
_I don’t know why they call it heartbreak. It feels like every other part of my body is broken too_
Seperti itu yang dirasakan oleh seorang Kenn. Harapan untuk bisa bertemu dengan seseorang yang semalam membuatnya tidak bisa tidur. Akan menjadi lebih baik saat melihat wajahnya pagi itu. Namun kenyataan yang ditemuinya, sama sekali tidak lantas menjadi penawar, tetapi justru menjadi racun bagi jiwanya.
Entah apa yang dipikirkannya semalam. Mungkin saja ada secuil asa yang disemogakannya. Namun lagi-lagi kenyataan menyadarkannya. Untuk segera menepi dari jalan yang tak semestinya dilalui. Bahkan, kenyataan itu mengajarkannya untuk tidak berlebihan dalam berekspektasi.
Farel yang saat itu ingin menemui gadisnya pun diurungkan. Lelaki baik hati itu, memilih mengikuti temannya. Dia bisa mengerti, rasa apa sedang didera oleh Kenn.
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
( "Cinta dalam hati" by Ungu )
"Ck, sengaja Lo ?" tanya Kenn dengan malas.
Farel tergelak, "Anggap aja suara hati Lo bro, ya kan ? nikmati alurnya aja dulu" Farel masih tergelak.
"Pahit kok dinikmati, tertelan iya. Tetap aja nggak enak" kesal Kenn pada temannya, yang seolah meledeknya.
"Baru awal man, belom berjuang juga udah nyerah aja. Paling gak, lakuin sesuatu. Biar dia tahu perasaan Lo" ucap Farel.
Telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku
Lantunan lagu mellow itu, terus terdengar memenuhi ruang kamar Farel. Ya, Farel mengajak Kenn yang sedang patah hati saat itu, main kerumahnya. Dari pada lelaki itu tersudut sendiri di kontrakan kecilnya. Dan Farel sengaja memutar lagu itu untuk sedikit bisa meledek Kenn, atau kah menyadarkan perasaannya.
"Gimana perasaan Lo, ketika sesuatu yang Lo punya diusik orang lain, atau diinginkan orang lain ?" pertanyaan telak yang dilontarkan Kenn.
"Ya, cuman ingin doang, nggak dipaksa juga kan ?" sahut Farel.
Giliran Kenn yang terkekeh. "Jadi cuman segitu perasaan Lo ? celah sekecil apapun akan selalu terlihat. Kalo gue ... nggak akan biarin siapapun menginginkan milik gue. Melirik pun mungkin perlu dibatasi. Karena semua bermula dari mata kan" ucap Kenn diplomatis.
"Mungkin saat ini kekasihnya juga seperti itu" sambung Kenn, yang mengingat momen romantis tadi didepannya. Bagaimana lelaki itu memeluk tubuh mungil Jenn dengan posesif. Mengecup, membelai gadis cantik yang sudah mencuri hatinya itu, dengan lembut dan mesra. Kenn bisa melihat betapa mereka saling mencintai.
Lelaki tampan itu memejamkan matanya. Berharap dapat menghilangkan bayangan adegan pagi tadi, yang seperti kilasan film romantis.
"Ck, jangan memikirkan tentang orang lain. Pikirkan saja perasaan Lo " nasehat Farel.
"Biar saja seperti ini, biar nanti waktu yang memberi jawab"
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
( cinta dalam hati _ungu )
"Serah Lo aja. Gue mau nelpon bentar" Farel mengambil ponselnya, dan melakukan panggilan pada seseorang.
"Lagi dimana ?" tanya Farel begitu tersambung.
"..."
"Sama Jenn juga ?" Farel sengaja mengeraskan suaranya, dan melirik temannya yang sedang berbaring di ranjang. Terpancing, Kenn langsung menatap Farel dengan tatapan penuh tanya. Farel tersenyum meledek.
"..."
"Enggak ! ya udah. Entar gue ke rumah"
"..."
"Bye" tutup Farel. Sesudah itu dia tergelak, melihat Kenn yang menatapnya dengan penuh tanya.
"Apa ? penasaran ? berjuang dong, jangan uring-uringan nggak jelas" masih saja tertawa.
"Ck, malas ngomong sama Lo" ucap Kenn kembali berbaring, dan menutup seluruh wajahnya dengan bantal.
Farel tertawa melihat tingkah Kenn. "Tenang aja, gue bakal ngelakuin sesuatu buat Lo" ucap Farel.
Kenn kembali bangun. "Mau ngapain Lo ? jangan macam-macam Rel".
