Simple But Perfect

Simple But Perfect
Selamat Sayang!



Sejatinya hidup tidak selalu berjalan lurus serta mulus. Akan ada belokan-belokan yang kita telusuri, ada pun tanjakan-tanjakan yang nantinya kita tapaki, serta di setiap momen itu akan ada kerikil-kerikil kecil yang kita tempuh dengan beragam rasa yang menguji iman.


Ada yang menjalani dengan sabar, ada yang tidak mampu dan memilih jalannya sendiri. Ada yang tidak setia dengan proses, ada yang bertahan sampai akhirnya bahagia dapat digenggam.


Semuanya bisa berubah, tergantung tiap-tiap orang dengan niat dan harapannya. Satu hal pasti yang tidak dapat ditahan dan diubah ialah waktu. Mengulang pun itu tak mungkin. Kerap penyesalan turut membumbui suatu perjalanan, namun tetap saja tidak ada yang dapat dilakukan untuk memutar bahkan sekedar menghalangi waktu. Kenyataannya manusia hanya bisa saling berlomba mengejar waktu, menempatkan asa di setiap saat berbalut usaha dan doa.


Satu musim dalam perjalanan cinta Jenn dan Kenn hampir berlalu. Ya, musim LDR-an dalam hubungan keduanya sedikit lagi terlewati sudah. Seminggu lagi, hanya tinggal menunggu seminggu lagi, celengan rindu yang telah penuh dan sesak setelah sebulan lebih menabung, sedikit lagi akan dipecahkan.


Semua program dan kegiatan KKN yang berlangsung selama sebulan lebih di desa, berjalan dengan lancar tanpa kendala. Tinggal saja membuat laporan dan kegiatan penutup.


Siang itu, Jenn baru saja menyelesaikan setengah dari laporannya tentang kegiatan selama sebulan lebih ini. Waktu yang sudah tengah hari serta rasa lelah, seolah memberinya kode untuk segera pulang.


"Kamu kenapa, bebs? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Fio yang melihat temannya begitu kelelahan siang itu.


Sedikit menyunggingkan senyumnya, Jenn bangkit dari tempat duduk dengan perlahan tanpa menjawab pertanyaan Fio. Ia mengambil tas punggungnya dan bergegas berjalan keluar dari ruang kelas.


"Hei, kamu kok kayak gak semangat gitu. Kamu baik-baik aja kan?" Reza pun ikut bertanya perihal Jenn dengan sedikit keanehannya siang itu.


"Gue gak papah. Cuman sedikit capek aja sih, di tambah kurang tidur mungkin jadi gini," jawab Jenn dengan memaksakan senyum kecil.


"Udah makan belom sih ini? Kita ke warung depan sekolah aja, biar kamu makan dulu," tawar Reza dengan perhatian.


"Tadi gue ajak juga gak mau dia. Gak selera katanya," sahut Fio dengan wajah cemberut.


"Gue gak laper aja, bebs. Sedikit gak mood sih, he-he-he. Kalo laper pasti gue makan kok," ucap Jenn dengan kekehan kecil yang terkesan malas.


Fio dan Reza saling melempar pandanganan. Entah mengapa, kedua temannya itu merasa ada yang berbeda dari Jenn yang mereka kenal selama ini. Si cantik bertubuh mungil itu selalu terlihat bersemangat dalam setiap situasi yang ada. Dia termasuk dalam kategori salah satu wanita yang energik, tetapi hari ini dia berbeda.


Semoga aja perasaan gue salah, bebs!


Fio membatin. Yah, bumil itu melihat adanya perubahan dan keanehan dalam diri temannya bukan saja baru siang itu, namun sudah beberapa hari terakhir ini. Fio diam-diam menemukan satu hal yang sama sekali tidak berani untuk ia ungkapkan atau ia tanyakan langsung. Alhasil, ia hanya diam dalam kebisuan.


Mereka bertiga sedang berjalan melewati koridor sekolah, tiba-tiba saja Jenn memperlambat jalannya dan berhenti sejenak sambil bersandar pada satu tiang penyangga yang ada di sana.


"Bebs!"


"Jenn!"


Seru Fio dan Reza bersamaan, begitu melihat Jenn yang mendadak lemas.


"Lo kenapa, Jenn? Masih bisa jalan lagi gak?" tanya Reza penuh khawatir.


Yang ditanya tak menyahut, hanya bungkam dengan mata terpejam.


"Bebs! Ini minum dulu," panggil Fio pelan, sambil memberikan sebotol air putih miliknya yang selalu ia sediakan di dalam tasnya. Jenn membuka matanya lalu meneguk air itu dengan perlahan. "Lo kenapa sih, bebs? Kalo gak bisa jalan, biar Reza nyari ojek dulu. Kita tunggu di sini aja," ucap Fio.


"Gak usah, gak papah. Gue kecapean aja. Ayo!" ajak Jenn sembari mengembalikan botol milik Fio, dan kembali melanjutkan langkahnya.


