
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Dengan panik yang sama serta ngos-ngosan, gadis itu menjawabnya. "Dia gak ada di sana Kak, ini aku tujuannya mau balik buat ngasih tau Kakak sama yang lain," ucap Putri sembari mengatur nafasnya.
"Gak ada gimana? Lo pergi sama dia kan?" Kenn mulai kacau, suaranya mulai tak terkontrol.
"I-iya Kak, ta-tapi gue gak ikut masuk. Gue nunggu kelamaan, pas gue cek ke dalam, Jenn gak ada," jelas Putri dengan terbata-bata membuat Kenn ingin sekali marah padanya.
Tidak ingin menyakiti gadis itu, Kenn kembali berlari menuju toilet. Ia ingin memastikan sendiri, pikirnya jangan sampai ini hanya sebuah prank.
Jangan bercanda dengan ketakutanku, sayang!
Kenn cemas memikirkan kejadian-kejadian buruk yang sering mengintai kehidupannya bersama sang istri. Ia tidak peduli jika pria dilarang memasuki area toilet wanita. Lelaki itu tetap menerobos masuk dan memeriksa setiap bilik yang ada di dalam sana. Nihil. Yang ia temukan hanyalah jas miliknya yang tadi sempat ia pakaikan sendiri pada sang istri.
Kamu di mana? Jangan suka mempermainkanku, Jenn!
Kenn mengusap kasar wajahnya dengan jas yang ada di tangannya. Ia lalu mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya. Panggilan itu tersambung, tapi tidak ada yang menjawab. Hal itu ia lakukan beberapa kali, tetap sama tak ada hasilnya.
Ia kembali berlari keluar dari sana dengan perasaan yang entah sudah sekacau apa. Di sepanjang lorong itu sepi, tidak ada orang lain di sana selain Kenn dan dua sahabat istrinya.
"Put, bilang kalo Lo sama Jenn lagi prank gue kan? Jujur aja, iya kan?" Ah, Kenn sungguh tak sabar lagi. Ketakutan tidak sebercanda itu baginya. "Ayo jawab Put! Jangan buat gue cemas," ucap Kenn setengah berteriak sembari mengguncang bahu gadis tomboi itu.
Ia seolah kehabisan kata-kata, tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk Kenn. Sedangkan ia sendiri pun kini diliputi ketakutan yang sama.
"Maaf Kak, tapi dia gak boong, dia juga lagi takut." Rossa mewakilkan suara Putri yang tertahan oleh rasa takut.
Tubuh tegap Kenn mendadak lemah. Rasa hancur, patah dan remuk seluruh tulangnya. "Lalu di mana dia?" Suaranya rendah tapi tajam penuh penekanan.
Putri menggeleng pelan sambil menggigit bibir bawahnya kuat. Ia hampir menangis, bukan karena takut pada Kenn, tapi khawatir pada Jenn dan ia pun iba melihat tingkah Kenn yang sudah sangat kacau.
"Bagaimana bisa Lo gak tau?!" Teriak Kenn karena tak bisa lagi menahan segala rasa yang tiba-tiba menyerangnya. Ia menghempaskan jas yang dipegangnya sekuat tenaga, seolah menyalurkan emosinya. "Kenapa tadi gak manggil gue aja buat nganterin dia?" Menyandarkan punggungnya ke dinding sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Kenn sedang mencoba menenangkan diri, meski ia sadar betul bahwa dirinya tidak akan sanggup untuk tenang barang sedikitpun.
"Kita harus gimana Kak?" tanya Rossa membuat Kenn kembali menegakkan tubuhnya yang terasa lemah.
"Ceritakan dari awal." Menatap Putri dengan serius. "Apa saat itu kalian hanya sendiri, atau ada orang lain?" tanya Kenn berharap mendapatkan jawaban yang bisa menuntunnya menemukan Jenn.
Putri lalu menceritakan awal mereka hendak ke toilet. Saat itu memang sepi di sepanjang lorong menuju toilet. Tiba di depan pintu masuk, tiba-tiba ada seorang wanita yang keluar dari dalam dengan terburu-buru dan langsung menubruk Putri.
