Simple But Perfect

Simple But Perfect
Nyata atau Ilusi



...~ Happy Reading ~...


...*...


...*...


...*...


...###...


Cakrawala di ufuk timur mulai merebak dengan rona merah bercampur oranye. Biasnya mengusir kelam perlahan-lahan. Kicau burung mengidungkan semangat baru. Gelap memboyong kabut, dan menghilang bersama bayu.


Pijar sang surya cerahkan pertiwi, gulita telah dengan sudi mempersilahkan raja siang itu menempati singgah sana semesta.


Dalam sebuah kamar tidur dengan pencahayaan yang remang, sepasang suami-istri masih terlelap dengan damai dalam balutan selimut hangat.


Jam dinding menunjukkan pukul 06:30. Terdengar gumaman kecil dari suara ayu bercampur serak. Tampak ada pergerakan kecil dari balik selimut.


"Hmm," gumam wanita cantik yang tak lain adalah Jenn. Ia berbalik ke kiri dan ke kanan, melepaskan diri dari belenggu hangat tangan suaminya. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas meregangkan otot-otot yang kaku.


Ia membuka mata dengan perlahan, setelah menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang berpendar di ruangan kamar tidur.


"Eh? Kok ...." Kebingungan.


Untuk sejenak ia berdiam diri, dan ingatannya mengajak ia untuk mundur di beberapa waktu yang sudah berlalu bersama gulita.


"Bukannya semalam aku ... kok bisa di sini? Apa aku ngigau sambil jalan yah?" Mencoba menerka-nerka apa yang terjadi semalam. Ia lalu melihat ke samping, ke arah suaminya. "Ah, paling kerjaan dia," gumamnya lagi sambil tersenyum secerah mentari di pagi itu.


Jenn bangun dari tidurnya. Masih di ranjang, ia memandangi wajah damai suaminya yang masih lelap. "Ganteng banget sih," ucapnya sambil membelai rahang kokoh sang suami dengan lembut. Jenn menunduk lalu memberikan kecupan singkat di bibir suaminya. "I love you my husband," bisiknya, sesudah itu ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Beberapa detik di kamar mandi, sesudah itu Jenn keluar dan langsung menuju dapur. Tapi, baru saja sampai di ruang tengah, si cantik itu terbelalak dan hampir pingsan melihat keadaan rumahnya yang seperti kapal pecah.


Semua benda yang tertata rapi di sana, semua bergeser dari tempatnya. Jenn melangkahkan kakinya di atas ceceran benda yang terpelanting sana-sini. Ia melangkah menuju dapur. Ia emakin terkejut mendapati pemandangan yang sama. Kacau.


Tak puas, ia berjalan kembali menuju bagian depan, dan ia temukan di ruang tamu pun sama. Hancur.


"What?!" pekik Jenn dengan kedua tangan meremas rambutnya. "Apa-apaan ini? Semalam ada tsunami kah di sini?" tanyanya pada diri sendiri, ataukah pada dinding yang bertelinga? Entahlah.


Ia menjatuhkan tubuhnya dengan lembut di atas sofa yang juga acak-acakan. Jenn memijat pelan kepalanya yang terasa pening seketika. Ia menarik nafasnya dalam-dalam beberapa kali, meredakan emosi yang mulai bergejolak.


"Ya, Tuhan! Apa yang terjadi di rumahku? Apa yang terjadi semalam? Akh, badai macam apa ini?" cerocos Jenn tiada henti.


Ia bangun dari duduknya, lalu berdiri sembari berkacak pinggang. "Hmmm ... mulai dari mana ini?" Pusing memikirkan cara bagaimana merapikan kembali semua kekacauan yang terjadi.


Jenn memutuskan memulai saja dari depan. Mulai dari ruang tamu, ruang tengah, hingga dapur. Semua benda ia rapikan kembali ke tempat semula dengan telaten.


"Aha, ini belanjaannya semalam?" Ia menemukan dua kantong yang cukup besar. Dilihatnya ada kebutuhan mereka berdua di dalam tas itu. Semuanya lengkap membuat Jenn tersenyum kecil. "Bisa banget suamiku. Ada susu hamil lagi." Ia terkekeh sambil geleng-geleng.


Ia lalu mengambil semua barang-barang itu dan menyimpannya pada tempat masing-masing.


Beberapa menit berlalu dan ia sudah selesai dengan pekerjaan pertamanya.


"Huuhhh, capek juga." Mengambil nafas sebentar dengan menjatuhkan tubuhnya pada sofa di ruang keluarga. Tangannya beberapa kali terangkat menghapus peluh yang menetes. "Pagi-pagi udah olahraga ini mah." Sedari tadi hanya bermonolog.


Setelah merasa sudah cukup beristirahat beberapa detik, Jenn bangun menuju dapur dan melanjutkan aktivitasnya. Ia membuatkan sarapan untuk dirinya dan suami tercinta. Dikarenakan belum ada bahan-bahan makanan lainnya seperti sayuran dan daging saat itu, akhirnya ia hanya masak apa adanya yang dibelikan Kenn semalam.


Untuk dirinya ia membuatkan segelas susu ibu hamil, semangkuk potongan apel dengan tambahan yogurt. Sedangkan untuk Kenn, ia membuatkan mie instan dengan telur mata sapi setengah matang, dan secangkir teh hijau.


