
...Hola epribadeeeh ποΈ Ketemu lagi π€...
^^^Jangan lupa untuk selalu like dan komen yah π₯°^^^
...Semangati otor yang udah malas ini π π€...
...Happy Sunday, happy healthy, dan ......
...~ Happy Reading ~...
...________________...
Malam itu berlalu dengan bahagia tiada tara. Acara sederhana itu pun berakhir, tetapi kisah Jenn dan Kenn tak hanya sampai di situ. Masih terbentang panjang perjalanan yang akan mereka tempuh ke depan, dan ini akan menjadi awal yang baik untuk keduanya.
Semuanya kembali ke rumah masing-masing. Kali ini Jenn pulang bersama Kenn yang diantarkan pasangan double F (Farel dan Fio). Sedangkan Rossa dan Putri pulang diantarkan oleh Reza. Yuni dan Reta pulang dengan mobil masing-masing. Dan ... oh yah, jangan lupa seorang wanita paruh baya cantik yang meminta Jenn untuk memanggilnya 'Ibu', dia adalah ibunya Kenn. Wanita tua yang sempat membuat Jenn merasakan hal-hal yang familiar, ternyata adalah wanita yang telah melahirkan seorang lelaki hebat untuk menemaninya.
Calon ibu mertuanya pulang bersama kedua orangtuanya, diantarkan oleh supir keluarga Farel. Sedangkan orangtua Farel bersama adiknya Fanya, mengendarai mobil sendiri. Tujuan mereka adalah rumah keluarga Farel. Benar, ibunya Kenn dan orangtuanya Jenn, menginap di rumah keluarga Prasetyo, atas permintaan orangtua Farel.
Mobil yang dikendarai Farel melaju ditengah pekatnya malam menuju rumah Jenn terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, Kenn tak membiarkan dingin menyentuh wanitanya barang sedikitpun. Tangan besar itu mendekap Jenn dengan erat, mengurung tubuh mungil itu dalam peluknya, melindunginya dari belaian angin malam yang dengan lancang ingin menyentuh wanitannya.
Fio dan Farel merasakan bahagia yang tak terhingga sebab, perjuangan mereka kala menyatukan dua hati itu berlanjut hingga ke tahap seperti ini. Apa yang mereka harapkan, terwujud dengan alami.
"Sekali lagi, selamat Bebs!" ucap Fio dari jok depan. Ia pun tengah bersandar damai di pundak Farel yang tengah fokus dengan kemudi. "Bahagia selalu ke depannya. Gue bahagia banget buat Lo." Fio menegakan tubuhnya dan berbalik melihat Jenn yang masih bermanja di dada bidang Kenn.
"Thanks, Bebs. Doa yang sama, bahagia selalu buat kalian juga." balas Jenn tulus. "Btw, Lo jahat banget nyembunyiin ini semua dari gue." Jenn mencebik kesal.
"Ha-ha-ha, gue mesti gimana, Bebs? Ini semua permintaan kak Kenn. Gue sama Reza gak bisa nolak. Jadi kalo mo marah ... noh, marah aja sama calon suamimu itu." kata Fio dibarengi tawa.
Dengan wajah yang ditekuk, Jenn beralih mendongak menatap kesal seraut wajah tampan yang masih mendekapnya erat.
Kenn nampak tersenyum kecil melihat wajah kesal kekasihnya yang malah menggemaskan di matanya. "Apa?" tanya Kenn sambil mencubit pelan pipi Jenn.
"Jahat!" Jenn memukul dada bidang yang menjadi sandarannya sejak tadi. "Bisa-bisanya gak ngasih kabar. Jahat, jahat, jahat!" Jenn terus saja memukul dada Kenn. Laki-laki itu menangkap tangan kecilnya dan menggenggamnya lembut.
"Kalo ngasih tau ... bukan kejutan lagi namanya, ya kan?" ucap Kenn dengan tetap tersenyum.
"Tapi nyesek tau. Nahan kangen seminggu lebih, udah gitu kepikiran yang aneh-aneh lagi," seru Jenn masih dengan kekesalan. Sedangkan Farel dan Fio sebagai tim penonton, merasa senang menyaksikan itu.
"Bilang aja ragu. Kamu ragu sama aku kan? Iya kan?" tanya Kenn pelan.
Kali ini Jenn langsung tertunduk. Ia menyembunyikan wajah sendunya dan rasa bersalah. Ia menyadari telah begitu bodoh dalam mengartikan besarnya cinta Kenn. Ia kecewa pada diri sendiri yang telah begitu naif mengotori hati dan pikirannya dengan keraguan. Pengalaman pahit karena pernah ditinggalkan, menjebaknya pada kisah yang baru.
Kenn melepaskan tangan mungil yang digenggamnya, kemudian dengan telunjuknya, ia mengangkat wajah cantik yang sedang tertunduk. "Udah lupa apa yang pernah aku bilang dulu? Malam dimana kita baru jadian. Benaran udah lupa?" tanya Kenn.
