Simple But Perfect

Simple But Perfect
Aku Pasti Kembali



Waktu telah tiba


Aku 'kan meninggalkan


Tinggalkan kamu 'tuk sementara


Kau dekap aku


Kau bilang jangan pergi


Tapi kuhanya dapat berkata


Aku hanya pergi 'tuk sementara


Bukan 'tuk meninggalkanmu selamanya


Aku pasti 'kan kembali pada dirimu


Tapi kau jangan nakal


[ Aku Pasti Kembali - Pasto ]


Lantunan lagu dari Pasto menemani perjalanan Alvino dan Jenn ke bandara. Sengaja diputarkan oleh Reza yang mengendari mobil saat itu.


Ya, lelaki itu menjadi sopir dadakan untuk dua sejoli yang terus saja bermesraan di dalam mobil, tanpa memikirkan perasaannya sedikit pun.


Jenn dan Alvino duduk di kursi bagian penumpang. Dengan Jenn yang terus bersandar menyembunyikan wajah sedihnya dalam dekapan sang kekasih.


Sejak mobil itu keluar dari halaman rumah Jenn, Alvino tidak membiarkan sisah waktunya di kota ini berlalu sia-sia. Dibawahnya gadis cantik itu kedalam pelukannya lalu mendekap erat selama perjalanan ke bandara.


Sesekali Alvino mengelus surai kecoklatan nan indah itu dengan lembut, memberikan kecupan mesra penuh sayang dikepala gadisnya itu.


"Kamu denger lagu itu ?" tanya Alvino sambil menunduk dan mengusap pipi Jenn dengan lembut.


Jenn mengangguk perlahan. Mendongak dan menatap netra hitam sang kekasih dengan tatapan sendu.


"Hanya untuk sementara, honey ! aku pasti kembali lagi untuk kamu" ucap Alvino lembut.


Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk. Nelangsanya membuatnya tak mampu berucap. Dia kembali menundukkan pandangannya dan masuk lagi dalam dekapan kekasihnya.


"Tapi ... " sengaja menggantungkan katanya.


"Iya, aku nggak akan nakal" mengerti pikiran sang kekasih.


Alvino terkekeh dan menghujani puncak kepala Jenn dengan kecupan-kecupan kecil.


"Nah, pinter. Janji yah !"


"Aku janji, bi !" mengurai pelukannya dan menatap Alvino dengan memelas. Sungguh, Alvino tahu arti tatapan gadisnya itu.


"Please, honey ! jangan buat aku lemah. Aku nggak sanggup liat kamu kek gini. Mana Jennku yang tegar itu ? gadis kecilku yang selalu tersenyum itu kemana hmm ?" ucap Alvino dengan lirih. Menatap dalam manik indah kekasihnya. Tatapan sarat akan cinta dan sayang.


"Akan aku coba" Jenn memaksakan senyum manisnya.


Dan Alvino memberikan kecupan yang begitu dalam dan lama di dahi gadis cantik itu.


Jenn terpejam dan meresapi sentuhan bibir Alvino pada dahinya. Saat Alvino selesai memberikan kecupan Itu, Jenn lantas membuka matanya dan tanpa aba-aba, satu kecupan singkat dibalas Jenn pada pipi kekasihnya itu.


Alvino terperanjat. Mimpikah ? pasalnya selama ini gadis itu belum pernah bertindak seperti itu. Dan ini merupakan ciuman perdana dari Jenn untuk Alvino. Meski cuman dipipi, namun getarannya bagai sengatan listrik berkilo-kilo watt yang hampir menghanguskan seluruh jiwa Alvino.


Jenn tersenyum manis, sedangkan Alvino terpaku linglung.


"Biasa aja bang ekspresinya" sejak tadi Reza yang melihat kemesraan dua sejoli itu dari spion, baru bersuara.


Dan suara Reza menarik Alvino kembali dari keterpakuannya.


"Kau ingin menggodaku, honey ?" Alvino lebih mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik Jenn, dengan tatapan intens.


Gadis itu jadi salah tingkah dengan tatapan kekasihnya. Jenn mengundurkan tubuhnya sampai mentok di kaca mobil.


