
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Ting, tong.
Ting, tong.
Bunyi bel di rumah Kenn dan Jenn berbunyi mengusik kesibukan mereka berdua yang sedang terburu-buru di pagi itu. Sudah hampir jam 9 dan keduanya belum berangkat. Kenn yang harus berangkat kerja, dan Jenn yang harus ke kampus.
Bukan karena kesiangan, tapi pasangan itu sibuk membahas persoalan semalam hingga lupa waktu.
"Duh, siapa sih yang kemari pagi-pagi begini? Gak tau apa orang lagi buru-buru banget," gerutu Jenn yang sedang memakai sneakers.
"Biar aku liat," ucap Kenn dan langsung berlalu keluar membuka pintu.
Kenn mengernyit begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Lo?"
"Pagi Bro, sorry dah ganggu." Merasa tidak enak hati. "Hmm, Jenn-nya ada? Gue mau ngomong bentar aja, boleh?" Meskipun ia tahu bahwa Kenn tidak senang terhadap sesuatu yang disangkut-pautkan dengan istrinya. Namun, ia tetap ingin menyelesaikan hal itu.
"Apa ini tentang dia lagi?" Memicingkan matanya dengan sebelah alis yang terangkat. Jelas ada nada ketidak sukaan yang tersampaikan lewat ekspresi wajahnya. Namun sedetik kemudian wajah tampan Kenn berubah agak khawatir. "Dia baik-baik saja kan? Tidak terjadi sesuatu kan?" Tak ada benci sama sekali, hanya saja ia tidak suka dengan masa lalu istrinya. Kenn merasa iba dan sedikit bersalah, tapi tetap saja ia tidak ingin mengalah untuk alasan apapun.
"Ah, tidak ada. Cuman ...."
"Siapa, Yang?" Jenn datang dan memotong pembicaraan keduanya. "Reza?" Sedikit kaget. Berbeda dari reaksi suaminya tadi. "Loh, kok gak disuruh duduk sih, Yang?" Jenn lalu mempersilahkan Reza untuk duduk sebentar.
"Kita kan lagi buru-buru," sahut Kenn dengan datar dan ikut duduk di samping istrinya.
Jenn tersenyum kecil. "Iyah, Sayang. Sebentar aja gak papah kan? Gak mungkinlah dia diusir," tertawa kecil sambil mengelus lengan suaminya. "Ada apa pagi-pagi ke sini, Za? Cepetan ngomong, kita lagi buru-buru soalnya." Sama saja dengan suaminya.
Et dah, apa bedanya? Sungut Reza dalam hati.
"Iya, iya, maaf. Gue ke sini cuman bawa pesan dari tante gue. Dia mau ketemu sama Lo, ada yang mau diomongin." ucap Reza tanpa basa-basi.
Sepasang suami-istri itu saling melemparkan pandangan penuh tanya.
"Tante?" tanya Jenn penasaran.
"Iya, tante gue, maminya ...." Kalimatnya menggantung lagi.
"Aku rasa sudah cukup. Maaf yah, suami gue udah telat masuk kerja. Maaf banget," Jenn memotong ucapan Reza. Ia tahu siapa yang dimaksud lelaki itu. Kata 'mami' sudah cukup manjadi kunci jawabannya.
Ia pun bangun dari duduknya lalu mengambil tas, sesudah itu ia meminta Kenn untuk segera berangkat. Dua lelaki itu dengan terpaksa mengikuti kemauannya, Kenn apalagi.
"Yang Lo maksud ibunya?" tanya Kenn dengan berbisik, begitu Jenn sudah lebih dulu ke luar. Saat melihat anggukan Reza, Kenn berhenti sejenak. Ia menatap Reza dengan datar untuk beberapa detik. "Pergilah, kita akan datang sore nanti." ucap Kenn dan langsung berjalan menyusul istrinya.
"Serius?" Ada sedikit keraguan dalam suaranya.
"Gue gak sepecundang yang Lo kira."
Kenn menghidupkan motornya dan mereka pun segera melesat dari sana, meninggalkan Reza begitu saja dengan sedikit harapan di hatinya.
*****
Kenn lebih dulu mengantarkan Jenn ke kampus. Seperti biasanya, ia akan meninggalkan istrinya itu dengan berbagai pesan dan sederet larangan yang sudah seperti sebuah rekaman di kepala Jenn.
Setelah itu, Kenn langsung menuju bengkel tempatnya bekerja.
