Simple But Perfect

Simple But Perfect
Welcome Home



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Yang menjadi pertanyaanku, kenapa mereka bilangnya Al gak mau ngasih tau? Emangnya dia tahu?


Belum juga mendapatkan menjawab pertanyaan dari mertuanya, Jenn sudah punya pertanyaan sendiri dalam benaknya.


"Ibu nanya loh, Kak. Kay juga kepo," seru Kay menyadarkan kedua kakaknya.


"Eh em, itu ... mereka ...." Kenn tersadar tapi tidak ingin menjawab. Ia menunggu istrinya yang menjelaskan. Namun, ketika ia melirik ke samping, wanita cantik itu rupanya sedang melamun dengan pandangan ke arah luar jendela.


"Yang, Sayang." Kenn mencubit pelan pipi istrinya.


"Hmm? Ya, ada apa?" Tersadar tapi kebingungan.


"Ngelamunin apa sih?" Dahi Kenn berkerut. "Jawab tuh pertanyaan ibu." Lanjutnya lagi.


"Pertanyaan apa? Yang mana?" Balik bertanya.


Kenn menepuk jidatnya. "Astaga, bener-bener lagi mikirin apa sih, Sayang? Ibu nanya soal om dan tantenya Reza tadi," ucap Kenn dengan gemas.


"Oh, itu ... ya, mereka om dan tantenya Reza." Singkat saja.


"Cuman om dan tantenya kok perhatian banget. Keliatan khawatir dan sayang banget lagi sama kak Jenn," sela Kay yang merasa tidak puas dengan jawaban kakak iparnya.


"Sudah, jangan diteruskan," potong sang ibu.


Ia tidak tahu yang sebenarnya, tapi ia memahami jika menantunya memiliki hal privasi yang tidak seharusnya diusik. Begitu juga dengan rumah tangga mereka. Wanita tua itu memilih tidak banyak bertanya dan mencampuri hal pribadi anak serta menantunya.


Ia tahu bahwa kerap campur tangan orang tua dalam hal-hal interen rumah tangga anak-anak, kadang dapat berpotensi merusak kebahagian mereka. Bahkan tidak sedikit yang berujung kehancuran dan perpisahan.


Tidak. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Kebahagiaan anak-anaknya adalah yang terpenting. Melihat besarnya cinta dari keduanya, membawa kebahagiaan tersendiri baginya. Itupun yang dirasakan Kay.


"Yang, kenapa ibu dan ayah gak jengukin aku dari kemarin yah? Udah gitu gak jemput lagi, apa mereka udah pulang? Kok gak ngasih tau aku dulu," tanya dengan nada sedikit kesal memecahkan keheningan di dalam mobil.


"Gak tau, Sayang. Mungkin sibuk, gak mungkinlah mereka lupain tuan putri mereka ini." Kenn terkekeh. Ibu dan Kay pun hanya senyum-senyum.


"Fio dan yang lain juga. Kak Farel ngomong dong, dari tadi diam aja. Fio mana? Mereka kok sekarang jahat banget yah sama gue." Cemberut.


"Dia juga lagi sibuk katanya. Gak tau sibuk apa, padahal di rumah tiduran mulu tuh." Farel menahan untuk tidak tertawa melihat wajah kesal Jenn dari spion.


"Tuh kan, menyebalkan sekali." Membuang wajahnya ke luar jendela sekali lagi.


"Gak usah cemberut, kan masih ada aku, ibu, dan Kay." Memeluk tubuh Jenn dan merebahkan kepalanya bersandar pada dadanya.


Ini orang berdua gak pernah liat tempat yah. Bisa-bisanya di dalam mobil masih sempet ngebucin. Ckckck ...


Kay menggelengkan kepalanya.


Setelah menempuh perjalan selama 25 menit, mobil yang dikendarai Farel tiba di kediaman Kenn dan Jenn. Kenn turun dan membuka pagarnya.


Sepi gak ada orang ternyata.


Dari dalam mobil Jenn melihat kondisi rumahnya yang tampak sepi. Semua tirai pun tertutup rapat. Sedikit kekecewaan menyentil hatinya.


"Ayo, Sayang!" Kenn mengajaknya untuk segera turun. "Pusing?" tanya Kenn.


"Sedikit, Yang." Mungkin lama perjalanan membuatnya sedikit merasa pening. Ditambah suasana hati yang agak mellow.


Kenn hendak membawanya tapi ia menepis tangan besar itu. "Aku bisa jalan, Yang."


Pelan-pelan Kenn menuntun istrinya menaiki undakan disusul ibu, Kay dan juga Farel. Tiba di depan pintu rumahnya, Jenn menunggu sang suami membukakan pintu.


