Simple But Perfect

Simple But Perfect
Masalah Gaun



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Saat bergabung bersama dua sahabatnya, Jenn melupakan kejadian tadi di tempat kerja sang suami. Mood-nya kembali ceria ketika bertemu dengan kedua gadis itu. Mereka sibuk berbagi tawa bersama. Hal yang paling menonjol dalam bahasan mereka saat itu adalah penampilan dan persiapan untuk menghadiri pernikahan Fio besok.


"Gue mah tinggal pake aja yang sudah disiapin mamanya kak Farel," kata Jenn pada dua sahabat yang nyatanya masih rempong perihal gaun. "Gue kan menantu angkat mereka, ha-ha-ha." Tergelak sendiri dengan julukannya.


"Menantu angkat aja dah enak banget, gimana sama menantu beneran? Enak kali jadi Fio." Putri menyandarkan punggungnya dengan malas di sandaran sofa.


Saat ini, ketiganya sedang bercerita dan bercengkrama di ruang tengah.


"Sama aja kali, mertua gue juga gak kalah baik. Malah paling terbaik dari semua yang baik." Jenn tersenyum dengan ucapannya sendiri. "Ah, jadi kangen kan." Mulai manyun.


"Ia, ibunya kak Kenn gak ada duanya." Rossa mengiyakan pernyataan sahabatnya. "Kalo kangen yah diteleponin minta ke sini lagi. Pasti langsung diturutin itu, yakin banget gue." Sambungnya lagi.


Jenn tampak berpikir, sedetik kemudian ia tersenyum senang. "Boleh banget tuh, n'tar aja deh kalo dah balik ke rumah baru telepon." Bumil cantik itu nampak bahagia sekali.


"Lo sama Fio dah bahagia." Putri terlihat seperti sedang berpikir. "Mudah-mudahan gue juga bisa dapet jodoh yang baik seperti kak Kenn dan mertua seperti ibunya." Mulai berandai-andai.


Plakk!


Tangan Jenn dengan refleks memukul lutut si Putri. Gadis tomboi itu tersentak.


"Ngomong apa Lo? Jangan mimpi! Nama Kenn emang banyak di dunia ini, tapi tipe seperti suami gue cuman satu. Gak bakal ada yang sama kayak dia. Begitu juga ibunya. Pokoknya suami dan mertua gue gak ada duanya. Titik!" ucap Jenn dengan penuh penekanan.


Rossa dan Putri hanya geleng-geleng sembari tertawa berbarengan.


"Iyah, iyah, bumil mah selalu benerrrr," ucap Putri di sela-sela tawanya.


Berbeda lagi dengan Rossa yang tiba-tiba terdiam dengan air muka yang juga mendadak berubah. Jelas terlihat bahwa gadis itu tampak gelisah. Entah, apa yang tiba-tiba mengacaukan suasana bahagia gadis kalem itu. Merasa tidak sanggup untuk tertawa bersama dua sahabatnya, Rossa pun berdiri meninggalkan keduanya menuju kamar.


Tanpa memperhatikan perubahan sahabatnya, Jenn dan Putri terus melanjutkan obrolan ringan mereka.


"Btw nih, berdua siapa yang jemput besok?" tanya Jenn.


"Reza lah," jawab Putri dengan spontan. Raut bahagianya tampak jelas ketika menyebut nama lelaki itu.


"Seneng banget kayaknya, gue ketinggalan berita apa nih?" Jenn memicingkan matanya. "Hayooo ... kalian chat-an diam-diam kan?" Menuding dengan telak. Sebab ia tahu bahwa hubungan kedua sahabatnya dengan Reza, tidak sebaik dan seakrab dirinya. Yang ia tahu selama ini, mereka hanya sebatas say hallo ketika berkumpul bersama dirinya.


"Apaan? Baru juga chat semalam, itupun dia sendiri yang nawarin duluan buat nganterin. Ya ... gue seneng dong gak perlu repot-repot mesan taksi segala, mumpung ada yang gratis why not?" Gadis tomboi itu berucap santai dengan alasan yang logis.


Jenn menatap sahabatnya dengan tatapan penuh selidik. Namun, ia tidak dapat menemukan suatu alasan untuk membenarkan argumennya.


