Simple But Perfect

Simple But Perfect
Pantai Kenangan 2 (Balasan Kenn)



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Jangan sekali-kali berteriak atau membentaknya, sialan!" Menarik kerah baju Alvino, dan kembali memberikan pukulan untuknya. Sekarang Kenn yang dipenuhi amarah. Giginya bergemeletuk. "Lupakan kebiasaan Lo yang dulu terhadapnya. Sekarang dia ratu dalam hidup gue, dia ibu dari anak gue, dan gue gak ingin sialan seperti Lo atau siapapun ngasarin dia. Ngerti?" bentak Kenn pada Alvino. Jenn sampai takut melihat sisi lain dari suaminya. Belum pernah ia melihat Kenn yang semarah itu. "Asal Lo tau, bahkan diri gue sendiri tidak gue biarkan untuk nyakitin dia. Semarah apapun gue, gue gak pernah sekalipun ngasarin dia, brengsek!" Giliran Alvino yang tersungkur karena pukulan darinya.


Kenn berjongkok mengulurkan tangannya untuk Alvino. "Bangun, kita selesaikan ini secara lelaki." Alvino memberikan tangan dan Kenn pun menariknya untuk berdiri lagi. Tanpa menunggu kesiapan Alvino untuk melawannya, Kenn kembali meluncurkan pukulan keras di wajah tampan Alvino. "Lawan gue, teriak ke gue, bentak gue, maki gue sepuasnya Lo. Jangan ke dia, a***ng!" Benar-benar marah melihat istri yang sangat ia cintai dan tidak pernah ia kasari dibentak-bentak seperti tadi.


"Tadi gue diam dan terima semua pukulan Lo tanpa berniat lari ataupun membalas, Iya kan? Bukan berarti Lo bisa ngelakuin apa aja. Nyakitin gue, it's ok! Fine, gue terima aja, asal jangan pernah nyakitin dia. Lo ... berhadapan sama gue!" Kembali ingin memukul Alvino tapi Jenn menahannya.


"Udah, Kak! Udah, cukup," teriak Jenn yang langsung memeluk Kenn dari belakang.


Kenn lantas mendorong tubuh Alvino dengan kasar begitu suara indah sang istri memanggilnya. Ia langsung berbalik melihat wanita cantik yang diliputi ketakutan itu. Perlakuan Alvino tadi membuat Jenn kaget dan merasa takut.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" Menarik Jenn dalam dekapannya. Memeluk dan mengusap surai indah istrinya, memberi ketenangan. "Jangan takut! Ada aku, Sayang." Mengeratkan pelukannya dan memberikan banyak kecupan sayang di kepala sang istri.


"Aku mau pulang!" Mengangkat wajahnya menatap wajah tampan sang suami yang sudah di penuhi memar dan bercak darah di beberapa tempat. "Aku takut, aku gak mau liat kamu kayak gini lagi. Kita pulang, Kak!" pinta Jenn dan Kenn pun mengangguk.


Sepasang suami-istri yang sedang berpelukan di sana tidak lagi menggubris keberadaan Alvino. Mereka seakan melupakannya. Hingga Kenn tidak sadar saat ingin berbalik, Alvino kembali menyerangnya.


Kali ini kedua lelaki itu saling membalas, menyerang, dan bergelut di atas pasir. Jenn kembali berteriak histeris sampai suaranya hampir hilang. Alvino tak peduli, berbeda dengan Kenn yang mendengar jelas teriakan istrinya. Suara indah yang terdengar ketakutan itu memercik amarah dan emosi Kenn terhadap Alvino. Hingga lelaki itu menghajar Alvino membabi buta dengan posisinya yang duduk di atas tubuh Alvino.


"Hari ini Lo terlalu banyak menyakiti istri gue," ucap Kenn di sertai satu pukulan. "Lo udah bikin dia ketakutan." Satu lagi salam hangat dari kepalan tangan Kenn. "Kita ke sini buat ngomong baik-baik, Lo malah nyari ribut." Kali ini menarik kerah baju Alvino. "Dengar!Gue Kenn, gue gak punya apa-apa. Gue bukan anak sultan seperti Lo. Tapi, gue gak pernah takut sama siapapun. Berani ganggu dia dan ketenangan rumah tangga gue, gue pastikan Lo akan bayar dengan mahal. Jadi, punya masalah atau dendam apapun, selesaikan secara jantan sama gue. Jangan libatkan dia. Gue selalu siap tunggu undangan Lo kapan aja kita fight!" Melepaskan Alvino secara kasar dan beranjak dari atas tubuhnya.


Kenn berlari kecil menghampiri Jenn. "Maafkan aku, Sayang! Ayo kita pulang." Hendak membawa istrinya tapi dicegah.


