
"Bumil? Emang ada bumil di sini?"
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kedua perempuan itu. Dengan refleks tubuh keduanya pun mendadak menegang.
Jenn yang masih berdiri saat itu, langsung membalikan tubuhnya melihat ke arah sumber suara yang datang dari belakangnya. Di sana, Reza berdiri dengan wajah bingung dan juga kaget mendengar percakapan kedua temannya.
"Lo? Kenapa masih di sini sih? Bukannya tadi dah pulang?" Tanya Jenn. Karena ia pikir lelaki itu sudah pulang lebih dulu saat melarikan diri tadi darinya. Tidak disangka ternyata ia kembali lagi.
"Mana mungkin gue pulang duluan ninggalin Lo berdua? Lagian kenapa kalo gue masih di sini? Apa memang benar yang gue dengar tadi?" Reza memberondong Jenn dengan pertanyaan yang langsung tepat sasaran.
"Ah, Lo sa - salah denger kali. Kita gak bilang gitu kok. Jangan ngadi-ngadi Lo, Za!" Ucap Jenn sedikit kelabakan.
Di sana Fio tampak pucat pasi dan tak dapat berkata-kata. Dia diam di tempat tak bergerak bak sebuah arca.
"Enggak. Gue gak salah denger. Orang gue denger jelas banget Lo bilang bumil kok. Jangan-jangan ... ," Reza menggantungkan kalimatnya dan beralih menatap Fio yang masih duduk dengan anteng di sana.
Fio yang tak bisa lagi mengelak, hanya dapat menatap Reza dengan datar. Ia sudah pasrah dengan keadaan. Lelaki itu melangkah maju sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Itu ... Lo kan? Bener kan? Gue gak mungkin salah, yah gue gak salah denger," Reza melanjutkan perkataannya tadi.
Fio maupun Jenn tidak dapat menjawab pertanyaan lelaki itu. Keduanya bungkam mendadak bisu.
"Dengan kalian diem kayak gini, gue bisa menyimpulkan sendiri, bahwa apa yang gue denger itu benar adanya. Dan bener itu Lo kan?" Tanyanya yang di khususkan untuk Fio.
Fio membuang pandangannya ke samping. Ia bertahan dengan posisi itu sedikit lama, setelah itu ia menunduk menghembuskan nafasnya dengan berat lalu kembali mengangkat wajahnya menatap Reza dengan setenang mungkin.
"Kalo ia kenapa? Emang Lo mau apa?" Pertanyaan balik dari Fio membuat Reza membisu karena kaget dan tidak percaya mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan itu.
"Jawab?!" Desak Fio.
"Gue gak mau ngapa-ngapain, gue cuman mau tau yang pasti aja dari Lo berdua. Dan karena gue sudah tau jawabannya, jadi gue gak akan nanya apa-apa lagi. Meski pun masih banyak yang mau gue tanyain, tapi sudah cukup sampai sini aja. Itu urusan kalian. Gak ada hubungannya sama gue." Tutur Reza pada kedua kaum hawa di hadapannya.
"Sekarang kita pulang, dan gue akan jelasin di rumah. Karena Lo udah tau, jadi gue harus minta bantuan Lo dalam hal ini. Ayo pulang!" Ucap Jenn pada Reza, lalu ia menarik tangan Fio dan mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu.
*******
Ketiganya tiba di rumah tempat Jenn dan Fio tinggal. Di sana, setiap mahasiswa KKN ditempatkan di rumah-rumah warga setempat. Setiap rumah menampung satu mahasiswa.
Berbeda dengan Jenn dan Fio. Karena khawatir dengan kondisi temannya, Jenn meminta dari pihak penyelenggara KKN dan dosen pendamping untuk mengizinkan dirinya ditempatkan satu rumah bersama Fio, dengan berbagai dalih yang sudah dipersiapkannya sebelumnya.
Untung saja ia mendapat izin itu dari dosennya dan tentu saja atas persetujuan dari tuan rumah pula.
Ketiganya kini sedang duduk bersantai di balai-balai bambu, di serambi rumah tempat tinggal Jenn bersama Fio. Tak lupa ditemani teh hangat dan cemilan dari tuan rumah di sana.
Jenn lalu menceritakan kondisi Fio pada Reza, dimana mereka harus merahasiakan hal itu, karena salah satu persyaratan dari pihak kampus bagi mahasiswa yang ingin mengikuti KKN, tidak untuk mereka yang sedang hamil di luar nikah. Jika ada yang yang seperti itu, maka sertakan keterangan sudah menikah.
Sementara itu, Fio belum bisa melampirkan keterangan tersebut karena masalah waktu yang ia hadapi saat itu, tidak memberinya ruang untuk menyelesaikan semuanya sebelum KKN berlangsung. Farel pun berniat membawanya ke rumah untuk memberitahukan pada orang tuanya tentang kondisi Fio, namun masalah waktu yang hanya tinggal dua hari waktu itu, membuat keduanya sepakat sampai Fio selesai mengikuti KKN. Di sinilah, Jenn berupaya menutupi dan menyembunyikan semua dengan baik, serta memastikan keadaan Fio senantiasa aman. Sepertinya dia mencoba melunasi budi baik temannya itu, yang sudah mempersatukan dia dengan seseorang yang kini sangat ia cintai.
"Jadi, dia orangnya? Cowok yang sering bersama pacar Lo itu yah?," tanya Reza pada Jenn, dan si cantik itu mengangguk sebagai balasannya.