"Lo gak berniat buka hati lagi gitu?" tanyanya sekali lagi.


Putri menghembuskan nafasnya perlahan. Sudah lama ini ia mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih. Alasannya karena tidak suka diatur dan tidak ada lagi kenyamanan. Alasan umum yang sering jadi bahan perdebatan pada banyak pasangan.


"Belum kepikiran lagi. Biarin seperti ini aja dulu, menikmati kebebasan dalam kesendirian tanpa ada yang ngatur-ngatur." Ia tersenyum manis. "Sekalian fokus ngejar toga," ucapnya lagi sambil mengedipkan mata.


Jenn tertawa melihat itu. "Dasar, emang yah cewek tomboi mah susah di atur." Ia tersenyum kecil. "Gue sih ... fifty-fifty. Dia ngatur gue yang baik, selebihnya gue yang me-manage diri gue sendiri dan juga dirinya, he-he-he." Ia terkekeh mengingat kehidupannya yang sekarang bersama Kenn.


Lelaki itu memang banyak merubahnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Tidak dengan hal-hal lain yang ia sukai. Dengan cintanya, Kenn memberi kebebasan untuk ia melakukan apapun yang ia inginkan. Selagi itu baik untuk dirinya sendiri dan tidak membahayakan atau mengecewakannya, Kenn mengizinkan itu. Asal si cantik itu tetap tersenyum bahagia. Hanya saja untuk saat ini, Kenn lebih banyak membatasinya, mengingat kehamilannya yang paling penting.


"Makanya itu, gue pengen punya pacar yang pengertian dan penyabar seperti kak Kenn. Kali aja ada duplikatnya, ha-ha-ha." Putri terbahak membuat Jenn kesal.


Obrolan mereka nyatanya mampu membunuh waktu. Tidak terasa sudah petang, dan bunyi klakson motor Kenn sudah di depan rumah memberi kode. Menyadari kedatangan sang suami, Jenn bangkit dan berlari keluar. Suara Putri bergema memenuhi ruangan itu untuk menghentikan langkahnya, tapi Jenn seolah tak mendengar.


Melihat itu Kenn langsung turun dari motornya dengan gerakan secepat kilat tanpa melepas helm, hanya karena sudah panik melihat Jenn yang berlari-lari. Ia melangkah cepat dan menangkap bumil cantik kesayangannya.


"Udah berapa kali dibilangin? Ngeyel aja terus." Kesal dan ingin marah, tapi ia tidak pernah bisa melakukan hal menyakitkan itu.


"Maaf," ucap Jenn sambil cengar-cengir. "Pulang, yuk!" Bergelayut di tangan Kenn.


"Pelan-pelan aja napa? Saking ingin berduaan sampe lari-lari segala." Putri memutar bola matanya malas. "Noh, jagain ponakan gue baik-baik. Jangan suka ngeyel." lanjut Putri lagi.


"Ah, bacot." Jenn mendengus kesal mendapatkan teguran dari dua orang di hadapannya. "Iyaaa, gue juga tau ... orang gue hati-hati kok." Ia melirik Kenn dan Putri dengan tatapan kesal.


Kenn menyentuh kepalanya dan mengelus surai kecoklatan milik sang istri. "Gak boleh gitu, Sayang! Dinasehatin tuh denger, buat kebaikan kalian berdua. Aku gak mau kejadian tadi sampai terulang lagi." Jenn mengangguk. Sedangkan Putri mengernyit.


Kejadian apa lagi? Ingin bertanya tapi melihat moody Jenn yang mulai berubah, Putri pum mengurungkannya.


"Iya, maaf! Mana Rossa? Bilangin gue mau balik," ucapnya pada Putri. Gadis tomboi itu memanggil-manggil sahabatnya yang satu lagi tapi tak juga menyahut. "Udah pulang aja, ntar gue bilangin. Ketiduran kali dia."


"Thanks yah, udah jagain dia. Kita balik yah." ucap Kenn.


"Bye, sampai ketemu besok, Bebs." Jenn melambaikan tangannya dan keduanya segera berlalu dari sana.


