Simple But Perfect

Simple But Perfect
Amarah Kenn



Tamparan keras yang didapatnya, membuat gadis kecil itu pusing, disertai penglihatan yang mulai mengabur. Ditambah dengan perlakuan kasar Willy, membuat tubuh mungil Jenn melemah. Dalam sisah-sisah kesadarannya, Jenn melihat dengan lemah dari dalam mobil, yang pintunya belum sempat tertutup tadi. Seseorang tengah menghajar Willy habis-habisan. Dibawah remang-remang sinar lampu disana, Jenn dapat mengenali wajah tampan itu. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


Kak Kenn.


° Flashback beberapa saat yang lalu


Dua lelaki tampan yang mengendarai motornya masing-masing itu, hendak berbelok memasuki parkiran sebuah cafe. Namun belum sempat masuk, Kenn tiba-tiba saja menghentikan motornya, diikuti Farel. Dari arah depan, lelaki tampan itu melihat gadis kecil pencuri hatinya sedang bersama teman-temannya dan tiga orang pria disana.


"Jenn" Kenn mengernyit.


" Lo kenal ?" Kenn mengangguk.


"Kenal dimana ? wah, hebat Lo yah. Kenal sama gadis-gadis incaran sekampus".


Kenn tidak menggubris. Dia terus memandangi gadis kecil itu dengan gerak geriknya. Dia melihat seorang lelaki menarik paksa tangan Jenn. Namun kemudian ditepis kuat gadis kecil itu. Kenn ingat, lelaki itu yang pernah dilihatnya. Waktu mengantarkan adik Farel ke kampus waktu itu. Ya, itu lelaki yang mengepalkan tangan saat Jenn menolaknya.


"Kurang ajar ! sepertinya dia maksa bro, musti dikasih pelajaran kayaknya" ucap Farel emosi. Karena melihat seseorang yang hampir tiap malam dikunjunginya, juga ada disana.


"Sabar, kita liat aja dulu. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya" sahut Kenn tenang.


Namun emosinya mulai bergejolak, ketika melihat lelaki itu kembali menarik Jenn dengan paksa. Dua lelaki tampan itu masuk keparkiran, dan menyimpan motor disana. Dilihatnya Jenn sudah tidak ditempat. Dan dua orang pria sedang menghalangi teman-temannya. Kenn dan Farel berjalan cepat kearah mereka. Tanpa basa basi, Kenn menghajar salah satu lelaki disana.


"Kak Kenn ..." Gadis-gadis itu keget, melihat Kenn disana. Dan mereka histeris melihat Kenn menghajar teman Willy. Namun Farel tak bergerak. Lelaki itu berdiri di belakang Kenn dan menatap tajam seorang gadis disana.


"Kak udah, stop ! Please kak, lepasin dia. Dan kakak ikuti Jenn ke arah sana. Dia mau dibawa kabur Willy" Reta menghentikan Kenn. Kenn tersadar dari emosinya, dan langsung mengikuti arah yang di tunjukan Reta.


Kenn terpaku melihat aksi berani Jenn. Senyum samar tersungging di bibirnya, melihat Jenn yang menampar lelaki disana. Langkahnya terhenti, dan melihat perdebatan Jenn dengan lelaki itu. Namun setelah itu dia menyesal karena tidak langsung kesana saat itu. Kenn kembali melangkah dengan penuh emosi yang meluap-luap. Begitu melihat gadis kecil itu ditampar, bahkan diseret dengan kasar. Kenn mempercepat langkahnya. Langsung menarik Willy, dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada lelaki itu.


Flashback off


Kenn kalap dan terus memukul Willy membabi buta. Setiap pukulan yang diberikannya, adalah bayangan melihat gadis kecil pencuri hatinya itu tersakiti. Kenn meluapkan semua emosi dalam dirinya. Tanpa sadar, Willy sudah terkapar lemah. Wajahnya babak belur, bahkan darah segar menetes dari pelipis dan birbirnya karena sobek.


"Kenn cukup Kenn, dia bisa mati. Lo mau masuk penjara hah ?" Farel menahan Kenn yang saat itu duduk diatas tubuh Willy sambil menghajarnya. Kenn menghentikan pukulannya, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara kasar.


"Kak, tolongin ! Jenn pingsan" teriak teman-teman Jenn disana.


