Simple But Perfect

Simple But Perfect
Ancaman Verlita



Dia Alvino. Lelaki tampan yang semalam bersama dengan kekasihnya di sebuah club, namun kini berakhir di sebuah kamar hotel dengan wanita lain. Dan sialnya, wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah mantan kekasihnya. Yang kini teramat sangat di bencinya.


Alvino sangat terkejut dengan situasi ini. Dia berusaha mengingat-ingat kejadian semalam hingga membawanya berakhir di tempat ini.


"Ngapain Lo ada disini ??" tanya Alvino dengan malas menatap wanita di depannya.


"Masih mabuk, apa pura-pura lupa, baby ?" wanita itu tersenyum dan tetap bersikap tenang.


"Apa yang Lo lakuin ?" Alvino mulai meninggikan suaranya.


"Gue ?" wanita itu terkekeh, "Bukan gue. Tapi kita, baby" tersenyum penuh arti.


Alvino berdiri dan berpindah dari tempat tidur, berjalan menuju wanita cantik yang sedang bersantai di sofa.


"Gue tanya sekali lagi, apa yang sudah Lo lakuin" mulai marah. Berdiri menjulang di hadapan wanita yang sedang duduk itu.


"Sudah gue bilang, bukan gue. Tapi kita, kita melakukannya bersama" berdiri menghadap Alvino. Dengan gerakan lembut, wanita itu meletakkan tangannya di dada bidang Alvino yang tanpa baju, lalu mengusapnya pelan.


Dengan cepat Alvino menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar. "Jangan pernah tangan kotor Lo itu nyentuh gue. Gue jijik, dan jaga batasan Lo" ucap Alvino penuh penekanan.


"Tapi semalam Lo sangat menikmatinya, Lo yang mabuk dan tidak menjaga batasan Lo sendiri, Alvino" mencoba merecoki pikiran lelaki itu.


"Omong kosong ! Gue tahu betul wanita seperti apa Lo. Dan gue nggak mungkin ngelakuin hal itu dengan sampah kayak Lo" bentaknya pada wanita cantik yang ada di depannya. "Lo mau ngejebak gue kan ?" berteriak marah dengan langsung mencekik leher wanita itu. "Sudah gue bilang, jangan pernah datang lagi di kehidupan gue" masih berteriak marah.


Dalam keadaan tercekik, wanita itu masih sempat-sempatnya tersenyum meremehkan. "Lo ... ng-ngak ... akan ... bi-bisa ... a-apa" berbicara dengan terbata-bata.


Alvino melepaskan tangannya dari leher wanita itu. Dan beralih menjambak rambut wanita itu ke belakang dengan sebelah tangan, dan sebelahnya lagi menangkup pipinya dengan kuat. Dia terbatuk-batuk dan meringis, menahan sakit.


"Apa yang Lo campurin ke minuman gue, wanita licik" tanya Alvino dengan geram.


"Emang Lo tahu ?" masih sempat tersenyum.


"Kalo nggak, mana mungkin gue disini sama Lo, wanita iblis" mengencangkan cengkramannya pada rambut wanita itu. "Dan lagi, dimana Jennku ? Lo apakan dia, hah ?" berteriak lagi penuh emosi.


Terkekeh, "Dia baik-baik saja, baby. Dia aman kok" tersenyum tenang.


Alvino melepaskan cengkraman tangannya, dan menghempaskan wanita itu ke sofa dengan kasar. Dia menarik nafasnya lalu kemudian menghembuskan dengan pelan. Dia merasa lega, karena kekasihnya baik-baik saja.


Alvino segera berlalu dari hadapan wanita itu, mencari barang-barangnya. Ingin segera pulang, dan menemui pujaan hatinya.


"Lo nggak akan kemana-mana, Alvino" ucap wanita itu menghentikan gerakannya.


"Apa hak Lo nahan-nahan gue ? Lo pikir Lo siapa ?"


