.
"Arrghh, Mami gak pernah berubah. Please, jangan memperlakukan Vino seperti anak kecil, Mi! Vino gak suka dikekang seperti itu." Kesal dengan kebiasaan maminya.
"Kalo mami gak begitu, kita gak bakal tau apa yang terjadi sekarang ini kan? Gimana kalo waktu itu Reza gak ngikutin kamu, pasti gadis itu sudah kabur dengan mudahnya." Tukas sang mami.
"Kabur? Baguslah kalau dia kabur. Menghilang aja sekalian. Tinggal dikasih kompensasi aja, beres." Santai sekali ucapannya, seolah tidak ada beban. Alvino pun memilih membaringkan tubuhnya pada sofa.
Reza menggelengkan kepala melihat tingkah acuh lelaki itu.
"Alvino! Jaga bicaramu. Jangan seperti pecundang yang lari dari tanggungjawab. Dia gadis yang baik. Bukan pela*cur yang dipakai jasanya lalu dibayar setelah itu." Suara tegas itu membangunkan Alvino.
"Papi tau dia gadis baik? Gak ada gadis baik yang berkeliaran di tengah malam, Pi. Gak ada gadis baik yang berani masuk dalam kamar hotel. Bisa saja dia keliatan baik padahal sedang belajar jadi pela*cur yang mau morotin har ...."
Bugh!
"Reza!" pekik maminya kaget, langsung berdiri dan menghentikan Reza.
Sedangkan Alvino meringis menahan sebelah rahangnya yang cukup sakit.
"Keterlaluan Lo, Bang. Rossa gak serendah itu!" Reza berteriak marah. "Dia emang gadis miskin, tapi dia gak picik. Dia gadis baik, dia punya harga diri. Dia ngerendahin harga dirinya hanya buat Lo," sambungnya dengan telunjuk yang mengarah pada abangnya.
Alvino bangkit berdiri, berhadapan dengan Reza. Maminya yang jadi panik. Wanita tua itu lalu berdiri di tengah-tengah dua lelaki yang tengah saling menatap marah.
"Siapa namanya tadi? Rossa, Rossa, sepertinya tidak asing." Tampak berpikir. "Kenal juga ternyata?" Menatap Reza dengan pandangan meremehkan. Seolah tatapan itu mengatakan bahwa penilaiannya benar. Gadis itu memang pela*cur yang dikenal di mana-mana. "Berarti ...." Sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Jangan mulai, Bang. Jelas gue kenal. Lo juga kenal sama dia. Lain kali kalo mau tidur sama cewek, liat dulu mukanya, jangan main maksa aja." Reza tampak kesal sekali melihat tatapan sepupunya itu.
Alvino tergelak. "Orang mabuk mah, bebas." Enteng sekali ucapannya. "Yang waras yang bego, kan?" Memancing lagi emosi adiknya.
"Cukup, Vin. Mami gak mau liat kalian bertengkar seperti ini. Kamu jadi kakak harusnya nunjukin jalan yang bener, ini malah diajarin yang baik sama adiknya." Menengahi perdebatan keduanya. Wanita paruh baya itu lalu menarik tangan Alvino agar menjauh dari Reza. "Yang dikatakan adik kamu itu benar. Rossa gadis yang baik. Kalau bukan karena Jenn dan dia." Menunjuk Reza. "Mami bakal kehilangan calon menantu yang baik untuk kedua kalinya." Ucapan itu terdengar begitu tulus.
Kening Alvino berkerut. "Emang, Mami udah ketemu orangnya? Kenapa juga bawa-bawa ... arrghh, jangan sebut-sebut namanya lagi, Mi. Vino kan udah bilang sama mami, lupakan dia. Jangan ingatin tentang dia lagi. Vino sedang berusaha keras, harusnya Mami support dong!" Keluh Alvino sambil mengacak-acak rambutnya.
Gubrakkk!
Alvino terperanjat bukan main. Dadanya bergemuruh hebat.
Kejutan apalagi ini?
"A-apa? Mana mungkin bisa seperti ini? Gak, gak. Ini gila. Gak, gak, mami pasti salah. Gak mungkin banget." Menggeleng kuat. Menolak mempercayai hal itu.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Nak. Takdir memang sulit dimengerti. Terkadang ia memberi kejutan dari hal-hal yang justru ingin kita jauhi. Percaya atau gak, kamu sudah berada di jalan takdir itu sendiri. Jadi papi minta, jalanilah takdirmu dengan baik. Bertanggungjawablah untuk apa yang kamu perbuat, dalam ketidaksadaran sekalipun." Menepuk pundak putranya beberapa kali.
Alvino terduduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pikirannya tengah kacau berantakan.
Takdir macam apa ini? Tidakkah ada yang lebih kejam dari ini? Tak cukupkah aku gagal memilikinya, sampai harus gagal lagi melupakannya?
"Jika itu wanita lain, mungkin Vino akan berpikir ulang, Pi. Tapi ini ... rasanya mustahil banget, Pi. Vino gak mungkin banget, gimana Vino bisa lupakan masa lalu," ucapnya pelan. Sepertinya ia lelah dengan takdir yang mempermainkannya.
"Justru dengan itu kamu bisa buktikan bahwa kamu mampu melupakan dia. Anggap ini tantangan baru buat kamu. Hadapi dan taklukkan ketakutanmu. Kamu gak mau kan, dia menganggapmu lelaki pengecut yang lari dari tanggungjawab?" Papinya mencoba menyadarkan dan menyemangatinya. "Kamu mau mendapat pandangan rendah darinya dan suaminya?" Alvino bergeming. "Ini kesempatan kamu membuktikan bahwa kamu lelaki sejati."
Alvino mendongak menatap sang papi yang tengah berdiri di sampingnya. Samar-samar, ujung bibirnya sedikit terangkat.
"Makasih, Pi. Papi yang terbaik." Berdiri dan memeluk papinya. "Tapi, maaf, kalau Vino jalani ini semua tanpa perasaan apapun."
Lelaki itu lalu melangkah keluar, meninggalkan kediaman orangtuanya.
Baiklah, lelaki sejati menyukai tantangan ... Batinnya.
..._____ππ·ππ·π_____...
...Rasa itu masih ada, mungkin akan selalu ada....
...Satu dunia pun tahu itu....
...Aku yang tak pernah bisa meredam cinta ini....
...Tapi melepasmu, bukan juga kepura-puraan....
...Emosional ini sangatlah sulit terkendali....
...Hati ini telah mantap untuk bertarung bersama waktu, 'tuk membunuh sedikit saja rasa ini....
...Akan ku sisakan sebuah ruang untukmu dan kenangan....
..._Alvino Dharma_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Hai semuanya π Ketemu lagi π€
Masih pada stay kan? Hehehe π
Makasih buat kalian yang selalu mampir ππ
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425