
...Hai! Readers yang budiman π jumpa lagi π€...
...Jangan lupa like dan komen yah π...
...Happy Reading...
...___________________________...
Berangkat dari accident dimana Jenn pingsan hari itu, serta kabar bahagia yang sempat membuat geger beberapa dari mereka yang dekat dengannya, sejujurnya hal itu belumlah berakhir. Babak baru dalam hubungannya bersama Kenn, baru saja akan dimulai.
Namun, baik Jenn maupun Kenn, mereka sama-sama sepakat untuk merahasiakan hal itu dari orang lain sampai Jenn kembali ke kota. Kenn tidak ingin semua pihak tahu tentang hal ini, dan membuat kekasihnya itu terbebani dengan pikiran-pikiran yang akan berdampak buruk.
Kenn langsung kembali ke kota malam itu juga. Ia menitipkan Jenn pada Fio dan Reza, juga ibu tuan rumah dimana Jenn dan Fio tinggal. Sejak malam itu, ia sudah berdamai dengan Reza dan mempercayai sang kekasih pada lelaki itu. Kenn berjanji pada Jenn bahwa dia akan kembali seminggu lagi untuk menjemput kekasihnya saat selesai KKN.
Lelaki itu meninggalkan sang kekasih dengan banyak pesan dan sederet larangan-larangan yang harus dipatuhi. Jenn dan yang lainnya sampai geleng-geleng melihat tingkah over protektif serta keposesifan lelaki tampan itu.
Gak boleh banyak gerak, kurangi aktivitas.
Jangan sampai kecapean!
Jangan tidur terlalu larut!
Makan yang banyak, biar dia juga cepat tumbuh.
Gak boleh jajan sembarangan.
Makan makanan yang sehat.
Boleh dekat tapi jangan bersentuhan dengan Reza.
Jaga kesehatan kamu dan dia baik-baik.
Jangan sampai sakit!
Semua itu sudah Jenn tanamkan di dalam batin dan pikirannya, serta akan ia jalankan sebaik mungkin di sisah waktu seminggu ini, sampai ia bertemu kembali dengan lelaki posesifnya.
Detik bergulir ke menit dan bergantian dengan jam yang terus berkejaran, hingga hari pun menyilih. Seminggu berlalu sudah, dan Jenn benar-benar melakukan setiap hal yang diperintahkan oleh kekasihnya dengan baik. Tapi hingga detik ini, dimana besok ia bersama timnya akan kembali ke kota karena sudah selesai dengan masa KKN-nya, Jenn tidak mendapatkan kabar sama sekali dari sang kekasih.
Hal ini membuat wanita cantik itu sedikit terusik. Ya, hati dan pikirannya sangat terganggu, tetapi Jenn mencoba menepis pikiran-pikiran kotor yang terus saja mencemari logikanya.
Gak! Kak Kenn gak mungkin ingkar janji. Dia gak mungkin ngecewain aku!
Batin Jenn setiap saat mendengungkan kalimat itu, seolah memberinya keyakinan yang teguh.
Sore menjelang malam di depan sebuah rumah sederhana yang terletak di ujung jalan, desa tempat Jenn bersama timnya melangsungkan KKN selama sebulan lebih ini. Di serambi rumah itu, tampak tiga orang muda-mudi sedang duduk bersantai dengan obrolan-obrolan ringan. Mereka cukup lelah seharian ini karena mengikuti acara penutupan pelaksanaan kegiatan KKN.
Reza yang kala itu diberikan amanah agar selalu menjaga dan melindungi kedua wanita yang tengah berbadan dua itu, terpaksa harus mengurus segala kesiapan acara penutupan tadi sana-sini dengan rekan-rekan mahasiswa yang lain. Dalam hal ini, Reza yang paling direpotkan. (Enak banget Kenn dan Farel. Yang berbuat siapa? Yang direpotkan siapa? Kasihan Reza yah, guys π€ Seperti suami siaga yang poligami dan kedua istrinya sama-sama Hamidun π ).
Kembali ke ketiganya yang tengah mengobrol. Ini lebih kek perbincangan tentang Jenn dan kegundahannya.
"Kira-kira besok, Kak Kenn jemput gue ke sini gak sih?" tanya Jenn pada dua temannya dengan lesu.
"Positif thinking, Bebs. Kalaupun besok, Kak Kenn gak bisa dateng jemput Lo, mungkin dia emang sibuk." jawab Fio yang mencoba menenangkan temannya.
"Ya, gue ngerti. Tapi gak gini juga, Bebs. Udah seminggu loh ini, gak ada kabar sama sekali dari dia. Gimana gue gak kepikiran coba," seru Jenn mulai terseret emosi.
