Simple But Perfect

Simple But Perfect
Ketakutan yang Sama



...Hai Budies πŸ–οΈ...


...Sedih hatiku 😌 melihat kesunyian cerita ini πŸ˜”...


...Please! Tinggalkan jejak manisnya, biar semangat otornya. Gak mulukΒ² kok, cuman like dan komen aja. Oh iya, kebetulan ini Senin, boleh dong bagi vote-nya 🀭 Makasih sebelumnya πŸ€—...


...Selamat mengawali usbu yang baru 😊...


...~ Happy Reading ~...


...___________________...


"Are you okay, bebs?" tanya Rossa khawatir.


Jenn mengangguk lemah. Kedua sahabatnya membantu memapah dan menuntunnya kembali duduk di tempatnya tadi. Dengan cekatan, Rossa membuat teh jahe untuk Jenn, sedangkan Putri berlari kecil ke kamar dan mengambilkan minyak angin. Jenn sendiri tengah duduk dengan posisi merebahkan kepalanya di atas meja makan.


"Lo sih, dibilangin suka ngeyel. Udah tau gak bisa makan pedas, masih mau coba juga," gerutu Putri yang sudah kembali dengan minyak angin di tangannya.


"Mungkin telat makan juga, jadi masuk angin itu," kata Rossa. Jenn hanya mengangguk.


Gadis itu pun membalurkan minyak itu di punggung dan tengkuk Jenn, ia pun hendak melakukan hal sama pada bagian perut sahabatnya, tetapi Jenn dengan cepat menahan tangannya.


"Udah sini, gue masih bisa sendiri kok," ucap Jenn dan langsung merebut minyak angin itu dari tangan Putri.


"Serah." Putri pun berbalik dan duduk di sebelah Jenn.


Sesudah itu, Rossa menyajikan teh jahe hangat untuk si cantik itu. "Cepat di habisin! Jangan ada sisah yah," seru Rossa dan ikutan duduk di kursi yang lain.


Jenn pun langsung menyeruput teh itu dengan penuh nikmat. Sensasi rasa hangat yang masuk ke perutnya, membuatnya merasa lebih nyaman.


Acara makan malam bersama pasca berpisah sebulan lebih, mendadak kacau diwarnai dengan Jenn yang muntah-muntah. Ketiganya tak lagi melanjutkan makannya karena Putri dan Rossa pun ikutan tak berselera lagi. Mereka lalu memutuskan untuk melanjutkan obrolan mereka di ruang tengah, sambil menonton.


Di sana, mereka bertukar cerita tentang pengalaman-pengalaman dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan selama di lokasi KKN masing-masing. Banyak keseruan dan hal-hal baru yang mereka dapatkan, bahkan tak jarang mereka menemukan orang-orang baru yang memberikan kesan tersendiri bagi mereka.


Seperti Jenn, saat itu pula ia teringat akan seorang wanita paruh baya yang baik hati, dengan tulus sudah menerimanya dan Fio selama sebulan lebih di tempat asing. Wanita yang sudah sangat membantu dirinya dan juga Fio, merawat bahkan merahasiakan keadaan mereka waktu itu.


"Kenapa Lo? Mulai, mulai aneh lagi nih orang," kata Putri yang menangkap raut berbeda di wajah Jenn.


"Gak kenapa-napa. Cuman kangen aja sama ibu tuan rumah yang gue sama Fio tinggal," ucap Jenn dengan sendu.


"Oh, iya sih. Gue juga kangen dengan orang-orang di sana, mereka baik dan sangat ramah." Rossa ikut bernostalgia, tetapi kemudian ia teringat sesuatu. "Eh iya, si Fio apa kabar? Tadi sempat liat sih, cuman gak jelas, gelap," sambungnya lagi.


"Dia baik. Hubungannya dengan kak Farel dan keluarganya juga udah baik. Udah gak ada masalah apa-apa, aman dia," jelas Jenn.


"Iyah kah? Baguslah, biar bisa cepat-cepat nikah, jangan sampai ketahuan dua orang itu, n'tar di-bully lagi." Rossa masih mengingat dua ex sahabat mereka.


Perkataan Rossa, sukses membuat tubuh Jenn menegang dengan perasaan takut dan cemas yang kembali menyentil dirinya.


Kamu dimana sih, kak? Aku harus bagaimana menghadapi ini?


Tiba-tiba saja ia teringat sang kekasih yang sampai saat ini belum ada kabar. Jenn mencoba mengontrol emosi dalam dirinya agar tetap stabil. Ia berusaha tenang di tengah suasana hatinya yang kacau balau. Ia mencoba menepiskan pikiran-pikiran negatif yang hampir membiusnya. Ada hal yang harus ia jaga, ada kehidupan lain yang harus ia lindungi.


Gak. Dia gak mungkin ninggalin aku, dia gak mungkin ninggalin kami. Dia pasti kembali.


"Bebs, Lo kenapa?" tanya Putri.


"Eh, gue ... Iya gue ngantuk. Tidur yuk!" Jenn mengajak dua sahabatnya untuk beristirahat. Ya, saat ini dia butuh istirahat.


