
"Siapa yang hamil?" Tanya serempak dua gadis yang baru saja masuk ke dalam rumah minimalis itu, dan tidak sengaja mendengar percakapan empat orang di sana.
Keempatnya kaget dengan spontan berbalik melihat keduanya yang baru saja masuk.
"Kalian ngagetin aja deh," ucap Jenn sembari mengelus dadanya.
"Omongan kalian tuh yang ngagetin tau gak?!" sahut Rossa.
Gadis kalem dan keibuan itu melangkah maju mencondongkan tubuhnya dan sedikit menengok ke dalam kamar mandi.
"Eh, kenapa Fio lemes gitu? Sakit juga?" Tanya Rossa yang mendapat anggukan dari yang lain. "Sakit kok barengan? ada-ada aja deh," berbalik dan menghadap Jenn.
"Jadi?" Pertanyaan ambigu dari gadis itu membuat Jenn dan yang lainnya bingung. "Astaga! Jadi siapa yang hamil?" Mengerti dengan bungkamnya orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Gak ada! Kamu salah denger tuh, sana bersihin kuping dulu deh!" sahut Farel sedikit kesal.
"Kuping gue bersih yah, Gue gak budek. Orang Gue denger jelas-jelas kok. Ya kan, Put?" Berharap Putri mendengar hal yang sama sepertinya. Saat mendapat anggukan mantap dari Putri, gadis itu semakin bersemangat untuk bertanya. "Nah kan? Hayo jawab. Siapa di antara kalian berdua?" Langsung tepat sasaran. Bagai serangan badai yang hampir membuat Jenn tumbang, jika saja Kenn tidak menahan pinggangnya.
"Jangan mengada-ada, Sa!" Ucap Kenn setenang mungkin sembari mengelus punggung kekasihnya, menyalurkan ketenangan yang sama. "Tadi itu Jenn cuman nanya doang. Bukan berarti bener kan?" Berharap pembahasan ini segera berakhir.
Jenn dan Farel pun berharap hal yang sama seperti Kenn. Dalam hati masing-masing, mereka mengaminkan doa serta asa yang sama. Semoga saja Rossa percaya dan hal ini tidak sampai melebar kemana-mana. Begitu melihat Rossa yang manggut-manggut, ketiganya bernafas lega.
"Di kasih minyak angin dulu kalo gitu. Mungkin saja Dia masuk angin," ucap Putri menyarankan.
"Oh iya, nih. Kebetulan ada, Gue siapin tadi buat Jenn." Cepat-cepat Rossa membongkar isi tasnya dan memberikan sebotol minyak angin berukuran kecil pada Farel. Dengan telaten Farel membalurkannya pada tengkuk dan punggung kekasihnya, Fio. Setelah dirasa Fio sudah agak mendingan, mereka pun bubar dari area kamar mandi.
Setelah itu, Farel mengantarkan Fio kembali pulang ke rumahnya. Tadinya Jenn menahan gadis itu untuk makan dan beristirahat sebentar, namun Fio menolak dan lebih memilih untuk pulang ke rumahnya. Mungkin juga dia merasa tidak enak hati dengan Kenn dan yang lainnya, dan sejujurnya beristirahat di rumah sendiri jauh lebih nyaman dan menenangkan.
Kini giliran Jenn yang di perlakukan seperti pasien oleh sang kekasih, Kenn, dan juga kedua sahabatnya. Si cantik bertubuh mungil itu benar-benar risih dengan segala tingkah berlebihan ketiga manusia di depannya
"Aku bisa sendiri ih. Emangnya aku bayi apa? ada-ada aja deh. Minggir!" Kesal Jenn pada sahabatnya. Bagaimana tidak, Rossa ingin menemaninya mandi dan memastikan keadaannya tetap baik. Yang benar saja, apa kabar jika sang sahabat yang kalem dan keibuan itu sampai melihat warna-warni cinta Kenn yang bertebaran di tubuhnya? Big no! Jangan sampai itu terjadi. Begitu yang di pikirkan Jenn.
Diselingi banyak perdebatan sana-sini, akhirnya mereka bertiga membiarkan Jenn masuk sendiri dan mandi. Di dalam kamar mandi, lagi-lagi Jenn mendengus kesal kala melihat tubuhnya. Dengan perlahan si cantik itu membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Banyak waktu yang dia habiskan di dalam sana hanya untuk membersihkan jejak-jejak cinta Kenn di tubuhnya, tetap saja tak kunjung hilang. Dia pun sengaja berlama-lama merilekskan tubuhnya dengan air hangat.
Merasa sudah cukup lama Jenn belum juga keluar, Rossa kembali mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil-manggil seseorang yang masih betah di dalam sana.
"Jenn! Are you ok?" Teriak Rossa sedikit keras.
Sementara itu Kenn memilih menunggu di ruang tamu sambil berbaring di sofa. Dia sengaja memberikan ruang dan waktu untuk sang kekasih dan kedua sahabatnya. Oh iya, jangan lupa, sebelumnya Kenn sudah lebih dulu membereskan kamarnya. Membersihkan ranjang dengan mengganti seprai yang telah terkena noda kesucian Jenn. Dia pun tidak ingin membuat mereka berpikiran yang tidak-tidak tentangnya dan Jenn. Karena merasa sedikit lelah, lelaki tampan itu pun ketiduran di sofa.
Di kamar.
Kreekk ...
