Simple But Perfect

Simple But Perfect
Apa Alasannya (Persahabatan)



...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Lima belas menit berlalu sudah setelah kepergian Alvino dari sana. Rossa masih berdiam di tempatnya dengan air mata yang sudah menganak sungai tak terbendung lagi.


Entah apa yang menjadi syarat lelaki itu hingga menyisakan kubangan bagi gadis kalem itu. Ia menangis dalam diam, tak mau sampai suaranya terdengar. Dia tak ingin kedua sahabatnya melihat sisi rapuhnya. Biarkan mereka hanya tahu Rossa yang kuat dan mandiri.


Tidak kuat lagi menahan kepedihannya, Rossa berlari menuju kamar mandi yang letaknya dekat dengan dapur. Mengunci diri di sana dengan duduk bersandar pada pintu kamar mandi tersebut. Dengan tangannya sendiri, ia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Sedikit demi sedikit, ia pun menumpahkan segala beban saat itu. Terdengar isak pilu kecil yang sesenggukan di dalam sana. Ia berharap Putri tidak sampai mendengarnya.


Belum juga lima menit ia di dalam sana, suara ketukan dari pintu depan terdengar. Tangis Rossa semakin menjadi, sebab ia tahu siapa yang datang. Tidak mungkin salah lagi kali ini. Gadis itu menutup mulutnya kuat-kuat.


Di depan sana berdiri sepasang suami-istri yang menunggu pintu itu dibuka. Tidak ada respon, keduanya memilih menerobos masuk. Mereka adalah Jenn dan Kenn.


Kenn memilih menunggu saja di ruang tengah, sedangkan Jenn langsung menuju kamar yang pernah menjadi tempatnya beristirahat bersama dua sahabatnya.


"Jenn!" pekik Putri dengan senang.


Ia langsung melompat dari tempat tidur dan berhambur memeluk Jenn.


"Apaan sih, lepasin ih. Gue ngambek gak dibukain pintu," ucap Jenn dengan ketus. Wajahnya dibuat kesal.


Kenyataannya tidak begitu. Perempuan berparas cantik itu sebenarnya hanya lelah. Lelah dikurung menjadi tawanan suaminya setengah hari tadi. Karena kedapatan keluar pagi tadi tanpa izin, ia diberi hukuman tidak boleh keluar kamar dan melayani suaminya yang sudah berpuasa selama sebulan. Untung saja sore tadi ia mendapat telepon dari dua sahabat yang memintanya untuk berkumpul. Kenn memberikan izin untuk itu, tetapi tetap saja dalam pengawasannya. Apalagi keluar malam seperti sekarang ini, mustahil bagi Kenn membiarkannya.


"Loh, emang Rossa gak bukain pintu?" Jenn menggeleng malas. "Kemana mereka?" Pertanyaan itu terucap pelan untuk dirinya sendiri. Namun, didengar oleh Jenn.


"Mereka siapa?"


Tanpa menjawab terlebih dulu, Putri segera berlari keluar kamar mengecek keberadaan Rossa dan Alvino. Baru saja keluar kamar kamar, ia terperanjat kaget melihat Kenn yang duduk santai di sofa ruang tengah.


Tidak menyapa, ia malah bengong menatap Kenn dan bergantian menatap ke arah dapur yang memang berada pada satu ruang. Hanya berbatas sebuah lemari hias yang menjadi sekat.


Kenn ikut terseret dalam kebingungannya.


"Put!" panggil Kenn sedikit keras.


Gadis tomboy itu tersentak. "Eh, Kak. Ya,"


"Lo kenapa sih?" Jenn ikut menimpali kebingungan suaminya. "Mereka siapa yang Lo maksud? Rossa dimana?" tanya Jenn sembari menghampiri Kenn dan duduk di samping suaminya.


"Tadi dia kesini. Itu si brengsek, alergi gue nyebut namanya," jawab Putri dengan malas.


Jenn dan Kenn saling tatap. Sedetik kemudian, Kenn terperanjat dengan teriakan istrinya. Begitu juga dengan Putri.


"Serius???" Pekik Jenn tampak senang. Langsung kembali bangkit berdiri dan meraih tangan sahabatnya. "Terus, terus? Ngomong apa mereka? Rossa-nya mana sih? Aaaaaaaa, seneng banget gue kalo begini." Istri seorang Kennand itu bertepuk tangan kecil, heboh sendiri.


Kenn tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Ia tahu bahwa Jenn bahagia untuk sahabatnya.


"Kapan sih, gue boong sama Lo? Masalahnya sekarang gue gak tau mereka di mana? Makanya tadi gue bingung, kok kalian masuk gak ketemu?"


"Jangan-jangan mereka lagi kencan?" Jenn bersorak girang sendiri.


"Ishhh, Lo seneng amat. Gue kesel liat mukanya tadi tauuuuu." Putri berinisiatif menuju dapur. "Pengen banget gu …." Langkanya mendadak terhenti di dekat kamar mandi. Begitu juga dengan ucapannya yang tak terselesaikan.


Ia berbalik menatap Jenn dengan tampang keheranan. Mengerti itu, Jenn pun mendekat dengan pelan. Keduanya terdiam dan samar-samar mendengar tangisan pilu di sekitar tempat itu. Keduanya sama-sama mempertajam pendengaran hingga tanpa sadar mereka telah mendekat pada pintu kamar mandi.