Mendengar suara wanita cantik itu yang mulai sedikit meninggi, Reza mulai panik sendiri. Mengingat pesan-pesan dokter waktu itu, jika wanita hamil emosinya harus selalu stabil, Reza kadang takut untuk hanya sekedar bercanda yang menyinggung wanita cantik itu. Begitu pula dengan Fio.
"Udah, Jenn. Sabar, Lo harus percaya sama dia. Gue percaya dia gak mungkin biarin Lo dalam kondisi kek gini tanpa alasan yang jelas," tutur Reza dengan pelan menenangkan Jenn.
"Maksud, Lo? Dia lagi ngelakuin hal apa emang? Sampai ditelepon juga gak pernah aktif?" Jenn menoleh pada Reza dengan memicingkan matanya.
"Ya, ya ... Maksudnya mungkin dia sibuk ngelakuin sesuatu yang kita emang gak tau, tapi mungkin untuk kebaikan kalian nantinya, kan?" jelas Reza sedikit gugup karena tatapan Jenn padanya.
Fio yang berada di samping Jenn pun melotot pada Reza. Yang ditatap menjadi salah tingkah. Laki-laki malang itu pun hanya mengangguk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Nasib apa yang menimpa gue, Tuhan? Ngurusin bini-bini orang, lagi hamil lagi. Pengen gue culik aja biar jadi milik gue. Huh, sabarrrrrr! Tunggu aja Lo berdua!
Batin Reza merutuk Kenn dan Farel. Jelas saja dia kesal dengan kedua lelaki itu. Dia merasa tersiksa dengan situasi ini, tapi mau bagaimana lagi? Demi pertemanannya dengan dua wanita itu, ia ikhlas melakukannya. Apalagi untuk Jenn, dia bersedia dengan senang hati melakukan apa pun, karena tak dapat ia pungkiri bahwa rasa cintanya masih saja sama untuk wanita cantik itu. Tetapi tidak dengan rasa untuk memilikinya, sungguh Reza tak memikirkan itu dan tak berharap apapun. Cukup mencintai saja.
"Udah, Bebs. Jangan terlalu dipikirkan, ingat kondisi Lo. Jangan sampai dia kenapa-kenapa di dalam sana." ucap Fio sambil menunjuk perut Jenn dengan mulutnya.
Jenn langsung tersadar dari emosinya. Ia lalu mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur pernafasan secara perlahan.
"Kalau besok dia gak dateng, kan masih ada gue, Jenn. Gue selama ini bisa diandalin kan?" kata Reza sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya. Makasih, Za! Tapi gue lebih butuh, Kak Kenn di banding, Lo." ucap Jenn dengan wajah cemberutnya.
Seketika itu juga pecahlah tawa si Fio, apalagi melihat raut wajah lelaki itu. Sementara Reza yang tadinya sudah senang dan bersemangat mendengar ucapan terima kasih dari Jenn, tiba-tiba menjadi lesu mendengar kata terakhir dari kalimat Jenn. Bahu Reza seketika merosot dengan helaan nafas yang berat.
"Ha-ha-ha. Sabar, Za! Gue turut prihatin. Ha-ha-ha." Fio terus saja menertawakan Reza.
"Kasian yah, gue. Apes banget nasib gue yang jomblo ini. Udahlah, gue mau balik aja." ucap Reza yang hendak berdiri untuk pulang.
Lagi-lagi Reza dibuat pusing. Ia tahu bahwa perasan wanita hamil suka berubah-ubah seperti ini. Tentu saja ia ingat perkataan dokter tempo hari. Dan ini bukan kali pertama ia mendapat serangan mental seperti ini. Sedikitnya, Reza mulai terbiasa.
Astaga! Apa gue gantung diri aja kali yah? Wanita aja udah sulit ngadepinnya, ini malah wanita hamil. Hebat banget sih gue, bisa betah sejauh ini, ha-ha-ha!
Batin Reza menertawakan dirinya sendiri.
"Dengerin gue, Jenn! Besok itu kita akan kembali ke kota, jadi kita mesti istirahat. Apalagi Lo berdua, kalian mesti jaga kesehatan. Perjalanannya jauh loh. Gue juga dari siang udah di sini, belom mandi sampe sekarang. Jadi kalian masuk dan makan, abis itu istirahat buat besok, yah," terang Reza dengan sabar.
Mendengar itu, Jenn hanya menganggut-anggut. Ia pun membiarkan Reza pulang, tetapi ibu tuan rumah lebih dulu keluar dan mengajak mereka kembali masuk ke dalam rumah untuk makan bersama.
