Simple But Perfect

Simple But Perfect
I Want You



"Peneror? Jadi itu alasannya? Alasan Kamu khawatir seperti siang tadi? Kenapa gak bilang aja sih? Kenapa Aku selalu gak boleh tau apa-apa?" Tiba-tiba saja Jenn datang dan mendengar yang dikatakan kekasihnya.


Jenn masih berdiri dihadapan dua lelaki yang sedang duduk mematung menatapnya. Ia sedang menunggu jawaban sang kekasih. Dirinya tak sadar bahwa kehadirannya disana membuat dua lelaki muda itu panas dingin. Jenn mengernyit melihat keduanya yang sedang melongo. Ia hendak melangkah maju menuju kekasihnya. Namun baru selangkah saja, Kenn sudah lebih dulu berdiri tepat dihadapannya. Bahkan memeluknya, menyembunyikan tubuh kecilnya dari jangkauan mata Farel.


"Masuk!" Suaranya sedikit tercekat, karena jantungnya yang tidak bisa tenang dengan situasi saat ini. Bahkan ia tak sanggup untuk menatap kekasihnya itu. Takut. Ya, Kenn takut jika hasratnya melemahkannya.


Bagaimana tidak, Jenn yang menggunakan kemejanya dengan warna yang sangat cocok dengan kulit putihnya, terlihat sangat menggoda dimata para adam. Kemeja berukuran besar yang membaluti tubuhnya hanya sampai di atas lutut, dan bagian bawahnya sampai ke kaki terekspose begitu saja. Dengan rambut yang masih basah dan terurai sedikit acak, menambah kesan seksi pada gadis cantik itu.


"Ak ... " Belum menyelesaikan perkataannya, Kenn sudah mendorong tubuhnya dan menuntunnya kembali masuk ke kamar.


Sedangkan Farel yang masih duduk disana, menggelengkan kepalanya kuat. Mengusir pikiran-pikiran kotor yang mulai mencemari kewarasannya. "Gue gak percaya kalo Kenn bisa nahan." Bermonolog.


Begitu sampai didepan pintu kamar, Kenn menyuruh Jenn untuk masuk dan berdiam disana. Ia ingin tetap bersama Farel diruang tamu. Namun Jenn yang keras kepala ingin ikut bersamanya, membuat Kenn marah dan menarik tangannya masuk kedalam. Dibantingnya lagi pintu itu dengan keras.


"Kamu tahu? Kehadiranmu menggangguku. Aku tak bisa beristirahat. Padahal Kamu bisa lihat kan, kondisiku sekarang?" Berucap sambil membelakangi kekasihnya dengan posisinya yang mengahadap pintu.


Duar!


Bersamaan dengan suara petir diluar, hati Jenn pun mendadak ngilu bak tersambar petir itu langsung. Jantungnya bergemuruh. Tubuhnya hampir limbung tetapi demi ingin mendengar lebih jelas perkataan kekasihnya tadi, Jenn mencoba tetap kuat diatas pijakannya yang mulai merapuh.


"Bilang sekali lagi!" Berucap dengan bibir yang gemetar menahan perih. "Jadi Aku tak ada artinya disini?" Segumpal daging dibalik dadanya serasa disayat.


Kenn yang tak tahan mendengar itu lantas berbalik menghadap sosok kecil yang tengah mendongak menatapnya dengan tatapan luka.


"Bukan itu maksudku. Maksudku ... " Ucapannya terhenti dengan refleks menahan tangan gadisnya ingin melangkah keluar saat itu.


"Lepas!" Ucap Jenn tegas dengan suara sedikit meninggi.


"Mau kemana? Kamu pikir Aku bakal biarin Kamu keluar dengan kondisi seperti ini? dengan tampilan Kamu kayak gini? Gak, Jenn!" Masih menahan tangan kekasihnya.


"Aku mau pulang!" Pekik Jenn yang sudah tak sanggup menahan sesak di dadanya. "Apa peduli Kamu? Kehadiranku disini hanya mengganggumu saja bukan?" Luruh sudah air mata yang sedari tadi ditahannya.


"Hei, Kamu salah paham, Sayang! Bukan itu maksudku" Mencoba merengkuh tubuh mungil yang bergetar karena tangis. Si cantik itu meronta dalam pelukan Kenn. Tanpa ia sadari bahwa lelaki itu sedang menahan sakit karena gerakannya yang mengenai bagian tubuhnya yang sedang dipenuhi luka dan memar.


