Simple But Perfect

Simple But Perfect
Kala Cinta Menggoda



_A best friend is like a rare diamond. It's hard to find and lucky to have_


Jenn menceritakan semua yang terjadi pada dua sahabatnya, tanpa terlewatkan satu pun.


"Jadi, sampai sekarang Lo nggak tahu Alvino dimana ?" Tanya Rossa dan mendapat anggukan dari Jenn.


"Tadi kan kita udah ngelarang, supaya Lo nggak pergi ke tempat itu. Ngeyel sih" Putri menoyor kepala Jenn. Gadis manis itu hanya duduk diam dan cemberut mendengar ceramah kedua sahabatnya.


"Coba bayangin kalo tadi nggak ada kak Kenn ? apa Lo bakalan aman ? apa Lo masih bisa pulang dengan selamat ?" Jenn menggeleng pelan.


"Benar apa yang dia bilang. Sekalipun Lo pergi bareng Alvino kekasih Lo itu, minimal pilihlah tempat yang pantes untuk di datangi. Tempat yang pantes buat kencan. Jangan tempat yang ngerusak citra diri Lo, Jenn" Rossa menasehati.


"Gue juga setuju sama yang ini. Lo itu cewek baik-baik, Jenn. Dengan Lo datang ke tempat begituan, orang akan nganggap Lo cewek nggak bener" Putri menimpali.


"Udah gitu, pake pakaian nggak pernah bener lagi. Stop ! dengan cara berpakaian Lo yang nggak ada akhlak gini, Jenn" Rossa memindai Jenn dari atas sampai bawah.


"Lo ngerti nggak, apa yang kita bilang ?" Tanya Putri sekali lagi. Gadis cantik itu hanya mengangguk dengan masih cemberut.


"Otak itu, jangan cuman buat pintar di kampus doang. Saat belajar dan debat aja hebat, nggak ada tandingannya. Giliran yang begini, begok. Otak itu mesti di pake juga buat menyikapi hidup" Lagi-lagi kepalanya ditoyor.


"Gue laperrrrr" Jenn berteriak mengagetkan kedua sahabatnya yang tak hentinya berkhotbah.


"Emang Alvino nggak ngasih makan ?"


"Nggak sempat aja kok" Membela sang kekasih.


Rossa dan Putri menatapnya sambil geleng-geleng kepala. Sesudah itu Rossa beranjak dan berlalu dari ruang tamu.


"Sana ganti baju baru makan" Ucap Rossa dan berlalu menuju dapur.


Jenn beranjak dari duduknya, masuk ke kamar dan melakukan apa yang di perintahkan Rossa. Sedangkan Putri masih di tempatnya memandang Jenn yang sudah menghilang.


Lo terlalu naif dalam mencintai Alvino, atau Alvino yang salah dalam sikapnya mencintai Lo ? gue nggak tahu soal itu. Tapi satu hal yang gue pahami malam ini, Kenn sangat peduli dengan Lo, dia selalu ada saat Lo dalam bahaya. Entahlah, takdir apa yang sedang Lo hadapi. Yang gue tahu pasti, Kenn punya rasa yang sama besar dengan Alvino terhadap Lo, Jenn.


Gadis tomboi itu membatin. Dan sesudah itu dia menyusul Rossa ke dapur.


_________________


Di dalam kamar, Jenn melepaskan jaket yang sedari tadi membalut tubuhnya. Dipandanginya benda hangat yang masih dipegangnya, begitu lama.


Kenapa ? kenapa rasanya selalu nyaman tiap dekat sama Lo ?


Jenn menaruh sebelah tangan pada dadanya. Sambil terpejam, gadis itu menikmati debaran indah dari dalam dirinya.


Kenapa juga, bagian ini selalu bergetar setiap melihat atau mendengar sesuatu tentang Lo ?


Perasaan macam apa ini ?


Jenn membuka matanya. Dia menaruh jaket itu pada sandaran kursi depan meja belajar, yang ada dalam kamar. Kemudian dia menuju kamar mandi, membasuh mukanya sebentar dan mengganti pakaiannya.


Sebelum keluar dari kamar, Jenn teringat akan sang kekasih. Waktu sudah hampir jam 11 malam, dan Alvino belum ada kabar. Jenn mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada nomor kekasihnya. Hingga beberapa kali, namun tak kunjung juga diangkat.


Sebenarnya kamu dimana, bi ? please ! jangan buat aku khawatir.


Akhirnya dia memilih keluar dan bergabung bersama kedua sahabatnya. Menikmati makan malam yang sudah lewat waktu, dengan berbagai rasa mengganggu ketenangan jiwanya.


Rasa khawatir terhadap Alvino, kekasihnya yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Dan sebuah rasa baru yang aneh terhadap Kenn, seseorang yang baru dikenalnya beberapa waktu lalu. Malam ini akan menjadi malam tersulit untuk dilalui seorang Jenn.


______________


"Dimana ?"


"Rumah Fio"


"Nginep lagi ?"