Kenn tersadar begitu mandengar nama Jenn. Lalaki tampan yang masih dipenuhi sisah-sisah emosi itu, bangkit berdiri. Lalu menghampiri kerumunan gadis-gadis, didepan mobil milik Willy.


"Aduh gimana ini" Maureen panik.


"Kita bawa ke rumah sakit aja dulu" kata Alena.


"Iya. Kak, tolong pindahin Jenn ke mobil gue yah" ucap Yuni.


"Nggak, di mobil gue aja" Alena kembali bersuara.


"Ini bukan saat yang tepat buat berdebat. Jenn perlu diobatin sekarang gengs" Reta menyela perdebatan Yuni dan Alena.


Kenn perlahan mengangkat tubuh mungil Jenn, membawanya kedalam pelukannya. Jantung Kenn berdebar hebat, begitu bersentuhan dengan Jenn sedekat ini. Apalagi ini dengan gadis pencuri hatinya. Dia akan sangat malu, apabila gadis dalam pelukannya itu mendengar degup jantungnya saat ini.


Saat berjalan, sesekali Kenn menatap wajah cantik yang sering sekali menghiasi hari-harinya. Sungguh, Kenn merindukan wajah cantik itu. Dan ini moment yang pas untuk menatap puas. Sampai tatapannya terhenti dibibir mungil yang terdapat sedikit bercak darah yang hampir mengering. Dan pipi putih mulus itu kini merah keunguan tergambar bekas tangan besar disana. Kenn merutuki dirinya sendiri, karena tidak sempat menghentikan lelaki tadi, saat menampar Jenn.


"Kak, disini aja" Yuni berlari dan membuka pintu bagian penumpang, untuk membaringkan Jenn disana. Tadi saat kemari, mereka menggunakan tiga mobil, dan satu motor trail. Alena dengan Maureen, Yuni dengan Reta, dan Fio sendiri mengemudikan mobilnya. Sedangkan Jenn dibonceng Putri dengan trail yang berisik.


"Lo dibelakang nemenin Jenn, gue yang nyetir kali ini." ucap Reta.


"Ya udah, ayo cepetan" sahut Yuni tidak sabar.


Kenn mengangguk pelan dan berjalan bermaksud mengambil motornya. Namun pandangannya terhenti, melihat Farel sedang menyudutkan seorang gadis disudut mobil. Kenn perlahan mendekat dan mendengar pembicaraan keduanya.


"Ngapain kamu disini malem-malem begini hah" Farel membentak gadisnya. gadis itu menunduk dalam diam.


"Pengen nyari yang lain iya ? gak cukup sama aku aja ? iya ?"


"Farel" mendongak. Lalu menatap marah pada Farel.


"Apa ? Benar yang aku katakan ?"


"Jangan gila kamu Farel, jaga bicara kamu. Aku nggak serendah itu"


"Trus, cowok-cowok yang tadi siapa hah ?"


"Cuman temen kampus"


"Kamu gak lagi bohongin aku kan ?"


"Enggak"


Farel menatap lama gadis itu. Dan sejurus kemudian ingin menciumnya, namun suara di belakang menggagalkan aksinya.


"Ehm" Kenn berhem. "Rumah man ! jangan ditempat umum" lanjut Kenn, dan melangkah menuju motornya, dan segera mengikuti mobil Yuni yang dikendarai Reta.


"Setelah itu, ikut gue ke rumah sakit" Kenn membiarkan Farel menyelesaikan urusannya sejenak.


"Kita susul mereka dulu ya, aku nggak enak sama yang lain" gadis yang tak lain adalah Fio, berucap dan diiyakan Farel, yang merupakan kekasihnya. Mereka lalu segera menyusul teman-temannya.


Begitu sampai di rumah sakit, Jenn segera ditangani di UGD. Dokter mengatakan Jenn baik-baik saja. Hanya menginap malam ini, dan besok pagi Jenn boleh pulang.


Kenn dan Farel berpamitan untuk pulang. Namun kemudian, langkahnya terhenti saat mendangar dering ponsel yang berbunyi. Bukan dari ponselnya, namun itu ponsel milik Jenn, yang pernah diperbaikinya.


Jantung Kenn kembali berdetak tak keruan, begitu melihat sebuah nama dilengkapi emoji hati _My Al❣️_


"Halo"


.


.


.


.


.


to be continued ...


.


.


.


Happy reading buddies 😊❤️