Simple But Perfect

Simple But Perfect
Rossa Kabur



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Jarum jam menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Jenn dan Kenn baru saja tiba di kediaman mereka, setelah menjenguk Rossa di rumah sakit.


Begitu masuk ke kamar, Kenn langsung berjalan menuju ranjang dan ia pun segera menghempaskan tubuh lelahnya di sana.


Sementara itu, Jenn melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, sekedar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum tidur. Sekembalinya dari kamar mandi, ia mendapati suaminya yang sudah tertidur begitu saja.


Jenn menggeleng. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian tidur untuknya dan Kenn. Setelah selesai berganti baju, ia lalu menghampiri suaminya.


"Astaga! Kak." Ia menggoyang lengan sang suami hendak membangunkannya. "Hei, apa-apaan ini, Sayang? Main langsung tidur aja, cuci kaki dulu kek, ganti baju dulu kek." Jenn mulai mengomel di tengah malam itu.


"Capek, Yang. Ngantuk banget ini. Besok aja yah," gumam Kenn dengan mata terpejam. Lelaki itu tampak sangat lelah.


Jenn menghembuskan nafasnya dengan berat. "Baiklah, kalo gitu tidur sendiri, yah. Aku tidur sama Kay." Jenn sudah menarik bantal dan selimut hendak ke kamar Kay.


"Iyah, ini aku ke kamar mandi." Kenn memaksakan bangun dan langsung berjalan gontai menuju kamar mandi.


Jenn berdiri di sana dengan selimut dan bantal yang berada dalam dekapannya. Ia tersenyum manis melihat langkah malas sang suami. Ia pun meletakkan kembali perlengkapan tidur itu pada tempatnya semula.


Ia memilih duduk bersandar pada headboard tuk menunggu Kenn, sembari men-scroll layar ponselnya. Lima menit terlewati, tetapi Kenn belum juga keluar dari kamar mandi. Penasaran, Jenn pun menyusul suaminya.


Di sana Jenn dibuat bingung, antara ingin tertawa ataukah kasihan melihat sang suami yang tertidur dalam posisi berdiri bersandar pada dinding di dekat wastafel kamar mandi.


"Sayang!" panggil Jenn seraya mendekat.


Kenn tersentak dan langsung menjatuhkan kepalanya di pundak kecil Jenn. "Hmm, ngantuk banget, Sayang." ucap Kenn hampir tak terdengar.


"Kasihan banget sih suamiku." Jenn memeluk Kenn untuk sesaat.


Ia lalu menemani dan membantu Kenn membersihkan diri seperlunya. Kemudian, Kenn berganti pakaian dengan yang sudah disiapkan Jenn tadi.


Setelah itu, keduanya lalu bergegas tidur karena malam semakin jauh, bahkan sudah dini hari.


Tidak membutuhkan waktu lama, Kenn sudah berlayar dan mengarungi samudera mimpi dalam dekapan isterinya. Ia benar-benar mengantuk dan lelah setelah seharian bekerja. Belum sempat untuk beristirahat, kembali ia menemani Jenn ke rumah sakit. Lelaki itu kini tertidur penuh damai di dada Jenn. Tempat favoritnya untuk melepas penat.


Namun, Jenn justru sebaliknya. Wanita cantik itu tidak dapat memejamkan mata. Tangannya masih saja dengan ringan membelai helai demi helai rambut suaminya. Ada setumpuk rasa bahagia yang membuncah di balik rongga dadanya.


Ya, Jenn sedang berbahagia. Bahagia karena separuh dari doa-doanya selama ini, telah dikabulkan Tuhan.


Ah, rasanya terlalu cepat Engkau menjawab doaku. Terima kasih, Tuhan. Rasa bersalahku sedikit berkurang. Mungkin akan hilang sepenuhnya, saat dia sudah bisa menerima takdir dan sahabatku.


Jenn membatin dengan jemari yang masih setia mengusap lembut rambut legam suaminya. Ia menunduk dan mencium kepala Kenn, memeluk laki-laki yang paling ia cintai itu dengan erat.


"Jangan menyimpan rasa bersalah itu lagi, Sayang. Seperti katamu dulu, bahwa cinta akan selalu menemukan jalannya," bisik Jenn dihiasi segaris senyum di wajah cantiknya.


Ia lalu memejamkan matanya, dan segera menyusul sang suami ke alam mimpi dengan senyum yang tak kunjung redup.


***


Keesokkan paginya, rumah berukuran minimalis tersebut sedikit berisik dengan suara lembut sang ibu yang memanggil sepasang suami-istri itu berulang kali.


Tak hanya itu, ketukan pada pintu kamar keduanya pun terdengar tak hanya sekali.


Hal itu berhasil membangunkan Jenn dari lelapnya. Rasanya ia baru saja memejamkan mata beberapa saat lalu, indahnya mimpi belum juga dinikmatinya. Namun, sekarang sudah terbangun secepat ini.


Jenn melihat pada mesin waktu yang tersemat pada dinding kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 07.35.


"Udah hampir jam 8 yah?" Bertanya pada diri sendiri. Ia melihat ke samping dan mendapati Kenn masih begitu nyenyak. "Capek banget kayaknya," ucap Jenn lalu memberi kecupan di kening suaminya.


Kembali ia mendengar suara sang mertua memanggilnya dan Kenn. Jenn pun lantas bangkit dan menyingkap selimut yang membalut tubuh kecilnya. Tanpa menyahut, ia bergegas menuju pintu sebelum suara ibu membangunkan suaminya.


Ceklek ...


"Ada apa, Bu? Maaf, Jenn kesiangan," ucap Jenn begitu berdiri di depan sang mertua. Ia keluar dan kembali menutup pintu kamarnya.