"Yoi dong, mau gue kasih hukuman"


"Hukuman apa nikmat ?"


"Dua-duanya, satu paket"


"Ck, sempat-sempatnya ngambil kesempatan"


"Lah, Lo ada kesempatan kan ? pake dong, bro"


"Gue bukan Lo. Akal gue masih sehat yah"


"Nunggu setengah waras kalo gitu"


"Ck, malas ngomong sama Lo. Sana nikmati hukuman bareng. Bye, gue mau tidur"


"Tidur sama Jenn yah"


"Sinting Lo"


Kenn tidak jadi melewati malam minggu ini bersama temannya. Akhirnya, dia memilih kembali ke kontrakannya dan berteman dengan sunyi.


Malam ini, pikirannya hanya dipenuhi tentang Jenn. Usaha keras yang dilakukannya untuk melupakan gadis itu, tak ada artinya lagi. Malah Kenn semakin jauh dalam rasanya, semakin jatuh dalam cintanya. Dalam, hingga ke dasar.


Dia berusaha menutupi rasa itu dari semua orang. Tapi tidak dengan hatinya. Dia tidak mampu membohongi hatinya. Kenn mengakuinya, bahwa dia telah dengan lancang mencintai gadis cantik itu.


Sejak jumpa kita pertama,


Ku langsung jatuh cinta


Walau kutahu kau ada pemiliknya


Tapi 'ku tak dapat membohongi hati nurani


Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini


Meskipun tahu bahwa gadis cantik itu telah memiliki kekasih, namun rasa Kenn seolah tak mau tahu. Dirinya berusaha untuk meredakan gejolak cinta itu, tapi hatinya tak berkompromi. Pikirnya, apakah sedikit saja dia boleh berharap ?


izinkanlah aku mencintaimu


Atau bolehkanlah ku sekadar sayang padamu


maafkan jika aku mencintaimu


Atau biarkan 'ku mengharap kau sayang padaku


[ Kala Cinta Menggoda ~ Chrisye ]


Malam itu pun berlalu dengan Kenn yang menikmati rasa cinta sendiri, pasca gagal move on. Jenn yang di hantui kekhawatiran pada sang kekasih, namun juga ada debaran indah yang menemaninya. Sedangkan Alvino yang entah ada dimana.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pagi yang indah, hari cerah. Matahari kembali melaksanakan tugasnya, menyinari bumi dengan kehangatan.


Dalam sebuah kamar hotel yang mewah. Dengan pencahayaan yang masih gelap, karena tirai-tirai jendela yang masih tertutup. Di atas tempat tidur king size, tampak seorang lelaki tampan masih tertidur pulas disana.


Derap langkah kaki yang bergerak kesana kemari dalam kamar itu, tak juga mengganggu ketenangan lelaki itu. Seseorang berjalan menuju jendela dan menyibak tirai disana. Membiarkan hangatnya cahaya mentari masuk menerpa wajah tampan yang masih betah dalam mimpinya.


Dia sedikit terusik. Namun kembali lagi terlelap, setelah merubah posisi tidurnya. Berbalik menyembunyikan wajahnya, dan membiarkan punggung putih lebar yang tanpa dilapisi baju itu terpapar sinar matahari pagi.


Beautiful morning view !!!


Batin seseorang yang sedang berdiri tersenyum, memandangi karya Tuhan yang luar biasa, dalam sosok seorang lelaki tampan didepannya.


Dia berjalan dan duduk di sofa yang tersedia dalam kamar hotel itu. Berhadapan dengan tempat tidur, agar dia bisa tetap memandang lelaki tampan disana, sambil di temani secangkir cokelat hangat.


Beberapa saat berlalu, tampak seseorang disana mulai terusik. Dengan perlahan dia membuka matanya, namun kemudian dia meringis. Merasakan pening serta pandangan yang sedikit mengabur. Sebelah tangannya meremas rambutnya, dan sebelahnya lagi terangkat, menghalangi sinar matahari yang menyilaukan matanya.


Lelaki tampan itu menggoyangkan kepalanya beberapa kali. Setelah merasa pandangannya mulai pulih, perlahan dia mengamati sekitarnya. Terasa asing suasana itu.


Dimana ini ?


Dia bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada headboard. Betapa kagetnya lelaki itu melihat kondisinya yang tanpa busana, dan hanya menggunakan boxer.


Apa yang telah terjadi semalam ?


Dalam usahanya mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, dia dikejutkan dengan suara seseorang yang kedengarannya tidak asing.


"Good morning, Baby" Sapa seorang wanita cantik dengan senyuman indah.


Lelaki tampan itu terperanjat. "Lo ?" Dan bertambah kagetnya lagi melihat wanita cantik itu yang hanya menggunakan lingerie.


.


.


.


.


.


to be continued ...


______________


Hai semuanya πŸ‘‹


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah πŸ™πŸ₯°πŸ₯°


Terimakasih bagi yang sudah mampir πŸ™


And Happy reading buddies 😊❀️