"Sorry, telat." Meminta maaf pada Farel selaku atasannya, dan juga pada karyawan yang lainnya.
Farel yang dasar kepo, menanyakan perihal keterlambatan teman baiknya itu. Kenn tidak langsung menjawab. Ia berjanji akan menceritakan setelah pekerjaannya selesai.
Sedangkan di rumah sakit, Reza kembali dengan alasan kepada tantenya, jika Jenn sedang terburu-buru ke kampus. Ia berjanji akan datang menemui wanita paruh baya itu setelah pulang dari kampus.
"Jangan kasih tau dia." Memandang putra semata wayangnya yang masih pulas di tempat tidur pasien. "Biarkan ini jadi kejutan untuknya."
Reza mengangguk saja dan ia pun pamit pulang untuk mandi sebentar.
*****
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, dan Alvino baru saja terbangun. Ia sedikit meringis menahan sakit dan perih pada bagian-bagian tubuhnya yang terdapat luka. Karena belum bisa banyak bergerak, ia bermaksud memanggil Reza. Namun, begitu ia menoleh dengan perlahan, yang ia dapati di sofa tempat Reza tidur semalam, bukanlah sosok itu. Namun, kedua orangtuanya.
Lelaki tampan itu mendengus kesal. Kehadiran pasangan paruh baya itu sangatlah tidak ia harapkan. Apalagi ibunya. Alvino lalu membuang pandangannya ke tempat lain. "Reza mana?" tanyanya acuh dengan suara serak yang terdengar malas.
"Sudah bangun, Sayang?" Ibunya tampak senang dan langsung berjalan menghampiri ranjang pasien. "Mau apa? Biar mami buatkan." ucap ibunya antusias.
Namun, Alvino sama sekali tidak ingin melihat wajah ibunya. "Reza-nya mana?" Mengulang pertanyaan yang sama sekali lagi dengan kesal.
"Dia tadi pamit pulang sebentar. Dia juga butuh istirahat, Sayang. Emang mau apa? Ada mami dan Papi di sini." Wanita paruh baya yang cantik dan terlihat elegan itu hendak menyentuh kepala putranya.
"Gak usah sentuh-sentuh. Kalian pulang saja. Vino gak butuh siapapun di sini," ucap Alvino tanpa memikirkan perasaan orangtuanya.
"Bicara apa kamu? Mana bisa mami dan papi ninggalin kamu dalam keadaan begini?" Sekali lagi ingin menyentuh kepala anak satu-satunya itu. Namun, lagi-lagi mendapat penolakan dari Alvino.
"Udah Vino bilang jangan sentuh, ya jangan sentuh." Suaranya mulai meninggi membuat ibunya kaget.
Sang ayah yang sedari tadi diam menyaksikan interaksi dingin antara keduanya pun segera berdiri dan menengahi.
"Gak! Mami mau tetap di sini temani Vino. Papi saja yang keluar." Melepaskan tangan suami yang merangkulnya. "Kenapa mami gak boleh jagain kamu? Kamu itu anak mami. Mami sayang sama kamu, Vino. Kenapa kamu jadi kurang ajar seperti ini?" Ibunya pun mulai meninggikan suaranya.
Alvino tertawa hambar. "Mami sadar dengan apa yang mami ucapkan? Vino anak mami? Mami sayang sama Vino? Kenapa vino jadi kurang ajar?" Ia tergelak sekali lagi. "Semua itu karena ulah mami sendiri!" Teriak Alvino dengan karas. "Mami yang sudah ngancurin hidup Vino. Yang mami buat itu bukan bentuk dari kasih sayang, tapi keegoisan dan kesombongan mami." Masih terus berteriak. "Gara-gara Mami, Vino kehilangan Jenn. Satu-satunya perempuan yang Vino cintai. Vino benci sama mami, Vino gak mau liat mami di sini. Keluar!!!" Teriaknya semakin kencang. Suaranya memenuhi setiap sudut ruangan VIP tersebut.
Wanita tua itu mematung di tempatnya, seolah tidak percaya dengan apa yang dilakukan anaknya. Anak yang selalu mengikuti semua kemauannya, kini jauh semakin berubah.
Kata-kata yang dilontarkan putranya, bagai tamparan keras di wajahnya sehingga meluruhkan air mata. Sungguh, tidak ada hal yang paling menyakitkan di dunia ini selain dibentak anak sendiri.