Beberapa detik berlalu, tapi tak ada pergerakan apapun dari Kenn.


"Bukain pintunya, Sayang. Kok diam aja sih, cape nih." Mulai tidak sabar.


"Lupa Sayang. Kuncinya ketinggalan," sahut Kenn membuat Jenn refleks menepuk jidatnya.


"Langit bumi bersaksi, misteri hilang kunci." Sedikit bernyanyi sambil berkacak pinggang.


"Iiiihhh, ketewa lagi. Kita tuh gak bisa masuk. Kenapa orang-orang hari ini pada nyebelin sih?" Mengomel lagi.


"Tapi ... coba dibuka aja dulu. Kali aja gak dikunci, dan sepertinya emang gak dikunci," terang Kenn seolah memaksa Jenn. Padahal dia sendiri kan bisa melakukannya.


"Yakin? Eh gimana sih ini? Halah, kamu bohong kan, Yang? Nge-prank aku kan? Mana sini kuncinya biar aku yang buka." Menengadahkan tangannya pada Kenn.


"Gak percaya banget sih, Sayaaaaaanggg!" Kenn mencubit gemas hidung bangir istrinya. "Geledah aja kalo mau, iklas banget aku." Malah tertawa dan semakin terbahak ketika Jenn benar-benar menggeledahnya. "Gak ada sayangku, cintaku, ratuku aauuww." Kenn meringis sambil menahan bibirnya.


"Gombal." Ia pun berjalan dan iseng ingin mencoba membuka pintunya, tapi malah benaran terbuka.


Jenn kaget sendiri. "Eh, benar gak di ...."


Dorrr


Dorrr


Dorrr


"Welcome home, kesayangan kami!!!"


Jenn terperanjat sambil memegang dadanya. Namun, sedetik kemudian ia berteriak kegirangan penuh haru melihat semua yang disayanginya ada di sana.


"Aaaaaaaaaaa kaliaannnnn!"


Teman-temannya yang tak lain adalah Rossa, Putri, Fio, Reta dan Yuni, Fanya, kedua orangtuanya, serta orangtua Farel pun turut hadir di sana.


Mereka semua sengaja tidak menjenguknya karena berencana membuat kejutan kecil itu untuk menyambut kepulangannya dari rumah sakit. Ini bukan saja penyambutan, tapi hal itu juga adalah bentuk dukungan semangat dari mereka untuk Jenn dan Kenn.


Satu persatu dari mereka bergantian memeluk Jenn dan memberikan ucapan semangat serta doa-doa baik biar segera diberi momongan lagi. Rona bahagia terpancar jelas di wajahnya.


"Kok gak bilang-bilang sih," ucap Jenn sembari bergelayut manja pada lengan kekar Kenn.


"Lah, gimana sih? Namanya juga kejutan, Sayang. Kalo dikasih tau mah bukan kejutan lagi namanya, tapi ketahuan."


Seisi rumah minimalis itu ramai dipenuhi gelak tawa semua orang di sana.


Tidak hanya sampai di situ, perasaan rindu rumah mengajak langkahnya untuk menyusuri setiap ruangan. Ia berjalan menuju ruang tengah sembari menghirup aroma khas pengharum ruangan. Namun, justru aroma lain yang tersita indra penciumannya. Dan betapa kagetnya, di sana tampak banyak hidangan lezat yang tersedia.


"Woaaah, banyak banget." Jenn takjub. "Buat apa makanan sebanyak ini? Siapa yang masak sih?" Berbalik dan bertanya pada mereka semua.


"Yah buat dimakan lah, Beb. Masa cuman buat diliatin." ucap Putri sembari terkekeh. "Ini semua tentu saja kita yang masak." Sambungnya lagi.


"Ooohhh, jadi ini yang bikin gak jengukin gue nih?" Teman-temannya mengangguk. "Kalo gitu aku mau makan sekarang deh, jadi laper liat yang beginian."


Mereka lalu makan bersama diselingi canda tawa dari teman-teman Jenn.


Rumah minimalis keluarga kecil itu tampak dipenuhi kebahagiaan.


..._____πŸŒΏπŸ’¦πŸŒΏπŸ’¦πŸŒΏ_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


Hay, semuanya πŸ‘‹ Hari ini untuk yang kedua nih yah 😁 Setelah pagi tadi sudah up satu bab 😁 hehehe


Udah rajin kan aku πŸ˜†πŸ˜† Yah, semoga gak malasΒ² lagi πŸ˜‡


Makasih banyak buat yang selalu setia di kapal ini πŸ™


Jangan lupa kasih like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425