Fio dan Reza diam dan mengikuti saja kemauan wanita cantik itu. Baru saja setengah dari perjalanan mereka pulang ke rumah, tubuh mungil itu tiba-tiba saja limbung hampir ambruk jika saja Reza tidak menahannya.


"Jenn!" Pekik Fio dengan kaget. Ia pun mendekat dan melihat kondisi Jenn yang begitu lemas. "Tuh kan, tadi dibilangin makan gak mau, nunggu ojek gak mau," gerutu Fio dengan raut cemas bercampur sedih.


"Nih, Lo pegang dulu tasnya," kata Reza sambil melepas tas punggung Jenn dan memberikannya pada bumil itu.


"Jenn! Jenn! Hey," panggil Reza sambil menepuk-nepuk pelan pipi wanita cantik itu.


Reza yang tadinya hanya ingin memapah Jenn, mendadak membopong tubuh mungil itu ketika dilihatnya mata wanita cantik itu terpejam dengan berat bandan yang bertumpuh seluruhnya dalam dekapannya.


"Dia kenapa, Za?" tanya Fio mulai panik.


"Jenn pingsan."


Tujuan mereka yang tadinya ingin pulang ke rumah, kini berubah arah ke klinik terdekat yang ada di desa tersebut.


********


Hari sudah sore dan seorang wanita paruh bayah sedang gelisah mondar-mandir di dalam rumahnya, menunggu dua orang gadis cantik yang sudah tinggal selama sebulan lebih ini bersama keluarganya. Keduanya belum pulang dari sekolah sedari tadi, dan itu membuat wanita tua itu begitu khawatir.


Dalam kegelisahannya, tiba-tiba saja ponsel usangnya berbunyi. Wanita paruh bayah itu begitu kaget saat menjawab teleponnya. Ia pun bergegas menuju sebuah klinik yang diberitahukan sang penelepon.


********


Di tempat lain, pada sebuah bengkel resmi, tampak seorang lelaki tampan sedang membuat laporan sebuah kendaraan beroda empat yang baru saja diservis olehnya beberapa menit lalu. Baru saja selesai dengan laporannya, tiba-tiba datanglah temannya yang tidak lain atasannya di bengkel tersebut.


"Bro! Nih, Fio mau ngomong," ucap Farel memberikan ponselnya pada Kenn.


"Ngomong sama gue?" tanya Kenn bingung dan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Ini tentang Jenn."


Mendengar nama yang bertakhta di hatinya disebut, Kenn langsung menyambar ponsel temannya dan berbicara dengan orang di seberang sana.


Seketika itu juga tubuh tegap Kenn melemah, bahunya yang kekar pun melingsir, dengan jantung yang bertalu-talu. Namun dibalik itu, ada senyum kecil yang tersungging di wajah tampannya, di barengi kristal bening sedikit retak di pelupuk matanya. Ada haru berbaur dengan cemas yang meliputi jiwanya saat itu.


"Nih, sisahnya Lo yang urus. Gue mau ke tempat Jenn sekarang," ucap Kenn sambil menyerahkan laporan yang baru saja dibuatnya pada Farel.


Lelaki tampan itu pun membereskan barang-barangnya dan bergegas menunggangi motornya lalu menghilang dengan cepat dari sana.


Farel tersenyum melihat kepergian temannya. "Semoga jalan Lo dipermudah." Farel berbicara sendiri.


*******


Dari bengkel, Kenn kembali sebentar ke rumahnya untuk mandi dan bersiap-siap menemui sang kekasih yang teramat sangat dicintainya. Tidak membutuhkan waktu lama, Kenn kembali menjalankan motornya dan melaju dengan kecepatan di atas rata-rata menuju tempat dimana wanitanya berada. Kenn sengaja mempercepat jalannya karena tidak lagi sabar untuk bertemu, dan juga jarak perjalanan yang cukup jauh membuatnya harus mengebut.


Sepanjang perjalanannya saat siang menjelang sore itu, rasa khawatir serta cemas selalu saja mengusik pikirannya. Namun hal itu tidak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajah tampannya. Ada hal yang membuat rasa bahagia di hati lelaki itu melambung tinggi.


Sekitar pukul 19.00, Kenn baru saja memasuki gapura sebuah desa yang pernah didatanginya sebulan lalu saat mengantarkan sang kekasih. Lelaki tampan itu berhenti sejenak dan menelepon nomor kekasihnya, yang dijawab Fio. Ia menanyakan keberadaan mereka saat itu, di rumah ataukah di klinik. Setelah mendapat jawaban dari Fio, ia pun kembali menjalankan motornya menuju klinik.


Begitu sampai di depan klinik yang diberitahukan oleh Fio, Kenn memarkirkan motornya lalu masuk. Baru saja hendak masuk, ia dicegah oleh seorang lelaki.