"Sa, Rossa!" panggil Jenn.


Isak tangis itu semakin keras terdengar tapi tak jua ada sahutan dari dalam sana.


Ceklek,


Ceklek.


Putri berusaha menggerakkan gagang pintu, tapi terkunci. Keduanya sudah yakin bahwa Rossa di dalam sana.


Tok ...


Tok …


Tok …


"Sa, are you okay?" tanya Putri. Bukain pintunya dong, Beb." Masih sama tak ada sahutan.


"Ada apa?" Kenn menghampiri dua gadis itu. "Loh, siapa yang nangis di dalam? Rossa?" tanya Kenn.


Jenn mengangguk. Raut bahagianya tadi mendadak hilang entah kemana. Kini wajah cantik itu terlihat cemas.


"Dia kenapa, Put? Apa yang terjadi?" tanya Jenn pada Putri.


"Mana gue tau? Jangan-jangan si brengsek itu nyakitin dia lagi. Bener-bener itu orang." Putri tampak geram.


Brakk!


Brakk!


Kenn menatap istrinya yang mulai terlihat sedih tidak sebahagia tadi. Kenn ingin merangkulnya, tapi ditepis lembut oleh Jenn.


"Sa, ini gue. Tadi katanya minta gue kesini. Ini gue udah di sini. Buka dong, ngomong sama gue. Dia apakan Lo, Beb?" Suara Jenn terdengar sendu.


Masih sama, seseorang di dalam sana tak kunjung jua menyahut dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya.


Putri sudah tak sabar dan dibikin pusing dengan keadaan itu menjadi naik pitam.


"Pokoknya gue gak mau sampai Lo ikut sama dia. Gak!" Teriak Putri. "Kalo sampai itu terjadi, gue memilih gak kenal lagi sama Lo."


"Put!!!" sentak Jenn. "Ngomong apa sih, Lo. Jangan sembarangan. Jangan buat dia dilema dan kepikiran." Ia marah pada Putri.


"Sabar, Sayang. Jangan semua pada marah-marah gini. Sabar yah." Kenn mengusap pundak istrinya, menenangkannya.


Tiba-tiba, ponsel Jenn dan Putri sama-sama berdering. Keduanya segera melihat ponsel masing-masing.


Beberapa detik setelah itu, keduanya saling menatap dengan Jenn yang sudah berderai air mata. Tapi Putri semakin tersulut emosi.


Brakk ...


Brakk ...


"Lo gila, Rossa!" Putri mendobrak pintu itu dengan brutal. "Apa alasan Lo ngelakuin semua ini? Gue bakal buat perhitungan sama dia," teriak Putri berapi-api dan langsung berlalu pergi entah kemana.


Berbeda lagi dengan Jenn yang sudah bersandar pada pintu dengan tangis yang tak kunjung reda.


"Gue salah apa sama Lo? Bilang, jangan seperti ini? Bertahun-tahun itu gak mudah buat kita lewatin ini bareng-bareng. Dan semudah ini, hanya dengan sebuah chat, Lo ngancurin semuanya dalam sekejap? Kata apa yang pantas buat sahabat seperti Lo, hah? Pantaskah gue sebut ini persahabatan? Kasih gue alasannya, kenapa, Sa?"


Jenn menangis sampai tubuh kecilnya merosot ke lantai. Pintu itu menjadi pembatas antara dirinya dan Rossa.


Kenn tidak mengerti dan apa yang terjadi. Ia tidak tahu harus seperti apa menghadapi situasi ini. Ia hanya bisa menenangkan istrinya, dan mengajaknya untuk pulang. Namun, Jenn menahannya sebentar.


Ia bangkit dan menghapus air matanya.


"Baiklah gue pergi. Tapi gue minta sama Lo, tolong, jangan berhenti untuk mencintai dia. Tetaplah bertahan di sampingnya. Jangan bosan dengan segala sikapnya. Gue yakin, Lo udah tau seperti apa dia. Gue mohon banget sama Lo, Sa. Jika suatu hari nanti, Lo lelah dan ingin nyerah, ingat pesan gue untuk tetap bertahan. Lo akan mendapat cinta yang sama dari dia. Gue pergi."


Jenn lantas berlalu bersama suaminya dari sana. Hatinya dipenuhi kekecewaan dan sakit yang cukup menyesakkan.


Sementara di dalam kamar mandi, entah sudah sekacau apa Rossa.


Maafin gue. Sayang gue buat kalian berdua melebihi apapun, dan gak akan pernah berubah. Tapi kali ini saja, biarkan semua seperti ini. Maafkan gue …


..._____πŸ‚πŸŒΎπŸŒΎπŸŒΎπŸ‚_____...


...Waktu yang terlewati adalah tentang kita....


...Pernah tertawa dan menangis bersama....


...Rasamu, rasaku juga....


...Lebih dari sekedar saudara yang terikat darah,...


...Ikatan kita melampaui itu....


...Kebersamaan kita mengalahkan ruang dan waktu....


...Apalah aku tanpa hadirmu, kawan?...


...Seperti pohon tandus tanpa daun dan ranting....


...Sehampa itu diriku tanpamu....


..._AG Sweetie_...


...###...


...To be continued ......


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Aku balik lagi guys πŸ–οΈπŸ˜


jangan pada bosen yah 😍


Makasih buat yang selalu hadir memberi dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425