
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Semburat jingga mulai merebak di ujung cakrawala. Langit memamerkan warna keemasan yang membentang bak permadani di angkasa. Lembayung yang kemerahan, memberi tanda hari hampir gelap.
Jalanan sore tampak ramai. Waktu di mana para pekerja mulai bergegas pulang tuk melepas lelah bersama keluarga tercinta.
Seorang lelaki mengemudikan BMW M8, berwarna maroon dengan kecepatan normal. Melaju di antara ramainya lalu lintas yang padat. Setelah beberapa menit, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang asri.
Pengemudinya keluar dan berjalan masuk, setelah membuka pagar. Tampaknya ia sudah terbiasa mendatangi hunian tersebut.
Tok ...
Tok ...
Tok β¦
Suara ketukan pintu berhasil mengusik kebersamaan dua gadis yang tengah menikmati waktu singkat mereka dengan memasak bersama di dalam sana.
"Yeiiii, dia dataaaanggg!" pekik keduanya sembari bersorak.
Seolah sudah tahu persis, bahwa siapa tamu yang sedang bertandang di sore itu. Sebab, mereka memang sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Gue aja yang bukain. Lo di sini aja, gak usah banyak gerak." kata Putri pada sahabatnya, Rossa.
Gadis kalem yang tengah hamil muda itu memang tampak sedikit kelelahan.
Berbeda dari kebanyakan wanita hamil lainnya yang kerap mengalami ngidam berlebihan. Rossa malah biasa saja. Jika yang lainnya mengalami muntah-muntah dan sederet keinginan ini dan itu, Rossa hanya sedikit mual dengan penciuman yang lebih tajam, serta mudah lelah. Jika memasak seperti ini, ia cukup memakai masker agar sedikit menolongnya.
"Wait!" Putri lalu bergegas menuju ruang tamu.
Langkah riang menuntunnya hingga di depan pintu. Senyum mengembang di bibirnya. Tangannya bergerak cepat membuka pintu. Namun, ketika pintu itu terbuka, ia kaget. Seketika wajah ceria itu menguap dalam sekejap, berganti geram. Darahnya berdesir melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat itu. Rasanya ingin berteriak mencaci maki, dan bahkan menonjok wajah tampan di hadapannya, tapi sekuat hati ia mencoba meredamnya. Banyak hal yang sudah ia pikirkan dan ia pertimbangkan sedari tadi. Dan semua itu, hanya karena dan demi sahabatnya.
Sabar, Put. Sabarrrrr ...
Mulutnya terkatup rapat menahan gejolak emosi yang tiba-tiba sulut.
Keduanya terdiam dan saling menatap tajam. Putri yang tidak ingin kelepasan kata-katanya, langsung berbalik dan kembali ke kamar tanpa sepatah kata pun. Ia tidak lagi menghiraukan Rossa yang sedang menunggu di dapur.
Kenyataannya, ia sengaja melakukan hal itu. Ia tahu bahwa, kedatangan lelaki itu bukan lagi untuk mencari Jenn. Namun, tujuannya sekarang adalah Rossa. Entah dengan maksud apa dan atas dasar apa, tapi yang pasti, tujuannya kini sudah berbeda.
Dia yang ditinggalkan di depan pintu saat itu, mengumpat kesal dalam hati karena bingung. Ingin marah, rasanya malas. Ingin bertanya, gengsinya selangit.
Dalam kebingungan saat itu, pendengarannya menangkap bunyi-bunyian khas yang berasal dari area dapur. Aroma masakan yang menguar, seolah memberi sinyal baginya. Kakinya tahu harus melangkah ke arah mana. Perlahan, ia masuk dan langsung menuju dapur. Sedikit banyak, ia telah sering mendatangi tempat tersebut. Jadi, ia memahami betul setiap ruang yang ada di sana.
Hingga langkahnya terhenti pada area yang memang seharusnya ia tujui. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ia bisa melihat sesosok ayu yang tengah memainkan spatula di tangannya dengan terampil.
Ia masih tetap berdiri dalam diam di sana. Netra pekatnya tak lepas memandangi punggung kecil yang membelakanginya.
Benarkah, dia orangnya malam itu? ...
Masih ragu untuk mempercayai. Kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana. Tidak ada niat untuk menyapa gadis itu sama sekali.
Sementara itu, dia yang masih berkutat dengan sederet alat memasak di sana, tidak jua menyadari bahwa ada yang mengamatinya sedari tadi.
"Put!" panggilnya.
Ia mulia merasa lelah. Tangannya bergerak mengusap peluh yang menetes pada dahi dan lehernya. Saat jemari halus itu menyentuh bagian leher dengan gerakan halus, seseorang yang berdiam di belakang sana mengerjab. Matanya tak lepas menelusuri leher jenjang itu. Rambut yang dicepol asal-asalan dengan beberapa helai yang terurai acak, memberikan sedikit kesan menggoda pada leher jenjangnya. Tampak pula seutas tali apron yang terbelit di sana.
Lelaki itu bergeming. Sekelebat bayangan di malam itu, terlintas di ingatannya. Benarkah, bagian itu pernah disentuhnya? Ia menggeleng pelan lalu memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Mengusir pikiran tentang malam itu.
"Huekk!"
Lelaki itu terperanjat. Are you, ok? Dan itu hanya bisa terucap dalam hati.
"Put!" panggil Rossa lagi. "Pada ngapain sih? Lama banget." Ia mulai merasakan pengap. Sepertinya masker yang ia gunakan tidak cukup membantu. Ia pun melepasnya. Tidak lupa ia mematikan kompor, lalu menyandarkan tubuh lelahnya sejenak pada meja kecil yang berada tidak jauh di belakangnya.