"Jujur saja gue marah. Tetapi karena lelaki itu, Lo, gue percaya Lo bisa bahagiain dia. Jadi tolong bahagiakan dia," ucap lelaki itu to the point.


Kenn menatap lelaki di depannya dengan sangat tajam. Tidak berniat menjawab kata-kata lelaki itu sedikit pun. Kenn lantas ingin kembali masuk, dan lagi-lagi di tahan oleh lelaki yang tidak lain adalah Reza.


Kenn yang kesal pun berbicara dengan suara berat menahan geram serta rahang yang mengetat. "Gue bilang minggir!"


Reza lantas menepi dan membiarkan Kenn masuk ke dalam.


"Kak Kenn, udah dari tadi?" tanya Fio begitu melihat kehadiran Kenn di sana. Ia pun lantas berdiri dari tempat duduknya dan berpindah ke tempat duduk lain.


"Baru aja kok. Jenn belum sadar juga yah?" jawab Kenn yang diikuti pertanyaan.


"Belom, Kak."


Lelaki tampan itu berjalan mendekat ke arah tempat tidur pasien, dimana seseorang yang sangat ia rindukan terbaring lemah di sana, dengan jarum infus yang tertancap di tangan mungilnya. Setelah sampai di dekat sang kekasih, hal pertama yang ia lakukan adalah menunduk dan mencium mesra kening wanita yang sangat dicintainya, yang masih saja lelap dalam tidurnya. Kenn melakukan hal itu cukup lama, menyalurkan segala rasa cinta dan rindu yang begitu besar dan dalam. Sesudah itu Ia beralih menatap perut rata Jenn yang tertipu selimut tipis. Ia pun menunduk dan mencium bagian itu dengan rasa haru serta bahagia yang tak terhitung banyaknya. Reza yang melihat itu tersenyum getir. Bagaimana pun, rasa cintanya masih saja ada untuk wanita itu.


Kenn menarik kursi yang tadi diduduki Fio, dan ia yang kembali duduk di sana, di dekat kekasihnya. Tangan besarnya menggenggam tangan mungil sang kekasih serta mengelus lembut sebelah tangan yang terdapat infus. Tak jarang ia pun menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil di sana.


"Bangun sayang! Aku di sini," bisiknya di telinga Jenn.


Seperti mendapat kekuatan dengan sentuhan dan bisikan-bisikan dari seseorang yang ia butuhkan, perlahan Jenn pun mulai tersadar.


Melihat itu, ketiga orang di sana bernafas dengan lega. Kenn langsung berdiri dari duduknya. Si cantik itu belum menyadari seseorang di sampingnya. Perlahan ia membuka matanya dan menyesuaikan dengan pencahayaan yang ada di sana.


"Akh." Jenn meringis menahan kepalanya yang terasa pening, begitu Ia mencoba untuk bangun.


"Mau apa, sayang?"


Jenn lantas mematung di tempatnya. Ia berpikir ia sedang bermimpi, namun setelah ia menoleh ke samping dan melihat siapa yang berdiri di depannya, detik itu juga Jenn memekik senang dan langsung bangkit dari tidurnya.


"Sayang!" pekik Jenn dan langsung berhambur ke pelukan sang kekasih


Keduanya berpelukan begitu mesra dan manja. Kenn menenggelamkan wajah tampannya di bahu kecil Jenn. Lama dengan posisi itu, hingga Jenn merasakan getaran kecil dari tubuh kekar yang mendekapnya, serta basah di pundak kirinya.


"Sayang, kamu menangis?" tanya Jenn sembari ingin melepaskan diri, namun Kenn semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, kamu kenapa? Ada apa? Aku gak kenapa-kenapa kan?" tanya Jenn yang mulai berpikiran macam-macam.


Masih mendekap tubuh mungil wanitanya, Kenn menggeleng. "Gak! Kamu gak kenapa-napa dan gak boleh kenapa-kenapa. Kamu harus selalu baik-baik saja." Kenn berucap dengan suara serak yang terdengar jelas.


"Terus kenapa nangis, Yang?" Jenn masih saja bertanya.


Perlahan Kenn melepaskan pelukan mereka, setelah ia menghapus air matanya. Ia lalu menatap Jenn dengan tatapan penuh cinta dan bahagia sembari tersenyum.


"Selamat, sayangku!"


" ?!? "


...______πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•______...


Hola epribadeeeh πŸ‘‹ Maaf baru up lagi πŸ™


Jangan pada bosan yah. Mohon tetap setia menunggu STP πŸ™


Terima Kasih buat semuanya yang sllu setia menunggu kelanjutan cerita ini πŸ₯°πŸ₯°πŸ€—


Jangan lupa tinggalkan jejak manisnya yah sayangΒ²ku πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—


Selamat membaca πŸ€—πŸ€—


See u next chapter πŸ₯°πŸ₯°


Follow πŸ‘‡:


Ig : @ag_sweeti0425