"Bu, kok malam ini ibu masakin banyak banget?" tanya Jenn yang bingung melihat begitu banyak makan yang tersaji di meja makan.
Pertanyaan yang sama mewakili rasa penasaran Fio dan Reza.
"Ibu masakin ini khusus buat kalian, karena besok kalian sudah kembali, dan ibu akan rindu saat-saat seperti ini." ucap wanita paruh baya itu dengan sendu.
"Ibu, kita gak akan lupain ibu kok. Kita juga sedih berpisah dengan ibu," Fio pun ikutan sedih.
"Hiks, hiks, hiks!"
Semuanya langsung menoleh ke arah Jenn.
"Ada apa, Jenn? Lo kenapa?" Reza yang paling panik dibuatnya.
"Bebs? Hei ada apa?" tanya Fio yang langsung berdiri dari duduknya.
"Neng geulis kenapa, neng?" ibu tuan rumah pun ikut bertanya.
"Huaaaaaaa, besok gak bakal liat ibu lagi, gak bakal makan makanan ini lagi, huaaaaa. Jenn bakalan rindu, Bu. Huaaaaa," tangis Jenn pun pecah dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.
Fio dan Reza saling menatap sambil mengedikan bahu masing-masing. Sejak hamil, kadar manjanya wanita cantik itu semakin bertambah. Mereka yang dekat dengannya seperti Fio dan Reza, harus ekstra bersabar.
"Sudah, Neng. Kan kita masih bisa saling dengar suara lewat telepon," wanita itu mengusap-usap punggung Jenn.
Setelah Jenn sudah tenang, drama di meja makan itu pun selesai. Mereka lalu menyelesaikan acara makan malam saat itu dengan tenang, penuh bahagia serta haru. Sesudah semuanya selesai, Reza pun pamit untuk pulang.
Malam kian larut, dan Jenn tidak dapat memejamkan matanya. Kegelisahan merundungnya hingga menjelang pagi barulah si cantik itu dapat terpejam.
Sang fajar kembali menyapa bumi dengan hangatnya. Fio terbangun dan mendapati Jenn masih terlelap begitu damai. Ia pun menengok ke arah mesin waktu, di sana sudah pukul 07.45.
"Tumben belum bangun jam segini, pulas banget lagi, gak ingat apa mau balik hari ini?" ucap Fio sambil memandang Jenn yang begitu lelap.
Fio lalu beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Satu jam kemudian, ia sudah siap dengan segala keperluannya, bahkan sekarang ia pun sudah memulai sarapannya. Di saat itu juga Reza datang untuk menjemput keduanya karena yang lain sudah panda menunggu dengan bus kampus.
"Loh, Jenn mana?" tanya Reza yang hanya melihat Fio di sana.
"Masih di pulau mimpi, belum kembali dari sana." Fio menjawab disela-sela makannya.
"What? Masih tidur? Ya, ampun ... Yang benar saja, Fi!" seru Reza tak percaya. "Yang lain udah nungguin Lo berdua woe, bus kampus juga udah dateng, kita mau on the way sekarang!" lelaki begitu geregetan dengan dua temannya.
"Keknya dia gak tidur semalaman deh, n'tar gue bangunin. Wait!"
Fio pun beranjak ke kamar dan membangunkan wanita cantik yang masih saja pulas itu. Benar saja tebakan Fio, si cantik itu mengakui bahwa semalam tak dapat tidur. Menunggu satu jam lagi untuk Jenn bersiap-siap, Reza mengkoordinasikan dengan supir bus dan teman-teman lain bahwa ada sedikit kendala yang membuat Jenn dan Fio terlambat, dan Reza mewakili keduanya meminta maaf dan sedikit waktu lagi.
Tidak lupa dibumbui dengan drama perpisahan mereka dan ibu tuan rumah yang menangis haru melepaskan dua wanita cantik yang sudah menemani harinya selama sebulan lebih ini.
Hampir tengah hari, barulah rombongan itu kembali ke kota. Sepanjang perjalanan itu, Jenn terus saja menanyakan ketidak hadiran sang kekasih di sana. Lagi kekecewaan mencubit hati kecilnya, lagi rindu menyiksanya tiada ampun.
Aku berharap kamu tidak seperti dia. Jangan mengulang kisah yang sama dalam takdir cintaku!
..._____πΊπΊπΊπΊπΊ_____...
...To be continued ......
..._________________...
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu STP ππ€
Jangan bosenΒ² yah guys ππ€
jangan lupa dukungannya yah. Gak perlu yang banyakΒ², like dan komen aja cukup kok π
Terima kasih semuanya π
Sampai jumpa di episode berikutnya π
Jangan lupa follow π
Ig : @ag_, sweetie 0425