Simple But Perfect

Simple But Perfect
Pergilah! ( Suka-suka)



Pagi yang indah di sebuah desa kecil, cukup jauh dari perkotaan, tempat dimana Jenn dan Fio berada saat ini. Suasana syahdu dengan nyanyian merdu burung-burung yang beterbangan, keluar dari sangkarnya menyambut hari baru.


Sang fajar mulai mencumbu bumi dengan hangatnya. Sejuk embun perlahan menguap berganti segarnya udara yang memanjakan paru-paru.


Di sebuah hunian sederhana, tempat bernaungnya Jenn dan Fio untuk sementara selama sebulan kedepan, tampak sedikit berisik. Fio yang masih sering mengalami morning sickness, kembali membuat Jenn kerepotan.


"Udah?," tanya Jenn yang masih memijat pelan tengkuk Fio dengan minyak angin.


Fio mengangguk sedikit lemah. Jenn pun berinisiatif untuk membuatkan teh jahe untuk temannya, namun baru saja hendak keluar dari kamar mandi, ia di kejutkan dengan keberadaan Ibu tuan rumah di sana.


"Temannya kenapa, Neng?," tanya tuan rumah itu.


"Eh, Ibu! Mmm, maaf Bu, dia cuman masuk angin aja. Ini Aku mau buatkan teh jahe dulu, Bu," jawab Jenn berdalih.


"Oh, kalau begitu Ibu saja yang buatkan, sekalian dengan sarapannya. Kalian siap-siap saja buat ke lokasinya yah," ucap tuan rumah itu dengan ramah.


"Eh, gak usah, Bu. Gak enak ngerepotin Ibu. Nanti biar Fio aja yang buat sendiri, Bu." Fio menolak niat baik tuan rumah itu dengan sehalus mungkin.


Bukan apa-apa, dia hanya khawatir jika apa yang di buatkan wanita paruh baya itu tidak sesuai dengan selera ngidamnya, dia akan merasa sangat tidak enak hati. Dan lagi, bagaimana jika mualnya semakin menjadi-jadi dengan sarapan yang mungkin saja bisa memicu rasa mual itu kembali? Hanya Jenn yang sudah mengerti keinginannya beberapa hari ini.


"Udah gak papah, Neng. Serahin aja sama Ibu. Atau mau minta dibuatkan yang lain?," tawar tuan rumah.


Jenn menoleh pada Fio yang sudah berdiri di sampingnya, menunggu respon apa yang akan ia berikan.


"Hmm, sebenarnya Fio gak mau apa-apa sih, Bu. Cuman teh jahe aja, sama biskuit kering kalau ada. Itu aja yang Fio mau, Bu. Gak papah kan, Bu?," tanya Fio sedikit tidak enak hati.


Selama ini Fio memang banyak mengkonsumsi cemilan-cemilan saja. Dia selalu menyimpan stok yang banyak untuk mengganjal perutnya jika lapar. Dan tentu saja karena seringnya mual, stok-stok itu selalu tersedia, tentu saja Farel yang menyiapkan segalanya. Semalam ia tidak mau berterus terang bahwa kebutuhannya yang satu itu sudah habis, karena tak ingin merepotkan sang kekasih yang sedang jauh dan sibuk dengan pekerjaannya.


"Lah gak papa kok, Neng. Ya sudah. Ibu tinggal ke dapur dulu yah," sahut wanita paruh baya itu dan berlalu pergi dari sana.


Sesudah itu, keduanya kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk berkumpul bersama teman-teman yang lain, dan menjalankan kembali program KNN yang sudah terancang sebelumnya, di mana hari ini mereka mulai merealisasikannya di sekolah-sekolah yang ada di sana.


Tidak lama setelah itu, keduanya sudah siap dan mengikuti sarapan bersama tuan rumah sekeluarga. Fio merasa sudah jauh lebih baik setelah menikmati secangkir teh jahe. Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya lalu pamit dan bergegas menuju lokasi di mana yang lain sudah menunggu di sana.


