Simple But Perfect

Simple But Perfect
Izin Suami



...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Waktu berlalu dengan cepat tanpa bisa dicegah. Malam telah berganti pagi. Hangat sang surya telah dengan santun menghapus embun. Dingin yang sempat menusuk, dengan segan menghilang tanpa jejak.


Rossa, semalaman gadis itu tidak bisa tidur meski untuk sesaat saja. Tubuh lelahnya memaksa untuk tidur, tapi hati dan mata bertolak belakang. Netra indah yang sudah membengkak karena tangis, tak kunjung terpejam.


Sejak keluar dari kamar mandi, ia hanya berdiam diri pada sofa yang tersedia di ruang tengah. Pikirannya kacau tidak bisa tenang memikirkan Putri yang menghilang entah kemana, dan Jenn dengan segala permintaannya semalam.


Tidak tahukah dia bahwa sahabatnya seperti itu karena siapa?


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.00, Rossa masih saja terduduk pilu, dalam nestapa yang dihadirkan oleh Alvino. Bahkan gadis itu seakan tak memiliki lagi tenaga hanya untuk sekedar berganti posisi duduknya.


Dalam kesunyian, kehampaan, dan kesendiriannya, terdengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Itu pun tak lantas menggerakkannya.


Suara ketukan pada pintu, baru membuatnya sedikit tergerak untuk bangkit dan membuka. Itu pun ia lakukan dengan malas dan kondisi yang lemah.


Ceklek.


"Ya ampun, Nak!" pekik seorang wanita paruh baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah calon mertuanya.


Wanita itu telah berjanji akan kembali pagi ini untuk menjemputnya. Namun, betapa kagetnya ia mendapati calon menantunya dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Rambut yang acak-acakan, wajah sembab di lengkapi mata panda yang mengecil karena bengkak amat kentara. Tubuhnya tampak lemah dan tak berdaya, terlihat jelas dari wajah dan bibirnya yang memucat.


"Kamu kenapa, Nak? Siapa yang sudah melakukan ini semua?" Tak satupun tanya yang dijawabnya. Mulut itu tetap terbungkam dengan pandangan yang kosong entah ke mana. "Teman yang satunya mana?" Wanita itu menerobos masuk dan memeriksa keadaan di dalam yang tampak sepi. "Kamu sendirian?" Rossa mengangguk lagi.


Karena melihat tidak ada siapa-siapa di sana, wanita berusia senja itu lalu mengajak Rossa untuk pergi.


"Mau berangkat sekarang, atau nungguin teman dulu?" tawar ibunya Alvino.


"Sekarang aja, Tan." ucap Rossa memaksakan senyum. Ia merasa tidak ada yang perlu untuk dinantikan dan dibicarakan lagi.


"Loh, kok Tan lagi sih?" Protes ibunya Alvino.


Lagi-lagi Rossa tersenyum. Namun, itu senyum kepedihan.


Gak pantes banget, ha-ha-ha …


Hatinya menertawakan dirinya yang teramat menyedihkan.


"Rossa belum terbiasa, Tan." Alasan yang klasik.


"Terus kapan biasanya? Sekarang, pokoknya sekarang." Pura-pura marah.


"Iyah, Iyah, Sekarang, Mi." Sebenarnya ia malas untuk memperpanjang. Ia tahu bahwa, wanita itu sedang mencoba mengalihkan pikirannya.


"Nah, gitu dong. Ayo, ikut sama mami! Udah siapin barang-barang kamu kan?" Hanya mengangguk.


Wanita paruh baya itu memanggil sopir untuk mengangkut barang-barang milik Rossa dan memasukannya ke dalam bagasi mobil. Begitu selesai, Ia lalu menuntun Rossa keluar menuju mobil, setelah menutup pintu rumah. Tanpa berganti pakaian dan berdandan, gadis itu melangkah pergi begitu saja.


Ketika hendak masuk ke mobil, Rossa berbalik sejenak dan menatap rumah yang sudah menjadi tempatnya berteduh selama bertahun-tahun di kota ini. Matanya menatap lekat setiap sudut bangunan, mencetaknya dalam hati dan ingatan. Rumah sederhana yang menyimpan sejuta kenangan luar biasa antara dia bersama kedua sahabatnya.


Sampai masuk ke dalam mobil pun, ia masih memandangi tempat itu dari balik kaca mobil. Pak sopir segera menginjak pedal gas dan melaju meninggalkan tempat itu dengan sebagian hati Rossa yang tertinggal di sana.


Beberapa menit setelah sampai di kediaman orangtua Alvino, di sana sudah ada dokter dan seorang perawat yang menunggu mereka. Sebab dalam perjalan tadi, Rossa mendadak pingsan, dan ibunya Alvino menelpon dokter untuk langsung ke rumah saja. Mungkin karena lelah menangis dan tidak tidur semalaman, ditambah banyak hal yang membebani pikirannya, membuat gadis kalem itu drop.


Ia pun mendapat perawatan yang baik di sana. Dokter berpesan pada orangtua yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya, agar menjaga kesehatan calon menantunya dengan baik. Jangan sampai ia kelelahan dan banyak pikiran. Apalagi mereka akan melakukan perjalanan jauh besok, maka gadis itu perlu istirahat yang banyak.