"Gue berhak. Kenapa ? setelah melewati malam bersama gue, Lo mau lari dari tanggung jawab ?" ucapan wanita itu membuat Alvino terkekeh.


"Lo pikir gue percaya ? gue tahu rencana busuk Lo. Sayangnya itu nggak mempan" mengambil ponselnya dan hendak menelepon sang kekasih.


"Gue punya bukti, Alvino" lelaki itu lantas membatalkan panggilannya, lalu menoleh.


"Apa ? apa yang mau Lo buktiin ?" Alvino bersedekap.


Wanita cantik itu mengambil ponselnya dan menunjukkan beberapa foto dirinya dan Alvino saat tidur bersama. Dengan cepat lelaki tampan itu mengambilnya dan melihat lebih saksama.


"Ini nggak mungkin. Ini nggak bener. Enggak. Lo pasti bohong kan ?" tanya Alvino kembali tersulut emosi.


"Lo punya mata dan bisa lihat sendiri kan ? Gue nggak bohong. Dan Lo harus tanggung jawab Alvino" ucap wanita itu tenang.


"Nggak akan pernah. Jangan mimpi Lo" Alvino berteriak marah. Dia lalu menghapus semua file dalam ponsel yang terdapat bukti, dan membanting ponsel itu hingga rusak.


Lelaki tampan itu mengambil pakaiannya dan memakai kembali. Dan hendak berlalu dari tempat itu. Namun lagi-lagi, suara wanita itu mencegahnya.


Dia tergelak. "Lo pikir gue bodoh ? gue sudah mengamankan semua bukti itu terlebih dulu, baby" lagi-lagi tergelak.


Alvino menghampirinya, kembali mencekik leher wanita itu. "Lo jangan main-main sama gue, Verlita" Alvino mengeraskan rahangnya. Wanita itu menggeleng lemah, karena cengkraman Alvino kali ini lebih kencang dari sebelumnya.


"Jadi ini rencana Lo hah ? Lo udah atur semua ini dari awal ?" melepaskan cengkraman tangannya, karena melihat Verlita yang mulai kesusahan bernafas.


"Katakan, apa mau Lo ? uang ? berapa yang Lo mau ?" tanya Alvino tak sabar menghadapi wanita licik di hadapannya.


Dengan lemah, wanita itu menjawab. "Gue cuman mau Lo, Alvino"


"Dan Lo nggak akan pernah dapet itu" ucap Alvino dengan tegas.


"Gue nggak akan maksa. Dan Lo nggak punya pilihan ... " menjeda kalimatnya agar dapat menghirup udara kembali. "Tinggalkan dia, tetap bersama gue, maka semuanya akan aman. Tapi jika Lo milih dia, semuanya akan hancur. Gue bakal tunjukkin semua bukti ke dia. Dan Lo nggak akan dapat apa-apa, dengan hilangnya kepercayaan dia sama Lo. Ngerti ?" ancam Verlita.


"Lo gila, Verlita" bentak Alvino.


"Karena Lo. Gue gila karena Lo, Alvino" ucap wanita itu dengan tenang.


"Dan Lo juga akan buat gue gila, karena ngejauhin gue dari Jenn" ucap Alvino frustasi.


"Terserah, pergilah bersamanya. Dan Lo akan lihat gadis itu hancur dengan perlahan" Verlita tersenyum menyeringai. "Jangan lupa kejadian yang menimpanya, yang membawa Lo hingga kemari" Alvino tersentak.


"Lo benar-benar keterlaluan, Verlita" berteriak marah.


"Gue bisa ngelakuin hal gila yang lebih dari ini. Gue bisa buat dia ... "


"Jangan sakiti dia" potong Alvino dengan cepat. "Oke ! gue akan turutin mau Lo. Tapi jangan sentuh dia sedikit pun" lelaki angkuh dan arogan itu mengalah. Dia di tundukan hanya karena rasa cinta yang begitu besar terhadap kekasihnya.


"Gue nggak percaya, Lo ngalah semudah itu, baby" Verlita sedikit memicingkan matanya penuh curiga.


