Simple But Perfect

Simple But Perfect
Stasiun Kereta Api



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Keduanya lantas bangkit dan menghampiri Jenn. Maminya Alvino langsung memeluk tubuh mungil Jenn. Wanita cantik itu hanya terdiam menerima perlakuan ibu dari lelaki yang pernah sangat ia cintai.


"Apa yang membawamu kemari, Sayang?" Raut bahagia tak terelakkan di wajah cantiknya yang mulai keriput. "Ayo, duduk dulu!" Hendak menarik tangan Jenn.


"Em, maaf Tante, Om. Jenn gak bisa lama-lama di sini." Menahan tangan maminya Alvino. "Ada hal penting yang ingin Jenn sampaikan. Tapi, sebelumnya Jenn minta maaf jika hal ini kedengarannya terlalu mendadak dan mengejutkan." Wanita cantik itu tertunduk. Jujur saja, sebagai wanita, ia pun malu mengungkapkan hal itu. Namun, ia tidak punya pilihan selain mengatakannya.


"Ada apa, Nak? Kok mukanya serius banget." Papinya Alvino yang bersuara kali ini. Lelaki tua itu bahkan melepas kacamata yang membingkai wajah tegasnya. "Apa ini ada hubungannya dengan Vino lagi?" tebaknya.


Jenn dan Reza sama-sama mengangguk ketika dua pasang mata tua itu bergantian memandangi mereka.


"Apa yang abangmu lakukan?" Papinya bertanya pada Reza.


Reza malah menoleh pada Jenn, memberikan kode agar wanita itu saja yang mengatakannya.


"Jawab, Reza!" Maminya mulai cemas.


"Anak Tante menghamili seorang gadis." Jenn yang menjawab. Perkataan itu meluncur dengan cepat dari mulutnya.


Wajah kedua orang tua itu tiba-tiba pias. Tubuh maminya bahkan bergetar. Ia mundur beberapa langkah dan terhuyung ke atas sofa.


"Tante," Jenn dan Reza langsung mendekat dan menenangkannya. "Tante yang tenang dulu." Jenn meremas pelan jemari tangan wanita tua itu.


Sedangkan Reza sigap memanggil pelayan memberikan air putih untuk tantenya.


"Siapa gadis itu? Dan ... kalian tau dari mana?" Papinya bertanya dengan nada pelan, seolah kaget dan tidak percaya.


Senakal-nakalnya Alvino, yang mereka tahu, ia belum pernah menghamili anak gadis orang. Yang mereka tahu, putra semata wayangnya itu kerap melakukan hal itu bersama wanita-wanita malam. Sudah pasti hal itu memerlukan pengaman, bukan? Dan mereka tahu akan hal itu. Ini bukan yang pertama kalinya, kejadian ini pernah terjadi berbulan-bulan lalu. Namun, itu hanyalah sebuah konspirasi seorang wanita licik yang menginginkan Alvino dan segala kemewahannya.


Lagi pula, sebulan lalu putranya itu tengah menghabiskan waktunya dengan petualangan baru, tanpa ada kaitannya dengan alkohol dan wanita. Kenapa tiba-tiba menghamili seorang gadis?


"Jelas Jenn tau, Om. Karena gadis itu ... sahabat baik Jenn," ungkapnya.


Mendengar kata sahabat yang keluar dari mulut Jenn, wanita paruh baya yang sempat shock itu pun seketika menatap Jenn serius.


"Alvino sudah tau tentang ini?" tanyanya datar dengan tatapan yang sulit diselami.


"Belum, Tan. Ini Jenn baru ...."


"Bawa tante menemui gadis itu sekarang!" perintah wanita tua itu.


Jenn dan Reza terdiam terkunci bingung. Mereka tidak memahami apa yang tersirat dari kata serta mata wanita berusia senja itu. Yang mereka khawatirkan, ia tidak menerima kehadiran Rossa dan malah ingin menjauhkan gadis itu seperti Jenn dulu.


"Antarkan saya sekarang!" pekiknya lagi, membuat Jenn dan Reza terperanjat. "Saya mau menemui calon mantu saya." Lagi Jenn dan Reza terperanjat, tapi kali ini dengan rasa bahagia mendengar hal itu. Ini di luar dugaan mereka. Ini lebih dari yang mereka harapkan. "Ayo, Jenn! Tunggu apalagi?"


"Eh, ma-masalahnya dia ... dia kabur dari rumah sakit, Tan." Jenn berucap pelan dan terbata.


"Apa???" Wanita tua itu langsung bangkit berdiri. Ia mendadak panik dan khawatir. "Kenapa gak ngomong dari tadi?" Kecemasan tergambar jelas di wajahnya.


"Tenang, mi. Kita akan mencarinya."


