Simple But Perfect

Simple But Perfect
Sejak Kapan Cinta itu Ada?



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Dengan mengumpulkan segala keberanian, pertimbangan, serta segala resikonya, Putri dan Reza membeberkan semua kebenaran pada Jenn.


Kaget, itu pasti. Malahan Jenn sangat shock mendengar hal itu. Ia tak habis pikir. Bahkan sekeras apapun ia mencoba, otaknya tidak cukup mampu untuk menyingkap hal yang terlalu mustahil itu.


Bagaimana bisa sahabatnya yang baik, kalem, dewasa, dan tidak pernah mengenal yang namanya pacaran, tiba-tiba bisa hamil? Sahabat dengan sikap keibuannya, yang sering banyak menasehati dirinya dan Putri, kenapa bisa mengalami hal yang rasanya tidak mungkin? Omong kosong macam apa ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar berulang kali di kepala Jenn.


Bahkan pertanyaan terbesarnya, saat itu adalah bagaimana bisa dia melakukan hal itu dengan Alvino? Bertemu di mana mereka? Hanya sebuah insiden ataukah salah satu dari mereka melibatkan perasaan dalam hal ini? Sejak kapan Rossa belajar menyembunyikan hal darinya dan Putri?


Namun, dari penggalan-penggalan cerita yang diungkapkan Reza dan Putri, Jenn bisa menarik satu kesimpulan yang ia pun tidak begitu mempercayainya.


Jenn sedang berdiam diri di kursi dekat tempat tidur pasien, dengan sekelumit pikiran dan perasaan yang kacau.


Beberapa kali Kenn memanggilnya untuk menunggu sembari berbaring sebentar di sofa, tapi ditolaknya. Ia ingin tetap berada di samping gadis kalem yang sering dipanggilnya mami. Menunggu sampai gadis itu bangun dari tidur lelapnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Baik Jenn dan Kenn, Putri maupun Reza, semuanya masih setia menunggu dalam diam.


Hingga sebuah suara ayu menyadarkan dan menarik keempat orang itu dari jauhnya pikiran yang mengajak mereka berkelana sedari tadi.


"Di mana ini?" Suara itu terdengar lirih.


"Sa," sapa Jenn datar.


Rossa terperanjat mendapati Jenn yang duduk di sampingnya. Gadis itu mendadak gugup tak bergerak. Saat ia ingin memalingkan wajahnya, Jenn refleks berdiri dan menahan tangannya.


"Look at me," ucap Jenn dengan nada pelan seperti biasanya.


Rossa menggeleng. Ia tidak memiliki keberanian besar untuk menghadapi Jenn. Rasanya ia tidak memiliki wajah sama sekali di depan sahabatnya itu.


"Banyak yang ingin gue tanyain sama Lo. Tapi tidak sekarang. Kali ini gue cuman ingin tau alasannya. Apa ini hanya sebuah insiden tanpa kesengajaan? Ataukah ada sebuah rasa di balik semua ini?" tanya Jenn dengan lembut tapi tegas.


Sekali lagi Rossa menggeleng. Tanpa permisi air matanya sudah lebih dulu menetes. Hanya untuk melirik saja, ia malu melakukan itu.


"Maafin gue, Beb. Dan jangan tanyakan apapun. Please, tinggalin gue sendiri!" pinta Rossa dengan suara serak. Perlahan ia melepaskan tangan Jenn yang menahannya.


Jenn menarik nafasnya pelan, lalu menghembuskan dengan perlahan. "Ok, baiklah. Gue langsung saja kasih tau ini sama Al." Langsung menekan pada titik kelemahan yang diketahuinya dari Reza dan Putri.


"No! Jangan, Bebs." Gadis itu langsung bangun dan terduduk. Dengan sendirinya, ia kembali maraih tangan Jenn.


Jenn menatapnya dengan lembut. "Sekarang jujur sama gue." Balas menggenggam tangan Rossa. "Apapun alasan Lo, gue orang pertama yang bakal selalu ngasih support." Jenn meyakinkannya.


Rossa menundukkan kepalanya dengan tangis yang tak mereda. Ia bingung bagaimana menuturkan hal memalukan itu pada Jenn.


