Simple But Perfect

Simple But Perfect
Tak Lagi Menginginkan Dia



πŸ–€ Jika nanti semesta bercanda dan mempertemukan kita lagi, segeralah menghindar. Sebab bagiku, kamu bukan lagi sesuatu yang menarik. Meski rindu belum sepenuhnya memudar πŸ–€ _Boy Candra_


Kenn mengantarkan gadisnya sampai didepan rumah. Gadis itu tetap diam. Tidak juga bergerak untuk turun. Masih betah bersandar dipunggung lebar yang selalu memberinya kenyamanan.


Kenn menoleh ke belakang. "Udah sampai. Ayo turun."


Gadisnya menggeleng. "Gak mau. Kenapa langsung pulang sih. Jalan-jalan dulu kemana kek. Aku masih mau sama kamu" rengek Jenn.


Ingat ? selama hubungannya dengan Alvino, Jenn tidak pernah bersikap manja dengan rengekan seperti saat ini. Mungkin sesekali, tetapi tidak berlebihan. Ia selalu menjadi kekasih yang bersikap dewasa. Justru Alvino yang sering manja dan merengek padanya. Satu fakta dalam hubungan mereka, Alvino lah yang dibuat bucin. Tidak dengan Jenn yang mencintai dengan kewajaran. Selama ini dia memang naif. Tapi tidak sebucin Alvino. Sampai gadis cantik itu bertemu dengan seorang Kenn. Perlahan kenaifannya menghilang. Why ? karena rasa nyaman yang lebih mendominasi cintanya.


Berbeda dengan hubungan baru yang terjalin antara dirinya dan Kenn. Baru semalam. Namun lelaki yang diam-diam telah memupuk rasa lain yang tumbuh dihatinya selama ini, menjadikannya pribadi yang berbeda dari biasanya.


"Gak boleh. Ini udah sore banget. Lagian kamu pasti capek kan ? masuk gih. Mandi, makan, terus istirahat yah" Kenn menasehati dengan sabar dan lembut.


"Kamu gak mau deket-deket sama aku ? nyebelin" berdecak kesal memukul punggung Kenn, lalu turun dengan perlahan.


Kenn menahan tangannya. Lelaki itu tersenyum menahan gemas melihat wajah cemberut sang pujaan hatinya.


"Bukan gitu. Itu teman kamu udah dirumah, masa kamu keluyuran. Kan gak enak" menunjuk dua motor yang sedang terparkir di halaman rumah itu. "Tapi kalo kamu mau kita deket-deket terus juga boleh. Ke KUA aja yuk !" ucap Kenn dengan senyuman menggoda.


Blush !


Seketika semburat merah mewarnai wajah cantik Jennifer. Gadis cantik bertubuh mungil itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.


Kenn tertawa kecil melihat ekspresi kekasihnya. "Kenapa ? berubah pikiran ?" ikut menunduk mencari wajah cantik yang sudah membuatnya tergila-gila. Membuat gadis itu mengangkat pandangannya kembali. "Nego aja deh. Dalam waktu dekat ini atau masih lama lagi, gak papa. Aku tetap menunggu. Tapi jangan berubah pikiran yah" mengelus pipi gadisnya dengan mesra. Jenn tersenyum kecil menahan debaran jantungnya yang tak keruan.


"Sekarang masuk. Udah hampir gelap ini. Besok aku jemput dirumah atau di kampus ?" tanya Kenn.


"Hmm, terserah deh" sahut Jenn singkat.


"Kok terserah ? kamu yang ngasih tau dong" mencubit hidung bangir gadisnya.


"Iyah, nanti aku ngabarin. Karena kamu udah ngelarang aku buat gak keluyuran, aku juga gak ngebolehin kamu kemana-mana. Awas kalau sampai macam-macam" ucap Jenn dengan galak.


Tanpa dirinya menyadari, dia sudah mulai bersikap posesif. Ia tak menyadari ini bukan dirinya. Bahkan Alvino yang sangat dicintainya pun tak pernah ia bersikap seperti ini. Malah ia mengizinkan Alvino untuk bermain dengan banyak wanita disana, tidak pernah melarang Alvino dalam hal apapun. Sungguh, kehadiran Kenn telah mengubah pribadi seorang Jennifer.


Kenn tertawa dan mengacak rambut gadis cantik didepannya. "Gak usah galak-galak begitu. Makin cantik tau gak. Ini satu macam aja kok, gak akan bisa macam-macam. Lagian aku juga capek, mau istirahat"


Jenn mengangguk. "Ya udah ! hati-hati dijalan"


"Kamu masuk dulu, baru aku pergi" Jenn tersenyum. Ia membalikan tubuhnya dan membuka pintu pagar lalu ditutup kembali setelah ia masuk. Gadis itu berjalan sampai di depan pintu rumahnya dan berbalik lagi melambaikan tangannya pada sang kekasih sebelum benar-benar masuk kedalam rumah.


