
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Gelap berangsur-angsur menghilang ketika fajar mulai menyingsing. Langit kembali cerah diterpa sinar mentari, dan bumi kembali hangat setelah kabut lelah membentang.
Setiap insan kembali bersiap-siap dengan aktivitas masing-masing.
Sreeegh!
Bunyi tirai yang tersibak dari balik jendela sebuah ruang rawat inap.
Bias cahaya yang terpantul menembus kaca jendela, menerpa seraut wajah tampan yang masih terlelap dengan damai pada ranjang pasien.
"Emm." Terdengar gumaman kecil dari mulutnya. Rupanya ia sedikit terusik.
Ia menggeliat dan membalikkan posisi tidurnya, bersembunyi dari terpaan sang surya.
Ting,
Tung,
Ting.
Bunyi dentuman kecil berulang kali yang tercipta dari benturan sendok pada piring dan gelas. Tampaknya seseorang sengaja melakukan itu agar membangunkan dia yang masih berlayar di alam mimpi.
Benar. Tampak seorang wanita cantik sedang menikmati sarapannya pagi itu. Ia sengaja membunyikan benda-benda di sekitarnya agar mengganggu tidur sang suami.
"Loh, sebenarnya yang sakit siapa?" tanya seorang gadis yang barusan masuk.
Ia bingung melihat pasien kamar tersebut yang sudah bangun dan sedang menikmati sarapannya di dekat jendela. Sedangkan di ranjang pasien malah tertidur orang yang sehat.
"Tau nih," jawab wanita cantik itu sembari mengunyah. Dia adalah Jenn. "Udah bosen di sini, mau cepet-cepet pulang, Kay." Jenn mengeluh pada adik iparnya. Ia menoleh pada sang mertua yang tampak masih sibuk membereskan barang-barangnya. "Bu, Jenn udah gak sabar pengen cepat keluar dari sini," rengeknya seperti seorang anak kecil.
Hari ini Jenn sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Ia senang sekali sebab merasa bosan di rumah sakit. Ia rindu suasana rumah.
"Iya sabar, Nak. Habiskan dulu sarapannya, habis itu minum obat. Nanti kalo udah siap, baru tinggal bangunin Kenn. Ini ibu sama Kay juga mau sarapan dulu." Wanita paruh baya itu selesai membereskan barang dan hendak sarapan.
Kay yang juga sudah tidak betah di sana, ia mulai berpikir dan menemukan suatu ide untuk membangunkan kakaknya. Gadis itu melihat di sekelilingnya hingga matanya terhenti pada sendok dan rantang susun yang baru saja dibereskan ibunya.
Ia melirik ke arah ibunya dan Jenn. Keduanya tampak tenang menikmati sarapan masing-masing. Tangannya lalu meraih kedua benda itu dengan perlahan dan ...
Prangggg ...
Klinggg ...
"Aaaakkhh!"
"Jenn!!!"
Rantang dan sendok makan yang berada di tangan Kay, ia lepaskan begitu saja ke lantai hingga menimbulkan bunyi nyaring yang luar biasa mengagetkan.
Jenn mendadak berteriak saking kagetnya. Sedangkan Kenn langsung melompat dari tempat tidur dan memanggil Jenn berbarengan dengan suara ibunya.
...
Hening ...
Kay menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika semua mata tertuju padanya dengan tatapan kesal.
"Kayyyyyyyy!!!" Tiga orang di sana menyerukan namanya dengan serempak.
"Aku kaget loh, Kay. Hampir copot nih jantung," keluh Jenn pada adik iparnya.
"Maaf Kak! Tujuan Kay itu mau bangunin Kakak," ucapnya sembari melirik Kenn yang juga sedang menatapnya. "Hahaha, ampun Kak, ampuuuuunnn!" teriak Kay karena digelitik kakaknya.
"Bagus banget cara banguninnya. Kakak berterima kasih banget, Dek." Memeluk Kay dengan erat pada bagian lehernya. "Ini hadiah buat kamu." Menjepit kepala adiknya di bawah ketiak.
"Ahhrrggg, asem! Hmpp." Kenn baru melepaskan setelah Kay berontak. "Mandi gih." Mendorong kakaknya dan ingin lari. Namun, tangan Kenn masih sempat menahannya.
"Jangan lari, sini dulu." Merangkul pundak Kay. "Lain kali jangan kek tadi yah, kakak pikir kakak iparmu kenapa-kenapa. Kamu tau kan, kakak selalu khawatirin dia, apalagi dengan kejadian kemarin. Ngerti kan?" Kay mengangguk dan Kenn hanya mengelus kepala adiknya. "Oke, kakak juga minta maaf karena telat bangun. Pasti kalian udah gak sabar pengen pulang kan?"