"Lo ngerasa malu sama gue dan yang lainnya?" tebak Jenn langsung.


Rossa mengangguk pelan.


"Kita teman Lo bukan?" tanya Jenn lagi. "Kita masih sahabat Lo kan?" Gadis itu kembali mengangguk. "Lalu kenapa harus malu?" Rossa masih saja bungkam. Ia tidak tahu harus seperti apa menghadapi wanita di hadapannya saat itu. "Jangan katakan seperti yang diucapkan Reza dan Putri. Jangan bilang Lo merasa seperti seorang penghianat. Sebab jika benar itu yang Lo rasakan, maka gue sudah bisa menebak isi hati Lo." Tandas Jenn.


Seketika Rossa mengangkat pandangannya menatap Jenn. Ia berharap apa yang menjadi dugaan Jenn tentang dirinya salah.


"Mau katakan sendiri, atau gue saja?"


Cara Jenn memaksanya berbeda dengan cara Putri yang bar-bar. Jika Putri dengan ketidaksabaran dan sedikit kekerasan, maka Jenn hanya cukup dengan sedikit bersabar dan tetap tenang tapi tepat meluluhkannya.


Sambil meremas jemarinya, Rossa memberanikan diri untuk berbicara. "Gue ... gue ... gue ...."


Putri yang mendengar kegugupan sahabatnya, merasa jengkel. Namun, Jenn justru tersenyum kecil menanggapinya. Ia semakin yakin dengan kesimpulan yang sempat ia ragukan. Kali ini ia benar-benar yakin dengan dugaannya.


"Sudahlah, gak usah diteruskan. Gue ngerti perasaan Lo." Jenn menangkup wajah sembab sahabatnya. "Kapan?" tanyanya ambigu.


"Sejak kapan cinta itu ada?"


"Apa???" Putri tampak terkejut mendengar hal itu. "Gak salah, Jenn?" Putri yang sedari tadi duduk berjauhan dari keduanya, kini bangkit dan mendekat. "Gak, gak, gak. Impossible banget. Hahaha! Gak lucu, guys," ucap Putri sambil tertawa tak percaya. Ia berpikir ini hanyalah kekonyolan dua sahabatnya.


"Iya, Jenn. Gak! Lo salah. I-ini gak seperti yang Lo pikirkan. Gu-gue minta maaf udah ngecewain kalian berdua." Bantah Rossa pada dugaan Jenn, dan ia membenarkan ketidakpercayaan Putri.


"Lo gak bisa bohong sama gue. Kalo Lo gak cinta sama dia, kenapa harus merasa seperti seorang penghianat di depan gue? Kenapa Lo selalu ngikutin dia diam-diam kemanapun? Ayo jawab?" Nada Jenn sedikit meninggi.


Seperti yang diceritakan Reza bahwa ia kerap mendapati Rossa yang diam-diam selalu berada di dekat Alvino. Waktu lelaki itu kecelakaan dan masuk rumah sakit, ia sempat melihat Rossa di sana. Beberapa kali ia kerap mendapati gadis kalem itu mendatangi club malam, tempat pelarian Alvino. Hingga suatu malam keduanya berakhir di sebuah hotel, dengan Alvino yang dalam keadaan mabuk berat.


"Gak punya jawaban kan? Lantas apa yang mau Lo jadikan dalil? Ini hanya sebuah ketidaksengajaan? This is just an accident, gitu?" Cecar Jenn semakin menaikan nada bicaranya. "Lo harusnya mikir, jangan jadikan gue beban, justru Lo harus jadikan gue solusi. Kenapa? Detik ini juga, gue bisa menemui dia dan meminta pertanggungjawaban darinya. Gue bisa memohon pada orangtuanya buat nerima Lo. Sekalipun dia menolak, gue tetap akan memaksa dan memperjuangkan demi Lo," ucap Jenn berapi-api.