*******


Di bengkel.


Sebuah Honda CB Verza berwarna hitam, baru saja terparkir manis di parkiran bengkel milik keluarga Prasetya. Tampak seorang lelaki tampan sedang melepas helmnya, kemudian turun dari tunggangannya itu, dan menghampiri temannya yang sudah menunggunya lebih dulu sejak setengah jam yang lalu.


"Pagi, Boss! Sorry, telat. He-he-he," sapa Kenn pada atasan yang adalah teman baiknya.


Farel mendengus kesal mendengar panggilan temannya, dan itu membuat Kenn terkekeh kecil.


"Cih, gayanya sok bawahan, padahal masuk kerja aja telat," balas Farel menyindir Kenn.


Lelaki tampan itu semakin terbahak. "Ha-ha-ha. Ini bengkel punya temen gue, jadi suka-suka gue mau telat atau gak," sahut Kenn santai dan berjalan melewati Farel dengan gaya cool, tangannya di masukan ke dalam saku celana jeans-nya.


"Lah makanya jangan dipanggil Boss juga, nyuk!," ucap Farel sambil mengikuti langkah Kenn.


"Serah gue dong," jawab Kenn masih dengan cueknya.


Lelaki itu hendak ke ruang ganti untuk mengganti pakaian yang ia gunakan dengan seragam kerjanya, namun suara Farel menahan langkahnya sejenak.


"Ya, ya, serah deh, serah. Tapi sekarang gue cuman mau bilang kalau hari ini gue libur, gak bisa mantau pekerjaan hari ini." Farel pun ikut menghentikan langkahnya di belakang Kenn.


Kenn berbalik dan menatap temannya dengan sebelah alis terangkat.


"Kenapa?," tanya Kenn singkat.


"Suka-suka gue dong," Farel tersenyum senang karena bisa membalikan kata-kata Kenn tadi.


"Cih. Iya, iya, yang punya bengkel. Tapi kenapa mendadak? Alasannya apa? Penting banget yah?," cecar Kenn.


"Serah gue dong, mau ada alesan apa gak! Ini bengkel punya gue yah! Ha-ha-ha." Farel terbahak begitu melihat wajah kesal Kenn. Senang sekali sudah berhasil mengerjai balik temannya dengan kata-kata yang sama.


"Ha-ha-ha. Oke, oke! Kita impas yah." Masih saja tertawa.


"Ck, gue lagi serius ini, nyuk. Ada hal penting apa sampai Lo mesti libur segala?," tanya Kenn sekali lagi dengan malas.


"Lebih dari penting, hal yang teramat penting, bro! Gue mau ke tempat Fio!," jawab Farel yang membuat Kenn bertambah jengkel.


"Cih, jadi cuman karena mau ketemuan aja sampai ninggalin kerjaan segala. Lo pikir, Lo doang yang kangen? Gue yang lebih kangen sama Jenn! Tapi gue ingat sama kerjaan juga," gerundel Kenn.


Dibalik itu, Kenn tidak tahu bahwa ada hal lain yang membuat temannya itu harus menemui kekasihnya.


"Bukan begitu Kenn! Lo harus inget, Fio itu kondisinya sedang hamil, gue harus selalu bisa memenuhi keinginannya. Lagian bukan saja itu ... ," Farel menggantungkan kalimatnya lalu menghembuskan nafasnya berat. Ia menatap Kenn dengan serius.


"Semalam,,, papa sama Mama udah tau soal Fio,"


"Apa?," seru Kenn begitu kaget. "Bagaimana ceritanya? Lo baik-baik aja kan?," cecarnya lagi.


"Ck, baik apanya? Kek gak tau papa aja ... nih, gue di gebukin sama Chris Jhon tuh," ucap Farel sambil memperlihatkan ujung bibirnya yang menyisahkan luka dan memar.