"Ayo! Gue juga lelah banget ini."


Rossa lebih dulu beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar, disusul Jenn dan Putri. Wanita cantik bertubuh mungil itu berjalan dengan gontai menuju tempat tidur. Baru saja ia merebahkan tubuhnya dan hendak terpejam, tetapi pertanyaan Rossa membuatnya kembali membuka mata.


"Tadi Lo belom jawab pertanyaan gue loh, Jenn. Kak Kenn kemana sih? Kenapa gak nganterin Lo? Kek dari tadi juga Lo gak cerita apa-apa tentang dia, kalian berantem yah?" cecar Rossa.


Jenn langsung menarik selimut menutupi wajahnya yang hampir menangis mendengar itu.


"Yang benar aja, kapan Lo liat mereka berantem sih?" Putri menampik dugaan Rossa.


Memang benar, best couple itu terlihat selalu mesra tidak pernah bertengkar. Kenn yang dewasa, selalu sabar dan mengalah untuk meminimalkan pertengkaran diantara mereka.


"Lah terus apa dong? Kan biasanya juga lengket terus kek perangko," ujar Rossa.


"Dia gak ada kabar, dia ... Dia ngilang seminggu ini. Dia ... Hiks," balas Jenn yang belum mau membuka selimut yang menutupi wajahnya. Ia tidak mampu untuk melanjutkan kata-katanya lagi.


"What?" pekik Rossa dan Putri bersamaan.


"Are you kidding, Jenn?" lanjut Putri pelan tapi penuh penekanan.


Jelas saja keduanya tidak percaya. Pertanyaan dan reaksi dari dua sahabatnya membuat Jenn semakin tidak bisa menahan tangisnya. Memori akan hari-hari yang telah ia dan sang kekasih lalui, kembali terlintas di ingatannya membuat rindu di hatinya kian menggebu.


"Hei, Lo gak nge-prank balik kan ini?" sekali lagi Rossa ingin memastikan.


Jenn menggeleng dari balik selimut. Dapat Rossa dan Putri melihat dengan jelas, ada guncangan kecil dari tubuh mungil yang berbalut selimut itu. Ya, meski ia tanpa suara yang terdengar, tapi mereka tau bahwa sahabatnya itu pasti sedang menangis.


Rossa lalu membuka selimut yang menutupi wajah cantik sahabatnya dengan paksa. Benar saja, wanita itu sedang menangis dalam diam. Wajah cantiknya dibasahi deraian kesedihan. Rossa pun mencoba menarik tangan Jenn agar bangun dari tidurnya. Dengan terpaksa ia pun menurut dan terduduk, kedua sahabatnya langsung memeluk tubuh mungilnya. Jenn semakin sesenggukan dengan isak yang terdengar kali ini.


Perasaan takut akan kejadian seperti waktu Alvino meninggalkannya tanpa kabar, terngiang kembali. Dan ini yang membuat Jenn begitu merasa takut. Ia takut hal itu terulang lagi dalam kisahnya bersama Kenn. Parahnya, rasa takut yang sekarang malah kadarnya dua kali lipat dari rasa takut yang sebelumnya.


"Ceritanya gimana sih, sampai kak Kenn bisa ngilang?" tanya Rossa selembut mungkin.


Jenn pun menceritakan pada dua sahabatnya, apa yang terjadi. Tapi hanya tentang Kenn yang tiba-tiba menghilang seminggu ini, bukan tentang kondisi dirinya yang berbadan dua. Ia masih ingin merahasiakan hal itu.


"Kok, gue gak percaya yah, kak Kenn bisa tega ninggalin Lo," ucap Putri yang seolah tidak mau mempercayai fakta ini.


"Mungkin dia sibuk atau apa gitu," Rossa mencoba memberikan pemikiran yang positif.


"Paling gak kan kasih kabar, biar gue ... Gue gak takut kek gini," ucap Jenn disela-sela tangisnya.


"Menangislah, bebs. Lo gak sendiri, ada kita kok buat nemenin Lo. Jangan ngunci dari lagi kek waktu itu." Rossa masih mengingat hal bodoh yang dilakukan sahabatnya kala itu.


Apakah kak Kenn setega itu? Apakah dia juga se-brengsek Alvino?


Entahlah. Tapi kalau itu benar, gue gak segan-segan untuk memberinya pelajaran.


Batin Putri dan Rossa.


Malam itu pun berlalu dengan tiga sahabat yang tidur saling berpelukan. Saling melepas rindu, juga saling berbagi tangis. Seperti itulah arti sahabat sejati.


...__________...


..."A real friend is one who walks in...


...when the rest of the world walks out"...


...~Walter Winchell~...


..._____🌷🌷🌷🌷🌷_____...


...To be continued ......


...__________________...


Hay semuanya πŸ‘‹ segini dulu yah πŸ€— n'tar malam klo gak ada tugas, otor lanjut lagi 😊


Mohon dukungannya terus yah πŸ™ Jangan lupa like dan komen.


Dan sampai jumpa di episode berikutnya 😘


follow Ig : @ag_sweetie0424