
Saat Jenn ditampar dan diseret kasar oleh Willy, ponselnya terjatuh. Sebelum Kenn mendekat dan menghajar lelaki itu, dia terlebih dulu mengambil ponsel Jenn, dan menyimpannya disaku celana.
Saat memastikan Jenn sudah aman, kedua lelaki tampan itu berpamitan dari sana. Sesampainya diparkiran rumah sakit, langkah Kenn terhenti, kala mendengar dering ponsel. Tapi dia tahu, itu bukan berasal dari ponselnya. Dia teringat ponsel Jenn ada padanya. Diraihnya benda pipih persegi itu, dan melihat sebuah nama yang dilengkapi emoji hati berwarna merah tertera disana.
Dengan rasa yang berkecamuk, Kenn menerima panggilan itu. Kenn tidak sebodoh itu, untuk mengartikan siapa gerangan penelepon dengan simbol hati itu. Dia tahu, seseorang disana mungkin saja cemas.
"Halo"
".. ??.. "
"Ehm, maaf saya cuman nolongin kekasih anda tadi. Ponselnya tadi jatuh, dan saya lupa mengembalikan.
" ..??.. "
"Rumah sakit"
Kata terakhir dari Kenn. Langsung panggilan itu pun berakhir.
"Siapa ?" tanya Farel penasaran.
Kenn mengedikan bahunya "Pacar Jenn. Tunggu sebentar, gue balikin dulu ponselnya" Kenn kembali berjalan masuk, dan menemui teman-teman Jenn disana.
"Maaf, ini ponselnya Jenn. Tadi ada yang nelpon"
"Siapa kak ? kenapa bisa ada sama kak Kenn ?" tanya Maureen.
"Tadi jatuh waktu ditarik cowok itu. Kayaknya ditelepon pacarnya".
"Hah ?" semuanya kompak berteriak. Membuat mereka ditegur beberapa perawat disana. Pasalnya, mereka tahu Alvino seperti apa. Dan tidak ingin membuat lelaki posesif itu menggila.
Putri menepuk jidatnya. "Mampusss, gue bakal diinterogasi habis-habisan, dan gue bakal kena marahnya dia. Aaarggh gara-gara Willy sialan sih" sungut Putri.
Kenn mengernyit. Setakut itu mereka dengan pacarnya ? Seperti apa sih pacarnya ?
"Ya udah, gue pamit ya"
"Oh iya, makasih ya Kak Kenn"
Lelaki tampan itu hanya mengangguk tersenyum, dan meninggalkan gadis-gadis itu. Menyusul temannya ke parkiran.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam hampir tengah malam. Seorang lelaki tampan sedang diliputi kekhawatiran. Dia Alvino. Lelaki berlesung pipi itu begitu gelisah, karena belum mendapat telepon dari kekasih tercinta. Tadi sempat memberi ijin pada gadis kecil kesayangannya, untuk bersenang-senang sebentar. Namun ini sudah lebih dari syarat waktu yang ditentukan. Alvino yang sudah tidak bisa menahan khawatir saat itu, langsung meraih ponselnya dan melakukan panggilan pada nomor kekasihnya.
"Halo"
Deg ! Jantung Alvino berdetak kencang. Dia terpaku, mendengar suara pria asing yang menerima panggilannya. Pikiran-pikiran aneh mulai mengusik logikanya.
"Siapa Lo ? mengapa ponsel kekasih gue, Lo yang pegang ?" lelaki berlesung pipi itu menekan kata kekasih, menandai tegas kepemilikannya atas gadis pemilik ponsel itu.
"Maaf, saya cuman nolongin kekasih anda tadi. Ponselnya terjatuh, dan saya lupa mengembalikan"
Deg, deg !! Jantung Alvino berdetak semakin kencang, mendengar kata menolong. Jenn. Alvino membisikan satu nama yang selalu memporak-porandakan hatinya.
"Apa yang terjadi dengannya ? dimana dia sekarang ?" Alvino bertanya dengan tak sabaran.
"Rumah sakit"
Alvino tidak ingin mendangar lagi. Cukup ! Alvino langsung menghubungi Putri. Karena dia tahu, Jenn pergi bersama Putri, dangan dalil merayakan kemenangan gadis tomboi itu.
Begitu sambungan telepon terhubung, Alvino memberondong Putri dengan pertanyaannya.
"Dimana Jenn ?"
"Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit ?"
"Apanya yang terluka ?"
"Siapa yang melukainya ?"
"Ada masalah apa sebenarnya ?"
