
"Aku sudah di depan, hon !"
"Ok, bi !"
Telepon singkat itu pun berakhir. Jenn yang sudah siap, langsung berjalan keluar dan menemui sang kekasih yang sudah setia menunggunya di depan rumah.
Jenn berhenti sejenak saat masih beberapa langkah lagi kedepan. Keningnya berkerut menatap sang kekasih. Ada yang berbeda. Penasaran, Jenn pun menghampirinya dan bertanya.
"Kenapa ?" tanya Jenn ambigu.
"Apanya ?" bingung dan balik bertanya.
"Kenapa hari ini pake motor ?"
"Nggak suka ?"
"Enggak, nanya aja. Tumben"
"Aku pengen berduaan sama kamu hari ini, honey ! pengen ngulang kenangan waktu awal ngejar-ngejar kamu dulu" tersenyum lembut pada gadis pujaannya.
Ya, hari ini Alvino sengaja menggunakan motor Ninja milik sepupunya, untuk berduaan dengan sang kekasih sepanjang hari. Mengulang kenangan 3 tahun lalu. Dimana waktu itu, dia dengan gencarnya mengantar jemput gadis cantik itu menggunakan motor untuk memenangkan hatinya.
Jenn ikut tersenyum. "Bentar, aku ngambil jaket dulu kalo gitu" Jenn yang hendak kembali masuk, ditahan oleh Alvino.
"Nggak usah, hon ! pake punya aku aja" Alvino melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada sang kekasih. Jenn menerimanya dengan senang hati.
"Are you ready, my girl ?" tanya Alvino menyunggingkan senyum manis, menampilkan lesung pipinya.
Jenn tersenyum dan mengangguk. Dengan berpegangan pada sang kekasih, gadis itu kemudian naik duduk dibelakang. Tidak menunggu lama, Jenn langsung melingkarkan tangannya di pinggang Alvino.
Keduanya melaju meninggalkan pekarangan rumah Jenn, dan menuju pantai.
"Kamu inget nggak, waktu pertama aku nawarin kamu naik motor ?" tanya Alvino sedikit teriak. Biasalah yah, bercerita dengan suara kenceng di atas motor itu sudah tak heran. Serunya nggak ada obat π π€
Jenn hanya mengangguk dengan senyuman yang dapat dilihat oleh Alvino lewat spion. Gadis itu menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih, sambil memeluk pinggang kekasihnya dengan erat.
"Kamu yang cantik dengan seragam putih abu-abu waktu itu, sangat polos dan pemalu. Pegangan aja mesti dipaksa dulu" menjeda dan tertawa kecil. "Sekarang nggak perlu di minta lagi, main langsung aja, udah nggak tau malu yah" lelaki itu terbahak.
Jenn mengurai pelukannya sebentar lalu memukul pelan punggung Alvino, namun ikut tertawa mengingat kenangan mereka dulu. Kemudian kembali memeluk Alvino lagi.
"Tapi aku suka. Jangan pernah berubah yah, hon" Alvino menarik sebelah tangan Jenn yang masih melingkar di pinggangnya. Mengangkat tangan mungil itu lalu mengecupnya dengan mesra.
"Ngga akan pernah, bi " menyatukan jemarinya mereka dengan erat.
Bersama cerita-cerita tentang kenangan dan canda tawa sepanjang perjalanan. Tanpa terasa, mereka telah sampai di tempat tujuan.
Terbentang di depan mereka, hamparan pasir putih dan deru ombak di lautan luas. Alvino menggenggam tangan Jenn dengan lembut dan menuntunnya menyusuri lorong giring hingga mencapai pantai.
Jenn yang begitu senang langsung melepaskan tangannya dari genggaman Alvino. Bak seorang anak kecil, gadis itu berlari-lari ke bibir pantai. Membiarkan kakinya basah dibasuh ombak kecil.
Alvino menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, dia bahagia melihat wanita pujaan hatinya yang begitu ceria saat ini.
Aku tidak akan pernah bisa menyakitimu, dan aku tidak akan pernah sanggup melihatmu sedih dan terluka.
Dalam lamunannya, ia di kagetkan dengan tangan kecil dan halus yang menariknya.
"Bi, kok ngelamun ?"
