
Saat ini, Jenn and the geng-nya sedang berada di kantin setelah selesai mengikuti kelas jam pertama. Gadis-gadis cantik itu kembali membuat keributan dan selalu menjadi pusat perhatian yang lain.
"Ayo! Cerita, Bebs! Penasaran banget ini." Maureen mengguncang lengan Jenn yang baru saja duduk.
"Aaakh, gue seneng banget liat kalian berdua. Cocok dah." Yuni menepuk-nepuk sendiri pipinya gemas.
"Jadian aja sama kak Kenn. Gak usah mikirin Alvino lagi, Bebs!" Reta menyenggol bahu gadis cantik itu.
Braakk!
Alena menggerebek meja. "Bisa pada diem gak sih? Satu-satu dong nanyanya. Kek di pasar aja tau gak!"
Jenn dan Fio cekikikan melihat ketiga temannya yang langsung terdiam tak lagi berkicau. Bahkan mahasiswa lain yang ada di sana pun dibuat kaget dengan tingkah bar-bar Alena.
Ada-ada aja deh! Dasar gadis-gadis perusuh.
Mereka lagi, meraka lagi. Bikin ulah terus, ih.
Kira-kira seperti itu yang dipikirkan mahasiswa lain tentang mereka.
Braakk!
Sekali lagi Alena menggerebek meja. Sambil menatap orang-orang di sekelilingnya.
"Apa liat-liat? Gak ada yang lagi konser di sini." Melotot pada mereka yang melihat ke arah mereka.
Astaga! Bar-bar sekali ini anak.
"Udah Al, emang kenapa kalo mereka liatin kita? Yah semua orang punya mata untuk melihat kan? Mereka bebas untuk memandang dong," ucap Jenn menghentikan ulah Alena.
"Tapi jangan liatnya ke sini juga," balas Alena sewot.
Jenn terkekeh. "Ada-ada aja Lo. Serah Lo dah." Menggeleng kepalanya pelan.
"Udah sekarang mau pesen apa nih?" tanya Fio mengalihkan suasana.
"Gue terserah, apa aja," sahut Jenn yang juga diikuti oleh yang lain.
"Sebentar yah," Fio pun beranjak untuk memesan makanan dan minuman mereka ditemani Yuni.
"S e k a r a ng!" ucap Alena penuh penekanan.
Jenn dan yang lainnya bingung. "Sekarang apa?"
"Ceritain yang semalam. Kenapa cowok itu ada di sana? Selalu aja ketemu dia di sana. Dan kenapa kalian keliatan deket banget?" tanya Alena dengan wajah datar.
Eh, iya yah. Kenapa kak Kenn selalu ada di tempat itu? Udah dua kali kita ke sana, dan dia juga selalu di sana? Apa dia juga sering mengunjungi tempat itu lalu berduaan dengan wanita-wanita malam di sana?
Jenn mulai negative thinking. Wajahnya kini berubah kesal membayangkan apa yang ada dipikirannya.
"Gue lagi nanyain Lo, Jenn! Kenapa muka Lo kek gitu?" Alena mencubit pelan tangan Jenn yang diletakkan di atas meja. Tanpa disadari oleh Alena, Reta, dan Maureen, tangan mungil itu sedang terkepal menahan kesal.
"Hei, ngelamun apa sih?" Sekali lagi Alena menepuk tangan Jenn.
"Ah, nanya apa tadi?" tanya Jenn dengan polos.
"Ya ampun, pikiran Lo kemana hah?" Alena berdecak kesal.
"Ceritain yang semalam, Bebs. Kenapa kak Kenn selalu di sana? Dan kenapa kalian bisa dekat banget semalam?" Reta mengulang pertanyaan Alena.
"Oh, ya ... mana gue tau. Gue juga heran, kok bisa yah dia selalu di sana. Dan ini udah kali kedua dia nolongin gue dari pria-pria jahat di sana," ucap Jenn sedikit kesal memikirkan hal ini. "Kalo soal kedekatan kita ... emm itu ... itu karena dia sudah pernah nolongin gue jadi maybe udah biasa aja, ditambah gue sedikit mabuk. Itu aja kok." Jenn menjelaskan dengan kikuk.
Selama ini dia selalu menutupi rasa di hatinya terhadap Kenn. Meski kadang sikapnya tidak bisa menyembunyikan itu, namun selalu dan selalu ia berusaha menutupi. Saat ini pun, Jenn berpikir untuk tidak perlu memproklamirkan hubungannya dengan Kenn. Biarkan semuanya mengalir seiring waktu berjalan.
"Hmm!" Alena mengangguk-angguk. Gue gak percaya. Yang gue liat, Lo selalu berbeda di dekat dia. "Terus dia nganterin Lo nyampe rumah jam berapa?" sambung Alena tanpa ingin mengorek lebih jauh lagi kejadian semalam.