"Iyah, Kay sayang sama Kak Jenn. Dari tadi udah gak sabar pengen cepet-cepet pulang, makanya Kay pake cara tadi. Kay juga minta maaf." Kedua kakak beradik itu lalu berpelukan sebentar.
Kenn berdiri dan menghampiri istrinya. Ia membungkuk dan mencium kening sang istri. "Maaf, Sayang! Kalo gitu aku mandi dulu yah, bentar aja gak lama." Mengusap pipi Jenn sebentar dan berlalu ke kamar mandi.
Ibunya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya. Alhasil Kay pun diomeli.
Beberapa menit berlalu setelah Kenn selesai mandi dan semuanya sudah siap, mereka lalu bergegas keluar meninggalkan ruangan rawat inap tersebut.
Kay dan sang ibu pun terlihat membawa beberapa bawaan.
Wajah Jenn nampak cerah dan bahagia.
"Seneng banget yah Kak?" Kay masih sempat-sempat memperhatikan kakak iparnya.
Jenn mengangguk sambil tersenyum. "Iyah dong, udah rindu rumah."
Beberapa langkah di depan sana, mereka melihat Reza dan kedua orang tua Alvino sedang berjalan menuju ke arah mereka. Kenn dan Jenn saling menatap dan menghentikan langkah mereka bersamaan.
"Mau apa mereka, Kak?" tanya Jenn dan suaminya hanya mengedikan bahu.
Ibu dan Kay yang tidak mengerti apa-apa, pun ikut berhenti. Mereka hanya mengenal Reza sebab sudah bertemu hari pertama mereka ke mari, tetapi tidak dengan dua orang tua itu.
"Loh udah mau pulang?" tanya maminya Alvino sedikit kaget begitu tiba di depan Jenn dan Kenn. Ia langsung bergerak memberikan bingkisan besar sebuah parcel buah pada Jenn. "Ini buatmu, Nak. Tadinya tante mau masakin buat kamu, tapi mendadak jadi tante bawakan ini saja."
Jenn menoleh pada suaminya. Saat Kenn mengangguk, ia pun lalu menerimanya.
"Makasih, Tan. Gak papah kok, gak usah repot-repot," ucap Jenn sembari menerima bingkisan dari maminya Alvino dengan kikuk. Ia menoleh pada papinya Alvino. "Om," sapa Jenn dengan senyuman.
"Maaf yah, Nak. Om dan Tante gak tau. Ini anak kurang ajar dan abangnya gak ngasih tau sama sekali." Papinya menunjuk Reza. Kenn dan Jenn terkekeh melihat wajah masam Reza.
"Ini ...." Maminya Alvino melihat ibu dan Kay serta ingin bertanya.
"Oh iya, kenalin Tan, ini ibu mertua dan adik ipar Jenn."
Ibu dan Kay pun berkenalan dengan orang tua Alvino. Sesudah itu mereka sama-sama melanjutkan langkah mereka ke luar.
Reza dan Kenn mengambil alih semua bawaan dari ibu dan Kay, juga bingkisan dari tangan Jenn.
Jenn sendiri kini berjalan dirangkul maminya Alvino. Tiba di depan rumah sakit, Reza hendak mengantarkan meraka semua. Namun, Jenn dan Kenn menolaknya karena mereka akan dijemput Farel.
"Makasih, Za. Tapi sorry, Farel sudah on the way ke sini. Maaf yah!" ucap Jenn.
Kebetulan mobil Farel pun sudah sampai. Kenn segera memasukan barang bawaannya dibantu Reza.
"Om, Tan, maaf banget yah. Dan makasih udah mau repot-repot kemari jenguk istri saya." Kenn merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Nak. Jaga istrimu lebih baik lagi yah." Papinya Alvino menepuk bahu Kenn dengan sayang.
Sedangkan maminya memeluk Jenn. "Cepat sembuh dan pulih yah, Sayang. Semoga cepat diberikan kesempatan sama Tuhan untuk kembali menjadi orangtua lagi."
"Amin. Makasih, Tan."
Meraka pun berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.
Di tengah perjalanan, sang ibu yang masih penasaran dengan pasangan paruh baya tadi pun lantas bertanya.
"Siapa mereka, Nak? Perhatian sekali sama kalian."
Kenn dan Jenn saling menatap dalam diam.
Jawaban seperti apa yang harus kami berikan?
..._____πΏπΈπΏπΈπΏ_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
Hola epribadeeeh π jumpa lagi π€
Kemarin gak up, hehe π€ sehari doang kok. Ini lagi usahain biar tiap hari bisa up π
Jangan pada bosen yah π₯°
Makasih banyak buat yang selalu setia nungguin update cerita receh ini π₯°
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ππ
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425