Reza lalu menceritakan kronologi kejadian, sementara Jenn membuka sedikit tabir kehidupan sahabatnya. Dimana, gadis itu tak lagi memiliki kedua orangtua. Ia telah ditinggal pergi ayah dan ibunya sedari kecil. Ia pun hanya hidup bersama kakek dan neneknya di sebuah desa terpencil. Dan saat melanjutkan kuliahnya, di kota inilah ia bertemu Jenn dan Putri. Karena keadaan itu, gadis manis itu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tak banyak bicara. Ia tak suka keramaian dan lebih senang menyendiri. Pada usianya yang masih kecil, ia dipaksa dewasa oleh kerasnya hidup. Dari situlah tersemat sikap kedewasaan dan keibuan dalam dirinya.


Mendengar cerita itu, tanpa sadar air mata maminya Alvino menetes. Dalam suasana sedih yang ia ciptakan, tiba-tiba buyar dengan teriakannya sendiri.


"Stasiun kereta api!" pekik Jenn. Ide itu tiba-tiba muncul di kepalanya saat menceritakan tentang sahabatnya.


Semua mata tertuju padanya. "Lo yakin, Jenn?" tanya Reza, dan Jenn mengangguk mantap.


Detik itu juga, papinya Alvino langsung menghubungi beberapa orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan gadis itu di sana. Bermodal foto, nama, dan identitas yang diperoleh dari Jenn, orang-orang itu bergerak cepat. Mudah bagi keluarga Dharmawan melakukan hal itu. Mereka punya uang dan kedudukan yang mempermudah segalanya. Hal itu membuat Jenn bisa bernafas lega.


Tidak ingin diam dan menunggu di tempat, maminya Alvino memaksa untuk ikut menjemput calon menantunya itu di stasiun kereta api. Akhirnya, dua orang tua itu ikut bersama Jenn dan Reza menyusul ke sana.


Kurang lebih 20 menit dalam perjalanan, maminya Alvino dan Jenn tidak bisa tenang barang sedetik pun. Belum juga sampai, bunyi dering ponsel papinya Alvino seolah menyerukan secercah harapan bagi dua wanita berbeda generasi itu.


πŸ“² "Syukurlah. Tolong jaga dia sampai kami tiba. Awas kalau sampai kabur lagi."


Percakapan singkat itu sudah cukup membawa ketenangan bagi maminya Alvino. Begitupun Jenn. ia tak sabar lagi untuk segera bertemu dan memarahi sahabatnya.


Tidak begitu lama, mereka akhirnya tiba di sana. Jenn segera berlari menuju ruang tunggu. Di tengah padatnya manusia saat itu, Jenn tampak celingukan mencari sosok yang sering dipanggilnya mami.


Beberapa kali ia berputar di tempatnya, hingga mata indah itu menemukan keberadaan seorang gadis yang tengah dijaga ketat oleh beberapa pria bertubuh kekar. Gadis itu tampak bingung dan ketakutan.


"Sa! Rossa!" panggil Jenn sedikit keras, mengundang perhatian orang-orang disekitarnya. Tidak peduli, ia kembali berlari menerobos sekelompok manusia dengan tumpukan barang-barang bawaan. "Sa, Rossa!" Lagi Jenn memanggil.


Mendengar namanya dipanggil, Rossa menoleh dan melihat Jenn di sana. Ia kaget dan hendak melarikan diri, tapi dicegah oleh mereka yang ditugaskan menjaganya.


"Hei, jangan kasarin dia," tegur Jenn begitu melihat Rossa yang ditarik paksa. "Lepasin!" Tak segan-segan si cantik itu langsung memukul sepasang tangan kekar yang menahan sahabatnya.


Bersamaan dengan itu, Reza dan orangtua Alvino pun tiba. Rasa penasaran yang hendak ditanyakan Rossa pada Jenn, mendadak hilang diganti kekejutan dan ketakutan berkali-kali lipat dari sebelumnya.


Mereka??? Ya, Tuhan, aku harus gimana ini?


Rosa mendadak panik. Melihat orang tua Alvino, seketika tubuhnya lemas tak berdaya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Telapak tangannya lembab serta pucat seolah tak dialiri darah.


"Bawa dia ke mobil!" titah papinya Alvino. Dua orang pria dengan sigap menarik Rossa.


"E eh, jangan main seret-seret mantu saya, dong." Dan ucapan itu berhasil membuat Rossa mematung tak lagi berontak. Ia terpaku di tempatnya, sembari memberanikan diri menatap maminya Alvino penuh tanya.


Maksudnya apa? Ah, sepertinya telingaku bermasalah.


Batin Rossa meyakinkan diri. Ia lalu menunduk menyudahi tatapannya. Bersamaan dengan itu, sebuah tangan halus menyentuhnya lembut, menggoyahkan kembali yakinnya.


"Tidak usah takut. Ayo, kita pulang!"


..._____πŸƒπŸŒΉπŸƒπŸŒΉπŸƒ_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


Hola, epribadeeeh πŸ‘‹ jumpa lagi pagi-pagi benerrr 😁


Makasih buat yang selalu mampir πŸ™


Jangan lupa like dan komen yah πŸ™πŸ˜Š


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425