"Gak lama setelah kalian pulang," jawab Jenn singkat.
"Tapi semalam Lo nangis ngungkapin perasaan nyaman Lo ke dia, Jenn! Emang bener ya, Lo punya rasa kek gitu?" Pertanyaan Maureen membuat Jenn sedikit kelabakan dan malu.
"Udah gue bilang kan tadi, gue lagi mabuk, jadinya ngomong yang nggak-nggak, ih. Gak usah dibahas. Malu tau!" ucap Jenn pura-pura ngambek.
Di saat bersamaan, Fio datang dengan Yuni membawa pesanan mereka.
"Saatnya makaaaannnn!" seru Fio sambil menaruh nampan berisi sebagian pesanan mereka, dan sebagian lagi disediakan Yuni. Jenn mengambil segelas es jeruk dan langsung meneguknya.
"Lagi pada bahas apa sih?" tanya Yuni sembari menikmati menikmati makan siangnya.
"Bahas yang semalam itu loh," jawab Reta.
"Oh iya! Gimana, gimana? Kepo nih. Gue belom denger ceritanya." Yuni yang penasaran menarik-narik tangan Jenn memaksanya untuk bercerita.
"Apa? Gak ada apa-apa kok. Seperti yang Lo liat kan? Gue mabuk jadi aneh-aneh gitu, selebihnya gak ada," elak Jenn dengan tenang sambil kembali meneguk minumannya.
Oh, Jadi masih pengen dirahasiain dulu. Okay! Itu privasi Lo. Yang penting gue udah tau. Hehehe. Batin Fio sambil senyam-senyum.
"Terus yang kalian berdua kembali masuk ke club, tiba-tiba kembali dengan kak Kenn yang ketawa-ketawa dan Lo marah-marah, itu kenapa sih?" Yuni masih saja kepo karena merasa belum puas dengan jawaban Jenn tadi.
"Uhuk, uhuk, uhuk!" Pertanyaan Yuni kali ini membuat Jenn tersedak. Wajahnya seketika merona menahan malu mengingat kata-kata Kenn yang begitu vulgar.
"Pelan-pelan, Jenn! Kek anak kecil aja deh." Fio memukul-mukul punggung Jenn. Sedangkan Alena menyoroti Jenn dengan tajam.
Kenapa diingatin lagi sih, issh.
"Muka Lo kenapa jadi merah gitu?" tanya Reta.
"Ah, merah yah?" Meraba-raba wajahnya. "Oh ... ini kepanasan aja. Gerah banget siang ini." Mengelak.
"Udah, selesaiin makanan kalian dan kita kembali ke kelas." Fio mengakhiri obrolan teman-temannya sebelum berlanjut dan semakin melebar. Mengingat Jenn yang ingin merahasiakan hubungan barunya.
Untung saja. Huufftt.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Di Bengkel
"Huufftt, beres!" Kenn bernafas lega karena sudah selesai dengan pekerjaannya mengganti spare part mobil costumer yang rutin diganti.
"Pulang sekarang yuk!" ajak Farel.
"Tunggu ih, istirahat bentar dulu napa. Buru-buru amat," gerutu Kenn.
"Iya juga yah. Emang pulang jam berapa mereka? Udah sorean ini. Tadi sih dia bilang nanti kabarin, tapi belum juga." Meneguk sebotol air mineral.
"Wait! Gue nanyain Fio dulu." Langsung mengambil ponselnya dan menge-chat kekasihnya. Tak lama setelah itu, bunyi notifikasi balasan dari Fio.
"Jam berapa?" tanya Kenn menoleh ke samping.
"Sebentar lagi katanya. Kelasnya udah hampir selesai."
"Oh ya udah, kalo gitu balik sekarang aja." Kenn langsung bersiap-siap. Membereskan perlengkapan kerjanya. Tak lupa ia mengganti kostum kerjanya dengan pakaian yang dia pakai dari rumah.
"May, duluan yah!" Seorang wanita cantik yang masih betah di meja kasir itu tersenyum dan mengangguk, sembari melambaikan tangannya pada Kenn dan Farel.
Sesudah itu, keduanya kembali ke rumah masing-masing. Kenn ingin membersihkan diri sebelum menjemput gadis cantik yang kini sudah menjadi kekasihnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Gue perlu ngomong sama Lo." Jenn berbisik di telinga Fio.
Saat ini mereka telah selesai dengan perkuliahan hari ini. Gadis-gadis itu sedang bersiap-siap untuk pulang.
"Apa?" Fio bertanya tanpa suara, hanya dengan gerakan mulut. Sambil berjalan keluar dari kelas.
"Bebs, duluan aja yah. Gue balik sama Fio," ucap Jenn pada Rossa, ia tidak menghiraukan kode dari Fio.
