
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Rasanya sudah sejam setelah perawat-perawat itu keluar dari ruangan Jenn, Farel yakin bahwa Kenn pasti sudah selesai membersihkan tubuh istrinya.
Ia pun berinisiatif untuk masuk. Diketuknya pintu itu berulang kali tapi tak ada juga sahutan dari dalam sana.
"Gak masuk aja, Rel?" tanya mamanya yang sementara menguap beberapa kali.
"Kali aja masih ganti bajunya Jenn, ma. Gak ah," ucapnya dan langsung berbalik duduk di samping Reza.
Mamanya kini yang bangkit dan langsung membuka pintu menengok ke dalam. Ia kembali lagi menoleh ke belakang.
"Sudah tidur ternyata," ucap wanita itu dengan sangat pelan. Ia pun memanggil teman-temannya Jenn untuk masuk. Karena sedari tadi mereka ingin melihat kondisi Jenn.
Keempat gadis itu lalu masuk melihat dan menyaksikan pemandangan indah. Dimana Kenn yang terlelap sembari memeluk erat tubuh istrinya.
"Cepat sembuh, beb." Lirih Rossa dengan sendu. "Semoga setelah ini, Lo diberikan kebahagiaan yang melimpah." Tersenyum teduh.
Gadis-gadis itupun sudah sangat mengantuk dan memilih tidur berdesakan pada sofa yang ada di dalam ruang rawat Jenn. Ibunya Farel bergabung bersama mereka, meninggalkan tiga lelaki di luar sana.
Saat semuanya tertidur, Fanya yang entah dari mana datangnya mengintip suasana di dalam kamar rawat inap tersebut.
Sedari tadi ia tidak berani untuk melihat Jenn. Gadis itu merasa bersalah atas apa yang diperbuat temannya.
Lekas sembuh, Kak. Maafin Fanya. Dia pasti akan mendapat balasannya.
Gadis itu lalu segera keluar dari sana.
*****
Kabut masih dengan semangat membentangkan hawa dinginnya meski surya perlahan sudah mengintip di ufuk timur. Perlahan ia muncul dengan tersipu malu, menyemburkan garis-garis kemilau yang mulai merebak.
Gelap di ujung cakrawala mulai berlarian, menyeret selimut kabut yang tidak mau mengalah. Ini waktunya mentari berperan dan gulita sadar tuk menepi.
Di dalam sebuah ruang rawat inap VIP, terdengar sebuah suara serak nan ayu tengah meringis kecil menahan sakit. Tampak sesosok tubuh kecil yang sedari malam tak sadarkan diri mulai terbangun.
Berangsur-angsur ia menyesuaikan pandangannya dengan pencahayaan dalam ruangan tersebut.
"Hm, di mana ini?" Bingung akan suasana baru yang ia jumpai.
Ia merasakan seperti ada yang menindih dan menghimpit bagian perutnya. Tangannya yang masih terasa lemah bergerak begitu pelan untuk meraba apa yang sedang melilit tubuhnya.
Namun, belum sempat melakukan itu, penciumannya sudah lebih dulu peka dan ia langsung bisa menebak apa yang terjadi. Ditengoknya ke samping dan ia bisa melihat dengan jelas wajah teduh lelaki kesayangannya.
Segaris senyum kecil terlukis di bibirnya, menghiasi wajah cantik nan pucat itu. Untuk sesaat, ia merasa lega. Tapi kemudian ingatannya menayangkan kembali kejadian beberapa jam lalu saat ia dalam perjalanan bersama seorang dokter hingga sampai di instalasi gawat darurat. Sekita jantungnya bertalu, senyum di wajahnya hilang berubah cemas.
Tangan yang tadi hendak terangkat untuk membalas pelukan suaminya, urung. Tangan itu beralih meraba perutnya sendiri.
"Are you okay, dear?" lirihnya begitu lembut sambil mengelus perutnya yang juga bertengger lengan sang suami di sana.
Mungkin terlalu lama tertidur, wanita itu hendak bangun dan ingin duduk. Baru saja ingin mengangkat kepalanya, rasa berat dan pening mendorongnya untuk tetap di posisinya.
"Akh," rintihan kecil dari mulutnya begitu ia merasakan keram di bagian perutnya.
Merasa ada pergerakan di sampingnya, Kenn pun terbangun. Dan hal pertama yang dia lihat adalah raut cantik istrinya.
"Sayang, sudah bangun?" Kenn langsung bangun dan melompat duduk pada kursi di samping ranjang pasien.
Digenggamnya sebelah tangan Jenn yang bebas infus. Dikecupnya berulang kali. Sejujurnya perasaan Kenn mulai tak enak. Jantungnya mulai berdebar tak menentu. Ia mulai takut jika Jenn mempertanyakan hal yang bahkan sudah lebih dulu mengguncang dunianya.
