
Dokter dan yang lainnya tampak bingung dengan kehadiran seseorang di sana. Tampak seorang lelaki asing di mata mereka. Namun, tidak dengan teman-teman dan sahabat Jenn.
Mereka sangat mengenali sosok itu, tapi hal yang membuat mereka bertanya-tanya, kenapa orang itu bisa ada di sana?
Kaget, tentu saja. Bahkan kehadiran sosok itu di sana membuat tubuh seorang gadis di antara mereka menegang. Jantungnya berdebar hebat hingga keinginan untuk menghilang dari sana seolah mendorongnya tuk berlari.
Gadis itu memilih mundur dan membalikkan tubuhnya. Tidak sanggup rasanya melihat wajah itu.
"Lo??? Ngapain Lo ada di sini?" tanya Fio dengan sinis sambil mengusap air matanya.
"Jawab pertanyaan gue, apa bener dia keguguran? Gue hanya salah denger kan?" Tidak menggubris pertanyaan Fio, lelaki itu malah balik bertanya. Ia bahkan semakin melangkah mendekati wanita yang masih lengkap dengan pakaian pengantinnya.
"Lo seneng kan? Lo bahagia dengernya kan? Ini kan yang Lo mau?" Terbawa emosi.
"Ah, ini dia orangnya. Pasti Lo kan dalang di balik semua ini. Ini rencana Lo kan?" Tuduh Putri tanpa tedeng aling.
Lelaki itu geram mendengar tuduhan-tuduhan yang diutarakan padanya. Belum sempat untuk menampik perkataan Fio dan Putri, kembali ia dihujani tudingan.
"Apa? Mau ngelak? Gak mempan. Lo pikir setelah berbuat jahat, terus lo ke sini pura-pura gak tau dan mau nunjukin simpati Lo gitu? Dan Lo pikir kita percaya?" cecar Fio berapi-api.
Ibu dan mertuanya mendekat lalu menenangkannya. "Siapa dia, Fio?" tanya sang mertua.
"Dia cuman orang asing yang gak penting, Tan." Putri yang menjawab pertanyaan mamanya Farel. "Dan dia yang bertanggung jawab atas kondisi Jenn saat ini." Gadis itu menatap wajah penuh amarah di depannya tanpa takut. "Lo picik tau gak, Lo itu pecundang!!!" ucap Putri dengan keras sembari telunjuknya mengarah tepat di depan wajah Alvino.
Tiga gadis di belakang sana langsung menutup mata dengan kedua tangan mereka, sedangkan yang lainnya hampir berteriak ketika tangan Alvino yang sudah terangkat dan hendak menampar Putri.
...
...
Tangan besar Alvino tetap mengudara begitu saja dengan satu tangan lain yang sedang menahannya.
"Jangan lakukan itu, Bang. Mungkin saja gue gak akan bisa maafin Abang kalo sampai itu terjadi."
Semua yang di sana terperanjat. Rossa dan yang lain membuka mata, begitu juga dengan Putri yang tak kunjung merasakan tangan besar Alvino di pipinya.
Ia membuka matanya dan terpaku melihat Reza di sana.
Alvino menghempaskan tangan adiknya. "Beritahu padanya cara menuding dengan bukti."
Tiba-tiba saja perhatian semuanya beralih penuh pada keberadaan Kenn di sana. Yang tadinya pada bingung dengan adanya Alvino, sekarang malah menegang karena kehadiran Kenn.
"Di mana Jenn?"
Semuanya mendadak bungkam. Suasana di depan ruang instalasi gawat darurat semakin mencekam.
Satu per satu wajah-wajah di sana ditatap Kenn penuh tanya dan harap. Hingga matanya terhenti pada sosok berjas putih.
"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dokter? Dia baik-baik saja kan?"
Sejujurnya Kenn sudah mulai cemas dengan air muka dokter yang sedikit tidak mengenakkan di matanya.
"Istri anda baik-baik saja. Tapi maaf, bayi anda tidak dapat kami selamatkan."
Dan perkataan dokter itu bagai ribuan panah yang tertancap di dada Kenn, menghujamnya tanpa belas kasih. Serasa ribuan belati menyayat hatinya, mengiris nadinya dengan kejam. Lutut Kenn seketika lemas, tubuh tinggi tegap itu merosot ke lantai dalam diam.
Kenn terdiam termangu. Pandangannya menatap nanar lantai yang begitu dingin.
Kenapa? Kenapa, Tuhan?! Kenapa aku tidak boleh memiliki keduanya. Kenapa aku hanya boleh memiliki salah satunya?
Batin Kenn berteriak pedih. Keduanya sangat berarti untuk Kenn. Jenn ibarat terang yang menerangi dan menghangatkan seluruh dunianya. Begitupun juga dengan bayi yang mewarisi bagian dirinya. Kenn pun begitu sangat menginginkannya, dan ia harus dipaksa iklas kehilangan salah satu kecintaannya.