Tatapan teduhnya seolah membimbing Jenn agar kembali berjalan mundur mengulang masa yang telah silam. Sorot matanya benar-benar menuntun Jenn hingga wanita itu menemukan kilasan kenangan akan titik awal ketika kisah cinta mereka dimulai.
Jangan pernah sakiti aku! Karena ketika aku mencintaimu, aku sudah tidak tau cara untuk berhenti lagi. Dan aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Jangan berpikir untuk pergi dan mencari yang lain. Karena saat aku memilih kamu, aku sudah tidak bisa lagi melihat yang lain. Hanya kamu, Jenn! Kamu yang pertama, dan aku berjanji ... kamu juga yang terakhir. Kamu satu-satunya!
Kata-kata itu kembali terngiang di ingatannya, berdengung berulang kali, menggemakan kembali ayat-ayat cinta yang pernah terlafal, menegaskan sekali lagi bahwa cinta itu hanyalah dia, untuk dia dan tidak ada duanya.
Seketika ia memejamkan matanya dan wajah cantiknya yang sudah sembab sejak lamaran indah tadi, kini basah kembali oleh air mata penyesalan.
Melihat itu, Kenn melepaskan tangannya dan menghapus bulir-bulir bening yang menyamarkan paras cantik wanitanya. Ia lalu kembali memeluk calon ibu dari anaknya itu.
"Maafkan aku!" lirih Jenn.
"Iya, sayang! Aku mengerti ketakutanmu. Lupakan ini dan pupuk kembali cinta kita bersama-sama. Aku yang akan memupuk dan menyiramnya setiap saat." Kenn mencium kepala Jenn penuh sayang. "Udah, jangan nangis lagi yah, cukup untuk malam ini saja. Tidak akan ada lagi tangis kedepannya. Kalo pun ada, itu hanya tangis bahagia, bukan kesedihan. Aku janji!"
Jenn mengangguk lalu menghentikan tangisnya, ia mengangkat wajahnya menatap Kenn dengan lekat. "Bagaimana cara kamu meluluhkan hati ayah? Aku tau ayah seperti apa, gak semudah itu kamu bisa dapat restunya kan? Kasih tau aku, Kak!" Jenn memelas.
Lelaki tampan itu terkekeh. "Itu urusan lelaki, sayang!" Ia mengacak rambut kekasihnya. "Kamu hanya perlu tahu bahwa, waktu seminggu lebih yang telah berlalu gak sia-sia. Kangennya dibayar tuntas, kan?" Kenn mengedipkan matanya menggoda Jenn.
Jenn tersenyum manis, tangannya membingkai wajah tampan lelakinya. "Iya, tuntas! Terima kasih, sayangku!" Ia pun menghadiahi satu kecupan singkat dan manis di bibir Kenn.
Batin Kenn sambil mendekap erat wanitanya, sembari mengingat kembali perjuangannya seminggu lebih ini.
*Flash back*
Malam setelah Kenn kembali dari lokasi KKN kekasihnya, ia langsung menemui Farel pada waktu dini hari itu juga. Karena perjalanan yang jauh, ia baru tiba di rumah Farel dini hari pukul 02.15. Sebelumnya ia sudah lebih dulu menghubungi temannya itu untuk menunggunya.
Kenn lalu menceritakan kondisi Jenn dan mengenai rencananya. Ia meminta izin dari pekerjaannya sementara waktu. Dengan senang hati Farel mengizinkan serta bersedia membantunya kapan saja dia butuh.
Hari sudah hampir pagi kala itu, dan Kenn tetap saja tidak bisa terpejam barang sedikitpun. Ia memilih mengusir lelah selama perjalanan tadi di balkon kamar Farel. Raganya di tempat Farel, tapi pikiran serta jiwanya terbang ke tempat dimana sang kekasih berada. Rasa gelisah serta cemas akan sang kekasih yang ditinggal dalam kondisi tak sendiri, membuat Kenn begitu kacau.
Bukan saja itu, demi menjalankan tujuannya dan melancarkan misinya, ia terpaksa harus menonaktifkan nomor ponselnya. Alasannya, ia tak ingin membuat kekasihnya khawatir dan berdampak tidak baik pada janinnya. Mengingat Jenn pernah memintanya agar ia tidak boleh bertemu dengan ayahnya yang begitu keras. Sebab itu, ia tidak ingin ketakutan si cantik itu menghalanginya, mengurungkan niatnya. Ia telah memantapkan hatinya untuk meminta wanita itu secara langsung dari orangtuanya. Apapun resikonya, ia sudah siap.
Sampai pagi menyapa, Kenn benar-benar tidak tidur sedikitpun. Masih di rumah Farel, ia pun mengatakan semuanya pada orangtua Farel, yang mana ia pun sudah menganggap mereka seperti orangtuanya sendiri.
