Simple But Perfect

Simple But Perfect
Incredible Thing



Rossa, Putri, and the geng-nya dibuat melongo. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Clubbing ??? Yang benar saja. Ini bukan Jenn-nya mereka. Meski terkenal playgirl, juga pergaulannya yang sedikit bebas dan tidak mengenal status. Label gadis baik selalu melekat erat padanya. Dia tahu batasannya.


Baru pernah sekali, dia pergi ke tempat dunia malam itu. Itu pun bersama kekasihnya, meski pada kenyataannya dia pulang bersama lelaki lain malam itu. Tetap saja, ini hal yang tidak mungkin bagi teman-temannya. Apalagi hal itu tercetus langsung dari mulutnya. This is impossible but true.


"Please guys! Gue butuh suasana baru. Temenin Gue yah!" pinta Jenn dengan lirih.


Sahabat dan teman-temannya yang memahami suasana hatinya saat itu, akhirnya mengiyakan dan memenuhi permintaannya.


"Thanks!" memaksakan senyum kecilnya. "Sekarang pulang dan siap-siap yah. Gue juga mau siap-siap. Kita ketemuan di depan club yang malam itu. Masih pada inget kan?" lanjutnya dengan raut kembali datar.


"Inget kok, bebs. Baiklah!" sahut Maureen.


"Tapi Gue balik lagi ke sini buat jemput Lo." seru Fio.


Jenn mengangguk. "Kalian berdua ikut kan?" beralih pada Putri dan Rossa. Dan kali ini, dua sahabatnya itu pun tidak mau membiarkan Jenn sendirian dengan geng-nya.


"Ikut!" singkat dan kompak.


Dan kawanan gadis-gadis itu pun bubar dan bersiap-siap.


Rossa dan Putri yang sangat penasaran dan ingin bertanya langsung saat itu. Namum dengan melihat diamnya saja, sudah mengurungkan niatan mereka.


Sementara itu, Fio yang sedang mengendarai mobilnya. Menyempatkan diri untuk menghubungi sang kekasih. Belum sempat menelepon, ponselnya sudah berdering duluan. Dengan panggilan dari orang yang sangat ingin dihubunginya saat itu juga.


Fio tersenyum lalu menerima panggilan itu dengan earphone yang sebelumnya sudah terpasang di telinganya.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba,"


"Kenapa? Lagi nungguin yah?"


"Gak juga. Hahaha! Iya deh, iyah nungguin."


"Lagi di mana? Dari tadi gak ngasih kabar,"


"Di jalan, otw ke rumah. Baru dari rumah Jenn."


"Ngapain aja si. Aku mau kerumah ini,"


"Jangan sekarang baby. Ada kak Kenn disitu gak?"


"Lah, kenapa gak bisa? Ngapain juga nanyain Kenn?"


"Kayaknya next step harus dimulai, baby,"


"Ada kabar apa lagi? si Kenn udah gak mau bahas tentang ini."


"Jenn lagi kacau. Dia mau ke club, dan kita semua mau nemenin."


"Gak, gak bisa. Apa-apaan kamu? Aku gak suka!"


"Gak bisa gitu dong, baby. Dia itu temen Aku. Aku harus nemenin dia dong. Gimana si kamu,"


"Kalo gitu aku ikut!"


"Lebih bagus, sama Kak Kenn sekalian. Ingat planning awal kita!"


"Hmm, baiklah. Tapi gak gratis yah!"


"Ck, selalu aja kek gitu. Udah ah. Ketemuan di club malam itu yah, bye."


Fio mengakhiri panggilan itu bersamaan dengan mobilnya yang masuk kedalam halaman rumah besar milik keluarganya.


Satu jam berlalu, dan trio PRJ ( Putri, Rossa, Jenn ) sudah siap. Putri dan Rossa sempat dibuat stres dengan penampilan Jenn. Bagaimana tidak, melihat tampilannya seperti sekarang, mereka takut akan mengundang perhatian orang-orang jahat dan akan terjadi hal-hal buruk. Mereka sudah melarangnya, tetapi Jenn tetap kekeuh dengan pendiriannya.


Otaknya yang kacau memaksanya melakukan slightly crazy thing. Menggunakan pakaian minim dan terkenal sexy, memang hal yang lazim bagi seorang Jennifer. Namun tetap saja ini tidak bisa dibiarkan. Mengingat tempat yang ingin mereka kunjungi sangatlah berbahaya.


Rossa kala itu menggunakan atasan sabrina crop top dengan celana jeans panjang ngepas di badan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Itu saja sudah membuatnya malu setengah mati. Tetapi demi menemani Jenn, dia rela. Hanya untuk malam itu.


Sedangkan Putri memakai atasan baju hitam lengan panjang press body sedikit ke atas, serta celana jeans panjang yang ngepas di badan juga. Putri sedikit biasa. Karena dia juga sering menggunakan bikini ketika kelas renang.