Setelah menyiapkan semuanya di meja makan, Jenn kembali ke kamar. Di sana, ia mendapati lelaki kesayangannya masih juga betah dibuai mimpi.


Jenn membiarkan saja, tak ingin mengusiknya. Ia berlalu ke kamar mandi dan melepas lelahnya dengan berendam di bathtub.


Sehabis berendam untuk beberapa menit, Jenn menyudahinya dan keluar dari sana. Wanita cantik itu berjalan menuju lemari pakaian dengan jubah mandi yang membungkusi tubuh mungilnya.


Ia memilih menggunakan baju mini dress selutut, lengan pendek, berkerah, berwarna hitam putih. Handuk kecil masih membalut di kepalanya.


"Sebegitu lelahnya dirimu?" Memandang suaminya sekilas.


Jenn berjalan ke arah jendela dan menyibak tirai, mengundang mentari menyoroti seisi kamarnya. Ia membuka jendela, memberi izin bagi udara pagi yang segar memenuhi ruangan pribadinya bersama suami.


Apa yang dilakukannya berhasil mengusik Kenn. Lelaki tampan itu terganggu dengan terpaan sinar mentari yang mengenai wajahnya. Jenn terkekeh melihat itu. Ia masih setia berdiri di samping jendela, menyaksikan setiap pergerakan sang suami.


Tak sampai beberapa detik, Kenn terbangun dengan tiba-tiba langsung mencari istrinya. Ia teringat akan kejadian semalam. Tulisan pada secarik kertas itu membuatnya kembali bertingkah tak waras.


"Sayang, Sayaaaaaanggg!?" Melompat dari ranjang langsung berlari keluar kamar. Ia tidak menyadari sang istri yang sedang berdiri menatapnya heran.


"Kenapa dia? Masih mimpi kali." Jenn geleng-geleng. Ia berjalan santai dan duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.


Seperti angin ribut, Kenn berlari masuk kembali ke kamar.


"Sayaaaaaanggg!" pekiknya senang begitu melihat Jenn ada di sana. Ia melebarkan langkahnya cepat-cepat menuju sang istri, dengan erat ia memeluk wanitanya dari belakang.


Jenn terkejut dengan aksi suaminya. "Kamu kenapa sih? Bikin kaget aja deh," memukul pelan tangan Kenn.


Lelaki itu tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia memejamkan mata menenangkan hatinya yang sedikit kacau saat bangun tadi. Nafas serta detak jantung yang tak beraturan, perlahan mulai normal kembali.


Jagalah istrimu sebaik mungkin. Dia sedang tidak aman. Jangan sampai kau menyesal!


Ia mengingat tulisan pada kertas yang mengacaukan kewarasannya semalam.


"Ada apa, Sayang?" Merasakan ketakutan suaminya.


Kenn melepaskan pelukannya. Ia memutar tubuh kecil Jenn agar menghadapnya, sambil berlutut ia menggenggam erat tangan istrinya.


"Jangan jauh-jauh dari aku yah, Sayang!" pintanya lembut.


Jenn mengerutkan keningnya. "Aku kan eman gak bisa jauh dari kamu, Yang." Menangkap sesuatu yang tidak biasa pada netra hitam suaminya. "Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tepat sasaran menembus hati Kenn.


Aku memang pembohong yang buruk di depanmu. Tapi maaf, aku harus tetap berbohong demi kebaikan kita. Batin Kenn.


Kenn terkekeh menutupi kekalutan hatinya. "Enggak ada, Sayang!" Mengambil handuk dari tangan Jenn dan mengeringkan rambut istri kecilnya itu. "Aku hanya mimpi buruk tadi." Menyudahi kegiatannya pada rambut sang istri. "Aku takut kehilangan kamu, aku takut kamu pergi dari hidupku meski hanya mimpi saja."


"Aku ...." Baru satu kata yang keluar, Kenn sudah membungkam mulutnya dengan ciuman lembut yang menyudahi ucapannya dengan paksa. Lelaki itu memperdalam ciuman mereka hingga menelan waktu beberapa menit. Keduanya meleburkan perasaan cinta mereka lewat ciuman yang hangat pagi itu.


"Ketakutanku tak mengenal nyata atau ilusi, jika itu tentang dirimu. Jadi ... di mimpi maupun nyata, tetaplah di sampingku." ucap Kenn setelah selesai mencumbu istrinya.


"Iyah, Sayang! Kamu tau aku pun gak bisa jauh dari kamu." Jenn tersenyum manis. " Sana mandi, udah telat kerja loh ini." Menunjukkan jam dinding.


Kenn langsung bangkit dan beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Jenn menyelesaikan dandanannya yang natural, kemudian ia menyiapkan pakaian untuk suaminya.


..._____☘️☘️☘️☘️☘️_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Segini dulu yah gaes 😊


Makasih buat yang selalu setia mampir dimari 🙏


Tetap di sini sampai tamat kisah Kenn dan Jenn yah 🤗


Jangan lupa tinggalkan like dan komen aja deh 😅 gak perlu yang muluk-muluk 🙈 otor hanya butuh di semangatin gaes 🤣🤭


Makasih dan sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Follow Ig author : @ag_sweetie0425