...*****...


Senja datang dan menghiasi cakrawala dengan tinta keemasan yang memukau. Setelah meninggalkan jejak indah sesaat, ia pergi lagi berganti malam.


Sang rembulan sibuk menghitung banyaknya bintang yang menemaninya tuk memberi cahaya bagi buana. Namun, ia tak menyadari jika sendiri pun terangnya bahkan lebih sanggup bersinar dalam gelap.


Hari yang di tunggu-tunggu Fio dan Farel akhirnya tiba. Dari pagi-pagi sekali, Jenn sudah bangun dan beres-beres, membuatkan sarapan, sekaligus menyiapkan segala keperluannya bersama sang suami untuk sore nanti.


"Pagi bener, Sayang." Kenn terbangun dan mendapati istrinya yang baru selesai mandi. Ia mendekat dan memberikan ciuman selamat pagi seperti yang selalu ia lakukan selama ini. "Kan nanti sore, rajin amat hari ini." Masih menempel dan memeluk istrinya, mencium harum tubuh yang telah menjadi candunya.


"Aku kek ikutan seneng aja jadi gak sabar, gak bisa diem dari tadi. He-he-he." Tertawa kecil dan memberikan handuk kecil di tangannya untuk Kenn. "Tolongin, Yang."


Dengan senang hati Kenn melakukan yang dimintai sang istri. Sambil tangannya berkerja mengeringkan rambut Jenn, matanya menangkap stempel kepemilikan yang kemarin pagi dibuatnya belum juga hilang.


Lelaki tampan itu tersenyum senang melihatnya. Dengan jail, ia menunduk dan kembali mencium area yang sama.


"Kennnnnn!!!" teriak Jenn tidak terima. Ia merebut handuk dari tangan Kenn dan memukul lelaki itu dengan kesal. "Apa-apaan sih kamu? Tinggal bentar lagi ih, nyebelin banget." Bumil cantik itu mengamuk sambil terus melayangkan pukulan yang sebenarnya tidak terasa sakit sama sekali oleh Kenn. Lelaki itu malah terbahak dengan yang dilakukan istrinya.


"Maaf, Sayang. Gak tahan soalnya." Masih saja tertawa. "Dah aku bilang kan, bawaannya lapar terus tiap di dekat kamu," ucap Kenn sembari ingin memeluk istrinya yang masih mengamuk.


"Gak! Gak mauuu, sana jauh-jauh." Mendorong suaminya dan hendak melangkah keluar, tapi tangan Kenn dengan cepat menahan dan mendekapnya erat.


"Sebenarnya aku gak suka kamu pakai baju seperti itu. Aku gak mau orang-orang mandangin kamu dengan pakaian terbuka. Aku gak suka, gak rela banget tubuh istriku jadi bahan konsumsi publik. Makanya aku sengaja lakuin itu, biar kamu ganti gaunnya."


Jenn terdiam untuk beberapa saat. Tidak lama setelah itu, ia berbalik dan mendongak menatap mata suaminya. "Kali ini aja, hargain mama yang udah beliin buat aku, please!" pinta Jenn tapi tak mendapat respon apapun dari Kenn. Raut datar lelaki itu membuat Jenn merasa bersalah. Ia lalu membalas pelukan suaminya tak kalah erat. "Aku hanya milik kamu. Orang lain hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuh. Dan yang paling penting, kamu yang selalu berdiri di sampingku dan menggenggam tanganku, menunjukkan pada dunia bahwa kamulah pemilik jiwa dan raga ini." Jenn melonggarkan pelukannya dan menatap Kenn begitu dalam sambil tersenyum. "I am yours!" Kenn baru bisa menyunggingkan senyum manisnya setelah mendapat satu kecupan mesra dari Jenn.


Keduanya lalu keluar dari kamar menuju ruang makan dan menikmati sarapan.


Hari ini, Kenn tidak bekerja. Ia hanya menghabiskan waktu di rumah bersama sang istri sampai waktu sore tiba dan keduanya bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan kedua teman baik mereka.


Perdebatan kembali terjadi ketika waktunya sudah hampir tiba dan Jenn sedang bersusah payah mendandani dirinya sendiri.