Aku bahkan belum sempat untuk memeluk dan menciumnya, Tuhan!
Lantai di depan ruang instalasi gawat darurat itu dibasuh dengan air mata Kenn. Laki-laki itu tertunduk dan meneteskan kepedihan, kekecewaan, kehancuran lewat buliran-buliran bening dari mata elangnya.
Tangannya terkepal dan memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa terhimpit dan menyesakkan.
Pemandangan pilu itu menorehkan perih di hati semua orang yang ada di sana. Mereka menjadi saksi hidup kehancuran lelaki yang selalu terlihat kuat dan garang itu.
"Kenn!" panggil ayahnya Farel. "Om mengerti perasaanmu, kami pun terpukul dan kecewa, tapi om tau ... itu tidaklah sama seperti yang kamu rasakan." Lelaki paruh baya itu berjongkok dan menepuk pelan punggung laki-laki yang sudah dianggapnya sebagai anak. "Kamu harus kuat untuk Jenn. Jangan seperti ini, ingat Jenn butuh kamu. Kita gak tau seberapa hancurnya dia jika sadar nanti."
Seketika Kenn tersadar dari keterpurukannya. Tangannya lalu menghapus air mata kepedihan yang membasuh wajahnya.
"Saya ingin menemui istri saya, Dokter." Ia bangkit berdiri hendak menemui Jenn.
Dokter itu lalu mempersilahkan Kenn untuk masuk.
Tampak di matanya seraut wajah cantik dan pucat pasi sedang terbaring dalam lelap di sana. Selimut membalut tubuh kecilnya. Selang infus yang tertancap pada salah satu tangannya, terasa menancap kembali di hati Kenn yang masih luka. Lagi-lagi air mata Kenn luruh tak tertahan.
Ini sungguh menyakitkan Tuhan!
Kenn mendekat dan berdiri di samping ranjang sang istri. Tubuhnya perlahan menunduk semakin dalam dan ia pun melabuhkan satu kecupan yang sarat akan cinta dan kasih sayang di puncak kepala Jenn.
Lama, sampai rambut Jenn lembab karena air mata sang suami bercampur keringatnya.
Maafkan aku yang tidak bisa melindunginya. Maafkan aku! Bangun dan marahlah padaku, Sayang!
Nyatanya laki-laki itu tidak setegar yang terlihat di mata orang lain selama ini. Tampak dari bahunya yang berguncang hebat, ia hanyalah sosok manusia rapuh dalam hal mencinta.
Apakah ini balasan padaku karena telah merebutmu darinya? Apakah ini gambaran rasa kehilangannya yang Kau perlihatkan padaku, Tuhan? Apakah sudah setara dengan rasanya? Aku rasa bahkan sudah lebih dari cukup.
Batin Kenn memberontak merasa ketidakadilan dalam hidupnya.
Ia mendekatkan wajahnya di perut rata sang istri yang tertutup selimut. Kenn mengecup dan mengelus tempat bernaung buah hatinya selama hampir tiga bulan ini.
"Kenapa pergi ninggalin ayah dan ibu, sayang? Ayah rindu bercerita tentang ibumu. Pada siapa lagi ayahmu ini akan berbagi? Pada siapa lagi ayah harus menitipkan ibumu jika ayah tak ada di sampingnya? Siapa lagi yang akan menemaninya saat ayah pergi?" gumam Kenn sambil membaringkan kepalanya di dekat perut Jenn.
"Kemana ayah harus menemukanmu? Pergimu terlalu cepat dan amat jauh. Hilangmu tak lagi bisa dicari. Ayahmu ini merindukanmu," lirih Kenn terdengar pilu.
Andai waktu bisa kuputar kembali, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menjaganya lebih baik lagi.
Kenangan saat ia sering berbagi cerita dengan makhluk mungil yang belum terlihat itu terlintas di ingatannya. Ketika Jenn terlelap, darah dan daging yang merupakan bagian dirinya itulah yang ia jadikan tempat berbagi. Ia banyak bercerita tentang wanita yang sangat ia cintai itu. Kenn yakin bahwa ia mendengarnya di dalam sana. Kerap hal itu menjadi aktifitas kegemarannya.
Rasa bahagia akan menjadi seorang ayah, hilang hancur dalam sekejap.
..._____πππππ_____...
...Seperti jantung dan nadi ......
...Sama-sama berdetak membenturkan jutaan asa dan cinta dalam jiwaku....
...Bagaimana bisa jantungku berdetak tanpa nadi yang bergetar?...
...Aku hidup tapi seolah mati....
..._Kennand Wira_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya, π
Segini dulu yah, nanti lanjut lagi π€
Terima kasih masih stay di kapal Kenn dan Jenn π
Kita masih berlayar terus yah genks π€
Semoga suka dan jangan lupa like dan komen π Jangan hanya baca, jejaknya juga yah tayangΒ²ku π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425