"Eng-enggak !" dia tergagap dan menggeleng.


"Tapi aku tergoda, honey ! This is driving me crazy, Jenn" Alvino mengurung Jenn dengan kedua tangannya yang ditopang pada kaca mobil.


Dalam keadaan terhimpit, Jenn setengah mati memutar otak mencari alasan agar dapat menghindari kekasihnya. Hingga sebuah ide jail muncul di kepala Jenn.


Gadis itu tersenyum smirk. Dia membetulkan duduknya dengan benar. Membalas tatapan Alvino dengan setenang mungkin.


"Kalau kamu benar tergoda, tinggalah dan jangan pergi" dan demi apapun, Jenn deg-degan mengucapkan kalimat ini. Bagaimana jika Alvino benar-benar tidak jadi pergi. Big No ! Jenn bahkan takut memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu.


Alvino bergeming. Belum dapat mengendalikan hasratnya yang muncul tiba-tiba, gadis itu kembali mengguncang nalarnya. Sesaat, godaan antara hasrat dan hati menguasai jiwanya.


Lelaki tampan itu menggeleng. Logikanya masih dapat menarik jiwanya yang hampir hilang tersesat oleh godaan hasrat.


Perlahan Alvino menjauhkan tubuhnya dari sang kekasih. Melihat itu, Jenn bernafas lega.


"No honey, aku harus tetap pergi" kembali menarik dan membawa Jenn dalam pelukannya. Hampir saja hasrat sesaat mengalahkan janji-janjinya.


Dan perkataan Alvino, laksana angin surga bagi Jenn.


Yes, berhasil ! huh, untung saja. Ah, gue gak bakal ngelakuin hal gila itu lagi. Mengerikan sekali.


Jenn diam-diam tersenyum penuh kemenangan dalam pelukan kekasihnya.


Kau peluk aku


Kau ciumi pipiku


Kau bilang jangan aku pergi


Bujuk rayumu


Buat hatiku sedih


Tapi kuhanya dapat berkata


Aku hanya pergi 'tuk sementara


Bukan 'tuk meninggalkanmu selamanya


Aku pasti 'kan kembali pada dirimu


Tapi kau jangan nakal


Tembang penuh arti itu, membawa ketiganya hingga tiba di bandara.


Tanpa mereka sadari, seseorang yang sudah lebih dulu disana, memandang dari kejauhan dan tersenyum penuh kemenangan.


"Nikmatilah waktu yang tersisah ini. Karena gue pastiin, Alvino nggak akan pernah kembali lagi buat Lo, gadis kecil"


Verlita. Wanita licik yang begitu terobsesi dengan Alvino. Dia akan pergi bersama Alvino. Sesuai janji lelaki tampan berlesung pipi itu, dia akan menuruti keinginan Verlita. Dan semua itu hanya demi melindungi gadis kecil yang teramat sangat dicintainya.


Sebelum ke bandara, Alvino meminta Verlita untuk lebih dulu. Karena dia harus menjemput Jenn. Tentu saja Verlita mengizinkan. Sengaja memberi ruang dan waktu untuk pasangan itu menikmati waktu bersama mereka yang terakhir.


_____________


Alvino tak kuasa melihat gadis cantik yang dicintainya itu bersedih. Bahkan, keadaan bandara yang crowded seperti itu pun tak mampu mengusik keduanya yang masih saja berpelukan.


"Sudah waktunya aku masuk, hon !" menunduk menatap kekasihnya yang masih betah bersandar di dada bidangnya.


Jenn mengurai pelukannya. Berdiri tegak dan mendongak menatap kekasihnya. Dengan perasaan tak rela.


"Baik-baik disini yah. Jaga mata, dan jaga hati hanya buat aku" berucap dengan menyentuh bagian tubuh Jenn yang disebutnya tadi. "Jaga semuanya, dan jangan nakal" sambungnya sambil mencubit hidung mungil sang kekasih.


"Za, ingat janji Lo. Jagain kakak ipar Lo ini dengan baik" ucapnya pada Reza.


