
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Di rumah Jenn dan Kenn. Sepasang suami-istri itu tidak pernah melewatkan hari tanpa kemesraan yang mereka ciptakan. Semakin hari, keduanya semakin romantis dan terlihat bahagia.
Pagi ini Jenn bangun agak terlambat, karena semalam ia dan Kenn berkunjung di rumah Farel sampai hampir larut di sana. Sudah beberapa hari ini, bumil cantik itu banyak menghabiskan waktu bersama Fio. Karena besok adalah hari pernikahan teman baik mereka berdua, Farel dan Fio. Banyak yang telah dipersiapkan.
"Pagi, Yang!" sapa Jenn pada suaminya yang tengah menyiapkan sarapan.
Kenn tidak lagi kaget ketika tangan kecil itu melingkar di perutnya. Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan sang istri, bahkan ia sendiri pun kerap melakukan hal yang sama pada Jenn.
"Pagi, Sayangku." Kenn tersenyum manis. "Udah bangun yah?" Jenn mengangguk sambil menguap lebar. Kenn terkekeh mendengar itu. Ia membalikkan tubuhnya menghadap sang istri.
Cup!
Kenn mengecup singkat bibir ranum sang istri. "Sarapan dulu yah, abis itu baru tidur lagi." Memeluk tubuh kecil Jenn yang terlihat semakin berisi dari sebelumnya.
Jenn menggeleng. "Udah gak ngantuk kok," ucap Jenn sambil mengucek matanya membuat Kenn gemas melihat hal itu. "Hempp, iiihhh, Sayaaaaaanggg!" Rengeknya sambil memukul dada Kenn. Lelaki itu menghujani wajahnya dengan ciuman di sana-sini.
"Ha-ha-ha, gemes banget sih." Mencubit pelan hidung bangir istrinya. "Makin hari kok makin cantik yah?"
"Gombal." Jenn hendak melepaskan diri, tapi Kenn semakin mengeratkan pelukannya.
"Beneran, Sayang. Makin hari tu, kamu makin cantik. Apalagi pas bangun tidur gini, bawaannya pengen gigit, pengen makan kamu," ucap Kenn dengan senyuman penuh arti. Namun, itu bukanlah gombalan seperti yang dikatakan Jenn. Ia mengatakan yang sejujurnya.
Jenn tergelak mendengar ucapan suaminya. "Selezat apa sih emang? Perasaan ... makan tiap hari gak pernah bosan apa?" Masih saja tertawa.
"Enggak dong. Gak ada bosannya, dan gak akan pernah bosen sedikit pun." Kenn tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. "Boleh makan sekarang gak? Natap gini aja bikin ngiler," ucap Kenn dengan memelas.
"Ya udah, ayo makan!" ucap Jenn dengan wajah berbinar membuat Kenn seketika bersemangat. Ia hendak membawa tubuh istrinya kembali ke kamar, tapi Jenn malah memukulnya dan melepaskan diri. Ia memilih menghindar. "Mau kemana emang?" tanya Jenn sambil menahan tawa.
"Kamar." Menunjuk ke arah kamar tidur mereka.
"Ngapain?" tanya Jenn lagi. Percayalah, wanita itu sedang menahan tawa setengah mati. Apalagi melihat wajah suaminya yang sudah dipenuhi hasrat.
"Tadi katanya ajak makannnn." Suara Kenn terdengar berat menahan sesuatu yang ingin segera dituntaskan.
Jenn langsung melangkah melewati suaminya. Ia mengambil wadah untuk memindahkan omelet bayam dan nasi merah yang sudah dibuatkan Kenn, lalu menyajikannya di meja makan.
"Maksudnya, makan yang sudah kamu buatkan ini, Sayang," ucap Jenn enteng tanpa dosa. Sementara Kenn langsung lemas seketika, tapi Jenn pura-pura tak melihat.
Ia malah berbinar sekali melihat apa yang di masak suaminya pagi itu. Ia pun menyiapkan piring untuk mereka berdua tanpa menggubris Kenn yang sudah kesal setengah mati.
Kenn yang merasa dipermainkan, mengeram kesal. Ia mendekati Jenn dan memeluknya begitu erat. "Udah pinter ngerjain aku yah," bisik Kenn sensual sambil mencium leher jenjang istrinya. Seketika Jenn terbahak membuat Kenn semakin kesal. Dengan nakal ia pun meninggalkan jejak kepemilikan di leher sang istri.
"Sayaaaaaanggg!!!" pekik Jenn. "Aaaaaa, jail banget sih, besok aku gimana kalo kek gini?" Merengek sambil menghentak-hentakan kakinya.