Kenn terkekeh melihatnya. "Lelaki harus begitu, bro. Berani bertanggung jawab. Itupun gak seberapa dibanding yang sudah Lo lakuin kek dia, mestinya lebih parah dari ini sih. Ha-ha-ha! Tapi gue ikut senang dengarnya. Pergilah, bengkel aman sama gue," Kenn menepuk-nepuk pundak temannya menyemangati.


"Iya. Gue percaya itu. Thanks, bro!," ucap Farel merasa lega. "Gak ada yang mau dititipin buat Jenn gitu?," mencoba menggoda Kenn.


"Cih, jangan mancing-mancing buat niat gue berubah yah. Gue ikut juga nih," ancam Kenn.


"Ha-ha-ha. Ya udah, gue balik ke rumah dulu jemput mama sama si pembuat onar," sahut Farel cengengesan.


"Lah, mama ikut? Fanya juga? Wah, rame dong. Rugi banget gue," sungut Kenn.


"Tenang aja, gajinya double," ucap Farel mengedipkan matanya. "Itu mama mau ketemu calon mantu sama calon cucu, he-he-he." kekeh Farel.


"Nah Itu baru bener. Okelah! Lancar-lancar selalu urusan kedepannya, bro!"


Farel pun segera berlalu dari sana, mengendarai motornya dan menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, sang mama dan adik satu-satunya sudah menunggunya. Farel berganti mengendari mobil kali ini, karena ia membawa serta dua wanita berbeda usia yang sangat penting dalam hidupnya. Mereka bergegas pagi-pagi menuju lokasi tempat KKN Fio dan Jenn, karana perjalanannya yang jauh dan akan cukup memakan waktu untuk tiba di sana.


*********


Mesin waktu menunjukkan pukul satu siang, proses pembelajaran yang diterapkan mahasiswa KKN hari itu sudah selesai, dan semua berjalan lancar sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Setelah itu, mereka pun kembali ke rumah masing-masing dan akan melanjutkannya lagi besok.


Teriknya panas siang itu, disertai tiupan angin sepoi-sepoi menyapu habis lelahnya dua orang wanita cantik yang sedang berjalan di bawah teduhnya payung, yang melindungi kulit mereka dari sengatan matahari.


Langkah-langkah ringan dan pasti, membawa mereka berdua hingga tiba di rumah tempat tinggal sementara bagi keduanya.


"Selamat siang!," sapa keduanya dengan kompak.


"Selamat siang!," sahut beberapa orang dari dalam rumah, membuat kedua wanita itu mengernyit heran.


Keduanya saling melempar tatapan bingung, seolah saling bertanya dalam hati.


"Ka' Jen! Ka' Fio!," sebuah suara yang memanggil mereka, disusul kehadiran seorang gadis yang sudah berdiri di ambang pintu rumah itu, membuat keduanya terperanjat dan menganga.


"Hah??!!."


..._____☘️☘️☘️☘️☘️_____...


...To be continued ......


...______________...


Hola epribadeeeh 👋 I'm so sorry 🙏 for up late again and again 🙏😔


Thanks buat yang sudah setia menunggu 😊


Thanks buat waktu dan kesediaannya sudah mau mampir di karya receh ini 😊


Semoga setiap episode, berkenan dihati kalian semua dan menyenangkan yah 🤭


Jangan lupa like, komen, rate, tambahkan ke favorit yah ❤️ kalo ada yang mau ngasih mawar 🌹 bole, kopi ☕ juga boleh banget 😁 vote juga sekalian yah 🤭 maafkan author yg banyak mau ini yah 🤭


Dukungan dari kalian sangat penting untuk menyemangati author, dan untuk cerita Kenn dan Jenn 🥰


Sekali lagi thanks semuanya 🙏 Dan selamat membaca 🤗😘


Plissss follow 👇:


Ig : @ag_sweetie0425