Sedangkan gadis cantik bertubuh mungil itu sendiri menggunakan atasan tank top crop berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya, juga memperlihatkan perut ratanya yang indah. Serta bawahan rok jeans denim sobek di atas lutut, dengan outer rajut batwing berwarna maroon. Tidak lupa boots hitam pendek menambah pesona seorang Jennifer Greecya.


Jenn sengaja ingin menciptakan sensasi baru bagi jiwa player-nya sudah lama terkubur, dengan menggunakan intuisi dan kemampuan multi-tasking nya kali ini. Incredible thing bukan?.


Mereka bertiga sedang menunggu Fio. Tidak lama setelah itu, terdengar klakson mobil di depan rumah. Ketiga gadis cantik itu pun berjalan keluar. Jenn dan Rossa langsung masuk kedalam mobil, sedangkan Putri tetap setia mengendarai trail kesayangannya.


"Wow, wow. You look so sexy, bebs. Sepertinya Jenn-nya kita sudah kembali. Ya gak, Sa?" Fio dibuat kagum melihat penampilan temannya dan juga raut wajah yang mulai ceria.


Dia lalu menjalankan mobilnya menuju club, yang diikuti oleh Putri dari belakang.


Rossa yang duduk di belakang, hanya mengangguk. Dia pun turut senang, meski sedikit khawatir.


"Cantik banget si, temannya siapa nih?" Fio masih saja menggodanya.


"Ck, gak usah lebay. Gue emang cantik hehehe." tertawa kecil. "Udah biasa kek gini juga. Dan kalian tau itu." lanjutnya santai.


"Hahaha,,, iya iya. Btw yang lain udah duluan di sana. Lagi nungguin kita." fokus menyetir.


"Ya udah, gasssss!" seru Jenn, sedikit mulai semangat.


Rossa yang di belakang hanya geleng-geleng.


Semoga sedih Lo cepat terobati dan gak lakuin hal gila ini lagi.


____________________


Di sisi lain, Farel sedang berusaha membujuk Kenn setengah mati.


"Ayolah Kenn. Katanya Lo cinta sama Jenn. Dia itu sedang dalam masalah, lagi kacau. Kalau terjadi sesuatu sama dia di sana gimana? Lo tega hah?" paksa Farel.


"Gak ada. Yang di sana, dia dan teman-temannya doang. Gak ada laki-laki di sana." belum juga mau menyerah.


"Pergilah! Gue capek, mau tidur. Lo aja yang nemenin mereka." sebenarnya ada rasa kesal di hatinya, melihat Jenn dan Reza pagi tadi. Pikirnya Reza pacar baru gadis itu. Dia merasa kalah lagi. Hal itu membuatnya enggan bertemu. Benar-benar kesal rupanya.


Farel tak habis akal. Dengan cepat ia menge-chat Fio meminta foto Jenn saat itu juga. Tak butuh waktu lama. Foto gadis cantik dengan tampilan sexy yang menggoda netra dan hasrat segenap kaum Adam, masuk di ponselnya. Farel menyeringai.


"Nih, liat!" mendekat lalu menunjukan layar ponselnya pada Kenn. Lelaki tampan itu melirik sebentar dan betapa shok melihat sorang gadis cantik sedang duduk di mobil dengan busana yang mempertontonkan sebagian tubuhnya. Perut putih rata dan paha mulusnya terekspos dengan bebas.


Kenn membuang mukanya ke tempat lain, memejamkan mata sambil menahan gemuruh di dadanya.


Farel tersenyum kecil melihat reaksi Kenn. Ini kesempatan memanas-manasinya.


"Lo mau ada yang melihat ini dengan gratis? Atau ... Lo mau para bajingan di dalam sana ngedeketin dia, terus megang-megang dia gitu? Siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Jenn? Apalagi dengan penampilan seperti ini. Gue gak bisa ngebayangin berapa banyak kaum Adam yang ak ... "


"Stop it! Bre****k Lo." bentaknya kemudian spontan berdiri dan meraih kerah baju Farel. "Jangan ngomong yang nggak-nggak tentang dia." terbakar rasa marah dan cemburu. Setelah itu, didorongnya tubuh Farel begitu saja, lalu meraih kunci motornya dan bergegas keluar menuju tempat yang disebutkan Farel tadi.


Farel tidak marah sama sekali. Dia paham betul Kenn seperti apa. Lagi pula memang itu tujuannya. Dan dia senang karena berhasil.


"Semoga Lo berhasil mendapatkan hatinya malam ini, Kenn." gumam Farel sambil tersenyum penuh harap, dan menyusul Kenn yang sudah keluar.


_____________________


Di club.