"Oh gitu yah. Okay! Jangan lama-lama tapi. Cepet pulang." Rossa mengingatkan dan Jenn hanya mengangguk.
Mereka semua lalu berjalan menuju parkiran.
"Pada mau langsung pulang?" tanya Alena.
"Iyah nih. Capek!" jawab Yuni.
"Lo, mini?"
"Pulang aja, udah sorean banget juga ini," ucap Jenn.
Tiba-tiba Reza muncul dari belakang dan langsung merangkul bahu Jenn. Bagi Reza, Jenn sudah seperti seorang saudara. Sejak adanya Alvino waktu itu dan memintanya menjaga Jenn, Reza sudah memutuskan untuk menjadikan gadis itu seperti adiknya. Meski cintanya belum juga hilang.
"Gue anterin yuk!" ajak Reza.
"Eh gak usah. Makasih, Za!" Jenn melepaskan tangan Reza dari bahunya.
"Hmm, mentang-mentang udah ja ...." Refleks Jenn mencubit kuat tangan lelaki itu, menghentikan kalimatnya. "Aaauuhhh sakit, Jenn!" meringis lalu menunjukkan bekas cubitan gadis itu. "Nih, tato dari kuku Lo tuh. Gak rabies ini kan?"
Yang lainnya terbahak. Sedangkan Jenn cemberut kesal Lalu meninju bahu Reza dengan kesal.
"Ha-ha-ha, becanda kok. Maaf deh, maaf!" Mencolek kecil pipi gadis cantik itu.
"Itu ... kak Kenn bukan sih?" Ucapan Maureen mengagetkan Jenn, dengan spontan bergeser menjauh dari Reza.
Jenn berjalan kikuk dengan debaran jantung yang tidak terkontrol lagi. Dipandanginya sosok tampan yang sedang duduk dengan gagahnya di atas motor dan menatapnya dengan tajam.
Teman-temannya dibuat bingung, dan semuanya menatap kearah Jenn, membuat gadis itu bertambah salah tingkah.
"Mau ngapain dia di sini?" Alena bertanya dengan ketus.
"Mau jemput Jenn lah! Kenapa emang? Lo gak suka?" Fio bertanya pada Alena tak kalah ketusnya.
Jenn menggenggam tangan Fio. Menatapnya untuk tidak menanggapi Alena yang memang judes.
"Semuanya gue duluan yah, bye!" Rossa berpamitan duluan. Menuju motornya dan langsung keluar. Tak lupa gadis itu mengklakson Kenn yang tersenyum ramah padanya.
"Udah sana Lo. Kak Kenn dah nungguin tuh." Fio mendorong pelan tubuh mungil temannya itu.
"Eh, yang lain duluan aja." Jenn merasa tidak enak.
"Udah gak papa, duluan aja mini!" seru Yuni dan Reta.
Jenn melirik sebentar ke arah Reza. Lelaki itu tersenyum dan mengangguk. Setelah itu ia berbisik lagi pada Fio. "Pasti Lo kan? Dasar! Nanti gue chat yah."
Sesudah itu dia berjalan ke arah lelaki yang selalu mendamaikan hatinya. Ditatapnya lelaki itu sebentar. Namun lelaki tampan itu hanya menunduk, sepertinya tidak ingin berbicara. Jenn lalu naik dan duduk di belakang. Kenn menjalankan motornya, tak lupa ia memberi klakson pada Fio dan yang lainnya di sana. Jenn melambai pada teman-temannya, dan keduanya berlalu melaju meninggalkan tempat itu.
Begitu keluar dari kampus, tidak ada sepatah kata pun. Jenn merasa seperti diabaikan. Dia benci keadaan ini. Perlahan ia menyandarkan kepalanya di punggung Kenn, dan kedua tangannya memeluk erat pinggang lelaki itu. Sejenak matanya terpejam, meresapi kenyamanan yang selalu mendamaikan jiwanya. Kenn hanya tersenyum kecil.
"Marah yah?" tanya Jenn yang menopang dagunya di pundak Kenn.
Lelaki tampan itu menoleh sebentar ke samping dan menggeleng. Sebelah tangannya lalu menggenggam tangan Jenn, membawanya menempelkan pada pipinya, kemudian mengecup tangan kecil itu dengan mesra.
"Gak akan pernah bisa marah sama kamu!"
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
.
.
.
.
.
to be continued ...
__________________
Hai, hai semuanya 👋
Terimakasih untuk yang selalu setia menunggu STP. Terimakasih sudah menyempatkan waktu mampir di karya receh ini.
Jangan lupa like, komen, rate, dan tambahkan ke favorit yah sayang²ku ❤️😘
Makaciiiih, i luv u all 😍😍🥰🥰
👇
Ig : @ag_sweetie0425