"Apa? Ka-kamu ... Kenn! Tante gak percaya ini, kamu sama aja kayak Farel." Mamanya Farel berdiri saat Kenn menceritakan segalanya. Dengan geram wanita itu menjewer telinga dua lelaki muda yang duduk berdekatan di sana. "Ampun deh, punya anak laki gak ada yang bener. Taunya merusak anak gadis orang." Ia masih terus menghajar dua pemuda itu. "Apa yang ada di otak kalian hah? Gak bisa nahan sampai gadis-gadis itu lulus kuliah dulu, hah? Dua-duanya sama aja, gak bisa nunjukin yang baik buat adiknya. Gimana kalo orang ngelakuin hal itu pada adik kalian hah? Laki-laki tidak berakhlak kalian!"
Marahnya wanita itu karena sayang, bukan benci. Baginya, Kenn juga adalah anaknya sama seperti Farel dan Fanya. Karena itu, kedua orangtuanya Farel bersedia menemui orangtuanya Jenn. Tapi sebelumnya, Kenn meminta agar ia menemui ibunya terlebih dulu. Ia butuh restu dan doa sang ibu untuk setiap jalan yang ia tempuh nanti.
Hari itu, Kenn langsung melakukan perjalanan kembali ke desa, tempat ibu dan adiknya berada. Tiba di sana, sang ibu menyambutnya dengan raut bahagia, yang kemudian berganti raut kaget dan sedih, begitu mendengar penuturan anak lelakinya. Wanita tua yang masih terlihat cantik itu terisak antara sedih dan bahagia.
"Maafin Kenn, Bu! Kenn udah buat ibu kecewa. Tapi Kenn mohon sama Ibu, tolong restui Kenn dan Jenn, Bu! Kenn mau bertanggung jawab," mohon Kenn di kaki ibunya.
Wanita itu mengusap rambut anaknya sambil terus menangis. "Ibu tidak marah, Nak. Ibu hanya sedih, karena anak ibu melupakan pesan Ibu."
Kita boleh saja miskin dan hina di mata orang lain. Tapi jagalah sikap dan perilaku, agar yang hina itu hanya bagian dari keadaan, bukan bagian diri kita. Usahakan agar kita seperti berlian yang tertutup debuh. Meskipun kotor, tapi tetap bernilai.
Kenn menangis mengingat pesan sang ibu yang ia abaikan. "Maafkan Kenn, Bu! Hanya dengan dia Kenn lakuin ini, Bu! Kenn bersumpah, selama ini Kenn selalu ingat pesan Ibu. Hanya saja Kenn terlalu mencintai dia, Kenn terlalu menginginkan dia, Bu! Dia satu-satunya wanita yang Kenn dekati, Bu!"
Benar, saking sayangnya dia pada sang ibu dan adik perempuan satu-satunya, Kenn tidak pernah mau berdekatan dengan wanita manapun. Sekedar mengagumi sosok kaum hawa, itupun tidak ia lakukan. Ia adalah lelaki anti wanita kata si Farel. Tapi pertemuannya dengan Jenn, meruntuhkan semua keteguhan hatinya. Pesona wanita itu bagai magnet yang menarik habis kewarasan Kenn tanpa sisah. Bukan lagi kagum, tapi dengan beraninya Kenn memberi nama atas rasanya yaitu 'cinta'. Dan setiap hari semakin jauh Kenn jatuh dalam rasanya.
"Jangan menangis! Lelaki tangguh tidak boleh mengeluarkan air mata. Sudah mau jadi ayah, jangan cengeng!"
"Tapi lelaki tangguh meneteskan air mata hanya untuk wanita-wanita hebat yang ia cintai, Bu! Ibu, Jenn, dan Kay adalah wanita hebat yang Kenn cintai."
Kedua ibu dan anak itu berpelukan dan sang ibu pun memberikan restu. "Pergilah temui orangtuanya. Apapun yang terjadi, berjuanglah sampai dapatkan restu orangtuanya. Apapun alasan kamu, kamu tetap bersalah. Untuk itu, terima resikonya dan bawalah dia bersama calon cucu ibu dengan baik. Doa dan restu ibu menyertai kamu, Nak!"
Hari itu juga setelah mendapat restu dari sang ibu, dengan penuh semangat, lelaki itu kembali menempuh jarak yang tak dekat. Berbekalkan alamat yang didapatkannya dari Fio, Kenn melesat menuju kediaman orang tua Jenn. Untuk pertama kali, ia berjuang sendiri. Kata ibunya, itu bagian dari tanggung jawab lelaki sejati.
Begitu tiba di sana setelah membunuh waktu di perjalanan selama beberapa jam, Kenn bertamu dengan sopan. Ia memperkenalkan dirinya dan mengatakan maksud kedatangannya to the point, tanpa berbelit-belit.
"Apa???"
..._____π¦π¦π¦π¦π¦_____...
...To be continued ......
..._________________...
Segini dulu yah sayangΒ²ku π Penasaran reaksi respon kedua orangtuanya Jenn gak??? Ikuti terus yah genkz π
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ
Plissssss! like, komen, rate, tambahkan ke favorit β€οΈ, boleh ngasih, kembang atau kopi π π€
Terima kasih buat semua yang sudah mampir di karya recehan ini πππ
Sampai jumpa di next chapter yah π€π€
Follow Ig author : @ag_sweetie0425