Bunyi decitan pintu kamar mandi terbuka, dan Jenn pun keluar dari sana dengan sudah menggunakan pakaian yang rapi. Wajahnya kembali terlihat segar meski sedikit pucat. Jenn berjalan pelan dan menghampiri kedua sahabatnya yang sedang menunggunya. Diam-diam Putri memperhatikan si cantik itu dengan teliti. Ia memindai Jenn dari atas hingga ke bawah, begitu kembali lagi dari bawah ke atas. Tak urung Ia menemukan sesuatu yang janggal dan tidak seperti biasanya.
"Tolong dong, bebs!" Memberikan sisir di tangan Rossa, memintanya merapikan surai coklatnya yang indah. Gadis kalem itu menerima, dan melakukan apa yang dimintai sahabatnya.
Putri hanya mengamati kegiatan kedua orang itu tanpa berniat menanyakan apa pun.
"Boleh minta tolong gak?" Tanya Jenn pada keduanya.
"Boleh dong, bebs! Mau apa emang?" Rossa balik bertanya.
"Tolong masakin dong! Apa aja, sesuai bahan-bahan yang tersedia di kulkas. Kasian, pacarku belom makan, dari tadi ngurusin Aku terus," ucap Jenn dengan memelas. "Padahal dia juga sakit, Aku malah ngerepotin," lanjutnya dengan raut bersalah.
Rossa meletakkan kembali sisirnya. "Itu mah gampang. Ya kan, Put?" Si cantik tomboi itu mengangguk.
"Ya dah, ke dapur yuk!" Putri mengajak Rossa. "Kamu di sini aja, istirahat." Ucapnya pada Jenn.
"Gak ah." Jenn menolak. "Mau liat Kak Kenn dulu. Ingat! Jangan hancurin dapurnya. Dia gak suka yang berantakan." Memperingati kedua sahabatnya.
"Siap, bebs!" Menjawab serempak dan ketiganya pun keluar dari kamar milik Kenn.
Rossa dan Putri menuju dapur dan mulai memasak, sedangkan Jenn berjalan menuju ruang tamu. Benar saja, sang kekasih sedang tertidur disana dengan sebelah lengan menutupi wajahnya, dan sebelah lagi di atas dadanya. Perlahan Jenn mendekat dan duduk tepat di samping pinggang Kenn. Merasakan ada pergerakan disampingnya, lelaki tampan itu terbangun dan hendak duduk. Namun tangan Jenn lebih dulu menahannya.
"Istirahatlah! Aku tau Kamu lelah," berucap lembut disertai senyuman manis.
"Ngantuk banget yah?" tanya Jenn sambil mengusap rambut Kenn dengan lembut. Kenn menggeleng. "Laper?" Lelaki tampan itu mengangguk.
"Tuh kan ... Awas ah, aku mau liat mereka berdua lagi masak di dapur," Memaksa Kenn untuk bangun dari pangkuannya.
"Mau kemana lagi sih?" Menolak untuk bangun dan malah berbalik memeluk erat pinggang Jenn.
"Mau ikut masak biar cepet supaya kamu bisa makan,"
"Gak usah. Aku gak butuh makan yang itu," ucap Kenn tersenyum penuh arti.
"Lah terus? Kamu mau makan apa emang?" Tanya Jenn dengan polosnya.
"Aku maunya makan Kamu aja, Sayang!" Ucap Kenn yang refleks mendapat pukulan dari kekasihnya. Lelaki tampan itu malah tertawa dan menyembunyikan wajahnya di perut sang kekasih.
"Ih,,, awas. Mesum aja otaknya. Bangun sana ... Ih geli ini, Kak!" Lagi-lagi memukul bahu dan punggung Kenn berulangkali. Dia merasa geli dengan perbuatan laki-laki itu yang mencium perutnya yang dilapisi baju. Sesekali Kenn menggelitik karena gemas.
"Stop!!!" Pekik Jenn.
Kenn makin terbahak. "Iya, iya ampun Ratuku," Ucap Kenn dengan sisa-sisa tawanya. Melihat wajah kesal sang kekasih, Kenn langsung menarik tengkuknya dan mencium sekilas bibir mungil yang sudah menjadi candunya.
"Aku mencintaimu!" Bisikan serta tatapan lembut penuh cinta itu selalu mampu meluluhkan Jenn.
Jenn diam dan tetap menunduk menatap kekasihnya begitu dalam. Perlahan tangan kecilnya terangkat dan mengelus rahang tegas milik Kenn, menyusuri setiap sudut wajah tampan itu. Lebih tepatnya, bekas memar yang masih terlihat jelas di sana.
"Kamu belum bilang sama Aku, siapa yang sudah melakukan ini." Ucap Jenn pelan.
Kenn menghembuskan nafasnya secara kasar. "Aku juga gak tau mereka siapa." Menurunkan tangan mungil dari wajahnya, dan menggenggamnya lembut.
"Mereka? Berarti ada beberapa dong?" Tanya Jenn.
Kenn mengangguk. "Aku gak mikirin keadaanku, Jenn. Yang Aku pikirkan itu, Kamu. Aku minta sama Kamu untuk selalu berhati-hati yah!" Meremas kecil tangan mungil yang masih ada di genggamannya.
"Siapa meraka sebenarnya?"
..._______ππππ_______...
.
.
.
.
.
to be continued ...
Hola epribadeeeh π maaf telat up lagi ππ€
Terimakasih untuk selalu mampir di karya receh ini ππ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah manisnya yah π
Boleh kasih like, komen, rate, tambahkan ke favorit juga β€οΈ kasih mawar juga boleh πΉ kalo ada vote juga boleh banget tuh π π€ biar makin semangat otornya π€π€
Sekali lagi makasih semuanya ππ€
Selamat membaca π€π
π
Ig : @ag_sweetie0425