"Mau apa, Sayang?" Mencoba mengalihkan pikiran istrinya
"Mau duduk tapi gak bisa. Sakit banget," ucap Jenn begitu pelan.
Untuk sesaat Kenn melepas tangan istrinya. Ia kemudian mengambil remote otomatis brangkar lalu menaikkan posisi ranjang.
"Segini cukup?" Jenn mengangguk lemah. "Mau apalagi, Sayang?" Mencoba tenang di tengah kacau hatinya.
"Minum."
Kenn meletakkan kembali remote yang ada di tangannya. Ia lalu mengambil segelas air putih hangat pada dispenser yang tersedia di dalam ruangan tersebut. Tidak lupa sedotan bersih ia masukan ke dalam gelas.
Dengan telaten ia memberikan minum pada Jenn. Setelah itu, ia meletakkan gelasnya di atas nakas samping ranjang begitu saja.
Kembali duduk, dengan tangan yang menggenggam lagi tangan sang istri.
"Wajah kamu kok memar, Sayang. Berantem sama siapa?" tanya Jenn cemas. Sebelah tangannya yang diinfus, ia gunakan dengan pelan mengelus wajah tampan suaminya.
Kenn tidak menjawab. Ia tidak mempedulikan dirinya. Yang ia pedulikan hanyalah Jenn.
"Jangan pernah pergi dan menghilang lagi dari hidupku. Kamu tahu sekacau apa diriku tanpamu." Menatap Jenn begitu dalam. "Aku hampir gila, Jenn." Menunduk lalu mencium tangan istrinya sebentar, sesudah itu kembali menatap Jenn penuh cinta. "Aku gak akan pernah sanggup tanpa kamu. Jika ingin menghilang lagi, bunuh saja aku. Pastikan jantungku sudah berhenti berdetak dengan sempurna, setelah itu menghilanglah." Netra pekatnya menancapkan panah di hati Jenn. Wanita cantik itu mulai berkaca-kaca. Ia tahu betul segila apa Kenn tanpanya. "Tapi selagi aku masih di bumi, tetaplah ada dalam pandangan dan jangkauanku."
Luruh sudah air mata haru dari pelupuk Jenn. Ia ingin meraih wajah Kenn, tapi keram di bagian perutnya semakin sakit dan menghalangi gerakannya.
"Akh,"
"Kenapa Sayang? Mana yang sakit?" Kenn yang panik langsung berdiri.
Jenn menggeleng lemah sambil menggigit bibirnya kuat. Ia mencoba meredam rasa sakitnya. Ia pun mulai teringat bayi dalam kandungannya.
"Apa dia baik-baik saja?"
Deg!
Deg!
Deg!
Pertanyaan yang ingin sekali dihindarinya, tapi ia sadar bahwa sekeras apapun ia berdalih, tetap saja Jenn harus tahu.
Rasanya Kenn ingin membekukan dirinya di kutub utara. Tertimbun di antara puing-puing kristal yang dinginnya bisa langsung menguburnya hidup-hidup, begitu sorot mata Jenn seolah mengintimidasinya.
Tangannya yang masih menggenggam tangan Jenn, mendadak tremor. Apalagi saat Jenn bergerak mengelus perutnya, secara otomatis tangan Kenn pun terseret. Dan hal itu sungguh menyiksanya berkali-kali lipat.
"Kenapa, Sayang? Kok mukanya gitu?" Menemukan kejanggalan di wajah suaminya. "Aku nanya loh, Sayang, jawab dong," mulai memaksa.
"Aku gak kenapa-kenapa," ucapnya dengan nafas yang tercekat.
"Anak kita juga kan? Apa kata dokter?"
Kenn yang sudah tidak lagi dapat menahan, melemparkan pandangan penuh lukanya ke arah lain. Dan hal itu justru memicu kepekaan serta keingintahuan Jenn.
"Ada apa? Kenapa nangis Sayang? Jawab!" ucap Jenn sedikit memekik. Perasaannya mulai tak enak begitu melihat raut kesedihan di wajah Kenn. Takut, Jenn mulai takut. Ia merasakan hal buruk yang seolah telah merenggut sesuatu dalam hidupnya. Jenn menggoyangkan tangan suaminya dengan kuat.
"Jawab Kenn!!!"
..._____ππΎππΎπ_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...###...
Hola epribadeeeh π ketemu lagi π€
Ada yang masih setia di kapal ini? Terima kasih dan mari kita lanjut berlayar yah genkz π
Jangan lupa like dan komen π Biar otor semangat dan tidak membuat karam kapal ini π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425