Setelah memastikan gadisnya masuk ke dalam rumah, Kenn lalu menjalankan kembali motornya. Membelah jalanan, menyelip diantara kendaraan lainnya, dan menghilang di tengah-tengah hari senja.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Rumah tiga gadis cantik.


Jenn sudah menceritakan semua yang terjadi di club malam itu pada kedua sahabatnya. Memenuhi janjinya siang tadi. Dan juga perasaannya selama ini terhadap Kenn, diungkapkan sudah pada keduanya.


"Jadi ... beneran udah jadian ?" tanya Putri dengan binar bahagia. Jenn mengulum senyum dan mengangguk.


"Yeiiii" kedua sahabatnya bersorak kegirangan bak sedang memenangkan lotre. "Aaakh, gue seneng banget" seru Putri sekali lagi. "Tuh kan, perasaan gue bener. Gue juga udah curiga ini lama. Meski Lo selalu menyangkali hal itu, tetap aja gue liat ada yang lain dimata Lo ketika Lo ngomong soal kak Kenn" sambungnya.


"Iya kah ? kok bisa kebaca gitu yah ?" Jenn merasa malu sendiri lalu menepuk-nepuk pipinya.


"Bisa dong, orang yang lagi jatuh cinta itu selalu lost control tau gak. Dimulut lain, dihati dan dimata lain lagi" kali ini Putri yang banyak mengoceh. Jenn dan Rossa cekikikan melihat gadis tomboi itu yang begitu cerewet malam ini.


"Gue juga seneng, bebs" ucap Rossa singkat dengan senyuman tulus.


Ketiganya kini sedang bersantai diruang nonton. Jenn duduk dengan posisi bersila di atas sofa. Sedangkan Rossa dan Putri memilih rebahan diatas karpet sambil telungkup dan menengadah pada Jenn.


"Jangan ingat sama Alvino lagi. Awas aja kalo sampe dia ngabarin terus Lo balikan lagi sama dia" Putri memperingati lagi sahabatnya.


Jenn terkekeh. "Gak semudah itu buat lupain dia lah, bebs. Hubungan yang pernah kita jalani, bukan sehari atau sebulan. Tiga tahun lebih. Dan ... " Jenn menggantung kalimatnya.


"Dan apa ? Lo masih cinta sama dia ? iya ?" tanya Putri sarkasme.


"Gue pengen ngelupain dia, dan gue sedang berusaha untuk itu" sahut Jenn cepat. "Gue gak munafik. Rasa itu memang masih ada. Tapi bukan lagi menjadi sesuatu yang gue harapkan. Gue benar-benar udah gak menginginkan dia lagi. Gue hanya butuh waktu untuk semua itu. Dan gue yakin, kak Kenn bisa buat gue lupain dia secepatnya" jelas Jenn dengan disertai senyuman. Dia tersenyum mengingat seraut wajah tampan yang kini dan akan nanti mengisi hari-harinya kedepan.


"Gue berharap seperti itu" ucap Putri dan Rossa hanya mengangguk menyetujui.


Sejak hari dimana Jenn merasa kecewa terhadap Alvino yang seminggu lamanya tidak mengabarinya. Dan juga suara wanita ditelepon waktu di cafe, membuat Jenn benar-benar kecewa hingga menumpahkan air matanya kala itu. Dalam kekecewaan dan kesedihan yang melandanya hari itu, Jenn memutuskan untuk berhenti mengharapkan Alvino. Dia ingin melupakan lelaki yang sangat dicintainya itu. Sehingga club menjadi sarana awal pelariannya. Tak disangka malah mempertemukannya dengan seseorang yang sering mengusik hatinya. Dan hal itu menjadi awal kisah cintanya yang baru bersama Kennand.


"Tapi gue masih belum mau mempublikasikan ini buat yang lain. Hanya kalian berdua sama si Fio aja ... Eh," menjeda sebentar lalu menepuk jidatnya. "Gue lupa pengen ngobrol juga sama si kunyuk itu. Bentar gue nge-chat dia dulu" mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Membuka aplikasi berwarna hijau pada layar pipih itu dan mulai berkirim pesan.


Me :


Lagi ngapain ? ada yang mau gue obrolin ma Lo βœ…βœ…


Fio :


Dirumah lah, bebs. Lagi suntuk banget ini. Main kesini yuk ! gue jemput yah.


Jenn berpikir sejenak. "Gimana yah ? tadi gue udah janji gak bakal kemana-mana" dilema karena janjinya pada sang kekasih tadi. "Gak papah deh. Kan cuman ke rumah Fio" memutuskan untuk tetap pergi.


Me :


Fio :


So sweet banget sih 😍🀭 Siap ✌️ i'm coming, bebs 😚


"Put, mami, gue ke rumah Fio bentar yah. Gak lama kok" meminta izin pada dua sahabatnya.