"Semalam pulang jam berapa?" Wanita paruh baya itu melihat gurat lelah tampak jelas di wajah menantunya.


"Jam 1 lewat gitu, Bu. Hoaaammm! Masih ngantuk banget," jawabnya sembari menguap beberapa kali.


Sang ibu menggeleng. "Jangan sampai sakit. Sesibuk apapun kalian, utamakan waktu istirahat. Sehat itu mahal, Nak." Memberikan nasihat pada Jenn. "Tuh, di depan ada teman," sambungnya lagi.


"Siapa, Bu?" Kening Jenn berkerut.


"Ibu lupa namanya, itu yang ...."


"Kak Reza," ucap Kay melaynjutkan perkataan ibunya.


"Ada apa, Za? Semuanya baik-baik saja kan?" tanya Jenn to the point.


Reza yang tadinya duduk langsung bangkit berdiri. "Rossa kabur dari rumah sakit."


"Apa???" pekik Jenn tak percaya. "Tungguin gue."


Jenn langsung berlari kecil menuju kamar dan mengambil ponselnya. Ia melihat 10 panggilan tak terjawab dari nomor Reza dan Putri. Tanpa mandi ataupun berdandan, ia memilih pergi begitu saja dengan piyama yang membungkusi tubuhnya.


Saat hendak keluar kamar, ia menoleh sebentar ke ranjang. Kenn tampak masih sangat pulas di sana. Jenn tidak tega membangunkannya.


"Mana sudah jam 8 lagi." Melihat waktu yang tertera di layar ponselnya. Sambil masih tetap berdiri, Jenn melakukan panggilan telepon ke nomor Farel.


πŸ“² "Halo, selamat pagi, kak."


πŸ“² "Pagi, Jenn. Ada apa? Tumben telpon ke nomor gue."


πŸ“² "Ah, iya nih, kak. Mau minta izin buat Kenn. Dia kayaknya terlambat masuk kerja. Masih tidur dia, soalnya semalam pulang dari rumah sakit udah dini hari. Gak papah kan, kak?"


πŸ“² "Loh, siapa yang sakit? Kok gak bilang?"


πŸ“² "Rossa, kak. Oh, iyah, nanti tolong kasih tau buat Fio juga yah, kak. Thanks before.


Jenn pun langsung memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Ia tampak buru-buru sekali. Kembali ia bergerak ke tempat tidur.


"Maaf, sayang. Aku tinggal bentar, yah. I love you," bisik Jenn sembari memberikan kecupan manis di kening Kenn sekali lagi. Ia pun segera berlalu dari kamar.


"Aku pergi bentar yah, Bu. Jangan bangunin, kakak. Dia kelihatan capek banget," pamit Jenn pada ibu mertuanya.


"Sarapan dulu, Jenn. Nanti sakit, Loh." Sang ibu mencegahnya.


"Nanti saja, Bu. Jenn gak lama kok." Ia pun langsung mencium pipi sang mertua. "Dah, Ibu." Beralih lagi pada Kay. "Ke kampus sendiri dulu yah. Nanti kaka nyusul."


Jenn dan Reza pun bergegas melesat dari sana. Sepanjang perjalanan dalam mobil, Jenn terus saja bertanya tanpa jeda. Reza menjawab apa adanya sambil fokus menyetir.


Menurut pernyataannya, Rossa sudah meninggalkan Rumah sakit dari masih subuh. Saat mengetahui hal itu, Putri langsung pulang ke rumah dan mengecek keberadaan gadis itu, tapi nihil. Ia bahkan meninggalkan ponselnya.


"Jadi sekarang kita harus apa? Kemana kita harus nyariin dia?" Jenn bingung dan sedikit kacau memikirkan hal itu.


"Kayaknya kita harus ngasih tau dulu deh sama om dan tante gue. Bang Vino juga harus tau ini." Reza menginjak Rem mendadak.


"Rezaaaaa!!! Jadi Lo belom ngasih tau ke mereka?" Melotot marah. Dan laki-laki itu hanya menggeleng pelan. "Ya ampuuuuunnn! Punya temen kok begoknya gak ketulungan yah." Menoyor kepala Reza beberapa kali. "Bawa gue ketemu orangtuanya sekarang juga! Cepataaan!" perintah Jenn galak.


Sesegra mungkin Reza kembali menginjak pedal gas dan melesat membelah jalanan menuju kediaman orangtua Alvino.


Hanya butuh 15 menit, mereka tiba di sana. Jenn segera keluar begitu mobil berhenti dengan sempurna. Reza lalu menuntunnya masuk ke dalam bangunan nan megah itu.


Tanpa mempedulikan sekitarnya, Jenn berjalan dengan sedikit terburu-buru mensejajarkan langkah kecilnya dengan langkah lebar Reza.


Beberapa pasang mata menatapnya penuh kagum saat ia mulai keluar dari mobil sampai masuk ke dalam rumah.


Tanpa harus bertanya pada para pelayan yang bekerja di rumah mewah tersebut, Reza langsung menuju ruang keluarga. Persis seperti dugaannya, sepasang suami-istri paruh baya itu terlihat sedang bersantai di sana.


Keduanya kaget begitu melihat sosok cantik Jenn tiba-tiba hadir di sana.


"Jenn!?!"


..._____πŸ’§πŸ’πŸ’§πŸ’πŸ’§_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


Hay semuanya πŸ‘‹ ketemu lagi πŸ€—


Maaf, kemarin gak up 🀭


Makasih banyak buat kalian yang selalu mampir di karya receh ini. Maksih untuk semangatnya guys πŸ™


Jangan lupa like dan komen 😍😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425