"Eh, enggak kok" menjawab kikuk dengan memaksakan senyum.
"Ayo, kita ke sana" menunjuk tempat yang tadi ia pijaki, sambil menarik-narik tangan Alvino.
Alvino pasrah mengikuti gadisnya. Jenn mengambil sebuah ranting kecil yang tergeletak tak jauh darinya. Dengan itu, dia mengukir namanya dan Alvino di atas pasir.
"Jangan di tulis disitu, hon" Alvino menarik tangan kekasihnya. "Nanti mudah terhapus ombak. Nulisnya itu di hati. Biar abadi dan nggak akan terhapus oleh apapun" menatap wajah cantik Jenn dengan tatapan lembut.
Jenn tersenyum balik menatap Alvino begitu dalam, dan lama.
"Nama kamu udah terukir di hati aku sejak tiga tahun lalu, bi"
"Dan untuk masa yang akan datang yah. Jaga, rawat, jangan sampai pudar dan terhapus" Jenn tersenyum dan mengangguk.
Keduanya berjalan bergandengan sampai di ujung pantai yang terdapat karang dan batu-batu besar. Alvino menuntun Jenn naik ke atas batu besar itu, keduanya duduk disana. Menikmati sejuknya angin pantai yang berhembus, serta suara deburan ombak yang menghantam karang.
Jenn bersandar di pundak kekasihnya. Dia teringat sesuatu.
"Bi, tadi malam kemana aja ? kenapa tiba-tiba ngilang gitu aja ?" pertanyaan Jenn membuat Alvino tersentak. Bibirnya terasa kelu.
Apa yang harus aku katakan ?
"Sorry hon ! semalam aku ... aku pas ke toilet dapat telepon mendadak. Lupa ngasih tau kamu, dan nggak sempat juga. Mendadak dan penting banget soalnya. I'm so sorry, honey" alibi Alvino.
Dan dari sinilah, kepincangan dalam hubungan mereka mulai tebentuk karena kebohongan. Dan akan ada lagi kebohongan-kebohongan lain kedepannya sejak saat ini.
"Setidaknya bawa aku pulang sama kamu. Aku ketakutan semalam, di paksa minum sama kenalan kamu itu" Jenn cemberut. Sementara Alvino tersentak.
"Hah, mereka ngapain kamu, honey" tanya Alvino dengan panik, memeriksa kekasihnya dari atas hingga ke bawah. "Breng**k, aku akan membuat perhitungan dengan mereka" geram Alvino. Dia tahu, Verlita dibalik semua ini.
"Nggak usah, bi ! aku nggak kenapa-napa. Aku baik-baik aja kok, untungnya ada kak ... " Jenn tersadar dan menghentikan kalimatnya. Hampir saja dia menyebut nama laki-laki lain di depan Alvino.
Alvino mengernyit. "Ayo teruskan, untungnya apa ? ada siapa ?" menatap Jenn dengan tatapan menyelidik.
"Eng, a - ada ... ada orang yang nolongin aku" terbata dan gugup dengan tatapan Alvino.
"Sakit, bi !" suara lembut Jenn selalu mampu menyadarkan Alvino dari ketidak sadarannya, seperti biasa.
"Maafkan aku" membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Aku takut ada orang lain yang buat kamu nyaman dan berpaling, hon" Alvino mengeratkan pelukannya. Belum apa-apa, lelaki tampan itu sudah khawatir.
Astaga ! maafin aku, bi. Dia udah nyamankan aku. Tapi bukan berarti aku berpaling dari kamu. Itu nggak mungkin kan ?
Entah apa yang dirasakan oleh Jenn. Seberkas keraguan menyusup dalam benaknya. Dibalasnya pelukan sang kekasih tak kalah eratnya. Mencoba mengikis keraguan yang diam-diam menghampirinya.
"Aku juga minta maaf, bi"
Bagaimana bisa aku berpaling dari kamu, jika rasa ini seperti buih pantai di pantai ini. Meski pasang surut, namun tak pernah hilang.
"Nyari minum yuk !" Jenn mengangguk.
Mereka turun dari batu besar lalu mencari minuman. Setelah mendapat tempat untuk membeli minuman, keduanya duduk bersantai disana dan menikmati minuman.
"Kita nungguin sampe sunset yah, bi" pinta Jenn. Alvino mengangguk.