Jenn khawatir akan memakai gaun yang sudah disiapkan untuk menghadiri pernikahan Fio besok. Gaun panjang dengan model terbuka pada bagian atas. Tentu saja perbuatan Kenn akan mengganggu penampilannya. Kesal sekali rupanya.
"Bagus dong." Kenn tersenyum puas melihat karyanya. "Sekalian gak usah pake baju, trus tinggal di rumah aja. Itu hukuman karena udah ngerjain suami." Kenn terkekeh dan meminta maaf. "Kan bisa ditutupin pake fondation, Sayang. Maaf deh maaf, ayok makan! Keburu dingin sarapannya." Sudah melupakan hasratnya.
Keduanya lalu memulai sarapan bersama meski wajah cantik Jenn masih tetap cemberut. Setelah sarapan, Kenn membantu Jenn membersihkan piring kotor, diwarnai dengan kejailan keduanya yang saling menyiram dan melempar busa ke wajah masing-masing. Rumah minimalis itu dipenuhi dengan canda tawa di pagi hari.
Tidak lama setelah itu, selesai mandi, Kenn bersiap-siap ke tempat kerjanya.
"Nanti siang aku nyusul yah." Jenn menggantarkan suaminya di depan rumah.
"Aku menunggu, Sayang." Kenn mencium kening dan perut istrinya. "Hati-hati yah." Ia menghidupkan motornya lalu berlalu dari sana diiringi lambaian tangan sang istri yang mengantarnya.
Setelah kepergian sang suami, Jenn langsung masuk dan beres-beres. Bumil cantik itu berniat menyiapkan dan membawakan makan siang untuk suaminya.
...*****...
"Akh, kesiangan lagi." Melihat jam dinding dimana waktu sudah menunjukkan pukul 08.40.
Gadis tomboi itu turun dari tempat tidur dan hendak melangkah keluar kamar, tapi suara pintu kamar mandi menahan langkahnya.
"Baru aja mau nyari Lo ke luar ...." Ucapannya tergantung begitu melihat wajah sembab sahabatnya. "Lo kenapa? Habis nangis?" Kembali melangkah mendekati Rossa.
"Gak kok. Sakit kepala aja semalaman," ucap Rossa sambil memegangi kepalanya.
"Lah, kok ... bisa samaan gini sih?" Keduanya saling tatap. "One heart, one taste, friends forever!!!" seru kedua gadis itu lalu berpelukan sambil tertawa.
"Tapi kepala gue gak sakit-sakit amat, masak yuk! Hari ini nyonya Kennand kan mau ke sini," ucap Putri yang begitu antusias.
"Oh iya." Rossa menepuk jidatnya. "Gue bisa lupa sih." Ia tersenyum kecil. "Duluan nanti gue nyusul." Sambungnya.
Putri langsung berjalan keluar dari kamar menuju dapur, sedangkan Rossa masih berdiam di tempatnya. Gadis itu mengusap memejamkan matanya. Wajahnya yang tadi cerah ceria, kini berubah mendung. Entah apa yang dirasakan dan dipikirkannya, tapi jelas sekali bahwa ada sesuatu yang membebaninya.
Sebelum menyusul sahabatnya, gadis kalem itu berupaya memasang wajah cerianya kembali, menutupi gundah yang tengah menyiksanya.
...*****...
Sebuah taksi berhenti di depan sebuah bengkel resmi. Tampak seorang gadis cantik keluar dari sana dengan menenteng goody bag berukuran sedang.
Setelah membayar taksinya, ia masuk ke dalam dengan langkah riang. Senyum manis tersungging di bibir mungilnya. Sebahagia itu ingin menemui lelaki kesayangannya.
Tidak perlu bertanya lagi ke sana kemari, si cantik itu langsung menuju tempat yang sudah sangat dihafalnya.
Masih beberapa langkah lagi di depan sana, tiba-tiba saja sesuatu menyentuh kakinya.
Bukkh!
"Aaakhhh!"
"Jenn!!"
..._____π»π»π»π»π»_____...
...Kamu adalah iman yang telah teraminkan....
...Bahagia saja tidaklah sanggup menandingi rasaku....
...Terima kasih yang besar pun tak akan pernah cukup mewakilkan lisanku pada Tuhan dan semesta....
...Bersama hingga akhir hayat nanti, adalah doa yang telah menyatu dengan nadiku, dan berdetak berirama bersama dalam amin yang paling serius....
..._Kennand Wira_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
Hay sayangΒ²ku π Ketemu lagi π€
Ini part pengantar tidur malam ini π
Terima kasih buat yang selalu menunggu ππ
Jangan lupa like dan komen yah Readersku yang baik hati dan tidak sombong hehe π
Sampai jumpa di episode berikutnya ππ€
Ig author : @ag_sweetie0425