"Gue akan lakuin apa pun demi Jenn. Lo bisa pegang kata-kata gue" berusaha meyakinkan wanita licik didepannya.


"Ok ! gue pegang kata-kata Lo. Tinggalkan dia sekarang juga" ucap Verlita to the point.


"Kasih gue waktu, Verlita. Gue perlu ngomong sama Jenn. Gue nggak bisa ninggalin dia gitu aja"


"Baiklah, gue kasih waktu dua hari. Nikmatilah waktu sisah kalian dengan sebaik mungkin" putus Verlita.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sedari bangun pagi, Jenn terus saja menghubungi nomor sang kekasih. Namun hasilnya masih sama seperti semalam. Gadis itu tak hentinya khawatir serta cemas.


"Tumben, hari minggu bangun pagi-pagi bener" Rossa yang baru bangun, kaget melihat sahabatnya yang gelisah.


"Kepikiran Alvino terus, mamiii" ucap Jenn dengan manja.


"Semalam nggak bisa tidur yah ?" tanya Rossa.


"Keliatan yah ?" balik bertanya, sambil meraba-raba sisi wajahnya.


Rossa mengangguk. "Mata panda, tidur gih"


"Nggak bisa, gue perlu tahu dimana Alvino sekarang, baru gue bisa tenang"


"Dia laki-laki, Jenn. Nggak usah terlalu dikhawatirin. Dia nggak akan kenapa-napa" mencoba menenangkan sahabatnya.


Jenn mengangguk. "Gue harap juga gitu"


"Mending sekarang Lo tidur aja dulu. Biar gue buatin Lo sarapan, yah" gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk.


Rossa berlalu dari kamar dan menuju dapur. Sedangkan Jenn baru memejamkan matanya, kembali terbangun karena dering ponsel.


Dilihatnya nomor sang kekasih. Seketika cemasnya yang dari semalam, hilang entah kemana. Digantikan dengan senyuman manis dari bibir mungil yang merah alami itu.


"Biiiiiiii ... " Jenn berteriak girang. Seseorang diseberang telepon sedang tersenyum bahagia mendengar suara ceria sang pujaan hati.


"Kangen yah ?"


"Kamu bikin aku khawatir, bi"


"I'm sorry, honey ! nggak ada maksud gitu juga"


"Kemana aja sih semalam ? main ngilang gitu aja"


" ... "


"Kenapa diam, bi ? jawab aku"


" ... "


"Ada masalah ? cerita sama aku, bi"


"Nggak ada apa-apa, hon. Jalan Yuk !"


"Kemana ?"


"Ke pantai mau ?"


"Mau banget, bi"


"Ok, siap-siap, aku jemput yah"


"Siap komendan"


Dan telepon itu pun berakhir dengan Jenn yang dipenuhi bahagia. Sedangkan Alvino di seberang sana yang didera kebimbangan.


Jenn turun dari tempat tidur dan berlari kecil menuju dapur. Menghampiri Rossa yang sedang berkutat dengan bumbu dan alat masak.


"Mamiiiii" memeluk Rossa dari belakang.


"Apa sih, lepasin miniii, ish" Jenn melepaskan pelukannya.


"Gue mau ke pantai sama Alvino" ucap Jenn penuh semangat.


"Udah ada kabar yah ?" Jenn mengangguk.


"Awas kayak semalam lagi" peringatan dari Rossa.


"Iya, ke pantai doang kok"


"Hm, mandi gih, sekalian bangunin si Putri, kita sarapan bareng. Baru setelah itu Lo pergi" titah Rossa sang mami.


"Siap mamiiii sayang" tampak kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya. Setelah rasa gelisah semalaman menyiksanya.


.


.


.


.


.


to be continued ...


___________________


Hai hai readers Ter ❀️ ,,,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah πŸ˜ŠπŸ€—


Makasih buat yang sudah mampir πŸ™πŸ₯°πŸ₯°


Happy reading buddies 😊❀️