"Setidaknya dia mesti tahu perasaan Lo. Itu aja. Selanjutnya ya terserah dia dong". Farel mengedikan bahunya.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sambil menunggu pesanan mereka, Alvino mengambil ponsel Jenn, lalu mengunggah foto kebersamaan mereka di akun Instagram miliknya. Disertai sebuah kalimat indah "Seeing your smile is happiness for me. Meanwhile, having you is the most beautiful gift in my life" ❤️ Tak lupa dia menandai sang kekasih dalam postingan itu.
"Setelah ini mau kemana ?" tanya Alvino, sambil menyimpan ponsel Jenn dalam saku jaketnya.
"Pulang lah Bi, belom mandi juga, gerah"
"Habis itu, ikut sama aku yah" pinta Alvino.
Jenn tersenyum dan mengangguk. "Kemanapun aku ikut, asal sama kamu" Jenn menoleh dan dihadiahi kecupan lagi dikepalanya.
"Masih ada kita disini loh, emang nggak keliatan yah ?" Kesal Reta.
Jenn tertawa renyah. "Maybe ! gue anggap sih gitu. Ya nggak, Bi ?" dan Alvino punk ikut tertawa kecil, melihat kekonyolan teman-teman kekasihnya.
Pesanan pun datang. Dan mereka makan dalam suasana yang tetap berisik, ciri khas mereka. Mengundang perhatian pengunjung lain. Sesekali Alvino akan menyuapi Jenn. Dan sungguh membuat teman-temannya ingin segera menghilang dari hadapan dua manusia, yang sama sekali tidak menghargai keberadaan mereka disana.
Diperlakukan seperti itu gimana bisa mau berpaling ? Pantes aja si mini cinta mati.
Fio melamun melihat keromantisan dua sejoli itu. Tiba-tiba ponselnya berdering. Gadis itu bergerak sedikit menjauh dari teman-temannya. Dan menerima panggilan saat dirasanya sudah aman, dan tidak didengar teman-temannya.
"Lagi dimana?" tanya seseorang diseberang.
"Di resto, lagi makan sama teman-teman" jawab Fio
"Sama Jenn juga ?"
"Iya dong, ada kekasihnya juga. Kenapa emang ?"
"Enggak, ya udah. Entar gue ke rumah"
"Ok, see you at home ! bye"
"Bye"
Fio kembali duduk dan menyelesaikan mekanannya. Sebenarnya dia sedikit memikirkan pertanyaan kekasihnya via telepon tadi. Kenapa menanyakan Jenn ? Tidak seperti biasanya. Fio menepis pikiran yang bertengger diotaknya saat itu. Nanti bisa ditanyakan, saat kekasihnya datang kerumahnya. Begitu pikir Fio.
"Telepon dari siapa sih ?" tanya Yuni
"Hah ? bukan siapa-siapa kok" Fio berusaha santai dan biasa saja. Pasalnya dia tidak pernah menceritakan kekasihnya pada siapapun. Dan teman-temannya tahu bahwa dia memanglah seorang jomblo. Fio takut, hubungannya yang terbilang sudah terlalu jauh itu diketahui teman-temannya.
"Bukan siapa-siapa, tapi menjauh segala. Mau main rahasia-rahasiaan sekarang ?" sahut Alena.
"Apa sih, nggak ada rahasia. Tadi itu cuman orang iseng. Gue pikir nyokap gue, makanya sedikit menjauh" Fio beralasan.
"Awas Lo, kalo sampe ada rahasiaan" ancam Alena.
Biarkan waktu yang akan bercerita. _Fio_
"Udah-udah, nggak usah diterusin. Sekarang kita pulang dan mandi. Belom padi mandi kan ? jorok" Jenn menengahi.
"Jorok juga gara-gara Lo miniiiiiiiii" sahut gadis-gadis cantik itu dengan kompak.
Jenn tertawa dan mengikuti langkah Alvino yang menggandengnya. Menuju kasir dan membayar bill disana. Sesudah itu, mereka keluar menuju kendaraan masing-masing. Dengan formasi yang sama seperti saat mereka datang tadi.
"Kak, thank you untuk traktirannya" ucap Maureen.
"It's ok, gue yang terimakasih. Karena kalian selalu ada untuk dia" sahut Alvino sambil menatap kekasihnya.
Jenn hanya tersenyum.
"Ok ! saatnya back to home, and see you tomorrow girls" Jenn melambaikan tangan pada teman-temannya. Setelah itu, mereka masuk kedalam mobil masing-masing. Putri yang setia dengan trailnya. Lalu perlahan mereka meninggalkan tempat itu, menuju rumah masing-masing.
.
.
.
.
.
to be continued .....
.
.
.
Happy reading buddies 😊❤️