Simple But Perfect

Simple But Perfect
Matahariku !



_Ketika mata terbuka di pagi hari, buatlah mentari cemburu dengan semangat yang membara. Jangan mengeluh tentang kemarin. Buatlah esok yang lebih baik, dengan memanfaatkan hari ini _


"Ceria banget sih hari ini" Putri membuka obrolan ketiga gadis cantik, saat menikmati sarapan.


"Yoi dong ! dia balik bukan berarti semuanya berakhir kan ? life must go on, bebz ! lagian masih teleponan tiap hari juga" ucap Jenn dengan santai.


"Nah, ini baru Jennifer-nya kita. Ya gak, Put ?" tanya Rossa pada Putri.


"Yups, bener banget" sahut Putri.


Disela-sela kegiatan sarapan mereka pagi itu, dering ponsel Jenn berbunyi. Gadis cantik itu selalu tahu siapa peneleponnya. Begitu juga dengan dua sahabatnya. Ini sudah menjadi hal yang lumrah selama perjalanan cinta Jenn dan Alvino.


Gadis cantik itu begitu bahagia melihat wajah baru bangun namun tetap tampan, milik sang kekasih memenuhi layar ponselnya.


"Good morning, bi !" sapa Jenn dengan senyum manisnya.


"Morning too, honey ! i miss you" balas Alvino dengan suara serak.


"Aku juga merindukan kamu, bi !" Jenn tersenyum melihat Alvino yang menguap. "Masih ngantuk ?" tanya Jenn.


"Hmm, tapi udah gak, pas liat matahariku" Alvino tersenyum.


"Eh, liat matahari dimana ? orang masih di tempat tidur gitu ?"


"Di kamu lah, hon !" Alvino samakin melebarkan senyumnya.


"Aku ?" menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, Jenn ! kamu itu matahariku." Ucap Alvino dengan tatapan lembut.


"Idih, kekenyangan nih aku. Sarapannya dilengkapi gombalan. Paket lengkap pagi ini" Jenn tersenyum.


"Ini bukan gombal, hon. Ini beneran dari hati aku. Kamu itu matahari yang menyinari hidup aku, dan menghangatkan hati aku. Cintamu selalu memancarkan kekuatan yang positif dalam jiwa aku, Jenn" ucap Alvino dengan sungguh-sungguh.


Tanpa disadari oleh gadis cantik itu, Alvino punya maksud yang terkandung dalam setiap ucapannya. Mungkin dalam perjuangannya saat ini, Jenn akan selalu menjadi terang bagi jalannya, memberi hangat dalam dingin hatinya.


"Puitis sekali pacar aku. Berasa kek lagi di taman bunga aku" Jenn tertawa kecil menanggapi ucapan kekasihnya.


"Terserah kamu aja, hon ! udah sana ke kampus. Ntar telat loh. Nanti aku telepon lagi."


"Ok, bi ! bye"


"Bye, honey !"


Sambungan telepon itu pun berakhir.


"Gak berubah yah" ucap Putri.


"Apanya ?" tanya Jenn.


"Ritualnya. Bangun pagi teleponan, mau jalan izin dulu, mau tidur lapor dulu, udah gitu cintanya dia gak pernah berubah yah"


Jenn menyelesaikan sarapannya, kemudian meneguk setengah gelas air putih. Dan sesudah itu, gadis itu tertawa renyah menanggapi perkataan Putri.


"Udah kebiasaan, bebz. Dan soal cintanya, seperti yang selalu kalian liat selama ini. Begitu besar rasa cintanya, dan gue pun sama. So, jangan bertanya yang sudah kalian tau"


"Ok, as you wish, Jenn ! and i hope, it's like you say." Ucap Putri lalu berdiri membereskan meja, di ikuti Rossa dan Jenn. Mereka bertiga lalu bergegas ke keluar rumah menaiki tunggangan masing-masing dengan formasi seperti biasa.


Namun sebuah mobil sport porsche 718 berwarna silver, yang baru saja berhenti di depan pagar rumah itu membuat Jenn terpaksa turun lagi dari motor.


"Siapa ?" tanya Putri.


"Itu Reza. Gue duluan yah, bye !" ucap Jenn singkat dan hendak berlalu dari sana, namun Rossa menarik tangannya.


"Bentar dulu. Tau dari mana dia alamat rumah ini ? bisa-bisanya Lo, baru juga di tinggal Alvino, udah jalan aja ma selingkuhan" kata Rossa dengan pedas.


"Hah, jadi dia salah satunya yah ? ckckck, ini anak kebangetan deh" Putri menggelengkan kepalanya.


"Hei, kalian berdua apa-apaan sih ? denger yah, iya dia itu emang pernah jadi koleksi gue. Tapi udah nggak lagi, pas Alvino kesini. Tau kenapa ? karena dia itu adik sepupunya Alvino. Dan dia sekarang jadi bodyguard gue, itupun sesuai permintaan Alvino. Ngerti ?" papar Jenn.