_________________
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, langit mulai diwarnai semburat jingga. Matahari perlahan bergerak ke peraduannya.
Jenn berlari ke tepian pantai. Dia ingin menikmati langit senja itu. Alvino mengikuti langkah kecil kekasihnya.
"Suka sama senja ?" tanya Alvino. Jenn mengangguk.
"Bukan cuman indahnya yang terlihat, bi. Tapi maknanya juga" ucap Jenn.
"Emang kamu tahu maknanya apa ??"
"Akhir dari sebuah perjalanan tak selalu sedih dan menyakitkan. Namun juga meninggalkan kesan terindah"
"Yah, kamu benar. Kesan indah yang akan sulit tuk dilupakan. Dan yang terpenting meskipun ia pergi, namun esoknya kembali lagi dengan indah yang tetap sama" tersirat makna dan tujuan dalam ucapannya. Namun tak di mengerti oleh Jenn.
"Yups, kita mesti belajar dari senja. Cara menutup dan berpamitan secara benar dan indah. Kemudian berjanji akan kembali lagi, meski tak ditunggui" ucap Jenn yang tak disadarinya, telah menampar Alvino. Dimana dia yang tidak berani dan tidak sanggup untuk menutup kisahnya bersama gadis cantik itu.
Alvino meraih jemari tangan Jenn. Mengusap dan meremasnya lembut.
"Jen ... "
"Hmm"
"Besok sore ... aku sudah mesti balik, hon" percayalah, Alvino sangat berat mengucapkan ini.
Kaget dan melepaskan tangannya. Mendongak menatap Alvino dengan raut sedih.
"Kenapa cepat sekali, bi ? biasanya juga seminggu, bahkan lebih. Kenapa ? nggak sayang lagi sama aku ?" matanya mulai terasa perih.
"Hei, mana bisa aku nggak sayang sama kamu ? semua rasa sayang dan cinta aku udah habis. Semuanya sudah buat kamu. Nggak ada yang tersisah lagi, Jenn" kembali meraih tangan Jenn.
"Terus kenapa cepat banget baliknya ?" matanya mulai mengembun.
"Ada urusan, hon. Dan aku juga mesti segera nyelesain skripsi. Kan biar bisa cepat balik lagi sama kamu disini" berusaha membujuk kekasihnya.
Jenn yang sudah tidak dapat menahan, perlahan air matanya meluncur begitu saja. Alvino yang melihat itu pun tak kuasa. Dia membawa Jenn ke dalam pelukannya. Mengusap punggung dan membelai mesra surai gadis cantik kesayangannya.
"Percayalah, aku akan kembali lagi seperti biasanya, honey" dihujaninya kepala gadis itu dengan kecupan.
"Aku belum puas lewati waktu bersama kamu, bi. Tinggalah beberapa hari lagi" mendongak menatap Alvino dengan tatapan memohon. Demi apapun, Alvino ingin membunuh dirinya sendiri, karena telah menumpahkan air mata kekasih hatinya. Dalam hatinya, lelaki itu mengutuki dirinya sendiri.
"Aku janji, nggak bakalan lama disana honey. Hanya beberapa bulan" menghapus air mata Jenn. "Aku minta sama kamu, jangan pernah dengar apapun yang dikatakan orang lain tentang aku, atau hubungan kita. Percayalah bahwa kita akan selalu bersama meskipun jauh. Bisa kan ?" Jenn mengangguk dengan air mata yang terus mengalir.
"Satu hal lagi. Berjanjilah padaku, kamu akan tetap menjadi rumah untuk aku kembali, Jenn. Jangan berubah dan tetap tunggu aku kembali. Aku nggak punya tempat pulang disini, cuman kamu tempatnya" Jenn semakin sedih. Air matanya tak mau berhenti.
Keduanya berpelukan begitu erat di bibir pantai. Di bawah langit senja yang menjadi saksi kedua insan itu mengikat janji dan mengukir kenangan manis disana.
.
.
.
.
.
to be continued ...
______________&&&____________
Hai semuanya π
Jangan lupa tinggalkan jejak yah π
Jangan pelit ngasih jempolnya π€πβοΈ
Thinkyuuuw buat yang udah mampir ππ
And happy reading buddies πβ€οΈ