Melihat istrinya yang berderai air mata, lelaki tua itu lalu merangkulnya memberikan ketenangan. "Sejahat apapun mami kamu, dia tetap ibumu. Tidak ada alasan yang membenarkan sikap kamu, Alvino. Kamu hanya seorang anak yang tidak memiliki kuasa untuk menghakiminya. Dia yang melahirkan kamu, sesalah-salahnya dia, kamu tetap harus menghormatinya dalam kemarahan sekalipun. Kamu bisa menyampaikan keluhan dan kekecewaan kamu tanpa harus menyakitinya. Setidaknya, tunjukkan bahwa kamu itu seorang yang berpendidikan." ucap sang ayah menasehatinya.
"Sudah selesai, Pi? Kalau sudah, keluar dari sini." Tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Keras kepala lelaki itu, belum ada yang bisa menaklukkannya.
Mengerti dengan watak anaknya, lelaki paruh baya itu lalu mengajak sang istri untuk keluar dari sana. Ketika hendak membuka pintu, pintu itu sudah lebih dulu dibuka oleh Reza.
Pemuda itu kaget melihat tantenya yang menangis. Meskipun tanpa penjelasan, ia tahu alasan dibalik air mata wanita tua itu. Reza pun membuka pintu sedikit lebar memberi jalan untuk kedua orang tua itu.
"Bang," sapa Reza setelah menutup pintu dan berjalan menghampiri Alvino. "Apa ...."
"Diam! Lo juga keluar!" ucap Alvino tanpa memandang adiknya.
"Gue, gak ...."
"Keluar!!!" teriaknya lagi. Dan tanpa menunggu teriakan berikutnya, Reza segera keluar dari sana.
Dua puluh menit berlalu, dan waktu sudah setengah dua siang. Reza kembali mencoba masuk ke dalam untuk mengingatkan abangnya makan siang, karena lelaki keras kepala itu belum makan apapun sejak pagi.
Baru saja membuka pintu, ia sudah disambut dengan suara berat Alvino yang mengusirnya.
"Gue cuman mau ...."
"Lo jangan buat gue marah yah." Suaranya masih pelan.
"Tapi, Bang ...."
"Keluar!!!"
Reza akhirnya keluar lagi. Mood abangnya benar-benar tidak baik, dan Reza memaklumi itu.
Setelah ia keluar, dan menutup pintu, dua menit kemudian pintu itu kembali terbuka. Ayahnya masuk dengan misi yang sama seperti Reza tadi. Ingin memaksa Alvino untuk makan.
Namun, sama halnya dengan Reza, lelaki tua itu pun keluar dengan ketidak berhasilan.
Khawatir dengan kondisi Alvino, mereka pun mencoba sekali lagi.
Pintu ruangan VIP itu kembali terbuka untuk ketiga kalinya. Sama seperti yang sebelum-sebelumnya, suara berat itu kembali terdengar semakin malas dengan kehadiran siapapun. Bahkan dokter dan para perawat pun dilarangnya. Ia benar-benar butuh sendiri.
"Ck, apa lagi hah?" tanyanya tanpa memalingkan wajahnya melihat siapa yang masuk.
Hening, tak ada sahutan.
"Gue bilang sekali lagi keluar!"
Hening yang sama. Tidak ada pergerakan sama sekali dari seseorang yang masih setia berdiri di depan pintu. Dan hal itu membuat Alvino begitu geram.
"Lo budeg apa bodoh hah? Gue mau sendiri, brengsek!" Berteriak marah.
"Ya, aku bodoh. Aku memang brengsek." sahut seseorang yang sedari tadi berdiam diri di depan pintu ruang inap Alvino.
Mendengar suara itu, Alvino tersentak dan langsung menoleh melihat pemilik suara tersebut. Suara yang telah mengacau-balaukan dunianya, tapi juga sangat ia rindukan. Suara yang selalu mampu meluluhkan hatinya, suara yang selalu mampu mendebarkan detak jantungnya seperti melodi yang indah.
"Kamu?"
..._____🥀🥀🥀🥀🥀_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...###...
Halo, selamat malam semuanya 🖐️
Terima kasih buat yang selalu mampir 🙏
Jangan pada bosan yah guys 😘🥰
Jangan lupa tinggalkan like dan komen 🙏
Sampai ketemu di episode berikutnya 🤗🤗
Ig author : @ag_sweetie0425