
"Kenapa ? kenapa Lo gak rela ? emang benar kan kata-kata gue" teriak Verlita, tak terima dengan Alvino yang membela kekasihnya.
"Cukup Ver, gue ingatin sekali lagi cukup. Dan tolong keluar dari sini." Alvino berusaha menahan geramnya.
"Nggak. Lo berani ngusir gue cuman karena ngebela gadis penggoda itu ? " sekali lagi kata penggoda itu sengaja diucapkannya.
"Verlita" bentak Alvino dengan keras.
"Apa ? Jennifer itu emang penggoda. Dia jalang yang sudah merebut Lo dari gue. Dia yang sudah meracuni pikiran Lo, dia...
Plaaakkk...
Sebuah tamparan keras, mendarat di pipi mulus wanita cantik yang belum menyelesaikan perkataannya itu. Bahkan, dia sudah tidak bisa berkata-kata. Karena tangan besar Alvino mencekik lehernya.
"Sudah gue peringatkan. Jangan berani mengatakan hal buruk apapun tentangnya. Gue nggak rela. Apa lagi dari mulut sampah Lo yang busuk itu, gue nggak sudi." Alvino berbicara dengan rahang yang mengeras, disertai urat-urat yang nampak ditangannya. Karena luapan amarah yang sudah tak tertahankan lagi.
Verlita mencoba melepaskan tangan Alvino dari lehernya, sesekali memukul tangan Alvino. Tapi lelaki itu tetap bergeming, malah semakin mengencangkan cengkeramannya.
"Le-le -pas ,,, Al-vin-o .... sa-sa-kittt" Verlita merasa sesak hampir kehabisan nafas. Namun Alvino seakan tak perduli. Dia seperti kesetanan. Karena tak terima pujaan hatinya dimaki-maki.
"Dan dengar ini baik-baik. Jennku, jauh lebih baik berkali-kali lipat dari Lo. Jennku, tidak bisa dibandingkan dan disamakan dengan siapapun termasuk Lo. Dia gadis penurut, yang selalu bisa mengendalikan emosi gue. Nggak kayak Lo, jalang pemberontak." ucap Alvino dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya.
"Dan sekarang keluarlah dari apartemen gue" katanya lagi, sambil menyeret Verlita keluar dari sana. Dan menghempaskan wanita itu ke lantai, begitu sampai didepan pintu. Wanita itu dengan cepat menghirup oksigen disekitarnya dengan rakus.
"Gue nggak akan tinggal diam terima ini semua Alvino. Gue bakal buat perhitungan sama Lo dan gadis ingusan yang miskin itu." ucap Verlita masih tersengal, dan bangkit bejalan terseok-seok berlalu dari hadapan Alvino.
"Gue tunggu balasan Lo, tapi ingat ! jangan pernah menyentuh Jennku. Sehelai saja rambutnya yang Lo sentuh, Lo akan bayar dengan sangat mahal Verlita." kata Alvino setengah berteriak, karena Verlita mulai menjauh dari sana.
Alvino kembali masuk lalu menutup pintu dengan sangat keras. Sisah-sisah amarahnya masih melekat. Lelaki tampan berlesung pipi itu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, dan memejamkan matanya. Sembari menghembuskan nafas perlahan meredakan amarahnya.
Wajah cantik gadis kecil pujaan hatinya itu, terbayang melintas dibenaknya. Alvino tersenyum, hilang sudah amarahnya hanya dengan bayangan gadisnya. Dia lalu mengambil ponsel, bermaksud menghubungi satu nama. Yang tidak hanya menguasai ponselnya, tapi juga nama yang sudah tiga tahun ini menguasai seluruh hatinya. Disana tertera sebuah nama dengan ukiran indah Heart's owner ❣️
Lelaki tampan itu langsung menyentuh ikon berwarna hijau, untuk menyambungkan panggilannya. Tak berselang lama, terdengar suara ayu setengah serak diseberang telepon. Alvino tersenyum dan melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 22:30. Akh, Alvino senang sekali menganggu waktu tidur gadisnya itu.
"Halo, bi"
"Udah tidur dari tadi ?" tanya Alvino.
"He-em"
"Aku ganggu yah ?" tanyanya lagi.
"Ck, udah tau, pake nanya lagi"
"Hehehe" Alvino tertawa senang sudah membuat gadisnya bangun dan kesal. "I love you my Jenn" kata Alvino kali ini dengan suara berat tertahan. Seolah sesuatu tengah menindihnya dengan kuat. Ya ada kekhawatiran dihatinya. Khawatir gadisnya itu disakiti oleh Verlita.
"Kamu kenapa bi ? ada masalah ?" selalu memahami suasana hati kekasihnya.
"Enggak ada hon. Hanya saja .... aku rindu" kata Alvino mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. Namun tentang perasaan rindu itu benar adanya. Apalagi sedang khawatir seperti ini membuatnya semakin rindu ingin bertemu, menjaga dan melindungi gadisnya itu.
"Aku rindu kamu Jenn, aku rindu pelukan kecil kamu honey" Alvino berkata jujur dengan suara pelan.
"Bi, kalau nggak mau cerita ke aku, gak papa. Tapi please ! jangan buat aku khawatir disini. Dan kamu tahu kan ? setiap detik aku merindukanmu, Bi" Kata Jenn diseberang telepon. Dia tidak tahu saja, jika kekasihnya disana sedang mengkhawatirkannya setengah mati.
"Tidurlah, bi, mau aku nyanyiin lagu nggak ?" tanya Jenn mencoba menghibur kegundahan kekasihnya.
"Boleh, with my pleasure dear " Alvino tersenyum senang.
Aku masih ada di sini
Masih dengan perasaanku yang dahulu
Tak berubah dan tak pernah berbeda
Aku masih di tempat ini
Masih dengan setia menunggu kabarmu
Masih ingin mendengar suaramu
Cinta membuatku kuat begini
Aku merindu
Kuyakin kau tahu
Tanpa batas waktu
Kuterpaku
Aku meminta
Walau tanpa kata
Cinta berupaya
Engkau jauh di mata tapi dekat di doa
Aku merindukanmu
Lirik lagu dari Ade Govinda dan Andi Fadli itu, terlantun indah dari bibir mungil Jenn, tanpa adanya gitar. Namun mampu membuat keduanya terhanyut dalam luapan rindu yang menggebu.
Kekhawatiran Alvino sedikit berkurang namun tidak dengan rasa rindunya. Semakin tak tertahan ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya itu.
"Kenapa sih, kamu paling bisa buat aku makin cinta ?" kata Alvino menggoda Jenn. Namun itu benar adanya. Gadis kecil itu selalu mampu membuatnya jatuh cinta berulang kali padanya.
"Hehehe nggak usah gombal. Aku udah kenyang Bi hihi. Tidur gih. Aku ngantuk" ucap Jenn.
"Baiklah Ratuku. Selamat tidur, dan mimpikan aku yah. I love you so much, honey" kata Alvino
"I love you too, bi"
Dan malam itu berlalu dengan senyum indah Alvino, yang ditemani suara rekaman Jenn yang tadi sempat direkamnya. Diputarnya berulang kali.
.
.
.
.
.
to be continued .....
.
.
.
Happy reading buddies 😊❤️
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah 🙏🥰🥰🥰