Kenn tidak mengizinkan wajah cantik istrinya dicoret-coret oleh tangan MUA yang ditawarkan oleh mamanya Farel. Selain itu juga, Jenn sendiri tidak menyukai make up yang berlebihan. Jadi si cantik itu mendandani wajah cantiknya dengan make up tipis dan terkesan natural. Tidak lupa ia menutupi tanda cinta Kenn pada bagian lehernya dengan fondation yang tebal.


Permasalahan kembali pada gaun yang ia gunakan.


"Sumpah aku gak sanggup, Jenn! Aku bisa gila, bisa ganti gaunnya gak? Aku bisa bunuh orang nanti kalo sampe ada yang melihat kamu kayak gini. Gak bisa, pokoknya buka dan ganti!" Putus Kenn tanpa ingin mendengar alasan apapun lagi dari Jenn.


"Kenapa waktu itu gak bilang aku yang milih aja sih? Gak bisa kayak gini dong, mereka harus minta pendapat aku dulu." Kenn kesal sekali.


Gaun malam panjang tanpa lengan yang nenjuntai ke lantai dengan belahan seksi, dihiasi dengan manik-manik yang membuat bumil cantik itu begitu memukau. Jenn terlihat berbeda dari biasanya. Wanita cantik itu terlihat sangat elegan, tetapi hal itu seakan membunuh Kenn dengan perlahan.


Sementara Kenn juga memakai pakaian yang warnanya senada dengan yang dipakai sang istri.


Lelaki itu tidak terima sama sekali. Jenn harus memohon dan merayunya dengan segala cara. Hingga akhirnya Jenn tidak mampu lagi dan hanya bisa terduduk diam dalam tangisan. Hal itu barulah bisa mengalahkan kerasnya hati seorang Kenn. Ia mengalah karena lebih tidak sanggup melihat air mata wanitanya. Inilah kelemahan terbesar Kenn.


Jenn tersenyum penuh kemenangan.


Hah, semudah ini menaklukkan hati ayahmu, nak! He-he-he!


Batin Jenn sambil tersenyum dan mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Saat masalahnya telah selesai dan hendak keluar, kembali rambut yang dipersoalkan. Kenn menarik ikat rambut istrinya membiarkan rambut panjang Jenn menutupi punggungnya. Kali ini Jenn yang mengalah.


Sepasang suami-istri itu lalu berjalan keluar menemui supir yang dikirimkan keluarga Farel, yang sudah menunggu sedari tadi di depan rumah mereka.


"Jalan, Pak! Gak usah liat-liat, kalo mau matanya tetap aman." ancam Kenn pada supir yang menatap istrinya penuh kagum. Sedangkan Jenn setengah mati menahan tawanya.


..._____πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•_____...


...Semua orang mengaguminya,...


...Tapi aku memilikinya....


..._Kennand Wira_...


...###...


...To be continued ......


...__________________...


...*...


...*...


...*...


Hai semuanya πŸ‘‹ Ketemu lagi πŸ€— Aku punya sesuatu nih buat kalian hehe😁 biar bisa bayangin Jenn sama Kenn πŸ˜…


Susah banget nyari visualnya 😌 Sampai akhirnya otor dapet dua sejoli ini deh hehe 😁 maaf kalo gak sesuai dengan ekspektasi kalian yah πŸ™πŸ˜Š


Anggap aja ini Jenn dan Kenn, yang lagi mau ke nikahan pasangan double F.



Jalannya buru-buru banget selaju tangan otor yang ngetik πŸ˜… Btw, mukanya Kenn lagi BETE banget gaesss πŸ™ˆπŸ™ˆ liat aja yang dipakai Jenn 🀭 Emosi jiwa dia 🀣 tapi tangannya gak mau lepas, takut Jenn-nya diambil yang lain πŸ˜…πŸ˜…


Semoga suka yah gaes 😊 Kalo mau liat visual Jenn dan Kenn, boleh follow akun Ig otor yah : @ag_sweetie0425


Mereka akan sering hadir di sana 😁🀭


Jangan lupa like dan komen πŸ™πŸ˜


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—πŸ₯°