Merasakan bahwa Putri yang sudah lama belum juga kembali, gadis itu lalu ingin menyusul saja ke dalam. Pikirnya, mungkin ia sedang dikerjai. Dengan gerakan pelan ia membuka tali apron yang tersimpul di leher dan punggungnya.
Gadis itu terperanjat bukan main, dengan tubuh yang refleks mundur membentur meja dapur. Jantungnya berdegup keras dan semakin menggila sepersekian detik. Apron di tangannya terhempas saking kagetnya.
Ruangan itu seolah mengecil, membuatnya merasa sesak. Rossa merasakan sulit untuk bernafas. Apalagi menatap mata elang yang menghujamnya dengan tajam, ia sudah lebih dulu merasa tertusuk perih meski tanpa tersentuh. Merasa tak sanggup menghadapi orang di depannya, Rossa pun lantas berbalik memunggunginya.
Di-dia? Ke-kenapa bisa di sini? Ah, alasan apalagi yang membuatnya ke sini kalau bukan Jenn? Haha, apa yang Lo harapkan, Rossa?
Gadis itu membatin menyadarkan dirinya. Ia memejamkan matanya dan menekan kuat dadanya yang masih berdebar hebat kala itu. Rasanya ia ingin mencair dan larut seperti garam, ataukah menghilang saja dengan jurus seribu bayangan seperti Naruto.
Aaaaa ... Put, tolongin!
Jangankan bergerak, bernafas saja terasa sulit baginya.
"Gue mau ngomong sama Lo."
Suara tegas itu lagi-lagi mengagetkannya, serta mempercepat kinerja jantungnya berkali-kali lipat dari yang tadi. Matanya membulat sempurna, ia melongo mendengar itu.
Jadi ... dia yang kemari, bukan Jenn?
Berbicara dengan lelaki itu adalah angan yang selalu menjelma dalam mimpinya di setiap malam. Apakah ini juga memang hanya mimpi? Terlalu mustahil baginya. Ekspektasinya tidak setinggi itu.
"Jangan ge-er, gue cuman mau ngasih tawaran buat Lo. Kalau memang itu anak gue, maka Lo harus ikut sema gue. Artinya, Lo siap mengikuti semua aturan dan perintah gue, tanpa bantahan sedikit pun. Kalo gak, berarti itu bukan anak gue, dan Lo bebas nentuin hidup Lo sendiri. Jangan sangkut pautkan sama gue."
Rossa bergeming. Kedua tangannya terkepal sembari memejamkan mata, dan menggigit bibirnya dengan kuat, menahan perih di hati. Seragu itukah dia dengan darah dagingnya sendiri? Lalu dia menganggapku melakukannya dengan siapa? Rendah sekali diriku. Begitu yang dipikirkan Rossa.
Ini percakapan pertama mereka. Dan ini juga merupakan sayatan pertama yang menggores hatinya. This is the first wound bagi gadis kalem itu.
"Lo denger kan?" tanya Alvino. Gadis di depannya hanya mengangguk tanpa berniat untuk berbalik. "Apa Lo udah siap? Pikirkanlah dengan baik. Jika Lo mengakuinya, gue pun demikian dan akan bertanggungjawab. Itupun ada syaratnya. Tapi kalo Lo bilang gak, gue lebih berterimakasih lagi. Pilihan yang mudah bukan?"
Mata indah itu telah tergenang perih. Sekali kedipan saja maka luruh sudah air mata kesakitannya. Tidak. Rossa mengangkat wajahnya menatap ke atas agar air mata sialan itu tidak sampai lolos. Ia meremas kaos yang dikenakannya.
Bahkan gue udah mencoba lari saja dari kenyataan ini.
Tidak. Itu tadi. Sekarang ia telah berpikir dengan baik untuk rela melakukan apa saja demi anaknya. Jangankan harga diri, nyawa pun akan ia korbankan. Komitmen yang sulit memang, tapi dengan yakin ia ikrarkan dalam hati.
Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengangguk.
"Yakin tidak akan menyesal setelah ini?" Kata-kata itu seakan mencoba meruntuhkan niat yang sudah matang ia bangun. Sekali lagi gadis itu mengangguk mantap. Terdengar Alvino yang menghembuskan nafasnya kasar kali ini. Sepertinya ia tidak senang dengan keteguhan hati gadis itu. Ia ingin mendengar jawaban tidak, lebih tepatnya. "Baiklah, tapi beginikah cara berbicara yang baik dengan seseorang?" Nada itu terdengar mengejek.
Apa yang dia inginkan? Geram Rossa dalam hati.
"Gak berani natap gue? Takut ketahuan bohong kalo itu ...."
"Lo bisa mengangganya seperti itu. Gue gak maksain buat Lo cape-cape mengakuinya." Tahu apa yang akan dikatakan Alvino, Rossa langsung memotong ucapannya sebelum hal itu melukai lagi hatinya. "Langsung saja apa syaratnya?" Dengan berani ia berbalik, tapi mata itu tidak ingin memandang Alvino. Mata itu tertuju pada jendela dengan pandangan yang menembus jauh di ujung cakrawala yang mulai menggelap.
"Ini baru syarat pertama. Setelah berangkat besok, dan pastinya kita akan menikah. Syarat-syarat berikutnya akan Lo dapat setelah itu. Untuk saat ini, cukup hanya ...."
..._____π¦π·π¦π·π¦_____...
...*...
...*....
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
Halo semuanya π ketemu lagi π€
Kira-kira apa syaratnya yah π€ Kepo gak nih π
Makasih buat kalian yang selalu setia nungguin update cerita receh ini ππ
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425