"Benar, Sa. Gue rasa Jenn bisa dan hanya dia orang yang tepat untuk masalah Lo saat ini." Timpal Reza. "Karena jujur saja, gue juga gak tau mau ngasih tau kayak gimana sama abang gue dan orangtuanya. Kalian tau kan abang gue orangnya gimana? Jadi, tolong Lo jujur, biar kita pun bisa mikir jalan keluarnya." Lanjutnya lagi.


"Mereka itu sayang sama Lo, Sa. Mereka gak mau liat Lo susah sendiri." Kenn ikut menimpali. "Kalo soal Jenn, Lo gak usah ngerasa gak enak dan segala macam." Kenn menghampiri istrinya. "Dia hanya masa lalu. Mereka udah gak ada urusan sama sekali. Jadi Lo tenang aja." Kenn merangkul pundak istrinya. "Iya kan, Sayang?" Jenn tersenyum dan mengangguk.


Ia menatap Rossa lagi. "Lo denger kan? Gue gak ada sangkut pautnya dalam hal ini. Gue udah punya suami, dan gue sangat mencintainya. Jadi jangan Lo berpikir yang macem-macem. Gue di sini buat ngedukung Lo, Beb."


Kembali Jenn menggenggam tangannya dengan tatapan yang meneduhkan.


"Dengar, Sa. Justru gue mau makasih banget sama Lo, udah mau masuk dalam kehidupannya." Tidak hanya Rossa, semua dari mereka menatap Jenn dengan pandangan bertanya. "Saat dia lagi hancur dan kacau karena gue, gak ada seorang pun yang ada buat dia. Mungkin yang mendekatinya hanya untuk memanfaatkan saja. Tapi gue tau, Lo tulus ngedeketin dia." Mata Jenn mulia berkaca-kaca, dan mereka pun mulai memahami apa maksud wanita cantik itu. "Gak ada seorang pun yang bersedia terluka dengan seseorang yang masih hidup dengan masa lalunya. Hanya Lo yang rela melukai diri sendiri. Di sinilah gue mau berterima kasih dan memohon sama Lo, Sa." Air mata Jenn tak terbendung lagi. "Mungkin Lo adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk mengisi kekosongannya. Mungkin Lo adalah jawaban dari setiap doa-doa yang gue panjatkan selama ini." Lirih Jenn. "Lo tau, walaupun udah gak ada rasa sama sekali buat dia, tapi gue selalu nyelipin nama dia di setiap doa gue. Gue minta sama Tuhan buat ngasih dia wanita yang jauh lebih baik dari gue. Dan sekarang gue yakin, Lo adalah wanita baik itu." Kenn tersenyum melihat kedewasaan istrinya. "Gue mohon sama Lo, tetaplah mencintainya, jangan berpikir tuk lari dari hidupnya. Jangan sakiti dia seperti gue."


Kedua perempuan itu menangis sesegukan sembari saling berpelukkan erat. Susana haru pun mendominasi ruangan rawat inap saat itu. Kenn dan Reza merasa lega mendengar hal itu.


Semua tampak mendukungnya, hanya Putri seorang yang bertolak belakang dengan pikiran mereka.


"Maafin gue, Jenn." Tetap saja ia masih merasa tidak enak hati dengan Jenn.


"Jangan ucapkan itu lagi." Jenn melepaskan pelukan mereka. "Ingat apa yang gue ucapkan tadi. Jangan kecewain gue, Sa. Gue berharap banget sama Lo. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Trust me!"


..._____☘️🌾☘️🌾☘️_____...


...Dirinya ibarat langit dengan segala kemegahan....


...Aku hanyalah bumi yang selalu menatap dari kejauhan dengan segudang kekaguman....


...Berdiam dengan rindu yang ku rahasiakan....


...Suatu saat nanti jangankan gerimis, hujan badai pun aku tak akan berteduh. Sebab bagiku, mencintaimu adalah sakit yang manis....


..._Rossa Glyn_...


...###...


...To be continued ......


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya πŸ‘‹ baru nongol nih setelah libur up sehari kemarin 😁


Makasih buat kalian yang masih selalu setia mampir di karya receh ini πŸ™


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Cerita ini sebentar lagi akan tamat, tapi makin sepi aja 😌🀧


Sampai jumpa aja deh di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425