Ponsel yang berada di tangan Putri saat itu jatuh, juga tas yang ditenteng wanita tadi ikut terjatuh dan semua isi dalam tasnya berhamburan di lantai. Melihat itu Jenn sedikit kaget dan ingin menolong keduanya, tetapi karena sudah kebelet, Putri memaksanya untuk masuk saja lebih dulu. Sementara itu ia masih membantu memungut barang-barang wanita tadi selama beberapa menit, sekaligus meminta maaf.
Wanita asing dengan penampilan glamor itu pun meminta maaf dan berterima kasih karena Putri telah membantunya. Putri yang ingin cepat-cepat masuk ke dalam selalu ditahannya seolah menghalangi dan mengulur waktu. Hingga beberapa menit berlalu, wanita itu pun akhirnya pergi dari sana.
Putri menatap kepergian wanita itu dengan perasaan yang aneh. Lama ia menatap sampai wanita itu menghilang dari sana, tetapi ia masih tetap larut dalam keanehan rasanya.
Begitu lama ia hanya berdiri dengan diam seperti orang bodoh di sana, sampai ia tersadar bahwa telah banyak waktu yang terbuang percuma. Ia lalu hendak masuk untuk melihat Jenn di dalam sana setelah menyadari bahwa sahabatnya itu pun sudah terlalu lama dengan urusannya.
Namun, rasa bodohnya tadi berubah panik ketika tidak mendapati sosok Jenn di dalam sana. Gadis itu pun berteriak sambil memeriksa setiap bilik seperti orang gila, tapi tak jua ada sahutan dari Jenn.
Putri segera berlari keluar ingin menemui sahabatnya yang lain dan memberitahukan pada Kenn. Di saat yang bersamaan, ia melihat Kenn yang juga sedang berlari menuju ke arahnya.
"Wanita itu mencurigakan, Kak," ucap Rossa setelah mendengar cerita Putri. "Aku takut Jenn dibawah kabur," ucapnya lagi membuat Kenn yang tadinya ingin mencoba tenang malah semakin kacau.
Kenn mengacak rambutnya frustasi. Sedangkan dalam kecemasannya, Putri mencoba berpikir harus seperti apa, hingga sesuatu terlintas di pikirannya.
"CCTV!" pekik si gadis tomboi.
Mendengar itu, tidak menunggu lama lagi, Kenn langsung berlari hendak menemui pihak keamanan hotel, disusul Rossa dan Putri di belakangnya.
Sampai di sana, ketiganya lalu meminta izin untuk melihat rekaman cctv di sekitar toilet. Dengan alasan yang tepat dan memang benar adanya, mereka lalu diperbolehkan untuk melihat rekamannya.
Sama persis yang di ceritakan Putri, hanya saja kecurigaan mereka semakin jelas ketika melihat sisi lain yang tidak diceritakan Putri. Sisi dimana gadis itu sedang dikelabui oleh wanita yang bertabrakan dengannya, sedangkan seseorang yang lain tampak membawa Jenn keluar dari sana melewati pintu yang lain. Wajah kedua orang itu pun tidak begitu jelas untuk dikenali.
Kenn seolah tidak dapat lagi menahan emosi jiwanya ketika melihat sang istri yang dibawa pergi entah kemana. Ingin rasanya ia menghancurkan barang-barang yang berada disekitarnya, tapi kewarasannya masih cukup baik untuk menahan diri.
Tidak ada orang lain yang ada dipikirannya saat itu, selain dia. Seseorang yang belakangan ini muncul di kehidupannya bersama Jenn.
Setelah keluar dari ruangan keamanan, Kenn segera merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.
π± "Di mana Lo? Cepetan jawab!!!"
..._____πππππ_____...
...Bahkan badai sekalipun dapat aku lewati, jika adanya dirimu di sisi....
...Namun, gerimis yang menggelitik, terasa mengerikan ketika harummu tak lagi tercium....
...Serapuh itu tanpamu....
..._Kennand_...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
Selamat malam semuanya βΊοΈ Ketemu lagi ...
Terima kasih buat kalian yang dengan setia menunggu cerita receh ini π
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425