"Cukup! Sudah jelas. Gak perlu jelasin apa-apa lagi. Tolong lepas. Aku mau pulang!" Berteriak disela-sela tangisnya. "Lepasin Ak ... "


Katanya terhenti ketika Kenn membungkam mulutnya dengan ciuman yang lembut dan dalam. Dengan masih berderai air mata, Jenn memejamkan matanya. Meresapi semua rasa yang tersalur oleh Kenn lewat ciumannya yang begitu lembut. Perlahan Kenn melepaskan tangan kecil yang sedari tadi di genggamnya. Tangannya lalu menarik pinggang sang kekasih agar lebih merapat, mengikis jarak diantara meraka. Meminimalkan dingin yang terasa dikulit mereka. Kenn semakin memperdalam ciumannya. M**m*t, me**u**m, dan menggigit kecil bibir mungil itu. Begitu dirasanya Jenn memberikan akses, ia pun langsung menerobos masuk dan menjelajah setiap sudut ruang dimulut kekasihnya.


Ciuman itu semakin panas. Dan kewarasan Kenn perlahan mulai luntur. Jenn pun semakin terbuai. Tanpa sadar, ia mengangkat kedua tangannya dan melingkar di leher Kenn. Tak jarang ia membalas ciuman sang kekasih. Gerakan dan sentuhannya membuat Kenn semakin jauh dari logikanya. Dan semakin terperosok bersama hasratnya yang kian bergelora. Dengan sebelah tangannya, Kenn mulai menyusuri setiap lekuk tubuh mungil gadisnya.


"Ini yang Aku maksudkan tadi" Berhenti sejenak dan menyatukan kening mereka dengan hidung yang saling bersentuhan. Terpaan nafas hangatnya dengan aroma mint, membuat Jenn hanyut semakin jauh. "Hadirmu mengganggu pikiranku. Mengusik hasratku. Aku ... "


Jenn yang memulainya kembali. Menghentikan Kata yang terucap dari bibir sang kekasih. Dia paham apa yang dimaksud Kenn kali ini. Sentuhan lembut lelaki tampan itu yang sedari tadi dirasakannya, telah memblokir semua akses akal sehatnya. Ini gila. Hal tergila yang pernah dilakukan seorang Jennifer. Dan tentu saja Kenn menyambutnya dengan senang hati. "Jangan salahkan Aku, jika aku tak bisa untuk berhenti lagi" Kenn menjeda sebentar lalu melanjutkan kembali aktitasnya dengan semakin liar. Dengan perlahan ia menuntun Jenn ke pembaringannya. Tanpa melepaskan ciumannya.


Keduanya semakin jauh, sama-sama terseret arus hasrat yang kian besar. Tangan Kenn sedari tadi menggerayangi tubuh kecil yang kini tengah berada dibawah kungkungannya. Ciuaman itu samakin panas dan keduanya kini tengah hilang kendali dan telah dirasuki nafsu. Kenn tak dapat lagi menahan dirinya. "Aku mau kamu, Jenn."


I want you to the bone ...


I want you to ...


Take me home, i'm falling


Love me long, i'm rolling


"Aku mau Kamu, sekarang!" Ucapnya dengan suara serak dan berat setengah berbisik. Berhenti lagi sejenak dari kegiatan panasnya.


Karena gairah yang terus menyulut dan menutupi akal sehatnya, perlahan tapi pasti, Jenn pun lantas mengangguk. "Katakan! Aku ingin itu terucap dari bibirmu." Lagi bisik Kenn ingin meyakinkan dirinya bahwa gadis cantik itu juga benar menginginkannya.


"I am yours"


Mind too for sure, i'm already yours


Walk you down, i'm all in


Hold you tight, you call and


I'll take control, your body and soul


Mind too for sure, i'm already yours


Kenn tersenyum mendengar kalimat singkat itu. Ia bangun dari tubuh kecil yang sedari tadi ditindihnya. Ia lalu melepas kaos yang dipakainya. Seketika wajah cantik Jenn memerah melihat tubuh sempurna milik sang kekasih. Dada bidang yang seringkali menjadi tempat ternyamannya selama ini, kini terpampang jelas didepannya. Kenn kembali menindih tubuhnya. "Aku tidak akan lagi melepaskanmu mu, Jenn." Memberikan kecupan pada dahi, kedua kelopak mata, hidung, dan kembali m**l*m*t b*b*r ranum yang sudah menjadi candunya.


Malam yang kian larut, dengan hujan yang semakin deras, hembusan angin yang terus bertiup kencang, menciptakan suasana yang lebih membuai bagi sepasang kekasih yang tengah melanjutkan kegiatan panas mereka.


_______________πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•______________


.


.


.


.


.


to be continued ...


_________________


Hola epribadeeeh πŸ‘‹


Makasih untuk yang selalu nyempatin waktunya buat mampir di STP πŸ™


Jangan lupa kasih like, komen, rate, dan tambahkan ke favorit juga yah ❀️


Mohon dukung STP terus zeyengΒ²ku πŸ™πŸ™πŸ™


Selamat membaca πŸ€—


πŸ‘‡


Ig : @ag_sweetie0425