Jenn menunjuk Alvino yang tengah mengeram kesakitan. "Dia gimana, Kak? Aku kasihan liatnya." Hatinya yang dipenuhi kebaikan selalu saja tergerak.


Kenn menatap istrinya begitu dalam. Sejurus kemudian ia menengadahkan tangannya pada wanita itu. "Berikan ponselmu," ucap Kenn.


Cepat-cepat Jenn merogoh benda pipih persegi itu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Kenn. Lelaki itu kemudian men-scroll layar mencari sesuatu di sana. Tampak ia melakukan panggilan setelah mendapat kontak yang dicarinya.


πŸ“± "Halo, Jenn! Lo ud ...."


πŸ“± "Ini gue. Lo datang sekarang di pantai xx, dan bawa pulang abang Lo."


πŸ“± "Heh, kenapa dia?"


πŸ“± "Datang dan liat aja. Gue minta maaf sebelumnya, Za."


Langsung mematikan panggilannya. Kenn mengembalikan ponsel milik istrinya.


"Udah kan?" Menatap sang istri yang juga sedang menatapnya. Jenn tersenyum kecil dan mengangguk. Dia kagum dengan sosok suaminya yang baik hati, tidak pernah kasar, dan yang paling penting, ucapan maaf yang tidak pernah ditahannya. Mudah sekali untuk laki-laki itu meminta maaf. Tidak seperti kebanyakan orang yang justru gengsi mengucapkan kata ajaib itu.


"Aku mencintaimu, Kak!" ucap Jenn begitu tulus. Tangannya terulur menyentuh bekas pukulan Alvino di wajah tampan yang dipujanya.


Kenn meraih tangan sang istri yang masih menempel di wajahnya. "Aku yang lebih mencintaimu." Mencium tangan yang digenggamnya. Kenn kemudian berjongkok. "Ayo! Naik," ucapnya membuat Jenn mengernyit.


"Mau ngapain? Kamu kesakitan, Yang! Aku bisa jalan kok." Menolak karena tidak ingin membuat suaminya kesakitan.


Kenn lalu membawa istrinya meninggalkan Alvino dan pantai itu.


"Aku berat yah? Kalo sakit turunin aku aja, Yang!" ucap Jenn yang tidak ingin menyakiti suaminya.


"Iya sakit banget. Makanya n'tar sampai rumah servis yah, auwwhh." meringis karena pukulan Jenn di punggungnya tapi kemudian ia tertawa bahagia.


"Ketawa lagi, aku tambahin nih yah," ucap Jenn gemas dengan sikap Kenn.


"Jangan, Sayang. Jangan di sini. Nanti tambahnya di ranjang aja." Tertawa lagi. "Aarrgghh ... iya, iya ampun ibu negara" ucap Kenn disertai kekehan kecil. Bukannya merasa sakit, tapi ia justru merasa geli dengan cubitan sang istri.


Senda gurau menemani langkah mereka hingga tiba di depan jalan. Kenn menurunkan istrinya lalu ia naik ke atas motor dan menghidupkannya. Setelah itu tangannya terulur membantu sang istri untuk naik, keduanya kemudian melesat dari sana meninggalkan tempat yang besoknya akan menjadi kenangan antara mereka berdua dan Alvino.


Sementara itu masih di atas pasir putih di tepian pantai, seorang lelaki berteriak mengumpat sekencang-kencangnya melampiaskan kekecewaan dan sakit hati pada ombak dan batu karang di sana.


"Aaaaaarrrrrrggggggh!!! ****, gue gak relaaaaa!!!"


"Jenniferrrrrrrrr!!! Lo pembohong, Lo sama aja kek wanita yang lain. Datang dalam hidup gue cuman buat nyakitin dan pergi gitu aja!"


"Gue benci sama Lo, Jenniferrr!"


"Gue gak terima ini!!!"


Bersama dengan pecahan gelombang yang memecah di batu karang, dan meninggalkan buih yang terburai di sana sini, hati seorang Alvino pun demikian. Pecah berkeping-keping, kacau dan berantakan, menyisahkan sakit yang mendalam. Yang entah kapan akan diramu, entah kapan dapat ditata kembali. Biarkan waktu memainkan perannya sebagai penawar.


..._____πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦_____...


...Aku pernah kehujanan,...


...Tapi tak sempai basah kuyup....


...Aku pernah terbakar,...


...Tapi api tak mengahanguskanku....


...Kamu ahlinya dalam menyematkan rasa....


..._Alvino Dharma_...


...###...


...To be continued ......


...__________________...


Halo semuanya πŸ‘‹ Jangan pada bosen nungguin Jenn dan Kenn yah πŸ₯°


Terima kasih buat yang selalu setia di kapal ini πŸ˜…πŸ€­


Jangan lupa tinggalkan like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425