Putri dan Rossa memang tidak tahu tentang hal ini. Dan sejak kemarin waktu Alvino dan Reza menjemput Jenn untuk ke bandara pun, mereka tidak melihatnya. Karena lelaki itu hanya berdiam diri di dalam mobil, sampai dia mengantarkan Jenn kembali pun hanya di depan pagar rumah saja.


"Oh ... " kedua sahabatnya ber-oh ria.


"Bulet ! udah ah, gue jalan dulu. Sampai jumpa di kampus, bye" ucap Jenn meninggalkan kedua sahabatnya dan menghampiri Reza.


"Sorry, Za ! lama." Ucap Jenn begitu masuk dalam mobil. Gadis itu merasa tak enak hati dengan Reza.


"Tidak masalah, kakak ipar" ucap Reza dengan senyuman sambil menghidupkan mobil dan kembali melaju membelah jalanan menuju kampus.


"Ish, sekali lagi Lo panggil gue kek gitu, gue timpuk pake sepatu" ucap Jenn dengan galak.


"Haha, galak bener. Tapi galaknya makin cantik loh. Pantes aja bang Vino cinta mati" Reza tergelak dan menggoda gadis yang duduk di sebelahnya.


"Hadew, gak kakaknya gak adiknya. Tukang gombal, dasar." Jenn mencebik


"Aish, mukanya itu di kondisikan dong. Gue bisa khilaf ini" Reza gemas dengan wajah cemberut Jenn.


"Jangan cari masalah dengan abang Lo, Za" peringatan dari Jenn.


"Iya, iya, mana berani gue. Canda doang tadi" Reza bergidik membayangkan kegilaan Alvino.


Jenn tersenyum mengejek, melihat respon Reza.


Keduanya lalu bercerita dengan topik yang lain sepanjang perjalanan menuju kampus.


__________________


"Ayo, kak. Fanya udah telat ini" ucap gadis manis itu sambil menarik tangan Kenn.


Semalam Farel memaksa temannya itu untuk menginap. Jadinya lelaki yang sudah dianggap sebagai bagian keluarga Prasetya itu, ikut bergabung di meja makan bersama anggota keluarga lainnya, menikmati sarapan pagi ini.


"Gak usah Fan, sama gue aja. Kenn mau ke bengkel." ucap Farel langsung berdiri dan hendak mengantar adiknya.


"Gak mau, Fanya maunya dianter sama kak Kenn aja" Fanya tetap kekeuh.


"Atau sama papa aja, gimana ?" tawar Papanya.


"Ya sudah kalau begitu. Kenn, tolong anterin Fanya dulu yah, kamu tidak perlu buru-buru ke bengkel. Santai aja" ucap papanya Farel sambil menepuk pundak lelaki tampan itu.


"Siap, Om !" ucap Kenn dan langsung beranjak dari meja makan.


"Dah mama, dah papa" ucap Fanya lalu mengecup pipi kedua orang tuanya.


"Gue nggak nih ?" tanya Farel.


"Ogah, malesss" gadis itu langsung berlalu dari ruang makan dan menarik tangan Kenn keluar.


Farel ingin sekali meneriaki adiknya, namun dia takut dengan sang papa yang masih berada di meja makan. Lelaki itu hanya bisa mengumpat kesal dalam hati. Sang mama yang selalu tahu kelakuan keduanya hanya geleng-geleng sambil tersenyum.


"Ayo kak, Fanya udah hampir telat ini." Rengek Fanya.


"Iya, bawel. Nih helmnya dipake" ucap Kenn menghidupkan motornya lalu setelah memastikan gadis itu naik, ia pun melaju menuju kampus.


Beberapa menit kemudian, keduanya telah sampai. Kenn yang ingin sampai di depan saja, dipaksa Fanya hingga masuk ke parkiran kampus.


"Gue kalo punya satu adik, banyak maunya kek gini, udah gue tukar tambah sama Lamborghini Aventador." ucap Kenn memarkirkan motornya.


Fanya memukul pelan punggung lebar lelaki tampan itu, lalu turun dari motor. "Kak Kenn nyebelin, kirain gue barang main tuker aja" Fanya memasang wajah cemberut sambil tangan kecilnya membuka helm. Mungkin dengan perasaan kesal, Fanya tidak berhasil membuka helmnya.


"Ck, lepasin helmnya aja gak bisa, sini" Kenn menarik tangan Fanya mendekat dan membantu melepaskan helmnya. "Bisanya nyusahin kakak-kakaknya aja" helmnya berhasil di lepas.


Melihat wajah Fanya yang semakin cemberut membuat Kenn tersenyum merasa lucu dengan tingkah kekanakan gadis itu.