****


Di tempat lain.


"Mau pulang gak?" tanya seseorang pada temannya.


"Gak! Besok aja," jawab seorang gadis yang sedang berbaring di sebuah kamar milik temannya.


"Kenapa? Masih marah?"


Gadis yang tengah berbaring itu mengambil bantal dan menutup wajahnya sesaat.


"Gue bakalan gak kuat liat dia pergi." Membayangkan chat semalam dari sahabat yang dia sayangi, itu saja sudah menyesakkan. Apalagi melihatnya pergi. Dia tak cukup sanggup.


Dia adalah Putri. Semalam ia pergi dari rumah setelah mendapat chat yang sama dengan Jenn. Dia ingin menemui Alvino dan memaki laki-laki itu, tapi keberadaan laki-laki itu tidak ditemukan. Putri yang marah dan kecewa saat itu, memilih menginap di rumah Yuni.


*****


Di kediaman Jenn dan Kenn.


Kay dan ibu sudah memaksanya, tetap sama saja.


"Nanti saja, Bu. Jenn belum lapar." Hanya itu jawabannya.


Ia masih tak habis pikir tentang chat dari Rossa semalam. Ia pun tidak bisa menghubungi Putri. Ingin mencarinya kemana? Sementara Kenn memberi peringatan keras agar ia tidak keluar rumah.


Katakanlah ia galau berat sedari malam. Namun, tidak separah kedua sahabatnya. Dia punya Kenn yang selalu mampu menenangkan dan menciptakan nyaman serta bahagia kecil dalam situasi gundahnya.


Hingga ia berpikir untuk menemui Alvino. Pastinya ide itu harus lulus izin dari suaminya terlebih dahulu.


"Iya, aku harus menemuinya. Sekalipun dia menolak." Gumam Jenn.


Pikirnya, ia tidak ingin membiarkan sahabatnya pergi begitu saja tanpa pesan apapun pada Alvino. Lagi pula, ia tahu bahwa pasti Alvino-lah pemicu dari perubahan dadakan sahabatnya. Jenn ingin tahu pasti alasannya.


Ia menelpon Kenn dan meminta izin lebih dulu. Sempat mendapat penolakan dari suaminya, tapi Jenn menjelaskan dengan lembut hingga meluluhkan hati suaminya. Tentu saja dengan syarat, Kenn sendiri yang akan menemaninya. Itu hal mutlak sepanjang hubungan mereka.


Sebelum bersiap-siap menunggu kepulangan suaminya, Jenn lebih dulu menelpon Reza, menanyakan keberadaan Alvino. Namun, tidak ada hasilnya.


Jenn lalu bergegas makan sebelum Kenn kembali. Ibu dan Kay melihat itu hanya tersenyum.


"Takut banget sih, sama kakak." Kay menggoda kakak iparnya.


"Marahnya serem tau," ucap Jenn tidak begitu jelas. Sebab mulutnya penuh dengan sesendok makanan.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00. Jenn menyelesaikan makanannya dengan cepat. Setelah beristirahat sepuluh menit, ia lalu bersiap-siap menunggu suaminya.


Tidak lama setelah itu, Kenn tiba di rumah.


"Udah cantik, rapi banget lagi. Mau kemana emang?" Sengaja membuat istrinya kesal.


"Issh, kan tadi udah dikasih tau. Aaaa, Sayaaaaaanggg," rajuk Jenn.


Kenn tergelak lalu menarik Jenn dalam pelukannya. Ini cara Kenn melepas lelahnya. Ia akan bermanja sebentar dengan istrinya, sebelum melakukan hal lainnya.


"Mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Jenn sembari mengelus rahang kokoh Kenn. Saat ini keduanya beristirahat pada sofa yang berada di kamar.


"Makan yang lain boleh gak?" tanya balik dengan tingkah nakal.


"Sayang!" pekik Jenn tampak geram.


"Ha-ha-ha, becanda, Sayang." Mencubit hidung bangir istrinya. "Mandi dulu deh kalo gitu."


Kenn langsung bangkit menuju kamar mandi, setelah memberi satu kecupan di bibir ranum Jenn.


Sementara Jenn menyiapkan pakaian dan juga makanan untuk Kenn. Satu jam sudah berlalu, dan Kenn telah menyelesaikan aktifitas mandi dan juga makan.


"Udah tau dia di mana?" Mengecek keberadaan Alvino.


"Belom." Jenn menggeleng.


"Jadi???"


Jenn terdiam tampak berpikir. Ia mencoba menebak tempat yang mungkin saja didatangi Alvino, selain club malam. Menurut Reza, ia tidak di sana, juga apartemennya. Hingga sebuah tempat terlintas di pikiran Jenn.


"Sepertinya aku tahu …."


..._____πŸ€πŸŒ·πŸ€πŸŒ·πŸ€_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued …...


..._______________...


Hay semuanya πŸ‘‹ ketemu lagi πŸ€—


Makasih buat yang selalu menunggum πŸ™ Makasih juga buat yang udah baca dan ninggalin jejaknya 😍


Jangan pada bosen yah πŸ₯°


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425