Fio yang baru saja memasuki area club itu, sudah disambut oleh teman-temannya. Setelah mobilnya terparkir dengan benar, ketiganya pun turun. Diikuti oleh Putri yang baru saja sampai.


"Ayo masuk!" ajak Alena.


Begitu gadis-gadis cantik itu masuk ke dalam, mereka memilih join table dengan stranger. Hal ini sebenarnya berbahaya. Namun karena tidak memiliki pengalaman yang cukup di tempat itu, maka hal itu pun dikira baik bagi mereka.


Di sana ada dua pria tampan yang terlihat mapan, yang sudah lebih dulu open table. Dengan senang hati, mereka menerima kehadiran gadis-gadis cantik itu. Salah satu dari pria itu begitu terpesona dengan Jenn. Matanya tak pernah lepas memandangi wajah cantik itu. Tidak ingin membuang waktu, lelaki itu mendekat lalu meminta berkenalan.


"Hai, boleh kenalan?" dengan sangat sopan.


"Oh yeah, of course!" langsung mengulurkan tangan mungilnya, yang disambut uluran hangat dari pria itu. "Jennifer. Call me, Jenn" memperlihatkan senyum mautnya.


"Bastian, panggil senyaman Lo aja." balas tersenyum. Lalu melepaskan tangannya.


"Oh iya, kenalin ini semua temen-temen Gue." memperkenalkan teman-temannya, lalu lelaki itu pun berkenalan satu per satu, dan bergantian dengan temannya yang satu lagi.


"Mau pesen minum apa, Jenn? Biar temen Gue yang pesenin," tawar Bastian.


"Apa aja, terserah Lo." sepertinya kemampuan multitasking-nya mulai beroperasi.


"Why?" mengedikan bahunya, karena Bastian menatapnya ragu. "Gue percaya kok, Lo gak bakal macam-macam." tenang dan tersenyum.


"Ok, as you wish, sweetie." meminta temannya memesan minuman untuk gadis-gadis itu.


"Mau coba yang ini sedikit?" memberikan gelasnya yang berisi red wine.


Tanpa ragu Jenn menerimanya lalu menghabiskannya sekali teguk. Cesss! sensasi rasa sepat dan hangat menjalarinya.


"Jenn, jangan sampai mabuk!" peringatan dari Putri yang khawatir.


Terlambat. Bagi Jenn and the geng-nya, juga kedua sahabatnya yang rata-rata alkoholik, tentu hanya dengan segelas wine saja, sudah dapat membuat mereka mabuk.


"Haha, calm down, Ada Gue kalo sampai hal itu terjadi" ucap Bastian, lalu menatap Jenn dengan lembut. "Dance sama Gue mau?" Jenn yang sedikit mulai kehilangan akal sehatnya mengangguk.


Bastian berdiri dan menarik tangan Jenn dengan lembut, menuju dance floor.


"Guys, Mini is back." seru Fio senang melihat temannya mulai kembali seperti dirinya yang dulu. Penakluk banyak lelaki.


"Wait!" menahan langkah Bastian. Gadis cantik bertubuh mungil itu melepaskan outer-nya, menyisahkan tank top crop saja.


Naluri kelakian Bastian seketika bergejolak. Namun sekuat tenaga ditekannya.


Setelah turun ke floor, hentaman musik yang cepat dan keras membangkitkan seluruh gerak tubuh Jenn. Gadis itu mulai menikmati dan meliuk-liukkan tubuhnya sesuai irama beat. Bastian semakin dibuat gila dengan sosok mungil di hadapannya, dan dia semakin flirty. Saat Bastian semakin merapatkan tubuhnya dengan Jenn, tiba-tiba sebuah tangan besar menariknya dan memberinya salam perkenalan pada wajahnya. Bastian bergeser mundur sambil mengelap ujung bibirnya yang ternoda. Kembali tangan besar tadi meraih kerah kemejanya.


"Berapa kali Lo sentuh dia? Bagian mana saja dari tubuhnya yang Lo sentuh, hah?" bentak lelaki itu penuh amarah.


Kerumunan di atas dance floor saat itu langsung menepi. Menyisahkan tiga orang ditengah sana. Satu gadis cantik di antara dua lelaki tampan.


Saat ingin memberikan satu bogeman lagi pada Bastian, gerakan lelaki itu terhenti. Ia terpaku begitu merasakan dua tangan kecil yang melingkar erat di pinggangnya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


.


.


.


.


.


to be continued ...


___________________


Udah yah, segitu aja dulu 😁 otornya ngantuk 🀭


tunggu kelanjutannya besok yah 😍😍


terimakasih sudah mampir πŸ™πŸ˜Š Jangan lupa like, komen, dan tambahkan ke favorit ❀️πŸ₯°


Selamat membaca πŸ€—πŸ€—πŸ₯°πŸ₯°