"Jangan suka cemberut. Udah jelek, tambah jelek nanti." tangan usil Kenn mengacak-acak rambut gadis itu sambil tertawa lepas.


"Aaaa ... stop, kak ! jadi hancur ini" sungut Fanya sambil menyisir kembali rambutnya menggunakan jemari lentiknya.


Dan tanpa disadari keduanya, sepasang mata indah tengah melihat dan memperhatikan pemandangan itu tanpa berkedip sedikit pun. Dengan perasaan yang tak keruan.


Hah, udah punya pacar kok, bilangnya suka. Nitip salam segala. Keliatan bahagia banget lagi, ih nyebelin.


Tanpa dia sadari, perasaan tak pantas dan tak seharusnya yang berlabel cemburu, sedang mengusik perasaannya.


"Liatin apa sih, Jenn ?" tanya Reza.


Dia bingung melihat Jenn yang sejak masuk ke parkiran, hanya diam dengan satu pandangan yang tak berpindah sedikit pun. Bahkan, beberapa kali suara Reza yang mengajaknya untuk turun dari mobil pun tak didengarnya. Kali ini pun masih tak didengarnya. Dia masih saja terpaku ditempatnya. Tidak tahan, Reza mengguncang bahu gadis itu.


"Jenn, hei sadar. Lo udah telat, Jenn" karena guncangan Reza, gadis itu pun tersentak.


"Hah, ya ampun, astaga. Sorry, Za. Ayo buruan turun" Jenn yang kaget pun bergegas turun dari mobil. Sedangkan Reza yang bingung dengan tingkah gadis itu hanya geleng-geleng.


"Ada apa dengannya ? aneh" Reza berbicara sendiri, lalu turun menyusul Jenn.


Baru saja dua langkah dari mobil, sebuah suara kembali mengagetkannya. Padahal Jenn sudah menahan kesal setengah mati dan ingin cepat-cepat berlalu dari sana. Namun hal itu justru menambah kekesalan bagi gadis cantik itu.


"Pagi, kak Jenn" sapa seorang gadis cantik dengan sopan.


"Ah, iya pagi" kaget dan menjawab kikuk. Karena tadi berjalan sambil menunduk, Jenn pun spontan mengangkat pandangannya.


Nama Jenn yang disebut pun, terdengar di telinga seorang lelaki tampan yang duduk dengan gagahnya di atas motor. Begitu juga dengan Fanya.


"Nayla !" panggil Fanya pada gadis yang menyapa Jenn tadi.


Jenn pun ikut menoleh. Pandangannya bertemu dengan Kenn. Keduanya saling menatap dalam diam dengan perasaan yang bercampur aduk. Jenn yang dilingkupi kekesalan, sedangkan Kenn menatap dengan lembut dan penuh arti. Namun Kenn pun sedikit terusik dengan kehadiran lelaki asing yang berdiri tepat di belakang gadis pujaannya.


Ck, ngapain liat-liat kesini ? ada pacarnya disamping juga.


Batin Jenn. Raut wajah cantiknya dengan jelas menunjukkan ketidak sukaannya.


Siapa lelaki itu ? Ck, terlalu banyak lelaki yang mendekatimu. Dan aku tidak suka melihatnya.


Batin Kenn.


"Hai Fan" sapanya pada Fanya.


"Eh, Nay, kenalin ini kak Kenn. Dan kak, ini temen Fanya, Nayla" ucap Fanya memperkenalkan keduanya.


Nayla begitu terpesona melihat wajah tampan Kenn, namun netra lelaki tampan itu hanya tertuju pada sosok cantik yang berdiri jauh beberapa langkah di depannya.


Aish, liatin kak Jenn terus dari tadi. Liat Nayla dong kak ! _Fanya_


Ah, tampan sekali. Semoga gue bisa dapetin hati Lo kak ! _Nayla_


Jenn yang tidak tahan langsung berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu. Di ikuti Reza. Sedangkan Nayla yang menjulurkan tangan ingin bersalaman dengan Kenn, tapi diabaikan lelaki tampan itu.


"Fan, kakak balik yah. Masuk kelas gih, udah telat." Tanpa menunggu balasan dari Fanya, Kenn melaju meninggalkan parkiran itu. Karena sudah tak melihat gadis mungil pujaannya lagi.


Senang melihat wajah cantik itu pagi ini. Sepertinya hari ini akan berjalan dengan sangat baik.


Kenn tersenyum kecil sambil melaju menuju bengkel.


.


.


.


.


.


to be continued ...


________________


Hola semuanya πŸ‘‹


Terimakasih buat yang selalu setia nungguin STP πŸ™


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejaknya yah πŸ˜ŠπŸ€—


Selamat membaca πŸ€—πŸ˜˜β€οΈ