"Jawab Putriiii ,,, jangan diam aja Lo"
Alvino berteriak marah ditelepon. Putri sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Gadis tomboi itu bahkan takut, untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan Alvino padanya.
"Maaf Kak. Tapi sumpah, Jenn baik-baik aja kok" ragu-ragu, Putri mencoba berbicara.
"Siapa ? siapa yang berani-beraninya nyakitin dia ? siapa ? katakan" lagi-lagi Putri menjauhkan ponsel, mendengar teriakan Alvino penuh amarah.
"Apa dia salah satu koleksinya ?"
"I-iya kak" kata gadis tomboi itu, ragu dan takut-takut.
Sambungan telepon terputus. Alvino mengepalkan tangannya kuat, menahan geram. Menyesal telah memberi ijin pada gadis kecil kesayangannya.
I'm sorry honey, no more permission next time.
Alvino memejamkan matanya sejenak, sesudah itu dia menghubungi Alex.
"Batalin semua rencana Lo"
"Why ? what's wrong Vin ?"
"Gue bilang batalin, nggak ada kejutan apapun"
"Ya, at least tell me the reason, bro"
"Besok gue berangkat. Jenn di rumah sakit"
"What ??? what's going on ?"
"Nggak tau pasti. I'll make sure there tomorrow "
Dan sesudah itu, sambungan telepon berakhir. Namun Alvino tidak bisa memejamkan matanya. Rasa cemas, khawatir, marah, semuanya berbaur menjadi satu. Menganggu hati dan pikirannya malam itu.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rencana untuk ngopi di cafe, mendadak hilang tak lagi ingin. Dua lelaki tampan itu akhirnya kembali ke kontrakan Kenn. Farel memutuskan menginap ditempat Kenn. Ya, karena kekasihnya pun nginap di rumah sakit, menemani temannya. Teman tidurnya malam ini adalah Kenn. Tidur doang ya ini ! Nggak mungkinlah, jeruk makan jeruk π Jangan pada ngeres kek si Farel π
"Gue masih penasaran. Lo kenal Jenn dan teman-temannya dimana sih ?"
Kenn tidak menjawab. Pikirannya masih pada gadis kecil, yang masih terlelap dalam pingsannya.
"Diam-diam Lo berhubungan juga dengan gadis-gadis tak tersentuh itu ya"
Kenn meloleh pada temannya sambil mengernyit. "Tadi apa ? Buktinya Lo bisa sentuh juga kan ?" tanya Kenn sarkastis.
"Nggak mudah awalnya bro. Gue butuh perjuangan berat selama beberapa bulan. Banyak waktu yang gue korbanin, baru bisa disentuh" jelas Farel.
"Jadi dia orangnya ?" Kenn mendapat anggukan dari Farel.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, Kenn"
"Kita ketemunya di taman budaya, waktu acara pentas seni. Waktu itu gue nganterin Reni. Mereka temanan juga. Kita kenalan saat itu ..." Kenn menggantung kalimatnya.
"Nggak ada yang Lo suka dari salah satunya ?" Kenn masih diam. "Atau jangan-jangan ... Jenn, yang Lo suka ? iya ?" lanjut Farel.
Dia seperti menangkap sesuatu yang tersembunyi dibalik semua sikap Kenn malam ini. Apalagi melihat Kenn yang begitu marah ketika memukul Willy tadi. Sedikit, Farel menemukan sesuatu yang berbeda dalam diri temannya. Dia bisa menyimpulkan, bahwa Kenn menaruh hati pada gadis cantik itu.
"Iya kan ? bener kan, yang gue bilang ? Lo suka sama Jenn kan ?" Farel bertanya dengan memaksa.
Kenn menoleh pada Farel. "Lebih dari itu pun nggak ada salahnya kan ? bukan berarti harus ngejar-ngejar juga kan ?" Kenn tersenyum kecil menyatakan perasaannya.
"Serius ???" Farel hampir tak percaya. Temannya yang kalem dan anti hawa itu, jatuh cinta dengan gadis kecil penakluk banyak hati. "Sudah gue duga. Nggak mungkin, Lo bikin cowok tadi babak belur tanpa alasan" sambung Farel.
"Kejar Kenn. Selama janur kuning belum melengkung. Nothing is impossible" Farel menepuk pundak temannya, seolah memberi semangat. Melihat kegalauan Kenn saat itu, dia tahu, besar perasaan Kenn pada teman pacarnya.
.
.
.
.
.
to be continued .....
.
.
.
happy reading buddies πβ€οΈ