"Lo bisa bantu gue sama Jenn untuk ngerahasiain hal ini kan?," Fio bertanya pada Reza.
"Oke, kalian bisa percaya sama gue. Dan satu yang gue minta, secepatnya selesaikan masalah ini, katakan padanya untuk bertanggung jawab. Kalian teman-teman gue, dan gue peduli pada kalian semua," ucap Reza dengan tulus. Sungguh, dia lelaki yang baik.
"Kalian semua? Semua siapa aja?," tanya Jenn bingung.
"Ya ... Kalian. Geng berisik kalian, sama dua sahabat Lo itu juga, Jenn," tutur Reza.
Si cantik itu manggut-manggut namun sedetik kemudian ia kembali bertanya. "Kenapa mendadak bisa peduli pada semuanya? Gak ada hubungannya sama gue kan? Atau ada seseorang dari mereka yang Lo suka yah?," tebak Jenn yang membuat Reza tersenyum kikuk. "Hayooo, jawab siapa? Gue kepo nih," kelakar Jenn menggoda Reza.
"Ha-ha-ha. Sejak kapan ini anak suka usil begini sih?" Mengacak rambut Jenn, lalu menghentikan tawanya sejenak. "Gak ada, Jenn. Ya,,, gue dah lama kenal sama kalian jadi, kek rasa peduli itu ada gitu aja. Ya mungkin juga karena Lo," tutur Reza.
"Jangan ngadi-ngadi Lo, Za. Mau dapet bogeman dari kak Kenn? Berani Lo?," celetuk Fio.
"Ha-ha-ha. Gak lah, mana berani gue suka sama pacar orang," sahut Reza. "Maksud gue, mungkin semua berawal dari Jenn. Gue juga berterima kasih karena mereka selalu ada buat Lo selama ini, jadi ... Ya gitu, gue jadi peduli pada semuanya," paparnya lagi.
"Ya, kalo itu gue juga dah tau," ucap Reza tersenyum. "Kalo gitu,,, gue balik sekarang yah. Jagain bumil ini baik-baik yah, Jenn," ucap Reza disertai kekehan kecil.
"Iya. Thanks yah, Za!"
Dan lelaki baik itu pun bergegas meninggalkan tempat tinggal kedua temannya, karena hari pun mulai gelap.
**********
Malam di rumah Farel.
Di balkon kamarnya, tampak lelaki itu sedang berdiri dengan posisi bersandar pada pembatas balkon. Terlihat ponsel yang menempel di telinganya. Meski pun malam dan di bawah pencahayaan yang sedikit remang kala diterpa benda-benda penerang dari langit, namun tergambar jelas raut khawatir di wajah tampannya. Ia khawatir dengan keadaan sang kekasih yang tengah berbadan dua dan jauh dari jangkauannya. Ia pun khawatir bagaiman cara memberitahukan kepada orang tuanya.
π "Gak ngerasa mual lagi, By?"
π "Mual mah gak ilang, by. Cuman bisa diatasi kok biar gak sampai muntah."
π "Makan kamu gimana? Mau apa lagi biar aku siapain, sekalian aku bawa ke sana."
π "Gak usah repot, by. Ada Jenn yang handle semuanya, He-he-he. Dia bisa diandalkan kok. Kamu fokus kerja aja,"
π "Jangan nyusahin Jenn terus lah, by. Aku juga kangen sama kalian, jadi pengen ke sana, liatin kalian berdua,"
π "Oh, sama kek Kenn juga?"
π "Gak tau dengan Kenn. Aku belom nanya ke dia sih. Aku mah pengen liat kalian. Gak ada urusan sama Kenn,"
π "Lah, liat gue sama Jenn, mending sama-sama kak Kenn kan?"
π "Siapa juga yang mau liat Jenn? Aku mau liat kamu sama anakku. Aku kangen sama kalian berdua, bukan Jenn. Bisa-bisa aku dibunuh Kenn tau gak, ih."
π "Oh,,, Ha-ha-ha. Kirain, kamu kangen sama Jenn juga,"
π "Jangan sembarang, by. Udah, nanti besok aku ke sana. Tidurnya jangan kemalaman yah, jaga kesehatan kamu, biar anakku juga tumbuh dan sehat di dalam sana."
π "Iyaaah, cerewet banget sih. I love you, calon ayah, Ha-ha-ha!"
π "Kenapa? Lucu yah? He-he-he. Love you too, calon ibu dari anakku. Aku tutup yah, sampai jumpa besok, by."
Tut!
Sambungan telepon itu pun berakhir. Farel tersenyum kecil menatap ponsel yang masih di genggamannya. Suara tadi sudah cukup untuk menenangkannya. Ia menghembuskan nafasnya pelan dan sesudah itu berbalik hendak masuk ke kamar, namun betapa kagetnya ketika melihat seseorang tengah berdiri di belakangnya sambil bersedekap.
"Anakku? Calon ibu dari anakku? Apa maksudnya? Jelaskan! Sekarang!"
..._____πΌπΌπΌπΌ_____...
To be continued ...
Hai Readers tersayang ππ₯° maaf baru up lagi π
Thanks buat yang selalu setia nungguin Jenn dan Kenn π makasih untuk kesedian waktunya untuk mampir ke sini π
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah guys π
Plissss, kasih like, komen, rate dan tambahkan ke favorit juga yah β€οΈ mau kasih bunga πΉ atau kopi β juga boleh banget π€
Thanks semuanya dan Selamat membaca π€
π
Ig : @ag_sweetie0425