"Siap, bang. Trust me" seru Reza.


"Aku pergi yah, hon ! i love you so much, Jenn" mengusap lembut pipi Jenn sesudah itu Alvino berbalik dan hendak pergi.


Namun langkahnya tertahan. Tangan kecil Jenn menarik ujung jaketnya. Alvino berbalik lagi menatap gadis cantik itu.


"Cepatlah kembali, bi. Aku akan sangat merindukanmu" Jenn berucap lirih dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Apa yang harus aku lakukan, Tuhan ? aku pun masih ingin disini bersamanya.


Alvino merasa sangat tersiksa melihat raut nelangsa di wajah cantik itu. Lagi-lagi dia membawa gadis itu dalam pelukannya. Mendekap tubuh mungil itu dengan erat. Menenggelamkan wajah tampannya di pundak kecil sang kekasih. Ini sangat sulit bagi keduanya.


"Jangan katakan itu ! aku yang akan teramat sangat merindukanmu, Jenn" bisiknya pelan di telinga Jenn. "I love you more than you know" lagi bisiknya mesra.


Perhatian ! para penumpang pesawat ***** *** dengan nomor penerbangan ***** tujuan ******* dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu ***.


Pengumuman keberangkatan pesawat yang disiarkan di ruang tunggu saat itu, membuyarkan suasana mellow antara Jenn dan Alvino.


"Bang, sudah ada pengumuman tuh" ucap Reza.


Alvino melerai pelukannya.


"Jangan denger apa pun yang dikatakan orang. Jika nanti nggak ada kabar dari aku, percayalah aku sedang berusaha melakukan yang terbaik buat kita" ucapnya sambil memegang kedua pundak Jenn dengan tatapan penuh arti.


Entah apa yang ditangkap oleh gadis itu. Namun perkataan Alvino menyiratkan makna mendalam yang mewakilkan segenap rasa gundahnya.


"Kamu hanya perlu ingat, aku mencintaimu melebihi apapun Jenn. Sangat mencintaimu" lelaki itu lalu memberikan ciuman terakhir yang sangat dalam di puncak kepala gadisnya.


Meskipun berat, namun Jenn terpaksa dengan besar hati merelakan kepergian Alvino.


"Aku pergi"


Lelaki tampan itu berlalu pergi dan tak berniat untuk menoleh lagi. Tidak ingin lemah lagi, setelah sekuat tenaga berhasil mengumpulkan kekuatan hatinya yang sempat terburai.


Jenn hanya memandang sosok yang dicintainya menghilang di antara penumpang pesawat yang lainnya, dengan dada penuh sesak.


Meski kristal-kristal bening itu mulai membuat perih netra indahnya, namun Jenn berusaha menahan agar tak sampai retak dan meluncur.


"Apa Lo baik-baik saja kakak ipar ?" pertanyaan yang di barengi guyonan receh itu mampu menerbitkan senyum manis gadis cantik itu.


Jenn menoleh pada Reza dan mengangguk. "Yes, i'm okhay !" menjawab mantap.


"Balik sekarang ?" tanya Reza dan lagi-lagi Jenn mengangguk.


"Let's go, kakak ipar"


Gadis itu tertawa kecil mendengar panggilan Reza, ex koleksinya.


Reza pun ikut tersenyum melihat tawa gadis cantik yang diam-diam masih saja dipujanya. Dia berusaha menghibur serta melakukan permintaan abangnya sebisa mungkin.


Tetaplah tersenyum bahagia seperti itu, Jenn !


Dan keduanya pun berjalan menuju parkiran, berlalu dari sana. Bersama dengan itu, Jenn melepaskan segala rasa yang menyesakkannya di tempat itu.


________________________


.


.


.


.


.


to be continued ...


________________


Hollaa epribadeeeh πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹


Dukung STP terus yah, 😘😘


jangan lupa tinggalkan jejak manisnya πŸ₯°πŸ₯°


Thinkyuuuw buat yang udah mampir πŸ™πŸ™


Dan selamat membaca zeyeng²ku 😍❀️


Ig : @ag_sweetie0425