"Naik apa kesana ?" Rossa mengkhawatirkan gadis itu.


"Dijemput Fio, mami. Tenang aja"


"Oh, ya udah. Hati-hati ini udah malem loh. Kenapa gak minta di anterin kak Kenn aja ?"


"No ! justru gue gak mau dia sampai tau. Dia bakal gak ngizinin" Jenn melotot pada Rossa.


Putri terbahak. "Takut dimarahin pacar nih. Manis banget sih berdua"


Jenn hanya tersenyum lalu berlalu ke kamar mengambil jaketnya. Tanpa mengganti pakaian rumahan yang senang dipakainya seperti biasa. Kaos sedikit longgar dengan hotpants jeans. Ciri khas seorang Jennifer. Diambilnya jaket milik Kenn yang pernah dipakaikan padanya saat pertama menolongnya di club tempo hari.


Tak lama setelah itu terdengar klakson mobil didepan rumah. Jenn berpamitan pada dua sahabatnya lalu keluar dan menemui Fio. Mereka lalu bergegas melaju ke rumah Fio.


Dalam perjalanan saat itu, Fio menge-chat kekasihnya, Farel. Pasangan double 'F' dengan predikat Mak comblang itu kembali membuat rencana. Tanpa sepengetahuan Jenn.


"Nyokap sama bokap Lo, belum sempat kemari lagi yah ?" tanya Jenn begitu keduanya sampai di rumah Fio, dan kini sedang rebahan disofa ruang keluarga.


"Hm, gitu deh. Biarin mereka. Sekarang Lo mau ngomong apa ?" tanya Fio sambil memasukan cemilan kesukaannya ke mulut.


"Gue minta maaf soal yang pernah gue marah-marah ke Lo. Gue mau jujur. Waktu itu gue kesel liat dia nganterin cewek lain. Lo bilangnya dia suka sama gue. Padahal jalan ma cewek lain. Ya gue kesel dong. Makanya waktu itu gue marah-marah sama Lo" ungkap Jenn.


Fio mengernyit bingung. "Siapa ? kak Kenn ?" Jenn mengangguk. Seketika Fio terbahak.


"Hahaha, astaga jadi itu alasannya ? hahaha" masih terpingkal. "Ckckck, jadi ceritanya cemburu gitu ? Pantes aja, gue mikir setengah mati. Ternyata udah punya rasa juga yah. Wah, wah, gak nyangka banget gue" Fio menggeleng tak percaya. Jenn hanya mendelik kesal padanya.


"Lo kan tadi yang ngubungin kak Kenn buat jemput gue ?" melotot lagi pada Fio. Gadis itu cekikikan melihat ekspresi temannya.


"Hehe iya, bebs. Sorry, gue semangat aja liat pasangan yang baru jadian" Fio cengengesan.


"Tau dari mana hah ? perasaan gue belom cerita deh" Jenn memicingkan matanya.


"Hahaha gue ma Farel nguping lah, bebs" Fio terbahak.


Jenn menoyor kepala gadis itu. "Dasar pasangan somplak"


"Wah, wah, bener-bener pasangan serasi, sehati ini" itu bukan suara Fio yang menyahut. Tetapi suara seorang lelaki.


Jenn yang sedang rebahan pun kaget dan langsung terduduk. Dilihatnya orang yang sama yang selalu ada bersama kekasihnya. Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya mencari sesuatu. Dan netranya menangkap sosok lain dibelakang pria tadi. Benar dugaannya. Jenn hampir saja terjungkal dari sofa karena saking kaget dan bingung antara ingin bersembunyi atau tetap duduk. Pada akhirnya ia tetap ditempat.


"Baby, tau gak ? tadi cowoknya juga ngomong persis kek gitu. Kita dibilangin pasangan somplak. Sehati kan ? bener-bener jodoh emang" ucap Farel dan berjalan terus menghampiri Fio.


Sedangkan seseorang yang dibelakang sana, masih berdiri ditempatnya. Menatap gadis cantik yang juga sedang menatapnya. Sedetik kemudian, ia tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Ingin marah. Tetapi ia selalu tak sanggup melakukan hal itu.


"Maaf" hanya kata itu yang terucap dari bibir mungilnya Jenn.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


.


.


.


.


.


to be continued ...


__________________


Halo semuanya πŸ‘‹πŸ˜Š


Makasih buat yang selalu mampir di karya receh ini πŸ™πŸ˜šπŸ€—


Jangan lupa like, komen, dan rate yah 😊 tambahkan juga ke favorit ❀️πŸ₯°


sekali lagi makasih semuanya πŸ€—πŸ€— jangan pada bosen yah 😘🀭🀭


i love you all πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Selamat membaca β€οΈπŸ€—


πŸ‘‡


Ig author : @ag_sweetie0425